HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
THE BEST


__ADS_3

Maafkan daku reader ... 🙏


Bukan maksud hati untuk tidak up, tapi author baru tertimpa musibah, dimana hp author hilang di pusat perbelanjaan.


Semua akun lenyap karena author lupa password email, ditambah lagi author tinggal di tempat terpencil yang tidak ada GraPARI, sehingga butuh waktu berhari-hari untuk proses klaim/reset kartu kembali 🙏


Semoga kalian memaklumi, dan mau memaafkan ... 😭🙏


Yuk, kita lanjutkan berburu Om-Om bersama Bella dan Ayu ... 😍


...


Sesungguhnya Biyan bukan termasuk tipe orang yang doyan sarapan pagi.


Kalau pun Biyan melakukan rutinitas tersebut, maka yang Biyan lakukan hanya sebatas ngopi.


Ajakan Ayu untuk makan di pagi hari, apalagi dengan menu berat seperti yang tersaji diatas meja kecil membuat Biyan berdiri ragu, sampai akhirnya ...


"Papaaaa ...!"


Bella yang muncul dari arah kamar mandi langsung menubruk Biyan begitu saja, memeluknya erat-erat, sementara Biyan hanya tersenyum sambil mengacak kecil ubun-ubun putrinya yang mulai beranjak dewasa itu.


Masih dengan handuk yang terlilit tinggi di kepala, detik berikutnya Bella telah menggiring paksa tubuh kekar Biyan agar mau menerima piring yang di sodorkan Ayu, membuat Biyan semakin tidak bisa mengelak.


"Pa, ayo kita makan dulu. Bella laper banget nih ..."


Akhirnya Biyan menerima juga piring yang disodorkan Ayu untuknya.


Gadis itu terlihat bergerak cekatan saat membuka rice cooker dengan kepulan uap nasi yang hangat.


"Eit, tunggu, Ay ... jangan banyak-banyak, dikit aja ..." larang Biyan begitu melihat Ayu hendak menaruh satu centong penuh nasi putih ke atas piring yang ada ditangannya.


Ayu memang menuruti perkataan Biyan dengan cara mengurangi porsi nasi dari centongnya, tapi Bella malah menanggapi kalimat Biyan dengan sebuah guyonan.


"Awas yah, kalau nanti rasanya nagih, Papa harus nambah sendiri, gak boleh gengsi ...!" ancam Bella dengan mimik lucu, sengaja menggoda Biyan yang hanya bisa mesem-mesem.


"Iya deh, kalau beneran nagih Papa bakal nambah sendiri." ucap Biyan seraya melirik Ayu sesaat.


"Pasti Papa nambah, Bella yakin ..."


"Papa kan gak biasa sarapan, Bell ..." tutur Biyan.


"Idih, Papa belum pernah ngerasain masakan Ayu sih, coba aja kalau udah di icip sekali ... Bella berani taruhan, Papa pasti nambah porsi ..."


Biyan tertawa kecil mendengar Bella yang mempromosikan hasil masakan Ayu dengan sangat bersemangat.


"Masa? Emang se-enak itu masakan Ayu ...?" ujar Biyan sok serius, saat menanggapi kalimat demi kalimat putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Bell, ngomong apa sih ..." wajah Ayu memerah saat tatapan elang milik Biyan kembali jatuh padanya.


'Lembut sih ... tapi nyetrum ...!'


Begitu kira-kira perasaan Ayu yang lagi salting brutal, karena sejak tadi dilirik Biyan dengan lirikan yang intens terus-menerus, sambil senyam-senyum kalem.


"Bella emang paling bisa deh kalau urusan sanjung-menyanjung ..."


Bella memeletkan lidahnya ke arah Ayu yang barusan berucap risih. "Siapa yang menyanjung? Kenyataan kali ..."


Ayu terdiam gugup, bingung harus bersikap bagaimana dalam menanggapi Bella yang terus mempromosikan dirinya di depan Papanya yang ganteng.


"Ay, kapan-kapan ajarin Bella masak dong, biar bisa mahir kayak Ayu juga ..." kalimat lembut Biyan terucap sambil menatap Bella dan Ayu berganti-ganti.


"Kalau Bella mau, boleh sih, Om ... tapi Ayu hanya bisa masak masakan kampung ..."


Ayu berucap malu-malu sambil tertunduk penuh semburat, apalagi saat mendengar derai tawa renyah milik Biyan yang menyeruak mendengar ucapannya.


"Nah kan, Ayu sih kayak gini emang, Pa ... sukanya merendah ...."


Biyan tersenyum simpul menyaksikan keceriaan Bella acap kali bersama Ayu.


Sejujurnya Biyan memang sangat menyukai Ayu.


Menyukai dalam artian Biyan sangat suka jika Bella berkawan dengan gadis baik seperti Ayu, karena meskipun usia mereka setara namun kepribadian Ayu jelas sangat jauh berbeda.


Ayu terlihat lebih dewasa, lebih mandiri, lebih kalem, lebih keibuan ... dan sangat positive vibes.


Intinya, Ayu benar-benar memenuhi kriteria Biyan sebagai sahabat yang tepat untuk putrinya Bella, yang tak jarang membuat Biyan pusing tujuh keliling jika mulai terhubung dengan circle pergaulannya di luar Ayu.


"Kalau kayak gini, Om jadi penasaran beneran nih, Ay. Bella kan pemilih, apalagi soal makanan. Jadi kalau Bella udah suka kayak gini ... berarti ini gak main-main nih ..."


Biyan berucap santuy, kali ini tangannya telah bergerak menyendok ayam woku, kemudian pindah ke tumis kangkung, sepotong tempe ikut menyusul, dan yang terakhir menyendok sambel sedikit untuk ditaruh di tepian piring.


Ayu langsung blush mendengar pernyataan Biyan, namun ekor matanya tetap mengawasi pergerakan pria itu yang begitu luwes saat memindahkan lauk pauk kedalam piringnya, yang diikuti oleh Bella yang justru bergerak sebaliknya ... gak sabaran!


Ayu masih setia berdiri dengan wajah dipenuhi senyum kebahagiaan.


Hatinya menghangat hanya dengan menyaksikan pemandangan manis, di mana sepasang ayah dan anak terlihat saling berbicara akrab dan penuh canda di depan hidungnya.


Semua itu mengingatkan Ayu akan suasana rumahnya nun jauh di sana, yang juga dipenuhi cinta dan kebahagiaan keluarga yang tiada tara ... dalam kesederhanaan yang selalu Ayu rindukan nyaris di setiap saat ...


Derai tawa Bella yang manja tak sedikit pun lepas dari pandangan Ayu.


Ayu tak bisa mengelak, bahwa hanya dengan menyaksikan kebanggaan Bella akan seorang Biyan Erlangga, mampu menyeret Ayu pada sebuah angan yang diam-diam telah menjadi asa yang terpendam.


Ayu selalu berkhayal, jika kelak dikemudian hari ia bisa menjadi wanita beruntung, yang akan di cintai oleh seseorang seperti Biyan Erlangga.

__ADS_1


"Ay, jangan nonton aja, yuk makan sama-sama ..." suara berat Biyan menghentikan semua khayalan Ayu yang sejak tadi melanglang buana.


"Iya, Om," Ayu mengangguk patuh sambil menyambar piring yang tersisa, dan mengikuti jejak Biyan dan Bella yang telah lebih dahulu menyendok lauk-pauk keatas piring masing-masing.


"Duduk sini, Pa, kita makannya lesehan ..."


Bella terlihat kembali menggiring tubuh kekar Biyan kearah tikar yang di gelar di sudut kamar yang terlihat sangat bersih juga rapi.


Biyan patuh dengan ajakan Bella, ia pun duduk bersila, tepat di samping putrinya.


"Maaf, Om, duduknya cuma bisa lesehan, soalnya Ayu cuma punya satu kursi, tuh ..." Ayu berucap malu-malu sambil menunjuk kursi belajar miliknya yang ada di sisi lain ruangan.


"Gak pa-pa, Ay ... makan lesehan malah lebih enak kok ..."


Senyum Biyan yang terukir di bibirnya sempat membuat Ayu nge-lag sesaat.


'Om Biyan ... gak capek apa ganteng terus ...?'


Bathin Ayu terpesona, sampai-sampai Ayu menahan napas begitu menyaksikan Biyan membuka mulut, hendak memasukkan satu suapan penuh dan ...


Klik.


Tatapan Ayu terkunci saat detik berikutnya Biyan yang sedang mengunyah refleks terdiam, kemudian mengangkat wajahnya tiba-tiba hingga pandangan mereka bertemu.


Jantung Ayu bedegup tak karuan, menyaksikan perubahan air muka Biyan yang terkesan kontras.


"Om ... a-ada apa yah ...?" susah payah Ayu berucap tergeragap, saat menyadari tatapan Biyan tak kunjung berpindah darinya.


'Apakah terjadi sesuatu ...?'


'Apakah makanannya tidak enak ...?'


'Apakah makanannya ...'


"Enak."


Ayu terhenyak.


"Ay, ini enak sekali loh ... serius ..."


Blush.


Tatapan mata serta ekspresi wajah Biyan yang terlihat bersungguh-sungguh, seketika membuat pipi Ayu bersemu.


Sungguh, mendengar pujian telak itu detak jantung Ayu langsung memacu ... laju adrenalinnya pun ikut menderu ...


"Tuh, kan, apa Bella bilang ... masakan Ayu emang gak ada duanya ... the best ...!"

__ADS_1


...


Bersambung ...


__ADS_2