HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
GOMBALAN RECEH


__ADS_3

🧕: "Maaf, ini bukan PHP, tapi karena double bab yang kemarin sama pihak Noveltoon masih review aja. Jadi hari ini aja Author kasih double up-nya yah. Sekali lagi maafkan atas ketidaknyamanannya ... Lopphyuu all ... 😘"


...


Dengan gerakan yang gesit Eros membalik semua potongan daging dan beberapa macam sayuran diatas permukaan grill pan yang warnanya mulai kecoklatan itu.


"Fiuhhh, hampir aja ..." desis Eros lega karena telah berhasil menyelamatkan semuanya tepat di injury time.


"Tenang, Om, masih aman terkendali kok. Dagingnya juga masih cakep ... kayak Om Eros ..." bisik Bella separuh menggombal, namun yang ada Eros malah menghadiahi gombalan receh tersebut dengan sepasang mata yang melotot.


"Bell, emangnya udah gak ada perumpamaan lain yang lebih pantas? Masa iya cakepnya Om Eros disama ratakan kayak daging panggang ...?" protes Eros terang-terangan, membuat Bella terkikik sejenak.


"Maaf deh, Om ... habisnya gombalan yang terlintas di pikiran Bella cuma itu. Namanya juga gombalan yang spontan, gak bisa di request-lah ..." Bella menjawab polos sambil menaruh baki yang ia bawa, ke meja kecil yang ada di dekat Eros.


"Kamu ini, ada-ada aja ..." sungut Eros.


"Udah ... udah ... gak usah kesal begitu, Om, kan point pentingnya Om Eros tetap satu-satunya pria paling cakep, yang ada di hati Bella ..."


"Ck ... ck ... ck ... mulai deh ..."


Bella malah terkekeh.


Gak ingin dirinya menjadi ge-er sekaligus gak ingin memperpanjang ke-absurdan Bella yang sepertinya lagi kumat, Eros memilih kembali fokus pada tugas dan tanggung jawabnya yang utama, yakni memanggang daging dan sayuran.


Namun belum juga lewat satu menit suasana diantara mereka terasa hening dan tenang, Bella sudah menowel lengan Eros dengan jari telunjuknya.


"Om Eros ..." bisik Bella.


"Apa lagi, Bell ..." jawab Eros tanpa menoleh.


"Om Eros sayang ..."


Eros sontak terjingkat mendengar panggilan mesra tersebut.


"Astagaaaa, Bellaaaa ..."


Eros langsung menoleh panik, seketika yang ia dapati adalah ekspresi wajah Bella yang sedang mengerjap genit seakan sengaja menggoda jiwa kesepian Eros, membuat sepasang mata Eros kembali melotot galak.


"Kamu apa-apaan sih, Bell, usil banget deh ... kalo Papamu dan Ayu mendengarnya gimana, coba ...?" desis Eros yang belingsatan sendiri.


"Tenang aja, Om, Papa lagi ke toilet, sementara Ayu ada di dapur. Jadi diantara mereka berdua gak ada satu orang pun yang bakalan mendengar ..." bisik Bella dengan wajah tengilnya.

__ADS_1


"Hhhuuffhh ... Bella ... Bella ... ada-ada aja kamu ini ..."


Eros menghembuskan napasnya yang tadi sempat tercekat, memutuskan untuk lagi, lagi, dan lagi, menaruh fokusnya ke aktifitas semula dan mengacuhkan Bella yang keukeuh berdiri di sampingnya, sok-sokan memperhatikan isi grill pan yang sedang terpanggang.


"Ooommm ..." panggil Bella, lagi-lagi sambil menowel lengan Eros yang bertekstur keras.


"Hheemmm ..."


"Bella boleh nanya gak ...?"


"Mau nanya apaan lagi, Bell?"


"Mmm ... sejak kemarin, Om Eros belum ada berubah pikiran gitu?" tanya Bella, setelah sejenak sempat ragu.


"Apanya yang berubah pikiran, Bell?" Eros pura-pura gak ngeh, padahal dia tau persis kemana arah dan tujuan pertanyaan Bella.


"Tentang pernyataan Bella tentang isi hati Bella yang sesungguhnya untuk Om Eros ..."


"Bella, tolong lupakan semua itu. Please ..."


"Tapi, Om ..."


"Hentikan."


"Bukannya kemarin Om sudah mengatakannya dengan jelas, kalo semua keinginan Bella itu gak mungkin?"


"Iya, Om, tapi kan ..."


"Gak ada tapi, dan Om mau Bella berhenti membahas hal ini. Kalo Bella masih mau membahasnya lagi ... maka kedepannya Om akan menjauh dari Bella, dan gak mau kenal Bella lagi ..."


Bella terhenyak.


"J-jangan gitu dong, Om ..."


Mulut mungil Bella ikut terbuka mendapati ancaman Eros yang gak tanggung-tanggung.


Suara Bella yang susah payah keluar dari celah bibirnya pun terdengar serak bergetar, seolah pertanda bahwa gadis itu sedang mati-matian menahan tangisnya yang hendak memecah.


"Tega banget deh. Om Eros kok gitu sama, Bella ..."


"Kalo Bella gak mau Om Eros bersikap seperti itu, maka berjanjilah untuk gak lagi membahas tentang hal tersebut. Bella juga harus berjanji bahwa setelah ini, Bella akan bersikap baik dan sewajarnya ..."

__ADS_1


Eros terdiam sejenak, berusaha mengambil napas sambil mengawasi sosok Bella yang semakin tertunduk dalam mendengarkan helai demi helai perkataan menusuk yang terucap dari mulut Eros.


"Bell, tolong kembalilah menjadi Bella yang dulu. Bella yang polos ... Bella yang gak pernah berpikir macem-macem ..." pungkas Eros lagi, berharap semua kalimatnya mampu di cerna oleh Bella dengan baik dan bisa diterima gadis itu dengan lapang dada.


Meskipun terasa berat, namun pada akhirnya Eros bisa menarik napas lega saat menyadari Bella juga terlihat menganggukkan kepalanya perlahan, tanda ia menerima kesepakatan yang diajukan oleh Eros meskipun secara sepihak.


Bella pasti tak akan pernah menyangka, bahwa jauh didalam lubuk hati Eros, sesungguhnya Eros pun tak kuasa saat harus mengatakan kalimat menyakitkan itu untuk Bella.


Tapi mau bagaimana lagi ...?


Jika hanya dengan cara mengancam Bella sedemikian rupa maka Eros mampu mengendalikan kenekadan gadis itu begitupun dengan hatinya yang mulai tercemar perasaan aneh yang tak sepantasnya ... maka Eros pasti akan melakukannya!


Yah, meskipun tak sanggup namun pada akhirnya Eros memang harus mematahkan hati Bella.


Demi Bella ...


Demi masa depan Bella yang masih begitu panjang ...


Eros bersumpah tidak akan pernah mempertaruhkan semua itu, hanya demi perasaan konyol yang sungguh tak patut berada di antara mereka ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jarum jam telah menunjukkan waktu tepat jam tujuh malam, ketika Steve datang dengan wajah berseri penuh senyuman.


Pria itu ternyata gak datang sendirian melainkan bersama dua orang remaja pria yang tak kalah tampan dengan dirinya, juga sebaya dirinya, Bella dan Ayu.


"Kalian berdua ... kenalin nih, ini Om Biyan, Papanya Bella ..." ujar Steve kepada kedua temannya, usai dirinya menyalami Biyan terlebih dahulu yang kebetulan sekali telah menjadi orang pertama yang menerima kehadiran mereka malam ini.


Sikap santun Steve tersebut alhasil di tiru dengan baik oleh dua temannya yang kemudian ikutan membungkuk guna menyalami Biyan secara bergantian, sambil tak lupa memperkenalkan diri mereka masing-masing.


"Kenalin, Om, aku Andre ..."


"David, Om ..."


Biyan manggut-manggut sejenak menerima perkenalan singkat itu.


Untuk kesan pertama, Biyan cukup menaruh respect, karena Steve, Andre dan David, ketiganya terlihat cukup santun dalam penilaian kaca mata Biyan ...


...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Jangan lupa Like, Comment, bagi Gift dan Vote yah, biar pop novelnya naik, dan kali aja bisa di promin NT yah .. 🤗😘


__ADS_2