
"Akhirnya kecurigaanku selama ini, terbukti benar adanya ..."
Anya mendesis geram, namun sebuah senyum licik tak urung ikut menghiasi setiap sudut bibirnya yang bergincu merah menyala, manakala ia meyakini bahwa tujuan utamanya untuk menghancurkan Eros nyaris tercapai.
Sepasang matanya yang bersinar jahat tersebut tak henti-hentinya menatap puas kearah hasil tangkapan kamera ponsel miliknya, yang memperlihatkan dengan jelas bagaimana seorang gadis belia yang tak lain adalah Bella Erlangga, putri semata wayang Biyan Erlangga dan Rania, yang turun dari mobil temannya demi seorang pria yang baru saja mengetuk kaca mobil tersebut dan menyuruhnya keluar untuk berpindah mobil.
Pria itu ... Tentu saja Eros Rahadian, sang suami yang saat ini sedang ngebet banget ingin bercerai.
"Benar-bensr sempurna ..." desis Anya lagi-lagi, seolah tak sabar untuk menyaksikan sebuah tontonan mahal, yang sangat ia idam-idamkan.
Selanjutnya jemari lentik Anya kini terlihat lincah menari diatas permukaan layar ponselnya, berniat mencari sebuah kontak untuk ia ajak bertemu muka, demi memuluskan rencana profokasi jahatnya.
'Kak Rania'.
Bergegas Anya menekan nama tersebut untuk menyambung pembicaraan.
"Hallo, Kak ..." wajah semringah Anya langsung tercetak jelas, saat menyadari teleponnya telah direspon dengan sangat cepat ... Hanya dengan tiga kali bunyi panggilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bertempat disebuah restoran mewah di hotel berbintang yang ada di pusat kota, sebuah perkumpulan para sosialita sedang berlangsung meriah dan wah.
Tentu saja hal-hal seperti ini merupakan ajang yang sangat digemari oleh Rania.
Rania sangat merindukan moment dirinya untuk bisa berkumpul bersama para bestie-bestienya, di mana nantinya mereka bisa saling pamer outfit, pamer perhiasan, pamer pencapaian, dan semua hal berbau duniawi semata, yang tentu saja unfaedah.
Kenyataannya berpura-pura menjadi seorang wanita rumahan sekaligus seorang ibu rumah tangga yang bersahaja, memang cukup merepotkan juga melelahkan.
Untuk itulah Rania lumayan menikmati sedikit kebebasannya di saat Biyan berada diluar kota, sementara Bella sibuk dengan urusan perkuliahannya.
Drrtttt ...
Getaran ponsel yang disertai deringan lirih yang berasal dari tas hermes mahal milik Rania telah membuatnya merogoh benda pipih berbentuk persegi tersebut dengan serta merta.
"Anya ...?" desis Rania dengan alis bertaut.
__ADS_1
Meskipun agak heran, namun tak urung jari telunjuk Rania pun langsung menyeret icon berwarna hijau diatas permukaan layar, guna menerima panggilan tersebut.
"Hallo ... Anya ...?"
...
"Baik. Memangnya ada apa An? Tumben kamu menelpon ..."
...
"Apa katamu? Ketemuan ...?"
...
"Ada apa sih, An ...?" usut Rania, seolah tak mampu menahan rasa penasarannya.
...
Rania terlihat berpikir sejenak, namun suara keukeuh milik Anya diseberang sana seolah tak henti meyakinkan dirinya, bahwa hal yang hendak ia utarakan di pertemuan yang dikehendakinya itu teramat sangat penting untuk diketahui Rania secara langsung tanpa memerlukan perantara pembicaraan via telepon.
Jangan tanya kenapa Rania bisa mengetahui dengan persis perihal jadwal kedatangan Biyan yang tertunda, karena pada kenyataannya, diam-diam selama ini Rania memang selalu rutin menelepon Biyan.
Bukan hanya menelpon, Rania juga telaten mengirimkan atensinya dalam bentuk chat.
Pura-pura mengabarkan tentang keseharian Bella, mengingatkan agar jangan telat makan, dan segudang perhatian serta beragam basa-basi lainnya, yang Rania sendiri seolah tak peduli meskipun respon Biyan tak begitu memuaskan.
Tentu saja, karena untuk hal apapun yang menyangkut Biyan Erlangga, Rania memang pantang menyerah, dan cukup keras kepala ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah untuk beberapa saat lamanya hanya berkendara dalam mode diam satu sama lain, akhirnya Eros pun memutuskan untuk menepikan mobilnya terlebih dahulu di sebuah taman kota.
Usai menarik tuas rem tangan, jemari Eros pun mengendurkan seatbelt yang melilit tubuhnya, sebelum akhirnya mengawasi penuh wajah Bella yang sedang terlipat.
"Bell ..."
__ADS_1
Panggil Eros lembut. Tangan Eros ikut terangkat, guna merapikan beberapa helai rambut Bella yang menjuntai indah, hingga melewati bahu.
"Sebelum Om menjelaskan semua duduk perkara tentang kenapa Bella bisa lihat Om ketemuan sama Tante Anya ... Apapun itu ... Pertama-tama Om ingin minta maaf dulu ..."
Bella masih diam tak merespon, tapi Eros tau gadis itu pastinya menyimak semua kalimatnya.
"Bell, Om Eros berani bersumpah, Demi Tuhan, Om bener-bener gak tau kalo klien yang Om tunggu itu ternyata Tante Anya ..."
Bella terlihat melirik sejenak dengan wajahnya yang cemberut. "Bukannya udah janjian ...?" desis gadis itu akhirnya, untuk yang pertama kalinya melontarkan kata meskipun nada suaranya terdengar sangat jutek di telinga.
Eros menggelengkan kepalanya. "Swear, Om gak pernah janjian sama Tante Anya. Om janjian awalnya tuh dengan orang EO yang akan menghandle event di Miracle, namanya Juan. Tapi begitu Om lagi nunggu Juan, egh, yang dateng bukannya Juan melainkan Tante Anya. Jelas dong Om kaget, tapi mau gimana lagi, Om juga baru dikasih tau kalo ternyata Tante Anya udah dikontrak EO tersebut untuk jadi manager baru di sana. So ... Om hanya berpikir, bahwa terlepas dari apapun permasalahan Om sama Tante Anya, pada dasarnya bisnis adalah bisnis, dan Om tetap harus bersikap profesional ..."
Kemudian Eros terlihat menarik napasnya sepenuh rongga, berharap setiap jengkal kejujurannya bisa diterima Bella dengan baik.
"Bell ..." panggil Eros lagi lirih, kali ini jemarinya nekad meraih kedua jemari Bella sekaligus, yang awalnya saling memilin satu sama lain diatas pangkuan gadis itu.
Eros merasa lega saat meyakini bahwa Bella tak menepisnya, sehingga pria itupun memiliki keberanian untuk menarik belitan seatbelt Bella yang masih terpasang hanya dengan sekali gerakan, sebelum akhirnya membawa tubuh mungil gadisnya itu masuk kedalam pelukan.
"Bella percaya sama Om Eros kan? Serius, Bell, Om gak bohong tentang masalah pertemuan dengan Tante Anya malam ini. Sungguh, semua itu terjadi begitu saja, diluar kehendak Om Eros ..."
"Bella percaya kok, Om,"
Lirih suara Bella bak sebuah penyejuk yang langsung menyirami setiap kobaran resah yang sejak beberapa saat yang lalu terus bertahta dan menguasai bilik perasaan Eros.
Perasaan seperti itu ...
Perasaan takut salah paham ...
Perasaan takut kehilangan ...
Semua perasaan yang tidak menyenangkan itu telah bercokol begitu rupa dalam benak dan sanubari Eros, sehingga membuat keseluruhan jiwa Eros terasa hampa sekaligus berantakan.
Namun meskipun demikian, sisi baiknya adalah berkat kejadian sepele itu pula, dalam sekejap Eros telah menyadari sesuatu yang teramat sangat berharga, bahwa apapun yang terjadi, ia tidak bisa lagi kehilangan Bella.
Bahwa gadis itu penting untuknya, bahwa gadis itu juga adalah napas kehidupannya ... Cinta hebatnya ... Alasan terbesar yang mampu membuat Eros semakin berani dan berbulat tekad dalam menghadapi rintangan apapun dan melewatinya, meskipun kelak Eros harus menghadapi Biyan ... Bahkan seisi dunia ini sekalipun!
__ADS_1
NEXT ...