
Sejak mobil yang dikemudikan Biyan berbelok ke area salah satu hotel bintang lima yang cukup ternama di jantung kota, degup jantung Ayu yang awalnya memang sudah berdebar dua kali lipat lebih cepat, kini telah semakin menggila didalam sana.
Belum lagi berbagai pemikiran yang berbaur tak teratur didalam benak Ayu yang polos.
"Ay, ayo turun ..."
Biyan bahkan telah berinisiatif membukakan pintu karena Ayu yang tak kunjung turun, malah berpura-pura sibuk mengubek isi tasnya seolah sedang mencari sesuatu yang tak kunjung ia temukan.
"Anu Om, sebentar ..."
"Nyari apaan sih?" ucap Biyan yang ikut melongokkan kepalanya kedalam tas kuliah Ayu.
"Mmm anu ... D-dompet ..." sahut Ayu tergeragap.
"Itu bukannya dompet?" jawab Biyan saat melihat ujung dompet Ayu yang menyembul dari dalam tas.
"Oh, egh ... Iya ... Mmm ... Maksud Ayu p-ponsel ..."
"Tuh ponsel ..." jawab Biyan lagi dengan alis terangkat saat menunjuk ke atas dashboard mobil, di mana ponsel Ayu tergolek lesu di sana.
Biyan tercenung mendapati tangan Ayu yang rada tremor, saat berusaha meraih benda pipih berbentuk persegi itu dengan ragu.
Pada akhirnya Biyan pun mengerti.
Bukan dompet, ponsel, atau apapun itu yang seolah terus menghalangi Ayu agar mau bergerak turun dari mobil, karena pada kenyataannya semua itu hanya semata-mata alasan Ayu untuk mengulur-ulur waktu saja.
"Ay ..." panggil Biyan lembut, sambil menatap wajah Ayu dalam-dalam, yang seolah tak mampu menyembunyikan kegelisahannya yang nampak nyata.
"I-iya, Om?"
"Ayu takut yah?" tanya Biyan to the point.
Ditodong langsung dengan pertanyaan telak seperti itu sontak membuat Ayu semakin terlihat gelagapan, tak mampu menjawab meskipun hanya sepatah kata.
Alhasil gadis itu hanya bisa tertunduk dalam, tak berani menentang kilau mata Biyan yang saat ini sudah pasti sedang mengarah penuh kearahnya, mengulitinya hingga tak bersisa.
Menyaksikan pemandangan tubuh Ayu yang bergetar halus seperti itu, membuat Biyan tak tega.
Biyan luluh dan hanya bisa menarik napasnya berat, sebelum akhirnya menghembuskannya dengan perlahan.
Sungguh, seumur hidup rasanya baru kali ini Biyan menerima kekecewaan yang seperti ini.
Yakni kekecewaan, yang disaat yang bersamaan telah membuat hatinya juga ikut tersentuh, karena menyadari bahwa sepertinya ia telah melupakan sesuatu.
Yah, bisa jadi Ayu memang belum siap menghadapi semua tekanan ini. Lagipula berapa usia Ayu sekarang?
Sembilan belas ...?
Oh my ...
__ADS_1
Rasanya sangat wajar kalau Ayu ketakutan, karena pada kenyataannya, Ayu memang masih sangat muda.
Usia Ayu sama seperti Bella, dan sudah seharusnya Biyan menerima kenyataan itu dengan lapang dada.
"Ya udah, Ay, gak pa-pa kok ..." tangan Biyan terangkat sambil menyentuh lembut pipi Ayu yang pias, mengusapnya berkali-kali seolah ingin menenangkan. "Kalo gitu Om anterin Ayu pulang aja yah ..."
Kepala Ayu sontak terangkat, tapi yang ia dapati justru wajah Biyan yang sedang tersenyum lembut, seolah ingin meyakinkan Ayu bahwa everything will be fine.
"Om ..."
Ayu menahan pergelangan tangan Biyan yang hendak beranjak, guna kembali ke sisi mobil lainnya.
"Kenapa, Ay?"
"Om, Ayu ... Ayu ..."
"Udah, gak pa-pa, Ay ..." pungkas Biyan menanggapi kalimat Ayu yang mengambang.
Namun manakala Biyan hendak berniat untuk beranjak, lagi-lagi langkahnya kembali urung karena ternyata Ayu belum juga bersedia melepaskan pergelangan tangan Biyan dari genggaman tangannya.
"Om Biyan marah ya ...?" tanya Ayu lirih, sambil menatap Biyan dengan tatapan penuh penyesalan.
Ayu bahkan bisa melihatnya dengan jelas, bahwa sepertinya ia memang telah mengecewakan pria itu dengan begitu banyak.
"Gak lah, Ay. Ngapain juga Om marah ...?"
Dengan bibirnya yang dipenuhi senyuman, kepala Biyan sontak menggeleng, membuat setiap bilik hati Ayu semakin dibuat ngilu diliputi rasa bersalah.
Biyan mendekat, kemudian merengkuh tubuh Ayu begitu saja, langsung membawa Ayu kedalam hangatnya pelukan.
Tangan kanan Biyan bahkan menepuk-nepuk perlahan punggung ringkih milik Ayu berkali-kali, bak orang dewasa yang sedang menenangkan seorang bocah, seolah ingin meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Gak pa-pa, Sayang, gak pa-pa ... Jangan berkecil hati begitu. Masih ada hari esok, lagipula Om juga bisa kok menunggu sampe Ayu bener-bener siap ..."
Mendengar setiap kalimat Biyan yang penuh kedewasaan dan sikap pengertian malah semakin membuat Ayu serba salah juga dilemma.
Ayu tau bahwa tak seharusnya ia mengecewakan Biyan dengan sikapnya yang meragu. Tapi sumpah demi apapun, Ayu juga tak pernah sekalipun berkeinginan mengecewakan Biyan seperti ini.
Jujurly, perasaan Ayu saat ini benar-benar ragu, takut, malu ... Tapi bukan berarti Ayu menolak seperti yang telah Biyan salah artikan.
'Kayaknya Om Biyan salah paham ...'
'Tapi apa iya Ayu harus ngomong isi hati Ayu yang sebenarnya biar Om Biyan gak salah paham lagi ...?'
'Duh ... Tapi Ayu malu kalo harus ngomong terus terang ...'
'Tapi kalo gak ngomong nanti rencana unboxing-nya bakalan gagal beneran ...'
'Ih, Ayu harus gimana dong ...?'
__ADS_1
Bathin Ayu riuh berperang, antara tetap membiarkan Biyan salah mengartikan keraguannya demi menjaga gengsinya, atau malah menanggalkan rasa tengsin dengan berkata jujur bahwa sesungguhnya dirinya bersedia meskipun merasa ragu, takut, dan malu utamanya.
"Ya udah ... Om anterin pulang seka ..."
"Ayu gak mau pulang."
"Egh?"
Bugh.
Biyan terhenyak mendapati Ayu yang tiba-tiba menabrak tubuhnya begitu saja, kemudian langsung memeluk erat-erat seolah ingin segera menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Ay ..."
"Ayu gak mau tau. Apapun yang terjadi, malam ini Ayu mau ikut Om Biyan ..."
Biyan termanggu.
'Ini telinga aku yang salah dengar apa gimana yah ...?'
Biyan membathin sambil bengong, belum sepenuhnya percaya pada pendengarannya sendiri bahkan yang ada Biyan mulai berasumsi bahwa jangan-jangan ia sedang berhalusinasi.
Menyadari Biyan yang diam saja, mau tak mau ikut membuat Ayu penasaran, sehingga Ayu nekad mengintip sedikit wajah tampan Biyan dari bawah dagunya yang kokoh ditumbuhi bulu kasar yang terkesan maskulin.
"Om Biyan, kok malah diem sih? Om pasti kadung marah sama Ayu yah ...?"
"Enggak, Ay, enggak ... Bukan begitu ..." pungkas Biyan cepat.
"Ya udah, kalo gitu kita sekarang lagi nunggu apaan ...?"
Biyan makin bengong saat menatap wajah Ayu yang menyembul sedikit dari bawah sana.
"Ay ... Ayu beneran serius ngomong begini?" usut Biyan seolah ingin memastikannya sekali lagi, agar jangan sampai ia keliru.
Kepala Ayu sontak mengangguk penuh keyakinan, meskipun dengan begitu wajahnya yang semula pias kini memerah secara menyeluruh.
'Bodo amat! Biarin deh, timbang sama suami sendiri kan. Dahlah ... Mau malu ... Malu deh sekalian ...'
Bathin Ayu berucap dengan kebulatan tekad yang solid, karena Ayu sendiri tidak ingin menyesal belakangan hanya karena mengedepankan rasa gengsi.
Dengan penuh keyakinan jemari Ayu menyambut uluran tangan Biyan yang membuat jemari mereka bertaut erat, saat Biyan menuntun Ayu turun dari mobil guna menjemput kejutan-kejutan manis selanjutnya yang sama sekali tak pernah Ayu sadari.
Of course, Ayu pastinya tak pernah tau betapa gigihnya seorang Biyan Erlangga menyiapkan ending yang manis ...
Dari setiap detik penantian demi penantian, yang telah ia lewati selama ini ...
Bersambung ...
🧕 : Like, comment, gift, vote, subscribe profil author, & jangan lupa di rate 5 yah ... 🥰
__ADS_1