
Dua wanita cantik dengan penampilan bak kalangan sosialita itu terlihat duduk berhadap-hadapan disebuah meja, tepatnya disalah satu cafe yang lumayan terkenal, yang letaknya cukup strategis di jantung kota.
Begitu juga dengan dua buah minuman dingin digelas panjang terlihat berdiri kokoh diatas meja, masing-masing gelasnya belum ada sedikitpun berkurang isinya karena memang sejak awal belum di jamah.
"Sebenarnya sih sore ini aku ada janji temu yang cukup penting. Tapi aku milih tetap meluangkan sedikit waktu, untuk ketemuan sama kamu. So ... Kalo boleh sih, An, bisa gak kita menyelesaikan pembicaraan ini dengan lebih cepat ...?"
Mendapati kalimat Rania yang terdengar cukup angkuh ditelinga membuat Anya mengulas senyum.
Masih lekat dalam benak Anya, bagaimana situasi pertemuan terakhir mereka tempo hari yang memang terkesan berujung kurang harmonis.
Semua itu terjadi karena masing-masing dari mereka pada dasarnya keukeuh pada argumen masing-masing, saat sedang membahas tentang kedekatan Eros dan Bella.
Sebagai seorang wanita serakah yang masih ingin memonopoli kehidupan Eros, Anya cenderung menyalahkan Bella bahkan Biyan yang dinilai terlalu membebaskan pergaulan putrinya dengan Eros, pria yang masih berstatus suami Anya yang sah.
Sementara sebagai seorang ibu, Rania tentu saja mati-matian melakukan pembelaan atas nama putrinya, dan sebaliknya menganggap Eros yang notabene usianya jauh lebih tua yang justru memperalat kepolosan Bella.
Terlebih lagi Rania menjadi sangat dongkol atas pernyataan Anya yang meng-klaim bahwa Biyan merasa nyaman dengan kedekatan Eros dan Bella, karena kehadiran Ayu.
Lawak!
Bagaimana mungkin Rania tidak meradang setelah mendengar argumen Anya tentang semua itu?
"Mungkin Kak Rania udah bisa menebaknya kali ya apa yang mau aku omongin ..." cetus Anya kalem.
Anya tau bagaimanapun buruknya Rania, Bella tetap putrinya yang tentu saja selalu ingin wanita itu bela.
Dan kalau bukan karena Bella, Anya bahkan sangsi apakah Rania bersedia menerima permintaannya untuk bertemu muka.
"Oh, come on, Anya ... Masih mau bahas tentang Bella sama Eros lagi? Gak capek kamu, An ...?"
Glek.
Anya menelan ludahnya pahit.
Kalimat Rania jelas-jelas meremehkan dirinya, seolah-olah Anya adalah wanita paranoid yang terobsesi dengan keberadaan putrinya yang berseliweran dalam kehidupan Eros, sehingga Anya merasa cemburu.
Tapi Rania pastinya juga tidak akan menyangka, bahwa kali ini Anya bukan hanya sekadar datang berbekal rasa kecurigaan, prasangka, juga cemburu yang membabi-buta seperti yang sudah-sudah, melainkan Anya sukses mengantongi bukti otentik yang sudah pasti asli dan tak terbantahkan.
Oke, baiklah.
Sepertinya Anya memang harus mengakuinya dengan lapang dada, bahwa penilaian Rania bisa dibilang tidak semuanya keliru.
Fine. Anya cemburu.
Kepada wanita mana pun yang berada didekat Eros, entah itu Bella, maupun wanita lainnya, karena sesungguhnya, Anya selalu ingin menjadi wanita satu-satunya didalam hidup Eros sampai kapanpun.
Kedengarannya memang cukup aneh, tapi apa mau dikata cita-citanya Anya memang seperti itu.
Sayangnya, saat ini setitik pun Eros tidak menginginkan dirinya lagi. Namun meskipun begitu Anya juga cukup egois sehingga tidak pernah tenang jika melihat Eros bahagia setelah berhasil menolak dirinya mentah-mentah.
"Awalnya aku ingin duduk dan bicara dengan tenang, tapi karena Kak Rania udah punya planning penting, aku jadi gak enak ..."
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku bisa kok mengatur waktunya ..."
Anya mengibaskan tangannya serta merta. "Gini aja deh, Kak, lagian kalo dipikir-pikir kalo aku ngomong panjang lebar nanti seperti yang sudah-sudah, dikira kak Rania aku menuduh tanpa bukti. Jadi mendingan masih kebih baik sekarang aku kasih aja bukti otentiknya langsung, biar Kak Rania yang menilainya sendiri ..."
Usai berucap penuh percaya diri, Anya terlihat merogoh ponsel miliknya dari dalam laci tasnya, kemudian detik berikutnya wanita itu terlihat serius menekuni layar ponsel.
"Bukti apa?" tanya Rania seolah tak sabar menunggu aksi Anya yang sesungguhnya.
Anya terlihat mengangkat wajahnya dengan senyum semringah.
"Semuanya udah aku kirim ke kontak WhatsApp Kak Rania. Silahkan di cek sendiri ..."
Rania menatap Anya sejurus, namun beberapa kali bunyi beruntun notifikasi WhatsApp miliknya yang berasal dari dalam tas Hermes yang ada diatas meja, sanggup mengalihkan perhatian Rania begitu saja.
"Tunggu sebentar, Kak ..."
Gerak tubuh Rania yang hendak menarik diri dari sandaran kursi sontak terjeda, oleh karena suara Anya yang tiba-tiba menyela.
Bukannya langsung bicara, Rania malah menyaksikan Anya yang menghirup minuman dinginnya terlebih dahulu hingga nyaris tandas dengan gayanya yang super duper santai, seolah sengaja membiarkan Rania menunggu dengan kesabarannya yang hanya setipis tissue.
"Sebaiknya aku pergi lebih dulu, biar Kak Rania bisa melihat langsung semua bukti itu dengan tenang ..."
Ucap Anya sambil bangkit dari duduknya, langsung menyambar tas tangan miliknya yang tergolek lesu diatas meja.
"Bye, Kak Rania, see you next time ..."
Pamit Anya dengan wajahnya yang masih dipenuhi senyuman.
"Oh iya, Kak, by the way, kalo nanti sekiranya Kak Rania membutuhkan bantuanku, aku harap Kakak jangan sungkan menghubungi aku yah ..." kerling Anya lagi penuh makna, sebelum wanita itu menjauh dan benar-benar menghilang dari hadapan Rania, yang hanya bisa menatap kepergian Anya tanpa respon berarti ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari mulai menjelang petang manakala langkah Ayu terayun menyusuri koridor, hendak menuju area parkiran depan kampus tempat di mana Pak Yos biasa menunggu kepulangannya dengan begitu setia.
Jadwal kegiatan Ayu hari ini cukup padat, namun untungnya semua kegiatan tersebut masih seputar pembenahan materi sehingga aktifitas Ayu pun hanya berkutat diruangan sang dosen, dari pagi hingga tak terasa hari mulai beranjak petang.
Masih sambil melangkah tangan Ayu terlihat merogoh ponsel miliknya dari dalam tas yang tersampir di bahu.
Ayu hendak mengecek kalau-kalau ada chat atau bahkan panggilan telepon dari pujaan hatinya yang terlewat, karena seharian ini sepertinya ponsel Ayu begitu anteng, tak seperti biasanya.
"Kayaknya Om Biyan emang lagi sibuk banget yah? Pantes aja batal pulang ..." desah Ayu lirih penuh kecewa, begitu menyadari ia tak menemukan pemberitahuan apapun diatas permukaan layar ponselnya.
Tak ada chat seperti biasa ...
Tak ada juga panggilan telepon ...
Apalagi video call ... Semuanya tak ada!
Aneh ...
Bahkan seharian ini acap kali Ayu mencuri kesempatan untuk menghubungi ponsel Biyan, hanya suara seorang wanita operator seluler yang selalu terdengar, menginformasikan bahwa nomor yang dituju sedang berada diluar service area.
__ADS_1
Chat yang dikirimkan Ayu pun boro-boro dibales, dibaca pun belum karena masih centang satu.
'Om Biyan kok bisa sih seharian ini gak kangen Ayu sama sekali ...? Padahal Ayu kangen setengah mati ...'
Ayu membathin gamang.
Sesungguhnya Ayu bisa memahami bahwa bisa jadi Biyan memang sangat sibuk.
Tapi menyadari pria itu sanggup mengabaikan dirinya hingga seharian penuh, mau tak mau bathin Ayu tetap saja diliputi rasa kesedihan yang mendalam.
Sejak kemarin Ayu memang sangat sedih, manakala Biyan memberitahukan bahwa ia tak jadi pulang hari ini sesuai rencana awal, karena satu dan lain hal yang harus ditangani oleh pria itu terlebih dahulu.
"Mungkin Om baru bisa pulang dalam beberapa hari ke depan, Ay, sampai semua yang harus Om kerjakan di sini tuntas semua ..."
Itu jawaban yang Biyan kemukakan, manakala Ayu menanyakan kapan tepatnya kepulangan Biyan.
'Dalam beberapa hari ke depan ...?'
'Emangnya Om Biyan gak ngerasa kalo hitungan beberapa hari itu kan cukup lama ...'
Rasanya waktu itu Ayu ingin sekali protes, tapi rasa malu mencegah mulutnya untuk menguraikan segenap kerinduan yang seolah tak tertahankan.
Melamunkan Biyan sepanjang jalan, membuat Ayu tak menyangka jika ternyata dirinya sudah sampai di sisi mobil yang terparkir tepat dibawah sebatang pohon akasia yang cukup rindang.
"Maaf, Pak Yos, pasti lama yah nunggunya ..."
Ucap Ayu begitu tubuhnya terhempas sempurna diatas jok mobil mahal, yang selama beberapa hari ini selalu setia menjemput.
Saat Ayu melirik sejenak kearah jarum jam yang ada dipergelangan tangannya, Ayu langsung terhenyak seolah baru tersadar akan sesuatu.
"Waduh ... Ternyata telatnya hampir dua puluh menit lebih lama dari biasanya yah? Astaga ... Sekali lagi maafin Ayu yah, Pak, Ayu jadi gak ngeh kalo udah molor puluhan menit, soalnya tadi Ayu ngotot nyelesain materi biar besok udah bisa lanjut kerjaan yang lain ..."
Hening.
Mendadak alis Ayu bertaut, saat menyadari sejak tadi Pak Yos belum juga merespon apapun perkataannya.
"Pak Yos ... K-kenapa? Kok diem aja, Pak ...? Pak Yos ... Gak marah kan karena kelamaan nunggunya ...?"
Masih hening, sebelum akhirnya ...
"Gak apa-apa kok, Sayang ..."
"Ha-ah?!"
Refleks kedua tangan Ayu membekap mulutnya sendiri, saking terkejutnya.
Suara berat itu ...
Suara itu ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕 : Ada yang penasaran nih yee ... 🤪 Btw, jangan lupa di support yah ... 🤗