
Steve sedang memasukkan beberapa minuman kaleng kedalam trolly, manakala tatapannya tertuju pada dua sosok gadis yang juga sedang memasukkan minuman kaleng dengan merk serupa kedalam trolly mereka.
Bagaimana mungkin Steve tidak bisa mengenali keduanya?
Mereka bahkan berada dalam satu kampus yang sama, satu fakultas yang sama, bahkan dalam satu kelas yang sama. Dan yang harus di garis bawahi adalah, satu diantara keduanya diam-diam merupakan incaran Steve sejak lama.
"Woiiy, Bell ...! Astaga ... ternyata beneran kamu, Bell ...?" Steve menepuk akrab pundak salah satu gadis dengan rambut yang dikuncir tinggi keatas, menampakkan pemandangan leher jenjang yang putih mulus.
"Steve ...?!" Bella juga tak kalah speechless, tak menyangka bisa bertemu Steve.
"Bella, please deh, kemana aja kamu kemarin malam? Main ngilang begitu aja, pamit juga enggak ..." Steve langsung ngedumel, mengingatkan Bella pada peristiwa kemarin malam, di mana Eros telah menyeretnya keluar dari Miracle tanpa ampun.
"Yee, kan kamu tau sendiri waktu itu aku keciduk sama Om Eros. Gimana sih, Steve?"
"Iya sih, tapi se-enggak-enggaknya bisa kan pamit dulu kek ke kita-kita, bukannya malah main ngilang begitu aja ..."
"Udah ah, gak usah dibahas. mana udah lewat juga kejadiannya masih dibahas aja ..." Bella mengibaskan tangannya acuh, mengabaikan pelototan Steve yang menatapnya kesal.
Sejenak tatapan Steve pindah ke Ayu, gadis yang diam-diam diincarnya sejak semester satu, yang tadi hanya menoleh sekilas atas kehadiran Steve, sebelum akhirnya kembali sibuk memilah barang-barang yang ada di rak.
"Hai, Ayu ..." sapa Steve kearah Ayu yang berada tepat di samping Bella.
"Hai juga, Steve ..." balas Ayu ramah, seala kadarnya.
Ayu yang cenderung pendiam memang tidak seluwes Bella yang mempunyai circle pergaulan yang jauh lebih luas dari dirinya.
Karena itulah meskipun teman-teman Bella sebenarnya merupakan teman-teman Ayu juga, namun pada kenyataannya hanya ada sekelumit orang yang bisa dekat dengan Ayu, dan salah satunya adalah Bella.
Ayu cukup ramah, tapi tipe penyendiri yang terlihat betul jika dalam lingkup pergaulannya, Ayu sering memilih membatasi diri.
Sikap Ayu yang demikian bukan semata-mata karena Ayu memang pendiam pada dasarnya, melainkan juga ada sedikit perasaan insecure.
Kampus tempat mereka menimba ilmu tergolong cukup elite untuk mahasiswi dengan perekonomian sekelas Ayu, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya ada dua golongan yang bisa masuk kedalamnya.
Golongan pertama adalah golongan mahasiswa/mahasiswi dengan kemampuan perekonomian orang tua diatas rata-rata seperti Bella, Steve, dan sebagian besar dari mereka, sementara golongan kedua adalah lewat jalur prestasi seperti Ayu dan segelintir mahasiswa/mahasiswi yang hidupnya pas-pasan.
"By the way, kalian berdua ngapain ada disini?"
"Lah, kamu sendiri ngapain?"
"Gak liat kalo aku lagi beli soft drink? Kalian nyari apaan ...?"
"Tuh ..." Bella memonyongkan bibirnya kearah trolly yang ada dalam kekuasaan Ayu.
"Busyet ... banyak amat belanjaannya? Mau buka warung kalian ...?" Steve terkejut melihat isi trolly Bella dan Ayu yang dipenuhi berbagai macam barang, mulai dari daging, cemilan, sambal, softdrink ... sampai pembalut wanita juga ada didalam sana!
Bella terkikik geli melihat ekspresi Steve, sedangkan Ayu terlihat mengulum senyum.
"Seriusan Bell, kalian kok bisa ada di sini sih ...?"
"Lah, kamu juga ngapain di sini?"
Tatapan Steve kembali terarah kepada Bella, karena Ayu terlihat diam saja, cenderung tidak tertarik mengobrol, sehingga membiarkan Bella yang menanggapi semua kalimat Steve.
"Kemarin aku sama anak-anak sepakat buat ngabisin weekend di sini ..."
__ADS_1
"Hah? Sama dong, Bella sama Ayu juga bakal ngabisin weekend di sini ...!" pekik Bella bersemangat.
"Kebetulan banget, Bell. Gimana kalo kita gabung?" tawar Steve dengan sepasang mata berbinar. Benaknya mulai merancang cara untuk mendekati Ayu, dengan meminta bantuan Bella, berharap kali aja gayung bersambut.
"Bella sih mau, Steve, kan asik juga bisa seru-seruan bareng kalian, tapi gimana yah? Bella ke sini sama Papa ..."
Mendengar penjelasan Bella semangat Steve langsung kendor. Pupus lagi rencananya untuk melakukan pedekate ke Ayu.
"Oh, ya, ngomong-ngomong kalian nginep di mana?" ucap Bella mengalihkan pembicaraan.
"Andre menyewa satu unit villa dekat pantai xx ..."
"Egh, papaku juga menyewa satu unit villa di situ ..."
"Yang bener, Bell?"
"Iya ..."
"Jangan-jangan villa kita deketan ..."
"Kayaknya sih ... kan disitu cuma ada beberapa unit villa ..."
"Bagus deh," semangat Steve kembali berkobar mendengar kenyataan tersebut.
"Oh ya, ntar malam kita mau barbeque-an loh ..."
"Mampir boleh dong, Bell ..."
"Boleh aja sih, nanti aku bilangin Papa kalo ada temen aku yang mau gabung ..."
"Cerewet ih. Ayo, kita ketemu Papaku aja langsung ..."
"Whaaatt ...?"
"Yuk, kita bayar dulu."
Tanpa ba bi bu lagi, Bella langsung menggeret lengan Steve untuk mengikuti langkahnya kearah kasir.
"Bell, aku mau dibawa kemana nih ...?" tanya Steve keheranan, begitu mereka selesai berurusan dengan pembayaran dari barang yang mereka beli masing-masing.
"Gak usah banyak tanya ... ikut aja."
Steve pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah lebar Bella yang melangkah keluar dari supermarket, sama halnya dengan Ayu yang mau tak mau ikut melangkah mengikuti keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menemani dua gadis remaja berbelanja tentu saja bukanlah merupakan hal menyenangkan untuk sebagian besar pria, begitupun juga halnya dengan Biyan dan Eros.
Demi menyelamatkan diri dari aktivitas membosankan tersebut, Biyan rela menyerahkan debit card miliknya untuk Bella, sementara dirinya dan Eros memilih ngopi di salah satu cafe yang letaknya bersebelahan dengan supermarket tempat Bella dan Ayu berbelanja sesuka hati.
"Kalo Bella tau kamu bakal balik duluan, pasti dia bakalan protes, Ros." ucap Biyan sambil menyesap americano pesanannya.
Hanya dengan membayangkan bagaimana ekspresi Bella saat mengetahui bahwa dirinya telah mengubah rencana dengan berniat kembali ke ibukota lebih dahulu siang ini juga, sudah membuat Eros meringis.
Apa boleh buat?
__ADS_1
Eros memang harus kembali lebih dahulu, mengingat di malam minggu seperti ini, club malam miliknya bisa dua sampai tiga kali lipat lebih padat pengunjung daripada hari-hari biasa, sekalipun tidak ada event khusus yang diselenggarakan di sana.
"Nanti aku coba rayu pake coklat Silverqueen, kali aja mempan ..." imbuh Eros sambil tertawa kecil.
Biyan ikut tertawa mendengar rencana Eros, dalam rangka membujuk Bella.
"Paaa ...! Papaaa ...!"
Pekik suara khas milik Bella yang tiba-tiba menyapa gendang telinga Biyan membuat Biyan sontak menoleh.
Kedua alisnya yang lebat terlihat bertaut saat menyadari Bella yang datang dengan langkah tergesa sambil menarik pergelangan tangan seorang pemuda tampan berkulit putih, diikuti Ayu dari belakang.
"Steve, kenalin, ini Papanya Bella."
"Hallo, Om ...! Perkenalkan, namaku Steve, teman sekampus Bella dan Ayu ..." Steve menyapa sopan begitu berada tepat dihadapan Biyan.
"Pa, Steve ini teman sekelas Bella sama Ayu di kampus loh ..."
"Wah, ternyata kamu yah ...?"
Biyan belum sempat membuka mulut manakala Eros sudah berucap lebih dahulu, membuat Steve yang refleks menoleh ke asal suara tersebut terkejut setengah mati atas keberadaan Eros yang luput dari pantauannya.
'Mati aku ... kenapa bisa ketemu sama Om yang Galak ini lagi, sih?'
Steve merenggut dalam hati. Masih lekat dalam ingatannya bagaimana Eros mendorong kasar tubuhnya hingga membentur tiang beton, semudah menyingkirkan sehelai kertas.
"Kok kamu kenal, Ros?" tanya Biyan sedikit keheranan, menyadari bahwa Eros telah lebih dulu mengenal sosok pria yang bersama putrinya.
Eros terdiam sejenak seraya menguliti sosok Steve yang berdiri jengah, dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.
"Belum lama ini aku bertemu dia di Miracle ..."
Menanti jawaban Eros sanggup membuat Bella deg-degan.
Bukan apa-apa, karena hal yang paling ditakuti Bella adalah jika Eros berkata jujur tentang kebenaran kisah bagaimana awal mula Eros mengenal Steve, meskipun disisi lain Bella juga yakin bahwa pria itu tidak mungkin melanggar janji dengan membeberkan hal tersebut kepada Papanya.
"Pa, ternyata teman-teman Bella dan Ayu ikut menyewa villa di sekitar villa kita. Malam ini mereka berencana melewatkan weekend di sini juga ..." Bella berucap riang, seolah sengaja mengalihkan pembicaraan yang sempat terasa kaku.
"Oh, ya?" alis Biyan terangkat mendengarnya.
"Iya, Om, kalo gak keberatan ntar malam kita main ke sana boleh gak, Om?"
Biyan langsung mengangguk menanggapi permohonan Steve yang terdengar santun.
"Boleh aja. Kebetulan kita mau barbeque-an. Kalo mau, kalian boleh ikutan gabung ..."
"Wah, terima kasih banyak, Om, nanti malam aku pasti mampir ke sana ..."
Senyum semringah serentak menghiasi bibir Steve yang merasa senang luar biasa, setelah mengantongi ijin resmi dari Biyan.
Steve terlihat melirik kearah Bella, keduanya langsung bertukar senyum terlebih saat Steve mengedipkan matanya.
Eros yang melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri sontak mendengus. Entah kenapa tiba-tiba Eros merasa kesal ... menyaksikan kedekatan Steve dan Bella yang selalu saja terlihat begitu kompak ...
...
__ADS_1
Bersambung ...