
"Ay, please ... Balik sekarang yah ..."
"Gak."
"Ayu ... Sayang ..."
"Kan udah Ayu bilang Ayu udah issued tiket untuk penerbangan besok pagi. Pokoknya Ayu mau pulkam. Titik."
Biyan menghela napasnya dengan berat, menyadari Ayu yang masih bersikeras dengan keputusannya untuk kembali pulang ke rumah orang tuanya.
"Gak boleh gitu dong, Ay ..." lirih Biyan yang seolah tak tau lagi harus berkata apa.
"Apanya yang gak boleh?"
"Ya gak boleh memutuskan sesuatu secara sepihak gitu ..."
"Suka-suka Ayu dong. Kan biar impas sama Om Biyan yang doyan mutusin sesuatu yang juga serba sepihak ..."
"Jadi Ayu memang sengaja mutusin semua ini tanpa minta pertimbangan Om dulu ? Ayu lupa kalo Ayu istri Om ...?"
"Ayu gak lupa. Om tuh ... Yang timbang ketemu mantan aja langsung lupa kalo udah punya istri ..."
"Astaga, Ayu ... Kok gitu sih ngomongnya ..."
Biyan tak bisa lagi menyembunyikan rasa terkejutnya, mendapati Ayu yang kini terang-terangan sedang membantahnya.
"Ay, Om kan udah ngaku salah, udah minta maaf, dan Om juga udah janji akan memperbaiki semua yang udah terlanjur terjadi. Masa iya Ayu masih gak mau maafin Om sih ..."
"Ayu maafin kok. Tapi ya gak sekarang."
"Ya itu sama aja dengan belum dimaafin, Ay ..."
Biyan merasa gemas sendiri, namun gadis dihadapannya tak kunjung bergeming.
Otak Biyan pun mulai buntu, karena Ayu belum juga luluh, bahkan tidak mau disentuh seujung kuku pun.
'Mana Bella belum nongol juga ...'
'Kemana sih tuh anak? Pasti pacaran dulu sama Eros ...!'
'Bukan bantuin Papanya dulu, malah sibuk sendiri ... Huhh ...!'
Biyan mengomel dalam hati, menyadari Bella yang tak kunjung datang membantunya guna membujuk Ayu, agar mau memaafkannya dan diajak pulang ke rumah.
"Ya udah, kalo Ayu mutusin seperti itu, trus gimana dong dengan tanggung jawab Ayu selaku asisten dosen dalam proyek penelitian ...?"
"Ayu udah ngundurin diri."
"Ha-ah?!"
Biyan terperangah mendapati langkah Ayu yang ternyata sudah sejauh itu.
"Tapi Ayu kan harus kuliah juga ..."
"Masih libur."
Biyan terdiam, namun sepasang mata elangnya tak henti menatap Ayu yang duduk diujung sofa sambil membuang muka.
Kangen.
Itu yang dirasakan Biyan.
Rasanya ingin sekali Biyan memeluk kembali tubuh ramping Ayu seperti sepanjang malam yang baru saja terlewat, tapi Biyan tau ia tak boleh bertindak gegabah karena Ayu masih terlihat sangat kesal.
__ADS_1
"Ay ... Pulang yuk ..." ajak Biyan lagi seolah pantang menyerah.
"Gak enak ah sama Tante Rania ... Lagian ... Ntar kalo ditanya jawabnya sama lagi ... 'Gak sengaja ketemu di jalan ..."
Biyan menggaruk tengkuknya mendengar sindiran Ayu yang terang-terangan meniru ucapannya pagi tadi.
"Maaf, Ay, tadi itu pikiran Om lagi mumet banget dan Om hanya bisa mikir tentang bagaimana bisa ketemu Bella secepatnya. Bukannya Om gak mau ngakuin Ayu, tapi Ayu tau sendiri kan gimana Tante Rania? Kalo saat itu Om ladenin rasa keponya, ntar bakalan makin panjang dramanya. Jadi Om sengaja ngomong begitu biar Tante Rania gak banyak nanya aja. Ya ... Gimana ya, Ay ... Ya emang salah dan gak seharusnya sih Om seperti itu ... Karena pada akhirnya Om malah lupa menjaga perasaan istri Om sendiri ..."
Meskipun Biyan telah berucap panjang lebar, pada kenyataannya bibir Ayu masih manyun.
"Lagian Tante Rania juga udah pergi kok. Om udah ngomong tegas, kalo Om keberatan dan karena emang gak sepatutnya dia tinggal di rumah Om ..."
"Tapi Om ada ngomong gak kalo kita udah nikah?"
"Terus terang waktu itu pembicaraan belum sampai kesitu karena Tante Rania udah marah besar saat Om suruh angkat kaki. Tapi kalo masalah Om udah nikah sama Ayu, kayaknya Tante Rania udah tau ... Tapi taunya dari Bella ..."
Ayu terdiam.
Sesungguhnya Ayu tau bahwa Biyan berkata apa adanya. Tapi ...
"Ay, apakah kesalahan Om sebesar itu sampai-sampai Om gak pantes dapetin kata maaf ...?"
Tak ada jawaban.
"Ay ..."
"Ayu tetap mau pulang. Ayu kangen pengen ketemu Ibu ..."
"Ya udah, kalo gitu kita pulang sama-sama. Om akan pesan tiket dengan penerbangan yang sama ..."
"Tapi Ayu maunya pulang sendiri."
"Apa nanti kata Ayah sama Ibu kalo Ayu pulang sendiri ...? Pliss lah, Ay ... Come on, jangan kayak gini ..." kali ini Biyan terlihat benar-benar nyaris putus asa, tapi yang ada pemandangan yang ia dapatkan adalah kepala Ayu tetap menggeleng tegas.
Sejuta penyesalan rasanya tak berguna.
Lama sudah keheningan bertahta diantara mereka, sebelum akhirnya hembusan napas berat Biyan terdengar terhembus perlahan.
"Baiklah, Ay. Om tau yang terjadi sekarang salah Om semua. Om akui selama ini Om terlalu ngeremehin keberadaan Ayu, Om gak tau caranya menghargai perasaan Ayu, Om egois karena selama ini selalu membuat Ayu berada di posisi yang harus mengerti dengan keadaan Om. Om udah bertindak gak adil, dengan menyembunyikan status Ayu dari Tante Rania ... Bella ... Bahkan dari seisi dunia, di saat Ayah dan Ibu Ayu justru melakukan hal yang sebaliknya ... Menerima Om dengan tangan terbuka, dan memperlakukan Om dengan sangat baik. Ay, Om merasa sangat malu udah bersikap pengecut ..."
Saat berucap demikian, Biyan bahkan merasa sepasang matanya mulai memanas.
Rasanya ingin menangis, terlebih saat wajah tulus bersahaja milik Ayah dan Ibu Ayu melintas dipikirannya, membuat rasa bersalah dihati semakin bertalu.
Hening.
Satu detik ...
Dua detik ...
Sepuluh detik ...
"Bell, udahan ya, Ayu gak kuat lagi ... Pliss deh ..."
Kepala Biyan sontak terangkat, mendengar kalimat Ayu yang out of topic terdengar lirih, lengkap dengan nada suaranya yang menghiba seolah sedang memohon kepada seseorang.
Tepat dipelupuk mata Biyan, Ayu terlihat sedang menatapnya dengan tatapan penuh plus seulas senyum tipis di bibir yang kemudian bergerak perlahan mengucapkan sata kata ...
"Sorry ..."
Kilah Ayu dengan ekspresi rasa bersalah yang nyata, jari telunjuk terlihat menyentuh telinga sebelah kanan, memperlihatkan sebuah handsfree bluetooth yang nyantol di sana.
Biyan bangkit dari duduknya masih dengan wajahnya yang nge-lag parah, bertepatan dengan munculnya suara terkikik dari arah pintu, di mana Bella muncul di sana dengan Eros yang mengekor dibelakang sambil tersenyum diku lum, dan menenteng dua buah tas kresek berukuran besar di tangan kiri dan kanannya sekaligus.
__ADS_1
"Surprisssseeee ...!"
Seperti biasa, bukan Bella namanya kalau tidak bisa mengubah suasana sendu sekalipun menjadi berwarna dalam sekejap.
"Jadi ini ... Kalian ini ..." Biyan tergeragap.
Pandangan mata Biyan yang awalnya bergerak-gerak bingung menatap sosok Ayu, Bella dan Eros berganti-ganti kali ini berlabuh utuh hanya ke sosok Ayu saja yang juga sedang menatapnya dengan dua telapak tangan yang terkatup rapat didepan dada.
"Maaf, Om, Ayu gak bermaksud mainin Om, Ayu terpaksa, Om ..."
"Jadi ... Jadi kalian ..."
"Habisnya kata Bella, kalo mau dapat ticket jadi step mom harus berhasil ngerjain Om dulu ..."
"Astaga, Bella ... Jadi semua ini ..." Biyan mengusap wajahnya berkali-kali.
Tak bisa disangkal Biyan cukup merasa lega karena ternyata Ayu tidak semarah seperti yang gadis itu lakonkan sejak awal, namun disisi lain, tindakan usil Bella cukup membuat Biyan merasa sangat shock.
"Maafin, Bella ya Pa. Ayu bener, Bella yang minta Ayu ngerjain Papa ... He ... He ... He ..." Bella terkekeh dengan tampang semringah tanpa rasa berdosa, langsung mendekati Biyan dan memeluk erat tubuh pria kebanggaannya yang masih setia membeku.
Nah, kan ... Kalau sudah seperti ini, bagaimana bisa Biyan marah?
"Bell, Bella sengaja mau bikin jantung Papa copot apa gimana sih ...?" ujar Biyan gemas, namun tak ayal dibalasnya juga pelukan hangat dari putrinya itu dengan pelukan yang juga tak kalah hangat.
Suara tawa tertahan dari Eros terdengar menyeruak takkala pria itu menaruh dua buah kresek berukuran jumbo tersebut keatas meja.
"Egh, Ros, jadi kamu juga ikut dalam sandiwara barusan yah?!" tuding Biyan tanpa ampun sambil mengurai pelukan, namun sebelah lengannya masih mengamit bahu Bella yang bergelayut manja dilengan.
"Gak lah. Itu ide Bella semua kok, mana ada aku ikut-ikutan ..." tepis Eros buru-buru, tentu saja Eros tak ingin jatuh pamor dihadapan sang camer.
"Jangan bohong kamu ..."
"Serius kali, Yan. Aku tuh udah larang Bella agar jangan ngerjain kamu. Egh, malah gak didengerin sama sekali ..." tatapan nanar Eros kini ganti menatap Bella yang cengengesan. "Ngaku dong, Bell, kalo ini ulah Bella semua. Om kan udah bilang pasti Om bakal disangkut-pautin, kejadian kan sekarang ..."
Bella dan Ayu balik terkikik mendapati wajah memelas Eros.
"Tega banget pake acara ngerjain orang tua kayak gini. Dosa tau, Bell. Ayu juga ..."
"Maafin Ayu, Om, Ayu terpaksa turutin maunya Bella ..." Ayu meringis.
Biyan geleng-geleng kepala mendapati wajah memelas Ayu, terlebih tampang polos Bella.
"Maaf deh Pa, Bella cuma iseng kok ..."
"Tapi keisengan Bella hampir bikin Papa sport jantung ..."
"Yeee ... Lagian Papa begitu sih, pake diumpetin semua kenyataan kalo sahabat Bella udah dinikahin diem-diem ..."
"Lah, bukannya impas, Bell? Sahabat Papa juga diem-diem Bella pacarin. Tuh si playboy ..." ujar Biyan yang menunjuk Eros dengan dagunya.
Eros yang dimaksud hanya mesem-mesem di cap 'Playboy', namun meskipun demikian buru-buru dia membela diri.
"Itu dulu. Sekarang udah insyaf kali ..."
"Syukurlah kalo emang beneran insyaf ..." pungkas Biyan, tapi tetap sambil mencibir sedikit.
"Ya udah, yuk kita makan siang dulu. Tuh Bella sama Om Eros udah beliin makanan yang banyak ..."
Bella sengaja melerai pembicaraan Biyan dan Eros dengan mengalihkannya ke makan siang, mumpung perutnya juga udah mulai kelaparan karena menghadapi drama yang terjadi sejak pagi membuat Bella tanpa sadar telah melewatkan moment sarapan.
Pada akhirnya semuanya mengangguk setuju dengan ide Bella, karena sama halnya dengan yang dirasakan Bella, semua insiden demi insiden yang terjadi, cukup menguras waktu, tenaga, serta pikiran, yang berakibat juga pada kondisi perut yang keroncongan ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Jangan lupa di like, coment, gift and vote yah ... 🤗