
Usai makan malam, aktifitas di samping villa tersebut telah terbagi dua tanpa perencanaan.
Biyan, Eros, dan Andre memilih papan catur sebagai sarana mengasah otak, sementara Bella, Ayu, Steve dan David memilih bermain kartu.
Tentu saja aura dua kubu tersebut sudah jelas berbeda. Kalau di meja catur ketiga wajah itu terlihat serius dan nyaris gak ada obrolan, sementara di meja kartu justru sebaliknya. Canda, tawa, teriakan protes, bahkan saling ejek ikut mewarnai sepanjang permainan, apalagi dengan diberlakukannya sanksi, bahwa yang kalah akan menerima hukuman yakni di coret wajahnya pake lipstick.
Sejauh ini, Ayu menjadi satu-satunya orang yang paling cemong wajahnya, karena Ayu memang jarang main kartu juga gak pinter strategi seperti ketiga lawannya yang lebih berpengalaman.
Setengah jam pertama permainan, Ayu menyerah dengan alasan ingin membereskan kekacauan yang tersisa setelah makan malam mereka tadi, sementara ketiganya tetap bertahan dalam permainan yang tetap berlanjut seru.
"Sini, Yu, biar Bella aja ..."
Ayu terkejut saat menyadari Bella telah berada disampingnya.
"Loh, emang main kartunya udahan ...?" tanya Ayu keheranan, sambil memperhatikan wajah Bella yang telah dipenuhi coretan lipstick, nyaris sebanyak coretan yang ada di wajahnya.
"Bella nyerah. Steve sama David suka curang mainnya, Bella kalah melulu ..."
Mendengar dumelan Bella, Ayu pun tak bisa menahan tawanya, terlebih saat melihat penampilan wajah Bella yang berantakan.
"Trus kalo Bella gak main lagi Steve sama David gimana dong ..."
"Tuh, lagi mabar ..."
Telunjuk Bella mengarah pada Steve dan David yang telah tenggelam dalam keseruan salah satu aplikasi game online yang saat ini lagi trend di mana-mana, pasca Bella keluar dari permainan kartu dengan wajah yang cemberut.
"Ayu, karena Ayu udah beres-beres sejak tadi, sekarang giliran Bella buat beres-beres ..." pungkas Bella kemudian, seraya menepis halus tangan Ayu yang hendak mengambil alih tumpukan beberapa piring kotor yang tersisa diatas meja.
"Itu berat loh, Bell ..."
"Gak pa-pa, sekarang mendingan Ayu duduk dulu, santai dikit, rehat sejenak ... daritadi mondar-mandir melulu pasti capek ..."
"Tapi, Bell ..."
"Udah deh, mendingan Ayu istirahat dulu. Sekarang giliran Bella buat beresin sisanya ..." ucap Bella bersikeras.
Pada akhirnya Ayu pun mengalah sehingga memilih menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi yang paling dekat dengannya, tak kuasa menghadapi kebulatan tekad Bella yang tetap menolak bantuannya membereskan sisa-sisa dari peralatan kotor yang belum sempat ia bereskan.
Yang dikatakan Bella memang benar adanya, bahwa sejak tadi Ayu sudah membersihkan sebagian besarnya. Tapi bagi Ayu sendiri, semua yang dia lakukan itu gak seberapa, karena Ayu memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sehingga menganggap apa yang ia lakukan saat ini bukanlah hal yang luar biasa. Namun pada akhirnya Ayu memilih mengalah, karena Ayu menghargai niat baik Bella dalam membantunya.
__ADS_1
Bella pun mulai beraksi. Ia menyisihkan dulu tumpukan piring kotor ke pinggiran meja, dan memulai misinya dengan melap seluruh permukaan meja terlebih dahulu, demi membebaskannya dari sisa-sisa makanan yang tercecer di permukaan.
Dalam sekejap meja panjang itu telah kinclong, ditengahnya kini hanya tersisa wadah buah dan cemilan yang masing-masing isinya tinggal separuh, dan beberapa minuman kaleng serta minuman kotak yang telah ditata dengan rapi oleh jemari lentik Bella.
"Ayu, mau minum, gak?" kerling Bella kearah Ayu yang sejak tadi mengawasi gerak-geriknya yang cekatan.
"Boleh deh."
"Mau yang mana ...?"
"Teh kotak aja."
"Ntar ..."
Bella pun meraih teh kotak yang diinginkan Ayu dari atas meja, dan langsung menusukkan sedotannya tepat kearah yang telah disediakan, sebelum ia serahkan kepada Ayu yang menerimanya dengan senang hati.
"Makasih yah. Bella baik banget deh ... udah disediain sedotannya segala, jadi Ayu tinggal minum aja ..."
"Emang Bella baik kan." pungkas Bella, seperti biasa, yang dipenuhi dengan kenarsisan yang hakiki.
"Iya deh iya ..." ucap Ayu, yang kembali menyeruput teh kotak dengan tawa yang tertahan.
"Bell, biar aku aja yang bantuin kamu bawa piring kotornya kedapur ..."
"Baguslah, kalo mau bantuin. Buruan deh, angkat ke dapur semuanya ..." ujar Bella tanpa berpikir dua kali.
Steve mesem-mesem sejenak mendengarnya, sebelum akhirnya ia benar-benar mengangkat tumpukan piring kotor yang dimaksud, hendak membawanya ke dapur sesuai titah dari Bella.
Steve pun melangkahkan kakinya melewati pintu samping dengan diikuti Bella dari belakang, meninggalkan Ayu yang menatap keduanya yang menjauh dengan senyum segaris.
Sementara itu, hanya berjarak beberapa meter dari sana ...
Tak ada seorang pun yang menyadari bahwa diam-diam ada sepasang mata elang yang sejak awal terus-menerus mengawasi gerak-gerik Bella dari kejauhan.
Eros tak mengerti, entah kenapa acap kali menyaksikan keceriaan Bella yang tertawa lepas bersama teman-temannya, bercanda konyol tanpa jaim sepanjang malam, semua itu seolah melukai hati Eros, membuat dada Eros terasa perih seperti di pecut.
Eros sadar, bahwa dia telah menyakiti hati Bella dan mengecewakan gadis itu oleh karena penolakannya.
Tapi anehnya disaat yang bersamaan hati Eros juga merasakan nyeri, menyaksikan Bella berusaha tegar dan mampu tertawa begitu lepas bersama orang lain disaat hatinya baru saja dikecewakan.
__ADS_1
Mungkin dimata orang lain, Bella seolah gak pernah berubah. Bella tetaplah Bella, dengan segala keceriaan dan kekonyolan yang seolah gak ada matinya.
Tapi Eros tau persis, bahwa sesungguhnya Bella bukan lagi sosok Bella yang sama, yang seumur hidup dikenal Eros hingga beberapa saat yang lalu sebelum Eros menghancur-leburkan hatinya.
Keceriaan Bella memang gak berubah, yang berubah hanyalah sikap gadis itu yang seolah hanya bisa dirasakan oleh Eros seorang.
Malam ini, Bella tidak lagi bergelayut manja dilengan Eros, seperti yang beberapa kali gadis itu lakukan kepada Biyan, Papanya.
Bella juga tidak lagi berusaha melakukan modus yang membuat gadis itu bisa mendekati Eros, lalu menempel pada Eros seperti kutu.
Malam ini, kemanjaan Bella kepada Eros seolah hilang tanpa bekas, karena Bella lebih memilih tenggelam dalam keceriaan bersama teman-temannya.
Eros sadar, dirinya bukan anak kecil yang gak mengerti bahwa Bella sengaja menjauh, bahkan beberapa kali gadis itu terkesan menghindar dari tatapan Eros.
Seharusnya Eros lega karena terbebas dari dilema hati, yang bahkan Eros sendiri gak sanggup untuk membayangkan bagaimana jadinya jika Biyan dan Rania tau, bahwa putri mereka begitu nekad menyatakan cinta kepada pria seumuran mereka, yang latar belakang dan sepak terjangnya diluar sana mereka ketahui dengan pasti seperti apa, dan pria itu bahkan belum benar-benar selesai dengan konflik rumah tangganya yang kacau balau!
"Skak ...!"
Suara bariton Biyan, telah membuyarkan lamunan Eros.
"Waduh ..." Andre terlihat menggaruk kepalanya, menatap nanar kearah papan catur.
"Gimana, Ndre ... nyerah?" Biyan tertawa melihat ekspresi blo'on Andre, yang gak menyangka akan dikalahkan Biyan hanya dalam kurun waktu yang singkat.
"Hebat banget deh, Om Biyan, ini rekor tercepat aku kalah. Sama Papa aja gak pernah aku dikalahin secepat ini ..."
Lagi-lagi Biyan terkekeh menanggapi ucapan polos Andre.
"Sekarang giliran kamu lagi, Ros, ronde kedua." ucap Biyan sambil menatap Eros yang sejak tadi duduk diam diantara dirinya dan Andre, setelah di putaran pertama tadi Eros juga harus bertekuk lutut karena dikalahkan oleh Biyan.
"Andre lagi aja deh, perut aku lagi gak enak nih ..." tolak Eros memberi alasan, padahal aslinya bukan perutnya yang gak enak, melainkan perasaannya yang gak enak usai menyaksikan punggung Steve dan Bella yang menghilang dibalik tembok, menuju kearah dapur dengan membawa sisa-sisa peralatan bekas makan malam mereka.
"Ya udah, kalo gitu kita fight lagi, Ndre ..." putus Biyan sambil menoleh kearah Andre yang urung beranjak dari tempat duduknya, begitu mendengar penolakan Eros untuk menghadapi Biyan kembali.
"Boleh deh, Om ..." Andre mengangguk cepat, terlihat dua kali lebih bersemangat begitu menyadari bahwa ia telah mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali beradu skill dengan Biyan.
Dalam hati Andre tertanam sebuah tekad, bahwa jangan sampai dirinya dikalahkan lagi oleh Biyan, untuk yang kedua kalinya.
Bahkan kalau pun pada akhirnya Andre harus kalah ... setidaknya ia harus memberikan perlawanan yang lebih berarti, dari laga pertama ...
__ADS_1
...
Bersambung ...