
Sudah hampir jam satu dini hari, tapi Biyan masih betah duduk di kursi belajar milik Ayu.
Layar laptop Biyan yang berada diatas meja belajar Ayu pun masih menyala, menampakkan laporan tentang progres sebuah pekerjaan yang baru berkisar di angka tiga puluh persen.
Sebenarnya membuka laptop dan memilih bekerja awalnya merupakan solusi yang dengan terpaksa harus dilakoni Biyan, oleh karena keengganannya menyentuh ranjang.
Untuk kesekian kalinya Biyan menarik napas berat, begitu ekor matanya kembali menangkap sosok Ayu yang sudah lebih dulu berbaring di sana sejak beberapa jam yang lalu, dengan posisi tubuh yang mepet ke sisi kiri dan memunggungi Biyan.
"Om tidurnya dibawah aja, Ay. Ayu punya karpet atau tikar ... Atau apa aja kek yang bisa dipake buat alas ...?" itu kalimat Biyan pada beberapa jam yang lalu, yang terucap dari bibirnya sambil dirinya mengawasi sisa lantai yang bahkan terkesan sangat sempit jika tubuh kekarnya harus dipaksakan untuk nyempil di sana.
Tapi mau bagaimana lagi?
Toh Biyan juga tak berani menawarkan diri agar bisa naik keatas ranjang Ayu dan numpang tidur disitu, karena bisa-bisa Ayu akan menganggap dirinya mesum ...!
"Ayu gak punya tikar apalagi karpet, Om ..." jawab Ayu salah tingkah, namun setelah itu ia kembali berucap dengan wajah yang kurang yakin. "Mmm ... Ada sih tikar, tapi disimpannya di kamar ibu ..."
Sontak saja Biyan menelan ludahnya kelu.
Biyan paham kalau kondisinya seperti itu, mana mungkin Ayu bisa mengambil tikar tersebut.
Apa nanti kata orang tuanya Ayu?
Pastinya akan terasa aneh dan sedikit memalukan, jika dimalam pertama sepasang pengantin baru malah sibuk mencari tikar!
"Om Biyan ..."
Panggilan lirih Ayu membuat Biyan mengangkat wajahnya yang semula sedang berpikir keras mencari jalan keluar, tentang bagaimana nasibnya malam ini.
"Anu, Om ... Mmm ... Kalo Om gak keberatan, Ayu juga gak keberatan kok kalo kita harus berbagi ranjang untuk sementara. Lagian ... sisa lantainya juga terlalu sempit kalau Om tidur disitu ..."
Biyan menarik napasnya sejenak mendengar penuturan Ayu yang terucap dengan ekspresi wajah yang agak malu-malu.
"Om Biyan sih terserah aja, Ay. Tapi beneran nih Ayu gak keberatan ...?" tanya Biyan seolah ingin kembali memastikan, dan anggukan kepala Ayu pun terlihat begitu meyakinkan.
Jadi begitulah kesepakatannya, dan mereka berdua setuju untuk berbagi ranjang oleh karena keadaan yang memaksa.
Namun pada kenyataannya, di detik di mana Ayu naik keatas ranjang ... di detik itu pula Biyan langsung diserang rasa ragu untuk melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Akhirnya Biyan memilih membuka laptop, dan menyelingi aktifitasnya tersebut dengan berusaha menghubungi Bella, hendak mengecek keberadaan putrinya yang seharian ini seolah terabaikan kabarnya karena berbagai insiden yang menimpa Biyan silih berganti.
Saat itu masih jam sembilan malam, tapi telepon Biyan tak kunjung direspon.
Awalnya Biyan tidak terlalu memaksa dan memutuskan mengirim chat saja kepada Bella untuk menanyakan kabar, sebelum akhirnya Biyan tenggelam dalam pekerjaannya yang ada didalam laptop.
Beberapa jam berlalu, pada akhirnya Biyan baru tersadar bahwa sejak tadi Bella belum membalas chat-nya, bahkan setelah Biyan meneliti kembali ruang chat pribadinya bersama Bella, Biyan telah mendapati kenyataan bahwa boro-boro membalas, chat Biyan saja belum di read oleh Bella.
Apa iya Bella sudah tidur ...?
Seingat Biyan, putrinya itu tidak pernah tidur se-cepat itu.
Merasa sedikit khawatir, Biyan akhirnya memutuskan untuk menelpon Rania saja, guna mencari tau kabar Bella.
'Sebaiknya aku menelpon Rania diluar kamar, agar gak ganggu tidur Ayu ...'
Berpikir tentang hal tersebut, membuat Biyan memutuskan keluar dari kamar Ayu, tepat disaat telponnya di respon dari seberang sana.
"Hallo, Rania ...? Belum tidur ...?" lirih Biyan tepat dibingkai pintu kamar, sebelum tubuhnya benar-benar menghilang dibalik pintu, meninggalkan Ayu yang ternyata belum tertidur ... Atau lebih tepatnya hanya berpura-pura tidur.
Menyadari Biyan yang telah berlalu membuat Ayu bergegas menegakkan punggungnya yang sedikit kebas kepermukaan ranjang, karena sejak tadi tidur menyamping tanpa berani memutar badan untuk menyeimbangkan tubuh seperti orang yang tidur pada umumnya.
"Sudah selarut ini tapi Om Biyan malah menelpon Tante Rania. Apakah hanya sekadar ingin menanyakan keadaan Bella, atau ada alasan romantis lainnya ...?"
"Tapi kalo hanya ingin menanyakan keadaan Bella ... Memangnya gak bisa ditunda sampe besok gitu ...?"
"Harus ya, nekad menelpon di jam yang aneh kayak gini ...?"
Setitik rasa cemburu pun mendera sanubari Ayu tanpa ampun.
Iya, memang awalnya perasaan cemburu itu cuma setitik, sebelum akhirnya berkembang sedemikian pesat dan tau-tau sudah menjadi lautan kecemburuan yang maha luas lengkap dengan badai dan gelombang yang menerpa.
Seolah sedang menguji sejauh mana kesabaran ...
Juga sedalam apa rasa cinta ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Rania masih menatap ponsel ditangannya.
Pembicaraan Rania dengan Biyan baru saja berakhir, dan Rania sendiri kaget karena Biyan bisa menelponnya di jam yang tak biasa.
Bisa jadi firasat seorang ayah?
Entahlah ...
Rania bahkan berharap bahwa semoga saja Biyan tak menaruh curiga.
"Bella sudah tidur sejak sore. Hari ini jadwal kuliahnya sangat padat, mungkin dia kelelahan ..."
Pada akhirnya Rania nekad membohongi Biyan perihal Bella, padahal dirinya sendiri saat ini juga sedang kelimpungan dikarenakan Bella yang tak kunjung pulang, usai berpamitan ingin menghadiri undangan ulang tahun salah satu sahabat dekatnya, ditambah lagi dengan ponsel Bella yang tak bisa lagi dihubungi.
"Bella, kamu ke mana aja sih, Nak ...? Jangan bikin Mama panik gini dong, Bell ... Pliiiss cepat pulang, Bell, kalo sampai terjadi sesuatu yang buruk ... Mama gak tau lagi harus ngomong apa nanti ke Papamu, Nak ..."
Rania terpekur penuh penyesalan, menyadari bahwa bisa jadi dirinya telah mengambil keputusan yang salah, saat harus mengijinkan Bella datang ke Miracle malam ini.
Apalagi keputusan Rania tersebut merupakan keputusan sepihak, yang sama sekali tidak melibatkan Biyan, tanpa sepengetahuan, juga tanpa persetujuan.
Sejujurnya, sejak awal Bella berpamitan untuk hadir di pesta ulang tahun Steve, Rania memang sudah keberatan dan menolak memberi ijin.
Bukan apa-apa, karena selain merasa khawatir saat Bella harus keluar di malam hari, Rania tau persis di sana pasti ada Eros, pria yang bagi Rania teramat sangat terlarang untuk mendekati Bella, putrinya.
Namun pada akhirnya pendirian kukuh Rania malah runtuh oleh segenap bujuk rayu Bella untuknya.
"Janji deh, Ma, sebelum jam satu Bella pasti pulang."
Itu adalah sepenggal janji Bella kepada Rania, yang diucapkan Bella sambil memeluk erat tubuh Rania, seolah sengaja melakukan semua itu agar Rania semakin yakin untuk mengijinkannya pergi ke ultah sang sahabat.
Bukan Rania yang berjanji, melainkan Bella.
Tapi sayangnya ... Putri semata wayang Rania itu malah mengingkari janjinya sendiri, manakala tak kunjung pulang di jam yang sebelumnya telah disepakati ...
Bersambung ...
🧕 : Jangan lupa Like and Support yang kencang yah guyss ... 😍
__ADS_1