
"Duduk, Ay ..."
Suara berat yang berada tepat di belakang punggungnya sanggup membuat Ayu tercekat.
Ayu serentak berbalik, di sana ia mendapati sosok Biyan yang sudah kembali duduk di salah satu kursi pantai, sedang tersenyum manis kearahnya dengan segelas orange juice dingin di tangan.
"Loh ... kok malah melamun sih ...? Ayo duduk di situ ..." goda Biyan sambil menunjuk kursi di sebelahnya dengan dagunya yang ditumbuhi hamparan bulu halus, begitu mendapati wajah bengong Ayu yang hanya menatapnya lekat, terpesona.
"I-iya, Om ..." angguk Ayu patuh bercampur gugup saat tersadar.
Dengan langkah ragu akhirnya Ayu mengikuti arah dagu Biyan.
Ayu melangkah ke kursi pantai yang berada tepat di sebelah kursi yang di duduki pria itu kemudian menghempaskan tubuhnya di sana dengan perlahan.
"Itu minuman kalian, dari tadi belum di sentuh sama sekali ..." Biyan berucap lagi, kali ini dia bicara tentang dua gelas milkshake dingin diatas meja, yang masih utuh milik Ayu dan Bella.
Kedua gelas tinggi tersebut nampak telah berembun sempurna, dan seperti kata Biyan barusan ... belum tersentuh.
Sejak awal mereka ber-empat tiba di sana, Bella dan Ayu memang langsung tenggelam dalam suka-cita bermain buih di bibir pantai, berselfie-ria, bahkan sampe berjoget-joget tik-tok segala.
Sementara Biyan dan Eros memilih mengawasi keduanya dengan duduk di bawah payung pantai, sambil menikmati kesegaran hembusan angin yang seolah mengalahkan hangatnya sinar matahari yang hendak terbenam di ufuk barat.
Ayu lagi-lagi patuh. Tangan kanannya terulur ke salah satu gelas, berusaha menjangkaunya dengan gerak yang kikuk.
Kerongkongan Ayu yang agak seret sedikit demi sedikit terasa segar, begitu Ayu mulai menyeruput milkshake choco oreo, yang merupakan varian rasa kesukaannya dan Bella dengan perlahan, sedangkan Biyan yang sejak tadi mengawasi Ayu tanpa jeda nampak tak henti mengulas senyum.
Biyan memang se-suka itu dengan sosok Ayu, karena Ayu merupakan satu-satunya sahabat Bella yang bisa ia percayai, karena sudah terbukti Ayu memiliki kepribadian yang baik.
Pembawaan Ayu yang kalem, namun disisi lain bisa berubah tegas saat menghalau ke-absurdan sikap putrinya yang kekanak-kanakan, sungguh mampu menenangkan hati Biyan.
Bisa dibilang Ayu jauh lebih handal dalam menjinakkan Bella daripada Rania bahkan Biyan sendiri.
"Ay ..." panggil Biyan lembut.
"I-iya, Om ..."
"Terima kasih ..."
Ayu terkesima menerima ucapan 'terima kasih' yang terlontar dengan begitu tulus dari mulut pria yang selalu menghiasi mimpinya siang dan malam.
Perlahan namun pasti, dengan memberanikan diri Ayu mengangkat wajahnya, mencoba membalas tatapan Biyan yang terus lekat.
"Terima kasih ...?" Ayu balik bertanya dengan wajah keheranan.
"Iya, Ay, terima kasih." ulang Biyan masih dengan tatapannya yang hangat, seolah ingin membuat Ayu meleleh saat itu juga.
"Tapi ... ucapan terima kasih ini untuk apa, Om ...?"
Lagi-lagi Biyan tersenyum melihat ekspresi wajah polos Ayu yang keheranan, lengkap dengan pemandangan dua alis berjejer rapi alami milik Ayu yang kini bertaut nyata.
"Om mengucapkan terima kasih, karena Ayu telah menjadi sahabat yang baik buat Bella selama ini. Terima kasih juga, karena Ayu selalu memperlakukan Bella dengan sangat baik ..."
__ADS_1
Ayu membeku mendengar kalimat panjang Biyan yang seolah sanggup merontokkan tulang-belulang di tubuhnya.
'So sweeeett, pleaseee ...'
Demi apa ... tentu saja Ayu langsung meleyot mendengarnya.
Lagian bagaimana mungkin degup jantung Ayu bisa tetap aman terkendali jika sedang di hadapkan pada pesona seorang Biyan Erlangga yang begitu manis begini ...?
Perlahan Ayu menaruh gelas milkshake yang sejak tadi berada ditangannya ke atas meja terlebih dahulu, sebelum berucap lirih.
"Ayu rasa ... itu ... itu sudah selayaknya kok, Om. Selama ini Bella juga baik banget sama Ayu ... dan ... ehem, Om Biyan juga ..."
Mendengar kalimat tersebut, tiba-tiba Biyan terlihat berdiri dari duduknya, kemudian menghempaskan tubuhnya lagi ... kali ini di kursi pantai yang sama dengan Ayu, tepat bersebelahan.
Belum sempat Ayu menyadari apa yang hendak pria itu lakukan, manakala Biyan telah meraih kedua jemari Ayu, dan membawanya kedalam genggaman dua tangan besarnya yang penuh kehangatan.
"Ay, Om sangat berharap Bella bisa selalu bersama Ayu. Karena kalo Bella sama Ayu terus ... pikiran Om juga tenang. Apalagi Ayu tau sendiri kan, kalo sehari-harinya Om selalu sibuk, Om juga sering keluar kota ... kasian Bella sering sendirian di rumah, gak ada temannya ..."
Mendapati curhat colongan tersebut membuat jiwa halu Ayu sontak meronta-ronta.
Biyan pasti bisa merasakan bagaimana tremor-nya jari-jemari Ayu yang berada dalam genggaman pria itu, karena Ayu sendiri udah gak bisa lagi mengontrol hatinya yang jungkir-balik.
'Trus, sekarang maunya apa, Om?'
'Mau pinang Ayu jadi istri Om Biyan biar bisa bareng Bella terus-menerus ...?'
'Lah ayo, Om, Demi Tuhan, Ayu gak bakal nolak kalo emang Om Biyan maunya begitu ...'
Dalam sekejap seluruh bilik hati Ayu di penuhi perasaan ge-er yang hakiki.
Ayu gak bisa mencegah pikirannya yang menjadi semakin halu, baper parah tingkat dewa!
"Ay, Om pengen ngomong sesuatu ..." bisik Biyan setelah terdiam sejenak, masih dalam mode menggenggam jemari Ayu yang Biyan bahkan gak tau kenapa bisa langsung keringetan saat ia sentuh.
'Mungkin Ayu merasa gugup ...'
Begitu kira-kira pemikiran Biyan, karena selama ini Ayu memang selalu terlihat sopan dihadapannya.
Saking sopannya, gadis itu sering sekali bertingkah kikuk.
Ayu diam tertunduk bak ponsel yang sedang berada dalam mode silent, namun sayangnya Biyan tidak menyadari sama sekali bahwa jauh dikedalaman sana, degup jantung Ayu seolah hendak melompat keluar dari sarangnya.
'Katakan, Om ... katakan kalo Om Biyan ingin melamar Ayu buat jadi ibu sambungnya Bella ...!'
Ayu membathin penuh harap, beneran gak sabar dengan apa yang hendak diutarakan oleh Biyan saat ini.
"Itupun kalo Ayu bersedia ..."
Bulir keringat dingin seolah menjadi bukti bahwa saat ini Ayu benar-benar lagi panas-dingin.
'Aaaaaaa ...!!'
__ADS_1
'Apa ...? Bersedia apaaa ...?'
'Iya deh, iya ... Ayu bersedia, Om, Ayu gak bakal nolak, sumpah ...!'
'Katakan secepatnya, Om, pleaseee ... Ayu udah gak kuat ini, dada Ayu rasanya mau meledak ...!'
Cara bicara Biyan yang terkesan berbelit-belit, sukses membuat bathin Ayu menjadi semakin kacau sekaligus berbunga-bunga.
"Ay, gimana kalo mulai besok Ayu gak usah nge-kost lagi ...?" ucap Biyan kemudian.
'Lah ...? Kenapa malah membahas soal kost-kostan sih ...?'
Ayu yang sedang harap-harap cemas sontak merasa bingung, karena ternyata kalimat yang terucap dari mulut Biyan selanjutnya bukanlah kalimat 'Will you marry me ...?' seperti yang telah di prediksikan Ayu.
"M-maksud Om Biyan ...?" akhirnya Ayu memutuskan untuk balik nanya.
"Maksud Om, kalau Ayu bersedia, kedepannya Ayu pindah ke rumah Om aja, gak usah nge-kost lagi. Begitu, Ay ..."
Ayu terhenyak. Lemes. Musnah semua impian dan harapan yang sedianya telah berbunga-bunga pada sesaat yang lalu.
Ternyata yang hendak dibicarakan Biyan, bukanlah lamaran syahdu seperti yang Ayu harapkan, melainkan sebuah tawaran agar Ayu mau pindah ke rumahnya.
"J-jadi maksud Om ..."
Mengambang.
"Iya, Ay, maksud Om, Om mau Ayu tinggal di rumah Om Biyan ..."
Dalam diam Ayu merutuki dirinya sendiri yang belum apa-apa udah kebaperan duluan.
'Bisa-bisanya Ayu menganggap kalo Om Biyan bakal jadiin Ayu bininya ...?'
'Padahal Om Biyan hanya mau Ayu jadi teman Bella dan berada didekat Bella setiap saat ..."
'Astaga Ayu ... Ayu ...'
'Duh, malunya ampuuunn ... paraahhh ... paraaaahhh ...!'
Bathin Ayu dipenuhi rasa malu.
"Kalo Ayu setuju, Bella pasti sangat senang."
Ayu mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk, menatap penuh kearah jemarinya yang sampai detik ini masih berada dalam genggaman tangan Biyan.
Untuk sesaat Ayu seolah terhipnotis pada sepasang mata elang milik Biyan yang dipenuhi asa yang besar didalamnya.
Semua pemandangan itu cukup membuat Ayu luluh, menyadari betapa besar pengharapan Biyan untuknya sontak membuat Ayu tak bisa menolak sehingga langsung menganggukkan kepalanya tanpa berpikir dua kali.
"Iya, Om, Ayu setuju ..."
...
__ADS_1
Bersambung ...