HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
PEMBICARAAN DARI HATI KE HATI


__ADS_3

Didalam kamar kecil yang berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter itu, keheningan masih saja menjadi pemenang sejati yang bertahta sekian lama.


Sementara kedua insan yang duduk dengan jarak yang tak lebih dari dua meter itu seolah masih tenggelam dalam kediaman, sibuk mencari cara untuk menemukan rangkaian kata yang tepat, yang setidaknya bisa digunakan dalam mencairkan suasana super canggung yang telah terbentuk begitu saja.


Ayu yang duduk diatas kursi belajarnya tertunduk dalam sambil memilin jemarinya satu dengan yang lain, sedangkan Biyan yang duduk ditepian ranjang juga masih bingung mencari kalimat awal yang tepat.


Setelah untuk kali kesekian ekor mata Biyan kembali mencuri pandang ke sosok Ayu yang tertunduk dalam, kali ini Biyan akhirnya membulatkan tekad untuk memecah keheningan.


Yah, Biyan memang harus melakukannya. Karena kalau bukan Biyan yang memulainya, lalu siapa lagi?


Biyan sendiri bahkan tak yakin jika Ayu punya keberanian untuk membuka suara mendahului dirinya.


"Ehemm ..." Biyan sengaja berdehem, sebagai awal, sekaligus upaya mendapatkan perhatian Ayu.


Siasat Biyan itu berhasil, manakala Ayu yang sejak tadi hanya tertunduk menekuri jari, refleks mengangkat kepalanya sedikit.


"Ayu ..." panggil Biyan lembut.


Ayu tidak menjawab, namun lewat tatapannya yang berusaha keras untuk tidak lagi berpaling seperti sepanjang hari ini di mana gadis itu seolah terus berusaha menghindari kontak mata langsung dengan Biyan, cukup membuat Biyan yakin bahwa Ayu telah menaruh perhatian penuh.


"Mmm ... Pertama-tama sepertinya Om Biyan harus minta maaf terlebih dahulu atas semua kejadian yang terjadi hari ini ..."


Biyan diam sejenak, hingga dua kali tarikan napas, sementara Ayu belum berucap sepatah kata pun, seolah gadis itu tahu persis bahwa kalimat Biyan belum sepenuhnya selesai.


"Sejujurnya jauh di dalam lubuk hati, Om sangat menyesal mengapa semua ini bisa terjadi. Ayu sendiri bisa melihatnya kan, bagaimana gigihnya upaya keras Om dalam menjelaskan semuanya, namun sayangnya tak ada satupun yang membuahkan hasil ..."


Kepala Ayu mengangguk pelan, mengiyakan perkataan Biyan meskipun disudut hatinya terbersit rasa ngilu yang sangat, saat harus menerima kenyataan bahwa seperti perkataan Biyan, betapa Biyan memang terlihat sangat menyesali garisan takdir yang terjadi diantara mereka berdua hari ini.


'Apakah Om Biyan ingin Ayu tau bahwa sesungguhnya Om Biyan sama sekali gak menginginkan Ayu ...?'


'Jangan-jangan sebelum ini, Om Biyan bahkan sedang berniat rujuk dengan Tante Rania ...'


'Buktinya saat ini Tante Rania tinggal dirumah Om Biyan ...'


'Kalo memang benar demikian, itu berarti Ayu telah menjadi penghalang utama kebahagiaan Om Biyan untuk bisa bersatu dengan Tante Rania ...'


'Itu juga berarti bahwa Ayu telah merebut kebahagiaan Bella yang sejak lama merindukan kedua orang tuanya bisa bersatu kembali ...'

__ADS_1


'Akhhh ...'


Mendapati berbagai kesimpulan yang sedang tersimpul dalam benaknya sendiri mendadak membuat dada Ayu merasa sesak seolah terhimpit, sehingga tak ayal sepasang kelopak matanya pun ikut menghangat.


Detik berikutnya Ayu telah terisak lirih nyaris tanpa suara, tepat dihadapan Biyan yang mematung dipenuhi rasa bersalah.


'Biyan Erlangga, apa yang sudah kamu lakukan ...?'


'Kamu sadar gak sih kalo kamu sudah menghancurkan masa depan seorang gadis polos yang selama ini ... Kamu bahkan banyak berhutang budi kepadanya ...'


'Biyan ... Biyan ... Bagaimana mungkin pada sesaat yang lalu kamu justru ingin mengajak Ayu merencanakan masa depan ...?'


'Seharusnya kamu sadar, bahwa sudah pasti semua ini sangat berat diterima oleh gadis belia seperti Ayu, harus menerima kenyataan bahwa dia telah diperistri seorang pria tua yang nyaris seusia ayah dan ibunya ...!'


Untuk sesaat, di kedalaman lubuk hati Biyan telah dipenuhi berbagai umpatan untuk dirinya sendiri, yang bisa dikata sempat terbuai kenyataan sehingga menjadi sedikit tidak tahu diri.


Jujur saja, pada awalnya Biyan hendak mengajak Ayu melakukan pembicaraan dari hati ke hati, semata-mata karena nyaris hingga di penghujung hari ini Biyan telah berusaha keras meyakinkan diri, sekaligus memantaskan diri.


Biyan mencoba menerima kenyataan bahwa semua yang terjadi bisa jadi merupakan takdir istimewa yang telah digariskan Sang Khalik untuknya.


Anggap saja dirinya sedang mendapat jackpot luar biasa dari Yang Maha Kuasa.


Sekalipun sebagai seorang pria normal Biyan mengakui ada begitu banyak kelebihan Ayu yang justru tidak bisa Biyan temukan pada sosok wanita lainnya yang bahkan secara usia boleh dikata jauh lebih dewasa dari Ayu.


Semua yang ada di diri Ayu, tidak ada satupun yang tidak bisa memikat hati Biyan.


Semuanya memikat!


Semuanya indah!


Semuanya sempurna!


Of course.


Satu-satunya yang membuat Biyan tidak pernah berpikir muluk-muluk tentang Ayu, hanya karena usia Ayu yang masih belasan.


Biyan sadar betul betapa tidak etisnya seorang pria seumuran dirinya mengkhayalkan gadis belia berusia sembilan belas seperti Ayu.

__ADS_1


"Ay, maafkan Om Biyan, yah ..." apapun penyesalan Biyan, saat ini Biyan bahkan belum menemukan satu pun cara untuk menebus segenap rasa bersalahnya selain dengan sebuah kata maaf.


Kepala Ayu menggeleng sendu. "Om Biyan gak salah kok ... Justru Ayu yang salah, karena semua ini terjadi karena Ayu yang keras kepala. Dari awal Ayu yang ngotot ingin menghindar dari pernikahan dengan Kak Haris, karena Ayu belum siap menikah. Kalo saja Ayu tau endingnya bakal begini ..."


Ayu kembali terisak lirih. Tak sanggup rasanya menerima kenyataan bahwa dirinya telah menciptakan tragedy dalam kehidupan Biyan.


Sementara disudut hati Biyan peperangan hatinya kembali berkobar.


'Jadi begitu yah ... Jadi alasannya bukan karena Ayu memang ingin menolak Haris, melainkan semata-mata karena pada dasarnya Ayu belum siap menikah ...'


'Jadi saat ini sudah jelas, bahwa tangisan Ayu merupakan tangisan patah hati.'


'Yah, Ayu patah hati karena merasa impiannya yang hendak menikah dengan Haris akhirnya harus kandas, setelah insiden penggerebekan siang tadi ...'


'Lalu yang terjadi selanjutnya adalah hal yang mengerikan, karena pada akhirnya gadis itu justru terperangkap pada sebuah pernikahan, bersama pria tua seperti diriku!'


Demi Tuhan, Biyan benci menerima kenyataan yang terpampang nyata didepan matanya.


Menyadari betapa dirinya teramat sangat tidak pantas, membuat Biyan bertekad untuk menebus kesalahan, bagaimanapun caranya!


"Ay, Om janji Om akan memikirkan jalan keluar dari semua insiden hari ini. Ayu jangan khawatir yah, dan tolong berikan Om waktu dan kesempatan untuk mengakhiri semuanya ..."


Mendengar kalimat Biyan, tak ayal air mata Ayu semakin deras berlinang.


Hancur semua harapan Ayu yang awalnya berencana memenangkan hati Biyan, agar pria itu mau menerima kehadirannya.


Sudah jelas-jelas sekarang Biyan telah menolaknya mentah-mentah.


'Ternyata di mata Om Biyan, Ayu benar-benar gak ada pantas-pantasnya sama sekali ...'


Bathin Ayu sendu.


Biyan yang tadinya refleks berdiri menyadari tangis Ayu yang kembali memecah lirih, urung mendekat.


Pada akhirnya pria itu hanya berdiri resah dengan sepasang mata yang hanya bisa menatap pemandangan dua bahu mungil milik Ayu yang bergetar samar ... dengan tatapan tak berdaya ...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕 : Yuk kencangkan dukungan untuk author, bantu author biar makin semangat, agar bisa menaikkan level dan viewer dari novel yang super sepi pembaca ini yah ... 🤗🙏


__ADS_2