
Wanita paruh baya itu urung melanjutkan langkahnya ke sebuah pintu kamar yang ada diujung ruangan, manakala ekor matanya justru menangkap penampakan sebuah punggung yang duduk dengan menghadap kolam kecil dengan bunyi gemericik air yang berirama.
Sebelum ia melangkah mendekat, ia pun melirik jarum jam yang ada di dinding ruang tengah, di mana jelas terlihat menunjukkan pukul dua dinihari.
"Belum tidur, Har...?"
Sentuhan lembutnya di bahu kanan Haris membuat putra semata wayangnya itu sontak terbangun dari lamunan panjang.
"Ibu?" Alis Haris bertaut nyata, kaget setengah mati saat menyadari sosok ibunya yang berdiri tepat dibelakang punggungnya yang sedang terpekur. "Ibu kenapa belum tidur? Udah malam loh ini ..." ucap Haris lagi sambil melirik jarum jam pada arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Wanita paruh baya itu terlihat menarik kursi rotan yang ada disebelah Haris, dan ikut menghempaskan tubuhnya di sana dengan perlahan.
"Sebenarnya ibu udah tidur, Har, tapi entah kenapa ibu mendadak terbangun dan langsung ingat kamu. Jadi rencananya ibu mau ngecek kamu ke kamar, tapi malah ngeliat kamu duduk di sini ..."
Haris terdiam mendengar penjelasan panjang lebar ibunya yang terucap dengan nada suaranya yang lemah lembut.
Haris sendiri memang sudah lebih dari dua jam lamanya, duduk di teras samping rumah yang selama ini bisa dibilang merupakan tempat favorite Haris, setiap kali dirinya pulang ke kampung halaman.
Setahun yang lalu, ayahnya telah merenovasi teras samping rumah mereka menjadi tempat bersantai yang apik, lengkap dengan tanaman hias yang menambah kesan eksotik dan menenangkan, serta sebuah kolam berukuran tidak terlalu besar, namun dihuni puluhan ikan mas yang beraneka ragam dan ukuran.
Sudah nyaris seminggu Haris pulang ke kampung halamannya, namun baru malam ini Haris bisa menikmati waktu di teras samping rumah mereka.
Bukan apa-apa, karena seminggu terakhir kehidupan Haris hanya berkutat di seputaran rumah sakit, demi menunggui sang ayah yang terkena stroke ringan.
Saat ini kondisi kesehatan ayah mulai membaik, sehingga tadi siang telah diperbolehkan pihak rumah sakit untuk pulang ke rumah, meskipun harus tetap menjalani kontrol secara rutin dengan dokter.
Kondisi ayah yang seperti itu membuat Haris lega, namun tak bisa dipungkiri bahwa di sisi hatinya yang lain justru dipenuhi peperangan.
Kepulangan Haris kali ini sungguh membuat dilemma, dan ini salahnya Haris juga.
Haris sangat menyesal, karena telah sekian lama menunda menyelesaikan persoalan tentang perjodohan dirinya dan Ayu hingga berlarut-larut seperti sekarang, karena tak pernah menyangka sama sekali jika buntutnya akan se-runyam ini.
Sungguh, semua ini diluar dugaan Haris.
Awalnya Haria selalu berprinsip bahwa mengulur waktu untuk sementara merupakan solusi terbaik, mengingat dirinya dan Ayu pun tak mungkin menikah dalam waktu dekat, karena Ayu sendiri masih menjalani kuliah yang sudah pasti tak akan selesai dalam waktu dekat juga.
__ADS_1
Sejujurnya, Ayu adalah gadis yang baik dan mereka telah bertetangga cukup lama.
Sejak kecil Ayu dan Haris sudah saling mengenal, dan hubungan antara dua keluarga juga bisa terbilang sangat harmonis.
Rencana perjodohan antara dirinya dan Ayu bahkan sudah Ayu dan Haris ketahui sejak lama, namun mereka berdua malah tidak menganggap bahwa hal tersebut sebagai hal yang serius.
Sampai suatu ketika, begitu Haris berhasil menyelesaikan kuliah di kota dan mulai bekerja disebuah perusahaan yang cukup bonavide, kedua keluarga mereka terlebih ayah, malah ingin membawa hubungan Ayu dan Haris ke jenjang yang lebih serius.
Kala itu baik Ayu maupun Haris seolah sama-sama tak enak hati untuk saling menepis. Kendati hubungan mereka selama ini lebih ke arah kakak-adik daripada sepasang kekasih.
Dimata Ayu yang begitu polos dan belum pernah mengenal apa arti cinta yang sesungguhnya, serta menjalin hubungan serius dengan seorang pria ... Ayu tentu bisa menilai bahwa Haris merupakan sosok yang berkepribadian baik.
Sementara untuk Haris yang secara usia terpaut beberapa tahun lebih dewasa dari Ayu, pun memiliki penilaian yang tak jauh berbeda.
Meskipun Haris sempat diam-diam berpacaran beberapa kali, namun sejauh ini memang belum pernah ada wanita yang benar-benar mengusik relung hatinya, sehingga secara tak langsung, sama halnya seperti Ayu, Haris pun menerima begitu saja rencana dua keluarga atas keputusan orang tua mereka atas masa depan dirinya dan Ayu.
Namun semua pandangan dan konsep masa depan Haris yang sederhana, tanpa sadar telah berubah drastis begitu Haris mulai mengenal Yuni.
Yuni adalah gadis yang baru dikenal Haris dalam setahun terakhir.
Awalnya Haris hanya iseng-iseng saja mendekati Yuni karena paras Yuni yang memang cantik.
Namun seiring waktu berlalu, tanpa disadari Haris semakin terkesan dengan semua yang ada di didiri gadis itu.
Puncaknya empat bulan yang lalu saat direktur perusahaan berulang tahun, dan mengundang seluruh karyawan untuk merayakannya disebuah villa yang berada di puncak.
Pada malam itu, semuanya menikmati makan malam yang berakhir dengan kemeriahan party hingga lewat midnight.
Terbawa arus euphoria yang penuh kegembiraan, malam itu seharusnya Haris mengantarkan Yuni terlebih dahulu untuk beristirahat di kamarnya.
Namun entah bagaimana ceritanya, yang ada mereka berdua malah nekad mengendap-endap keluar dari villa, guna memisahkan diri dari rombongan.
Pada akhirnya ending dari kejadian malam itu telah mengubah seluruh keputusan Haris tentang alur masa depannya, terlebih lagi saat sebulan yang lalu Yuni memberitahukan sebuah kabar mengejutkan yang entah kenapa bukannya membuat Haris shock, Haris malah bahagia mendengarnya.
Kenyataannya Yuni memang telah hamil, karena mengandung benih miliknya, dan detik itu juga Haris merasa dirinya berada di puncak kebahagiaan, sekaligus dilema.
__ADS_1
Bagaimanapun juga Haris akhirnya memilih jujur kepada Yuni bahwa sebenarnya dirinya sedang berada dalam situasi pelik karena terikat perjodohan dengan seorang gadis, yang merupakan tetangganya sendiri, sekaligus berjanji kepada Yuni untuk menyelesaikan persoalannya tersebut.
Namun semua rencana yang hendak dirancang oleh Haris untuk berkata jujur kepada kedua orang tuanya harus buyar seketika, manakala bertepatan dengan rencananya mengambil cuti, Haris telah menerima kabar jika ayahnya tiba-tiba terserang stroke.
Akhirnya boro-boro berkata jujur, yang ada Haris justru tidak punya kesempatan menjelaskan di saat kondisi ayahnya seperti ini.
Haris bahkan hanya bisa terduduk pasrah saat mendengar keinginan ayahnya yang justru ingin mempercepat pernikahannya dengan kalimat yang terpatah-patah.
"Lah, malah melamun lagi, kamu lagi mikirin apa sih, Har ...?" suara lembut ibu kembali mengembalikan kesadaran Haris yang melanglang buana tak tentu arah.
Haris terlihat memijat keningnya galau.
"Har, sebenarnya sejak awal kedatangan kamu seminggu yang lalu, entah kenapa firasat ibu selalu mengatakan bahwa kamu gak seperti biasanya. Seperti ada hal yang terus-menerus mengganggu pikiran kamu ..."
Ditodong seperti itu, lidah Haris menjadi semakin kelu.
"Apa yang terjadi, Har? Kenapa kamu kelihatannya begitu banyak pikiran?"
"Tidak ada, Bu ..." lirih Haris tak kuasa.
Helaan napas berat sang ibu kembali terdengar, menyadari putra semata wayang tetap enggan membagi keresahan.
"Har, besok siang Ayu sampai ..."
"Iya, Bu, sore tadi udah diingetin lagi sama Om Arif, karena Haris yang akan jemput Ayu besok di bandara ..."
Yang disebut 'Om Arif' oleh Haris adalah tak lain ayahnya Ayu.
Yah ... Bahkan satu dari sekian banyak alasan penyebab keraguan dan keresahan Haris untuk berkata jujur selain dikarenakan kondisi ayah adalah kebaikan, perhatian, serta besarnya empati dari keluarga Ayu terhadap keluarga mereka.
Selama berada di rumah sakit, Om Arif bahkan rela bergantian dengan Haris guna menunggui sang ayah yang terbaring lemah, sedangkan istrinya tak pernah absen menjenguk, membawakan makanan, sekaligus memberikan penghiburan dan penguatan terlebih untuk ibu dalam menghadapi cobaan.
Mendapati hubungan yang begitu indah diantara dua keluarga didepan mata, lalu bagaimana Haris mampu menghancurkan perasaan semuanya begitu saja ...?
Bersambung ...
__ADS_1