
"Bell ... Bellaaaa ...! Buka pintunya Beelll ...!! Belllaaaa ...!!"
Tak sampai beberapa saat lamanya begitu Biyan menggedor pintu kamar Bella bak orang kesetanan, pintu kamar itupun terpentang lebar, menyajikan pemandangan wajah segar milik Bella khas orang yang baru saja selesai mandi, lengkap dengan penampakan handuk yang melilit di rambutnya yang menandakan jika gadis itu barusan keramas.
"Yaolooo, Papaaa?! Kenapa sih?! Ambrol nanti pintu kamar Bella kalo digedor kenceng-kenceng kayak gitu ..." omel Bella kearah Biyan yang berdiri kalut didepan pintu kamar.
"Ayu ke mana, Bell?" tanya Biyan tanpa basa-basi, seolah tak peduli dengan dumelan Bella barusan.
Alis Bella sontak bertaut mendapati pertanyaan spontan dari Biyan.
"Ayu ...?"
"Iya, Ayu. Ayu ke mana?"
"Mana Bella tau, Pa, orang semalam aja Ayu kan gak pulang ..." jawab Bella yang rada bingung dengan sikap Biyan yang kayak orang ling-lung.
"Ayu udah pulang tadi pagi, tapi sekarang malah gak ada di kamarnya ..."
"Lah ... Kok bisa? Bella aja malah gak tau loh kalo Ayu udah pulang, trus darimana Papa bisa tau kalo ..."
"Ya taulah, Bell. Pulangnya barengan gimana gak tau? Udah jelas-jelas tadi ada ... Sekarang malah gak ada ..."
Bella terhenyak mendapati selorohan Biyan, sementara Biyan sepertinya belum menyadari kepanikannya telah membuat dirinya tak mampu mengendalikan reaksi alami namun luar biasa dari dalam dirinya, yang terlihat begitu gegana alias gelisah galau merana.
"Pa ..."
"Semua ini salah Papa, Bell ..." Biyan mengusap wajahnya yang kalut hingga berkali-kali.
"Pa ..."
"Ayu pasti kecewa sama Papa ..."
"Pa ..."
"Kira-kira Papa harus nyari Ayu kemana yah, Bell?"
Tatapan Biyan nampak menghiba, dengan ekspresi wajahnya yang super duper lesu bak orang yang telah kehilangan gairah hidup.
Bella tertegun lama mendapati sosok Papanya yang seperti itu.
Demi apa, rasanya baru kali ini Bella melihat Papanya begitu nelangsa.
Seumur hidup Bella mengenal Biyan sebagai sosok pria yang begitu tangguh, bahkan saat menjalani proses perceraiannya dengan Rania saja pria itu tidak pernah benar-benar menampakkan kesedihannya dengan begitu jelas.
Lalu kenapa hanya dengan ketidakberadaan Ayu bisa membuat Biyan se-frustasi ini?
Bella juga mendengarnya dengan jelas saat Biyan mengatakan mereka bahkan pulang bersama.
'Ada apa ini?'
'Sejak kapan Ayu jadi begitu penting untuk Papa ...?'
__ADS_1
'Jangan-jangan ...'
"Papa akan cari Ayu dulu."
Kalimat tegas Biyan sukses melebur berbagai spekulasi yang sedang berkecamuk dibenak Bella, sementara Biyan terlihat berbalik badan begitu saja seolah tak mampu lagi berpikir jernih.
Biyan merasa seluruh isi otaknya sedang melayang-layang tak tentu arah dan tujuan, jelas-jelas sedang tidak berada ditempat yang sesungguhnya karena memikirkan kemana perginya Ayu, istri kecilnya yang bisa-bisanya minggat tanpa menghilangkan jejak sedikitpun.
"Pa, sebentar ..."
Biyan berbalik guna mendapati Bella yang baru saja berusaha menjeda langkahnya.
"Bella ikut, Pa. Bella juga ingin nyari Ayu ..."
Mendengar kalimat Bella, mendadak Biyan terhenyak, seolah baru tersadar oleh situasi dan kondisi yang telanjur terpetakan.
"Sabar ya Pa, Bella cuma mau sisiran sebentar ..." ucap Bella lagi yang langsung berbalik masuk kedalam kamarnya, sembari menanggalkan handuk yang ada dikepala.
Biyan tertegun ditempatnya berdiri.
Biyan bahkan belum mampu mengurai berbagai pemikiran yang berseliweran liar diotaknya, manakala Bella sudah muncul lagi dari dalam kamar dengan rambut yang terkesan lembab, namun sudah tersisir seadanya.
"Ayo Pa, buruan ..." ajak Bella yang langsung berjalan mendahului Biyan, yang masih belum bisa berucap sepatah katapun, karena yang bisa dilakukan oleh Biyan kemudian hanyalah mengikuti ayunan langkah Bella yang bergerak tegas, menuju kearah lift.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kali ini biar Bella yang nyetir ya, Pa ..."
Menyetir dalam keadaan hati dan pikiran yang buruk tentu saja mengundang resiko, dan Bella tidak ingin mereka malah kenapa-napa nantinya.
Yah ... Meskipun Bella sendiri sedang tidak berada dalam kondisi hati yang baik juga, setidaknya Bella masih bisa berpikir jauh lebih positif dan lebih tenang, karena Bella yakin seribu persen Eros mampu menyelesaikan semua kemelut cinta mereka yang sedang menghadapi ujian besar, sesuai janji Eros.
Biyan pun tak kuasa menolak, manakala Bella sudah mengambil alih kunci mobil dari genggaman tangannya, langsung bergerak masuk ke sisi kanan mobil Biyan yang terparkir tepat didepan teras.
Melihat pemandangan tersebut, mau tak mau Biyan pun bergerak ke sisi kiri mobilnya yang kali ini telah dikuasai oleh putrinya itu, langsung menempatkan dirinya di sana masih dengan mimik gelisah.
"Papa udah coba nelpon Ayu, belum?" usut Bella sambil menghidupkan mesin mobil.
"Udah, Bell, tapi gak aktif ..."
"Kalo gitu kita keliling kompleks dulu kali ya ... Kali aja ketemu Ayu ..."
"Kalo gak ketemu gimana, Bell?"
"Positif thinking aja dulu, Pa. Pasti ketemu kok ..."
Biyan memijat dahinya dengan kedua jari, detik berikutnya ia kembali mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi kembali ponsel Ayu, namun sayangnya lagi-lagi jawaban yang ia terima masih saja berasal dari operator seluler.
Mobil yang dikemudikan Bella pun terlihat mulai bergerak perlahan, menyusuri jalan di kompleks perumahan elite yang telah mereka tempati dalam beberapa tahun terakhir, dengan kepala Biyan yang tak henti celingak-celinguk kesana-kemari.
Berbagai kekalutan kembali menguasai segenap pemikiran Biyan, terlebih rasa bersalah yang semakin lama semakin keras menghantam bilik hatinya.
__ADS_1
'Ayu, kamu ada dimana, Sayang ...?'
'Semua ini memang salah Om. Pleasaeee ... Maafin Om Biyan yang udah bikin Ayu sedih ... Tapi tolong jangan minggat kayak gini, Ay ...'
Biyan merasa dadanya sungguh sesak, saat menyadari sikapnya yang sempat dikuasai emosi sesaat, telah berakibat fatal ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Yu, maaf yah kalo Om Eros terkesan kepo sama Ayu. Tapi jujur Om beneran pengen tau apa semua permasalahan Ayu sekarang ada kaitannya dengan hubungan Om sama Bella?"
Ayu tertegun mendapati pertanyaan Eros yang terucap dengan nada hati-hati, meskipun Eros melakukannya sambil menyetir.
Lagian bukan tanpa alasan kenapa Eros merasa perlu menanyakan hal tersebut.
Saat ini sudah jelas-jelas hubungannya dengan Bella sedang berada dalam fase yang cukup urgent, karena Rania dan Biyan sahabatnya itu sudah mengetahuinya dan terang-terangan menentang.
Selain Anya dan Steve, Ayu merupakan orang yang pastinya mengetahui dengan pasti jalinan asmara dirinya dan Bella.
Jadi bukan mustahil kalau Ayu mendapat imbas dari semua itu, kan?
Bisa saja Ayu sedih seperti ini karena Biyan mengungkapkan kekecewaannya kepada Ayu, karena bukan rahasia lagi jika selama ini Biyan begitu mempercayai Ayu tentang semua hal yang menyangkut Bella.
Ayu bahkan diajak tinggal dirumah Biyan saking kepercayaan Biyan yang luar biasa untuk gadis itu.
"Ngomong aja, Yu, gak usah sungkan. Om tau kok sekarang situasinya emang lagi kacau ..."
Helaan napas Ayu terdengar berat sebelum akhirnya gadis itu akhirnya mengangguk juga.
"I-iya, Om ... Om Biyan memang marah sama Ayu, karena Ayu dianggap udah menyembunyikan hubungan Bella sama Om Eros ..."
"Astaga ... Ayu, maafin Om sama Bella yah, gara-gara kami berdua akhirnya Ayu yang kena imbasnya juga ..."
"Gak pa-pa, Om, lagian wajar aja kok kalo Om Biyan marah dan salah paham. Ayu juga salah ..." lirih Ayu.
Eros terdiam sejenak.
Sesungguhnya Eros benar-benar merasa bersalah telah membuat Ayu terlibat sejauh ini, tapi mau bagaimana lagi jika semuanya sudah terjadi.
"Trus rencana Ayu sekarang gimana?"
"Ayu gak tau, Om. Ayu juga bingung mau kemana ..."
Mendengar jawaban Ayu, refleks Eros menggaruk kepalanya yang gatal mendadak.
Mau menawarkan ke apartemennya, Eros juga tidak enak.
Lagian apa nanti yang ada dipikiran Ayu kalau Eros menawarkan hal tersebut meskipun niat Eros murni tanpa tendensi apapun.
Alhasil keduanya memilih diam, karena masing-masing sibuk mencari jalan keluar ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Maaf ya up nya lama, karena real life lagi banyak drama 😅. Jangan berhenti support yah 🙏