
"Wellcome home, sayangkuuuuuu ... My honey bunny sweetyyyy ..."
Ayu hanya bisa mengelus dada menerima pekikan heboh Bella begitu pintu rumah terpentang lebar.
Belum juga keterkejutan Ayu usai, tubuhnya sudah ditubruk dan dipeluk erat.
Jangan tanyakan dari siapa lagi semua perlakuan heboh tersebut Ayu dapatkan kalau bukan dari Bella.
"Udah dong, Bell, meluknya ... Gerah tau ..." protes Ayu karena Bella tak kunjung membebaskan dirinya dari kekuasaan gadis itu.
Mendengar kalimat Ayu tersebut, Bella yang seolah tersadar langsung buru-buru melonggarkan pelukannya sambil nyengir.
"Maapin Bella, Yu, habisnya Bella kangen banget deh sama Ayu ..."
"Kangen sih kangen, tapi jangan sampai bikin sesak napas kale ..."
"Iya deh, iya ... Ya udah, yuk masuk yukk ...." tukas Bella cuek, kemudian dengan bersemangat, Bella pun langsung menarik pergelangan tangan Ayu untuk masuk kedalam rumahnya, sambil tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu.
Ayu hanya bisa pasrah digelandang begitu saja oleh sahabatnya yang super lincah itu, hingga saat mereka berdua melintasi ruang tengah mendadak hidung Ayu mulai mengendus aroma lezat yang sepertinya berasal dari arah dapur.
"Bell, bau apaan nih enak banget ..."
"Udah tau bau makanan, pake nanya lagi ..."
Sepasang alis Ayu sontak mengerinyit atas ucapan ringan Bella. "Emangnya siapa yang lagi masak, Bell ...? Gak mungkin Bella kan ...?"
Bella manyun mendengar kalimat Ayu yang seolah menyangsikan secara terang-terangan, akan kemampuannya dalam hal masak memasak yang memang payah.
"Iya deh, emang gak ada hubungannya sama Bella karena yang lagi ada di dapur itu Mama Rania ..." imbuh Bella ringan, sambil melirik sejenak kearah Ayu yang terlihat masih saja mengendus-endus nikmat aroma super lezat yang memenuhi udara.
'Mama ...? Memangnya sejak kapan Tante Rania mahir dalam urusan dapur ...?'
Ayu membathin seolah takjub, sekaligus kembali tersadar akan keberadaan Rania, yang memang sudah menetap di rumah besar ini dengan alasan menemani Bella tepat di hari pertama Biyan berangkat keluar kota.
Jujur saja, Ayu merasa agak terkejut mendengar jawaban Bella, yang menyatakan bahwa sosok yang sedang menyebarkan aroma menggugah selera itu adalah Rania.
Rasanya sulit dipercaya, namun pada kenyataannya Bella tak mungkin berbohong, dan Ayu bahkan mendengar sendiri pernyataan Bella yang terdengar begitu meyakinkan.
__ADS_1
Bertepatan dengan langkah mereka yang tiba tepat didepan pintu kamar Ayu, Ayu pun langsung mengulurkan tangannya guna membuka pintu kamar.
"Tante Rania keren deh, Bell, bisa mahir masak dalam waktu singkat. Gak kayak anaknya, mahirnya masak mi instan doang ..." ledek Ayu begitu langkah mereka masuk beriringan kedalam kamar.
Menanggapi ledekan Ayu, Bella langsung membuat gerakan dengan memutar bola matanya.
"Kata siapa mahir? Orang makanannya aja hasil orderan semua kok, Mama sih tinggal bagian manas-manasin doang ... Hi ... Hi ... Hi ..." Bella malah terkikik geli usai membuka tabir rahasia kesuksesan Rania di dapur, yang pastinya bakal mengecoh siapa pun yang menghirup aroma menggiurkan tersebut.
Mendengar kenyataan tersebut tentu saja Ayu langsung terbelalak, dan mau tak mau akhirnya Ayu ikut menyumbangkan sedikit tawa.
Swear, Ayu beneran tak ada sedikit pun niat buat menertawakan trik Rania. Tapi melihat tingkah polah Bella yang lucu nian saat membeberkan rahasia emaknya sendiri sambil ketawa-ketiwi tanpa dosa sangatlah mengocok perut Ayu.
"Dasar anak durhaka kamu, Bell ..." desis Ayu yang masih menyisakan senyum di bibir.
"Gak lah, Yu. Lagian Mamanya Bella emang rada lucu kok. Udah tau gak pinter masak, masih aja nekad ngurusin dapur. Tapi ya ... Biar bagaimana pun Bella salut deh sama usaha Mama. Saking niatnya Mama mau baikan sama Papa kali ya, Mama sampe bela-belain belajar masak, tapi ya itu ... Gak bisa-bisa ... Hi ... Hi ... Hi ..."
Raut wajah Bella yang tadinya mulai terlihat serius, tak disangka endingnya malah bengek lagi karena Bella yang kembali terkikik geli.
Bahkan kali ini tawa Bella kelihatannya lebih parah, karena tubuh ramping Bella sampai terguling diatas ranjang Ayu sambil menekan perut yang mulai mules akibat kebanyakan ngikik.
"Bayangin aja, Yu, setiap hari adaaaaaa aja yang jadi bahan eksperimen Mama. Mulai dari masak nasi yang jadi bubur, goreng ikan yang jadi negro semua, sampe ke sayur pare yang pahitnya ngalahin obat malaria, Wua ... Ha ... Ha ... Bella udah gak tau lagi dah, soalnya Mama kayaknya niat banget mau ancurin dapur apa gimana yah ...? Wua ... Ha ... Ha ..."
Namun demikian, kali ini tawa Bella tak lagi bisa membuat Ayu ikut tertawa.
Ayu yang baru saja menghempaskan tubuhnya keatas kursi usai menaruh travel bag mungil miliknya keatas meja kini hanya terduduk diam, sambil memperhatikan Bella yang masih tergelak dengan bibir yang terkunci rapat.
Sepenggal kisah perjuangan Rania selama beberapa hari, sebagai bagian dari usaha wanita itu dalam rangka mencuri atensi Biyan kembali telah membuat hati Ayu diam-diam terusik oleh perasaan bersalah yang berkolaborasi setara dengan perasaan cemburu.
'Benarkah ...?'
'Benarkah se-keras itu Tante Rania berusaha mencari perhatian Om Biyan ...?'
'Sampai-sampai nekad 'menghancurkan' dapur seperti istilah Bella ...?'
Ayu terpekur.
Perlahan ada perasaan cemas yang mulai menyelinap dan menggerogoti sanubarinya tanpa tercegah.
__ADS_1
'Bagaimana ini ...?'
'Bagaimana kalo nanti Om Biyan berniat balikan sama Tante Rania ...?'
'Apalagi dengan adanya Bella yang seolah menjadi alasan yang tepat untuk mereka berbaikan ...'
'Apakah itu artinya kelak Ayu bakal di talak ...?'
Hanya dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan seperti itu saja, Ayu sudah merasa kepalanya menjadi pening mendadak, sehingga refleks tangan kanannya terangkat guna memijat kedua alisnya sekaligus dengan menggunakan jari ibu dan jari telunjuk dalam waktu bersamaan.
"Kenapa, Yu? Pusing yah ...?"
Pertanyaan Bella membuat Ayu tersadar dari lamunannya sendiri, bahwa saat ini Bella tengah menatapnya dengan seksama.
"Gak pa-pa, Bell, cuma pusing sedikit ..."
"Wah, jet lag tuh ..." imbuh Bella sambil bangkit dari tempat tidur Ayu. "Huhfh, padahal ada banyak banget loh yang pengen Bella ghibahin, tapi ya udah deh, ntar malam aja sekalian biar Ayu fit dulu ..."
Mendengar itu serta-merta Ayu menatap Bella dengan tatapan penyesalan, namun mau bagaimana lagi, kepala Ayu sekarang emang lagi nyut-nyutan.
"Ayu istirahat aja dulu sejam atau dua jam, biar ilang capeknya. Oh iya, jangan lupa, Yu, ntar malam kita makan malamnya bareng yah, sama Papa juga ..."
Ayu mendongak, menatap Bella yang kini menjulang tepat dihadapannya.
Bukan apa-apa, karena saat meninggalkan bandara, sudah jelas-jelas Biyan mengatakan akan pulang larut malam.
Lalu kenapa tiba-tiba Bella mengatakan bahwa Papanya akan makan malam di rumah?
"Tadi Mama sengaja telepon Papa agar pulang cepat, biar kita semua bisa makan malam sama-sama ..."
'Oh, jadi alasannya udah jelas, bahwa Om Biyan hanya ingin memenuhi permintaan Tante Rania ...'
'Ternyata Om Biyan emang se-kangen itu yah, buat ketemu mantan istri yang tak terlupakan ...'
Ayu sadar bathinnya sedang kesal, akibat perasaan cemburu yang kian bertalu tanpa tercegah.
'Padahal kata Om Biyan sebelum mereka berpisah, untuk menghindari kecurigaan Bella dan Tante Rania, yang sudah pasti akan menaruh curiga jika mereka datang bersama, Om Biyan memilih singgah di kantor terlebih dahulu, sementara Ayu akan meneruskan perjalanan pulang ke rumah dengan menggunakan taxi online.'
__ADS_1
'Saat ini Ayu justru tak menyangka, jika hanya dengan sebuah telepon dari sang mantan istri yang sedang kangen, Om Biyan bahkan langsung lupa dengan rencana awal, yang sesungguhnya di susun oleh dirinya sendiri ...'
Bersambung ...