
"Baiklah, jika kalian semua menginginkan pertanggung-jawaban saya dengan menikahi Ayu ... Maka saya bersedia ..."
"Om Biyan ...!"
Kepala Biyan refleks menoleh keasal suara memekik yang berasa dari bibir mungil Ayu, begitu dirinya mengucapkan keputusan yang cukup sulit.
Ditempatnya bersimpuh, sepasang kelopak mata Ayu nampak jelas tergenang. Kepala gadis itu menggeleng berkali-kali menyatakan penolakannya atas kepasrahan Biyan yang tak mampu lagi mempertahankan kebenarannya.
"Enggak, Om ... Om gak boleh menerima semua ini ... Ini gak bener, Om Biyan gak salah ..."
Kalimat serak Ayu malah dihadiahi cibiran sinis kearah Biyan, oleh hampir semua orang yang berada diruangan tersebut.
Mereka semua seolah telah memiliki persepsi yang sama, bahwa Biyan adalah satu-satunya orang yang harus bertanggung-jawab atas semua kesalahan dan aib yang telah mencoreng nama baik keluarga Arif Rahman, begitupun dengan nama keluarga Juragan Ibrahim.
Pada sesaat yang lalu, Haris sudah menetapkan keputusannya bahwa pria itu tidak bersedia menikahi Ayu lagi, dan semua alasan keberatan Haris tersebut mampu diterima oleh semua orang, terlebih kedua orang tuanya yang pada awalnya justru merupakan orang yang paling ngotot menikahkan anak tunggalnya dengan putri semata wayang dari keluarga Arif Rahman.
Lagipula pria mana yang masih ingin menikah dengan seorang gadis, yang tertangkap basah berduaan dengan seorang pria didalam sebuah kamar hotel, tepat dihari seharusnya dirinya menikah ...?
"Ayah, harus berapa kali Ayu katakan bahwa semua ini gak seperti yang ..."
"Ayu, diamlah!" pungkas Arif Rahman tegas, menyadari Ayu yang masih bersikeras membela Biyan mati-matian.
Biyan tertunduk dengan mata terpejam, meresapi semua kalimat pembelaan Ayu yang terucap seiring isak tangis gadis itu yang tak kunjung usai.
"Ayu, sudahlah, Nak ... Jangan bicara lagi ..." bisik Ibu Arum serak, seraya meremas sebelah bahu Ayu yang kembali berguncang.
Tidak bisa.
Bagaimana mungkin Ayu bisa diam saja menyaksikan bagaimana Biyan tersudut begitu rupa karena tak henti-hentinya dicecar oleh semua orang.
Yah ... Oleh semua orang, termasuk Ayahnya sendiri.
Boleh jadi semua orang tidak tahu-menahu siapa gerangan seorang Biyan Erlangga dan bagaimana latar belakang kehidupan pria itu.
Pada kenyataannya Ayu tau persis, bahwa dalam kehidupan nyata seorang Biyan Erlangga bukanlah orang sembarangan.
Pria itu sangat dihormati dan disegani oleh siapa pun yang mengenalnya ... Tapi di kampung kecil Ayu, Biyan malah diperlakukan dengan semena-mena, tidak ada satu pun yang membela, karena tidak ada seorang pun yang tau siapa sesungguhnya pria yang sedang mereka hakimi begitu rupa!
Demi Tuhan, Ayu menyesal dan merasa sangat bersalah, karena kalau bukan karena mengkhawatirkan keadaannya yang selama ini sudah dianggap bak anak sendiri oleh Biyan ... Tidak mungkin Biyan akan terjebak dalam situasi yang buruk seperti saat ini!
"Bagaimana Pak Biyan, apakah masih ada lagi yang ingin anda sampaikan ...?" seorang pria paruh baya berpeci hitam yang ternyata merupakan seorang ustad dikampung tersebut nampak menatap Biyan yang terlihat sedang memijat kedua alisnya.
__ADS_1
Biyan mendongak sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Pak Ustad ... Lakukan saja apa yang dianggap baik oleh semua orang. Saya akan menerimanya ..." ujar Biyan dengan kebulatan tekad, yang jelas menggambarkan kewibawaannya meskipun saat ini dirinya justru sedang mengalah.
Yah, mengalah adalah jalan terakhir yang terpaksa harus diambil oleh Biyan, dikarenakan Biyan tak sanggup lagi menghadapi semua tekanan.
Bukan tekanan atas dirinya, melainkan atas diri Ayu dan kedua orang tuanya.
Biyan sadar, secara tidak langsung dirinya telah mencoreng nama baik Ayu sebagai seorang gadis, dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk membersihkan nama Ayu kecuali dengan setuju menikahi gadis itu sesuai dengan tuntutan semua orang.
"Baiklah, kalau begitu sesuai dengan permintaan semua yang hadir ditempat ini, maka sekarang juga Pak Biyan harus mempersiapkan diri ..."
Biyan pun mengangguk, dan tepat disaat yang sama ... Ekor matanya telah menangkap tubuh mungil Ayu yang sontak menabrak tubuh ibunya erat-erat, lagi-lagi ... Sambil terisak hebat ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Biyan Erlangga bin Yudhistira Erlangga, dengan anak saya yang bernama Ayushita Melani dengan maskawinnya berupa uang sebesar satu juta rupiah, tunai ...”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ayushita Melani binti Arif Rahman dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.”
"Sah ..."
"Sah ..."
"Sah ..."
Wajah-wajah yang hadir di sana pun sulit dilukiskan, antara lega, sedih, haru, semua rasa seolah bercampur satu, namun syukurlah dengan terpanjatnya lantunan doa yang sarat makna dalam membekali kedua mempelai, yang diharapkan akan menyongsong keberkahan dalam memulai hidup baru, menghadapi keadaan suka maupun duka di masa depan, seolah mampu mencairkan sedikit demi sedikit ketegangan yang mendera silih berganti.
Doa telah dipanjatkan, dan kini tiba saatnya sepasang suami istri yang baru disahkan duduk berhadap-hadapan dengan ekspresi canggung.
Meskipun merasa sangat rikuh pada akhirnya Biyan-lah yang mengambil inisiatif untuk menyodorkan tangan kanannya terlebih dahulu kehadapan Ayu, yang kemudian disambut Ayu dengan jemari bergetar, terlebih saat harus mencium punggung tangan Biyan yang terasa begitu hangat saat bersentuhan dengan jemarinya yang sedingin es.
Jantung Ayu semakin berdegup kencang manakala pada detik berikutnya Biyan mengecup dahinya perlahan.
Seperti mimpi.
Itulah yang dirasakan Ayu saat ini, menyadari setiap inchi dari impiannya yang selama ini terasa begitu mustahil, telah berubah menjadi kenyataan dalam sekejap mata.
Hari ini Ayu benar-benar resmi diperistri secara agama oleh seorang Biyan Erlangga, sang pria pujaan hatinya.
Bahagia?
Yah ... Tentu saja Ayu merasa sangat bahagia ...!
__ADS_1
Namun manakala lewat ekor matanya sekilas kegelisahan Biyan tertangkap samar bergelayut di raut wajah tampan pria itu ... Ayu seolah tersadar akan sesuatu.
'Ini gak adil ... Bagaimana bisa Ayu merasa bahagia dengan pernikahan dadakan ini, sementara Om Biyan sendiri justru kelihatan sangat tertekan ...?'
'Om Biyan bersedia menikahi Ayu pasti karena gak ingin membuat Ayu dan kedua orang tua Ayu malu ...'
'Sudah jelas-jelas Om Biyan rela berkorban seperti ini demi nama baik Ayu, dan bukan karena cinta ...! Koq bisa-bisanya Ayu malah bahagia di atas penderitaan hati Om Biyan ...?'
Ayu terpekur menyadari semua kenyataan yang baru saja terpampang nyata didepan matanya.
'Lalu bagaimana nanti dengan Bella ...?'
'Bagaimana dengan Tante Rania ...?'
'Bagaimana ini ...? Bagaimana Ayu bisa menghadapi hari esok ...?'
'Aduh Ayu ... Kenapa semua ini baru terpikir sekarang ...?'
Memikirkan semua itu membuat Ayu semakin kalut.
Ayu tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi hari esok.
Ayu bahkan tidak tahu apa yang sedang bercokol dalam pikiran Biyan sekarang.
Apakah dengan status sebagai suami istri yang sah, hubungan mereka akan berubah atau tidak ...
Entahlah ...
Namun satu hal yang pasti, dan hal itu seolah tertanam dalam sanubari Ayu yang terdalam.
Bahwa tak peduli seperti apa kelak Biyan akan memaknai dirinya ... Ayu telah bertekad untuk benar-benar memposisikan dirinya sebagai istri Biyan ...
Bersambung ...
Gimana-gimana guyz ... Udah pas belum sih tampang bingungnya Om Biyan yang lagi di 'sidang' sama keluarga dan warga kampungnya Ayu? 😅
Tapi kalo liat ekspresinya Ayu, kayaknya masih kurang syedih yah ...? Apa karena ada bahagianya bisa nikah sama pujaan hati ...? 😅
🧕: Supportnya dikencengin lagi yah ... 🥰
__ADS_1