End Of Love

End Of Love
SS2 EOL Eps 64


__ADS_3

Manager mengantar Kairos berkeliling tambang, mereka berhenti di salah satu Lokasi lalu Kairos turun dari mobil di ikuti Gilang dan Nasya. Mereka berjalan di tengah lumpur, terlihat Nasya sulit berjalan. Dia berusaha mengeluarkan kakinya yang masuk di lumpur.


Kairos memperhatikan Nasya kemudian dia menarik kaki Nasya keluar dari lumpur.


“Sudah di kasih tahu mau ikut juga,” ujar Kairos kemudian dia melewati Nasya dan lanjut bejalan.


“Bukannya Direktu yang bilang, kemanapun di rektur pergi aku harus ikut? Kenapa sekarang bicara begitu?” Nasya terlihat kesal mendengar Kairos bicara begitu.


Kairos menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap Nasya, dia menghampiri dan menatap mata Nasya.


“Kalau datang survey lahan kamu tidak perlu ikut, cukup tinggal saja di mes. Tidak perlu ikut!” tegas Kairos kepada Nasya.


“Tinggal sendiri di mes? Direktur tega tinggalin aku sendiri di mes?”


“Bilang saja kalau kamu ingin bersamaku terus,” ujar Kairos kemudian dia kembali berjalan.


“Icchhh … pedean banget, siapa yang tertarik padamu. Sekalipun kamu tampan aku tidak tertarik,” kata Nasya dengan pelan.


Kairos kembali berhenti dan menatap Nasya. “Apa kamu bilang?”


“Um, aku tidak bilang apa-apa,” sahut Nasya sambil melewati Kairos


Kairos menahan tangan Nasya lalu Nasya terhenti dan menatap Kairos.


“Kamu pikir aku tidak dengar apa yang kamu katakan tadi, pendengaranku masih tajam,”


“Kalau direktur bisa mendengarnya kenapa harus bertanya lagi,” sahut Nasya dengan kesal sambil melepaskan tangannya dari Kairos dan melanjutkan berjalan.


Kairos hanya terdiam dan berjalan di belakang Nasya.


***


Cella dan Joe berkunjung ke rumah Jessica dan Carlos, Cella ingin memberitahukan kalau dia sedang hamil. Joe dan Cella tiba lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah. Cella langsung mencari Jessica, dia pergi ke kamar Jessica dan mengetuk pintu.


Pintu terbuka lalu Cella tersenyum, dia memeluk dan mencium kedua pipi Jessica.


“Sayang, mama senang sekali kamu datang. Papa dan mama sangat rindu padamu,” ujar Jessica sambil menarik Cella masuk ke kamar.


“Iya. Maaf, Mam. Joe sangat sibuk di rumah sakit, jadi aku jarang berkunjung di sini.” Cella tersenyum dan memegang tangan Jessica, “oh ya, Mam. Aku punya kabar gembira untuk papa dan mama,”


Jessica mengkerutkan dahinya dan bertanya. “Kabar apa, Sayang?”


“Papa mana, Mam?”


“Dia lagi di ruang kerja, ayo kita temui papa kamu.” Jessica dan Cella berdiri dan keluar dari kamar.


Jessica melihat Joe kemudian dia menyapanya. “ Bagaimana kabarmu?” tanya Jessica sambil memeluk dan mencium kedua pipi Joe


“Baik-baik saja, Nyonya,” sahut Joe dengan tersenyum dan membalas mencium pipi Jessica.


“Senang mendengarnya, ayo kita keruang kerja.” Jessica, Cella dan Joe pergi ke ruang kerja Carlos.


Mereka masuk lalu melihat Carlos lagi di depan Komputer. Carlos melihat Cella dia langsung berdiri dan pergi memeluk Cella.


“Papa sangat rindu padamu, Sayang,” Carlos memeluk erat tubuh Cella dan mencium ubun kepala Cella.


“Aku juga rindu sama papa dan mama,” ujar Cella kemudian dia melepaskan pelukan Carlos dan duduk di sofa.


Carlos tersenyum dan menyapa Joe, dia memeluk Joe dan menyuruh Joe duduk. Joe duduk di dekat Cella dan memegan tangan Cella.


“Apa yang ingin kamu sampaikan, Sayang,” tanya Jessica sambil duduk di dekat Carlos.


“Um, aku hanya ingin bilang kalau aku ….” Cella terhenti dan menatap Joe.


Jessica dan Carlos penasaran mereka berdua menatap Cella dengan heran. Sedangkan Joe dia senyum-senyum sendiri melihat mimic wajah Carlos dan Jessica.

__ADS_1


“Kamu apa, Sayang?” tanya Carlos dengan penasaran.


“Aku … aku hamil,” ujar Cella dengan melebarkan senyumnya


Carlos dan Jessica saling bertatap mata dan kembali menatap Cella. Dia dan Jessica masih belum percaya dengan apa yang di katakan Cella.


“Benarkah, Sayang?” tanya Carlos sambil berdiri dan duduk di samping Cella.


“Iya, Pap. Usia kandunganku sudah 16 minggu.”


Jessica langsung memeluk Cella. “Sayang mama senang mendengarnya, akhirnya cucu mama akan bertambah,” ujar Jessica dengan bercanda.


“Papa juga sangat bahagia, Sayang?” Carlos memeluk Cella dan mengecup kedua pipi Cella.


Pintu terbuka mereka melihat Acel yang datang, Cella berdiri dan memeluk Acel. Mereka berdua saling berpelukan.


“Aku sangat rindu padamu,” ujar Acel, “bagaimana kabarmu?” sambung Acel dengan melepaskan pelukkannya.


“Um, aku baik-baik saja dan aku juga sangat rindu padamu,” sahut Cella dengan mencubit kedua pipi Acel lalu Acel tertawa.


Cella menarik Acel duduk di sampingnya. Jessica berdiri kemudian dia keluar dari ruang kerja Kairos, dia pergi ke kamar Carissa dan mengajak Carissa pergi ke ruang kerja.


Mereka berdua masuk lalu Carissa melihat Cella, dia sangat senang lalu Carissa berlari memeluk Cella.


“Cella, aku sangat rindu padamu, oh ya aku sudah bersekolah,” ujar Carissa dengan senang


“Oh ya? kamu sudah bersekolah? Aku senang mendengarnya, apakah kamu sudah mendapat banyak teman di sekolah?”


“Iya, Cella. Mereka semua baik padaku,” sahut Carissa sambil duduk di antara Joe dan Cella.


“Itu bagus, Sayang.” Cella membelai rambut Carissa dan mencium kedua pipi Carissa.


“Oh ya, apakah kalian sudah makan malam?” tanya Jessica kepada Cella dan Joe.


“Sudah, Mam. Sebelum kesini aku dan Joe makan dulu. Oh ya, Laura dimana, Mam?”


Tampak kebahagiaan di wajah mereka, apalagi Carlos dan Jessica mereka telihat sangat bahagia mengetahui Cella hamil.


***


Acel kembali mendapatkan informasi tentang anak Tuan Rolland, dia mengumpulkan semua teman-temannya dan dia membagikan senjata kepada mereka.


“Kali ini kita harus berhasil,” ujar Acel kepada teman-temannya.


“Iya, kali ini kita tidak akan gagal,” sambung salah satu teman Acel.


“Kalau begitu kita pergi sekarang.” Acel keluar dari gedung yang dia sewa bersama teman-temannya.


Mereka naik ke atas motor dan meninggalkan gedung, mereka langsung menuju ke lokasi tempat anak Tuan Rolland melakukan pertemuan.


Mereka tiba lalu Acel meminta memarkirkan motor jauh dari lokasi. Mereka turun dari motor kemudian Acel membagi kelompok. Acel akan masuk dari depan bersama kedua temannya sedangkan yang lain masuk dari belakang.


Mereka mengawasi tempat Anak Tuan Rolland melakukan pertemuan, Acel melihat ada beberapa orang berjaga di depan. Acel memasang peredam di pistolnya lalu dia memberi isyarat kepada kedua temannya.


Kedua teman Acel mengerti lalu mereka berjalan mengendap-endap memasuki tempat itu, Acel da kedua temannya langsung memukul kepala bagian belakang dari kedua penjaga itu lalu mereka pingsan. Acel menyuruh temannya untuk menyeret kedua penjaga itu ke tempat yang tersembunyi. Mereka mengikat kaki dan tangan penjaga dan menyumbat muluk mereka dengan kain.


Acel dan kedua temannya berhasil melumpuhkan kedua penjaga itu kemudian mereka perlahan-lahan membuka pintu. Acel mengintip, dia melihat di dalam ada beberapa orang sedang berbincang dengan Tuan Rolland. Acel juga melihat di atas meja ada tas dan beberapa bungkusan berwarna putih.


Acel menutup pintu kembali kemudian dia berbisik kepada kedua temannya.


“Sepertinya mereka sedang mengadakan transaksi obat terlarang,”


“Benarkah?” salah satu teman Acel mencoba mengintip, dia juga melihat ada tas dan beberapa bungkusan di atas meja. “Iya Acel, kamu benar.”


“Hubungi yang lainnya agar tidak ceroboh,” perintah Acel ke salah satu temannya.

__ADS_1


Teman Acel menghubungi yang lainnya, mereka juga memberi kabar kalau di belakang banyak penjaga. Acel berpesan agar mereka semua berhati-hati.


Acel kembali mengintip, dia melihat di dalam juga ada beberapa yang berjaga, Acel mengeluarkan ponsel kemudian dia menghubungi Charlie dengan menggunakan video call.


Panggilan terhubung lalu terlihat wajah Charlie di layar ponsel, Acel menggunakan headset dan memberitahukan Charlie tentang posisi mereka.


“Hi Charlie coba kamu lihat.” Acel merubah kamera menjadi kamera belakang dan menunjukkan kepada Charlie.


“Kamu dimana, Acel?” tanya Charlis dengan khawatir.


“Charlie segera kesini, aku akan mengirim lokasinya.” Acel berbisik, dia tidak ingin mereka mendengarnya.


“Baik, Acel. Jangan bertindak gegabah, tunggu aku.” ujar Charlie kemudian panggilan terputus.


Acel memerintahkan teman-temannya untuk tidak bertindak, mereka menunggu Charlie. Acel mengirim lokasi mereka kepada Charlie kemudian dia duduk.


Tidak lama kemudian Acel melihat ada mobil yang berhenti jauh dari Lokasi, lalu ponselnya bergetar. Acel mengeluarkan ponsel dan melihat panggilan dari Charlie. Acel langsung menjawabnya.


"Hallo, Charlie. Apakah itu kamu yang berhenti jauh dari lokasi.


"Iya, Acel. Jangan bertindak dulu, tunggu aku." telepon di tutup.


Acel melihat banyak polisi yang datang, dia juga melihat Charlie sedang berlari mendekati lokasi.


Acel berdiri kemudian dia berlari menghampiri Charlie.


"Charlie, mereka sepertinya akan melakukan transaksi,"


"Acel, sekarang kamu pulang. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu." ujar Charlie


"Tidak, Charlie. Aku ingin membunuhnya," sahut Acel dengan geram.


"Apa kamu sudah gila? Papamu bisa marah besar kalau dia tahu kamu disini." Charlie berusaha menyuruh Acel pulang, tapi Acel tidak mau sebelum anak Tuan Rolland itu mati.


Charlie menyerah dan membiarkan Acel ikut dengannya.


Charlie membagi regu kemudian mereka masuk ke lokasi.


Charlie meminta Acel terus bersamanya. Charlie menyuruh Acel agar memerintahkan semua temannya untuk mundur.


Acel mengikuti perintah Charlie. Semua teman-teman Acel mundur.


Charlie memberi isyarat kepada rekan-rekannya agar berpencar. Kemudian dia mengajak rekan yang lain untuk ikut bersamanya masuk dari depan.


Charlie memberi isyarat kemudian mereka masuk dan langsung menodongkan senjata kepada anak Tuan Rolland dan yang lainnya.


"Jangan bergerak dan angkat tangan kalian!" perintah Charlie sambil membidik anak Tuan Rolland.


Salah satu anak buah dari anak Tuan Rollan membidik Charlie tapi dengan cepat Acel menembaknya.


Charlie terkejut dan menatap Acel. " Dari mana kamu belajar menembak," tanya Charlie sambil tangannya tetap menoodongkan pistol kepada Anak Tuan Rolland.


"Nanti aku ceritakan, " sahut Acel sambil tersenyum kemudian dia menembak kembali salah satu orang dari Anak Tuan Rolland.


Charlie dan rekan-rekannya menghampiri anak Tuan Rolland, sedangkan di belakang terdengar tembakan. Charlie memerintahkan yang lain untuk pergi kebelakang.


Tiba-tiba terdengar lagi tembakan, Acel menembak anak Tuan Rollan, sehingga dia tersungkur di lantai.


Charlie terkejut dan merampas pistol dari tangan Acel.


"Kamu ingin masuk penjara?" ujar Charlie dengan emosi.


"Aku tidak perduli charlie. Aku tidak takut di penjara asalkan orang ini mati!" tegas Acel sambil berebutan pistol dengan Charlie.


Charlie dan Acel berebutan pistol, tanpa sadar Charlie memukul Acel sehingga Acel terjatuh. Charlie mengelurakan semua isi peluru dan memberikan pistorl Acel kepada salah satu rekannya.

__ADS_1


Acel berdiri dan memegang pipi yang baru saja kena bogem mentah dari Charlie. Kemudian dia keluar dari rumah itu dan bergabung dengan teman-temannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2