HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
PENYESALAN


__ADS_3

Dengan ditangkapnya Haris oleh pihak yang berwajib, rupanya Juragan Ibrahim telah bertindak cekatan agar bisa menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak semata wayangnya itu sesegera mungkin.


Karena itulah lewat jasa seorang pengacara handal, Juragan Ibrahim berkeinginan untuk melakukan upaya semaksimal mungkin, agar jangan sampai Haris mendekam didalam bui.


Niat Juragan Ibrahim itu pada akhirnya membuahkan hasil, karena setelah melewati pembicaraan yang alot yang diwakili oleh pengacara tersebut, pada akhirnya Keluarga Yuni bersedia mencabut laporannya kepada Haris hari itu juga.


Dihadapan petugas Haris juga mengakui semua kesalahannya. Karena sesungguhnya sejak awal Haris memang ingin bertanggung jawab. Tapi ketakutannya untuk berkata jujur telah membuat Haris menjadi sosok pria pengecut yang terus menunda untuk mengakui sejauh mana hubungannya dengan Yuni di hadapan kedua orang tuanya.


Melarikan diri juga merupakan wujud dari ketakutan Haris dalam menghadapi amukan kemarahan keluarga Yuni, dikarenakan Haris tidak siap dan sama sekali tak menyangka bahwa perbuatannya akan terbongkar dengan cara yang sangat memalukan seperti itu.


Haris yang selalu menunda untuk berkata jujur membuat Yuni tak lagi kuasa menyembunyikan aib yang sedang ditanggungnya.


Pada akhirnya Yuni memilih berkata jujur kepada keluarganya, dan dari sanalah awal mula keluarga Yuni meradang hingga akhirnya nekad mendatangi keluarga Juragan Ibrahim dengan penuh kemarahan.


Kemudian Haris yang malah memilih bersembunyi dengan segala sifat kepengecutannya, pada akhirnya dilaporkan ke pihak yang berwajib oleh keluarga Yuni.


"Kami dari pihak keluarga tidak menuntut apa-apa, asalkan Haris mau mengakui perbuatannya dan mau bertanggung jawab, maka kami anggap persoalan ini selesai ..." kalimat kakak tertua Yuni yang mewakili isi hati seluruh keluarga mereka terdengar tegas.


Haris yang tertunduk bak pesakitan hanya bisa mengangguk pasrah.


Mengakui perbuatannya dan bertanggungjawab terhadap Yuni adalah hal yang memang sudah seharusnya ia lakukan sejak awal. Tapi pulang ke rumah dan menghadapi wajah sang Ayah yang telah ia kecewakan sekaligus ia hadiahi rasa malu yang teramat sangat, adalah sebuah beban pikiran yang sampai detik ini terus menyesaki dada Haris.


Sekalipun merupakan pendatang, namun selama puluhan tahun Juragan Ibrahim telah menjadi orang terpandang dikampung sehingga disegani semua orang.


Haris sangat menyesal karena di masa tuanya, reputasi ayahnya justru hancur berantakan ditangannya sendiri.


"Saya mewakili kedua orang tua Haris Ibrahim, dihadapan bapak-bapak sekalian, saya berani menjamin bahwa yang menjadi tuntutan keluarga Yuni akan kami penuhi sesegara mungkin. Kedua orang tua Haris juga menginginkan yang terbaik dan dengan segala kerendahan hati, mereka juga meminta maaf atas perbuatan anak mereka, serta berharap agar sekiranya masalah ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan ..." ujar pengacara keluarga Juragan Ibrahim yang mewakili seluruh isi hati kedua orang tua Haris yang tak bisa hadir dalam mediasi di karenakan kondisi kesehatan Juragan Ibrahim yang tak memungkinkan.


"Kalau memang niat baik dari keluarga Juragan Ibrahim seperti itu, maka kami keluarga akan menerimanya. Kami bersedia mencabut laporan saat ini juga, tapi dengan catatan ..."


Kakak laki-laki tertua Yuni terlihat menghela napasnya sejenak, sambil sepasang matanya kini menatap penuh kearah Haris.


"Haris, kamu harus menandatangani surat pernyataan resmi diatas materai sebagai jaminan bagi keluarga kami, bahwa kamu akan memegang janji untuk menikahi Yuni sesegara mungkin ..."


Mendengar kalimat tersebut Haris pun menguatkan hati untuk berdiri tegak dan mengangguk.

__ADS_1


Sinar mata Haris memancarkan kesungguhan sekaligus penyesalan yang mendalam, saat ia memberanikan diri menatap wajah kakak tertua Yuni yang duduk tepat dihadapannya.


"Saya bersedia memenuhi syarat tersebut. Saya mengakui, bahwa semua ini terjadi semata-mata karena kesalahan saya, karena itulah saya memohon maaf sebesar-besarnya untuk Yuni beserta keluarga besar, dan tolong ... berikan saya kesempatan untuk menebus semua kesalahan yang telah saya lakukan ..."


Saat berucap demikian suara Haris terdengar bergetar. Pria itu bahkan nyaris menangis karena menyesali betapa besar kekeliruannya.


Dan begitulah pada akhirnya ending dari drama yang dilakoni oleh Haris usai dengan dicabutnya laporan keluarga Yuni atas dirinya, yang tentu saja dilakukan setelah Haris menandatangani surat pernyataan resmi diatas materai, dihadapan para petugas yang ikut menjadi saksi atas penyesalan seorang Haris Ibrahim.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah akhirnya bisa kembali pulang ke rumah, Haris langsung bersimpuh dibawah kaki kedua orang tuanya guna memohon pengampunan.


"Ayah, Ibu, maafin Haris ... Ini ... Ini semua salah Haris ..."


"Bangun, Nak, bangun ..." titah Juragan Ibrahim yang mencoba mendudukkan tubuhnya yang lemah agar bisa duduk menyandarkan diri di bagian kepala tempat tidur.


Melihat pemandangan tersebut, Arif Rahman yang disaat yang sama berada di sana bersama istri dan menantunya sontak bergegas membantu Juragan Ibrahim agar bisa terduduk sempurna, sementara Nur yang merupakan istri Juragan Ibrahim akhirnya memutuskan untuk mendekati Haris, kemudian membantu putra semata wayangnya itu untuk bangkit dan mendekati Ayahnya.


"Ayah hanya ingin melihat kamu menyadari kesalahan kamu dan mau menunjukkan rasa tanggungjawab kamu, Haris. Itu saja." ujar Juragan Ibrahim saat Haris telah duduk sempurna disisi tempat tidur ayahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena jalan hidup manusia memang tak ada yang tahu, dan masa depan itu sendiri merupakan sebuah rahasia ilahi.


Sepertinya kalimat itu merupakan kalimat yang paling tepat dalam menggambarkan keadaan yang sedang menimpa keluarga Juragan Ibrahim.


Biyan yang meskipun sedari tadi hanya duduk diam disudut ruangan, menyaksikan sejak awal kepulangan Haris yang berlanjut pada perbincangan serius antara dua keluarga yang kedekatannya bisa jadi melebihi kedekatan saudara sedarah itu, meskipun demikian rupanya diam-diam Biyan terus menyimak pembicaraan yang berlangsung.


"Juragan, bukannya aku ingin menentang keputusan Juragan, tapi sebaiknya Juragan memikirkan semuanya baik-baik terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan ..."


Juragan Ibrahim yang masih terduduk lemah diatas tempat tidur nampak menatap wajah Arif Rahman yang duduk di kursi yang tak seberapa jauh jaraknya, bersebelahan dengan Ibu Arum. Sementara Haris dan Nur, yang merupakan anak dan istri Juragan Ibrahim kini terlihat duduk bersimpuh di bawah sana sambil memijat kaki Juragan Ibrahim, masing-masing di kiri dan di kanan.


"Sebenarnya, Rif, semua yang aku utarakan barusan sudah menjadi pembicaraan antara aku dan Nur sejak lama. Kami berdua sepakat untuk menghabiskan masa tua dengan kembali ke kampung halaman. Kamu lihat sendiri kan bahwa semakin hari kondisi kesehatanku semakin menurun. Aku hanya berharap, jika suatu saat terjadi sesuatu yang buruk denganku, setidaknya aku berada ditengah-tengah keluarga besarku. Sementara untuk Haris, aku akan membebaskan kamu dan Yuni untuk menentukan sendiri rencana masa depan kalian kelak ..."


"Maaf, Yah, sebenarnya bahkan untuk hal itu Haris sudah pernah membicarakannya dengan Yuni. Yuni juga sudah bersedia untuk ikut Haris ..."

__ADS_1


"Haris ... Haris ... Kalau memang pembicaraan kalian sudah sampai sejauh itu, seharusnya kamu gak perlu menyembunyikan semuanya seperti ini ... Kenapa gak jujur aja sih sejak awal?" ungkap Nur penuh penyesalan, sambil menatap Haris yang lagi-lagi hanya bisa tertunduk dalam.


"Maafin Haris, Bu, semua ini sungguh diluar dugaan Haris. Jujur aja, awalnya Haris takut mengakui karena gak ingin mengecewakan Ayah dan Ibu. Haris juga malu dan gak enak sama Ayu, apalagi sama Om Arif dan Tante Arum. Semuanya udah sejauh ini ... Perjodohan udah berjalan bertahun-tahun ... Haris bingung harus mulai darimana untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Om Arif ... Tante Arum ... juga ... Ehem, Biyan ..."


Ketiga orang yang namanya tersebut lewat ucapan Haris sontak menoleh serentak.


"Maafin Haris, Om, Tante ... Biyan juga. Maaf karena pada waktu yang lalu Haris sudah mempermalukan kalian semua ..."


Hembusan napas berat Arif Rahman terdengar jelas di keheningan ruangan tersebut.


"Sudah ... Sudah ... Gak perlu diungkit masalah yang sudah berlalu, Har. Sekarang yang terpenting, kita semua harus berlapang dada dalam menerima cobaan, serta optimis menghadapi masa depan ..."


Semua yang ada di ruangan tersebut sontak mengangguk setuju atas kalimat bijak Arif Rahman.


"Om Arif berkata benar, Har. Mungkin udah takdirnya bahwa Ayu memang harus berjodoh dengan Biyan, sementara kamu bersama Yuni. Yang penting, kedepannya kalian semua harus berusaha menjaga keutuhan rumah tangga kalian masing-masing ..." ucapan tak kalah bijak dari Ibu Arum terasa bak tetesan air yang sarat akan kesejukan, yang mengalir di sudut hati Haris dan Biyan yang mendengarnya.


Untuk sesaat keheningan kembali meraja, seolah masing-masing kepala sedang merenungi setiap perjalanan hidup yang tak terduga arahnya.


"Oh iya, Juragan, kalau Juragan jadi hijrah lalu bagaimana dengan lahan perkebunan kelapa milik Juragan ...?" tanya Arif Rahman, saat tiba-tiba ia teringat perihal lahan perkebunan kelapa sang Juragan yang mencapai puluhan hektar luasnya.


"Itulah yang menjadi beban pikiranku saat ini, Rif. Sebelum hijrah, sesungguhnya aku sudah berniat menjual lahan tersebut, begitupun dengan rumah ini. Tapi sampai sekarang belum ada orang yang mampu memberikan penawaran terbaik. Beberapa pengusaha lokal yang datang dan berminat hanya bisa menawarkan separuh harga, karena mereka tidak sanggup membayar keseluruhan area lahan ..."


Arif Rahman tercenung, begitu mengetahui bahwa ternyata selama ini diam-diam Juragan Ibrahim sudah membuka penawaran atas keseluruhan area lahan perkebunan kelapa miliknya.


Sesungguhnya puluhan hektar area perkebunan kelapa milik Juragan Ibrahim, pada awalnya dimiliki oleh Arif Rahman dan warga kampung lainnya, sebelum puluhan tahun yang lalu, mereka semua bisa dibilang termakan iming-iming uang tunai yang ditawarkan Juragan Ibrahim, yang kala itu baru saja menjadi pendatang di kampung mereka.


Alhasil melalui proses jual-beli yang sah, sang Juragan pun berhasil memindahtangankan keseluruhan area perkebunan milik warga lokal, sehingga mereka yang pada awalnya merupakan tuan tanah, akhirnya berubah menjadi pekerja di lahan yang tadinya milik mereka.


Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tiada berguna.


Meskipun semua warga termasuk Arif Rahman menyesal telah menjual lahan perkebunan kelapa mereka kepada Juragan Ibrahim, namun selama ini mereka semua cukup bisa menerima kenyataan tersebut dengan lapang dada, mengingat kepribadian sang Juragan yang dinilai cukup baik kepada para pekerja, yang sebagian besar terdiri dari warga sekitar ...


Bersambung ...


🧕: Jangan lupa di support lagi yah ... 🙏

__ADS_1


__ADS_2