
Untuk beberapa saat lamanya, keheningan telah merajai seisi udara yang ada diantara Eros dan Bella.
Belum ada yang bicara diantara mereka, melainkan hanya ada dua pasang mata yang saling menatap lekat satu sama lain, sebelum akhirnya ...
"Buaha .. ha ... ha ... ha ...!"
Tawa membahana milik Eros yang pecah berderai begitu saja, sungguh sangatlah diluar dugaan Bella.
Bella sama sekali gak menyangka bahwa setelah keheningan yang menegangkan diantara mereka, saat ini dirinya justru menyaksikan Eros yang tertawa terbahak-bahak tepat didepan hidungnya.
"Om Erooosss ...! Kok malah ketawa sih ...?" protes Bella sengit, yang tak sabar menunggu tawa Eros mereda dengan sendirinya.
"Bella ... Bella ... udahan ah becandanya. Gak lucu tauk ...!" dengan entengnya Eros bicara sambil menoyor pelan jidat Bella.
Eros memutuskan untuk melangkahkan kakinya kembali menyusuri setapak yang terbuat dari bahan paving block, masih dengan sisa tawanya yang menyeruak disela-sela hembusan angin malam.
'Apa ...? Becanda ...?'
'Susah payah mengumpulkan keberanian untuk bisa menyatakan isi hati malah dibilang becanda ...?'
'Siapa yang becanda coba ...?'
Bella menggeram dalam hati, sebelum akhirnya memutuskan berlari kecil guna mensejajari langkahnya dengan langkah Eros yang terayun panjang-panjang, meninggalkan dirinya yang sempat bengong untuk beberapa saat lamanya.
"Om ...! Om Eros ihh ...! Kok Bella malah ditinggal sih ...?!" Bella ngedumel begitu ia telah berada tepat disamping Eros yang tak kunjung berhenti, terus melangkahkan kaki.
"Kamu usilnya kok kebangetan sih, Bell. Nge-pranknya gak nanggung-nanggung ..." ucap Eros dengan nada bersungguh-sungguh.
Bella melotot mendengarnya. "Loh, emang siapa yang nge-prank?"
"Kamu-lah." pungkas Eros cuek, terus berjalan dengan kedua tangan yang masing-masing terbenam dikiri-kanan saku celana denim yang ia kenakan malam ini.
"Dih, kok gitu ...?"
"Udah deh, Bell, gak usah aneh-aneh. Tuh villanya udah dekat ..." tepis Eros acuh sambil memonyongkan bibirnya sedikit kearah bangunan villa yang sudah semakin dekat.
Bella pastinya tidak tahu-menahu bahwa entah kenapa saat ini Eros malah merasa sedikit kesal.
Eros bukannya gak tahu kalau Bella memang sering bertingkah aneh. Tapi menyatakan cinta kepadanya seperti ini rasanya agak keterlaluan dan itu membuat Eros merasa sangat tidak nyaman, dibalik sikap cool yang sengaja ia tampakkan.
Sesungguhnya jauh dikedalaman lubuk hati Eros tengah terjadi peperangan besar, terlebih saat menyadari perasaan-perasaan aneh yang muncul seolah hendak menggerogoti bilik hati Eros sedikit demi sedikit.
Gak bisa dipungkiri Bella memang cantik, putih mulus, bodynya juga bagus.
Pria normal mana yang gak ngiler dengan penampilan fisik seperti itu ... tak terkecuali Eros sekalipun, apalagi semuanya seolah ditunjang dengan situasi dan kondisi saat ini yang juga sangat mendukung.
Syahdunya langit malam yang bertabur bintang ...
Debur ombak dikejauhan bak petikan dawai ...
__ADS_1
Oh, my ... semuanya terasa sempurna manakala berpadu dengan pernyataan cinta Bella yang diluar nalar.
Damned.
Kolaborasi yang gila, sukses mengguncang jiwa sekaligus hasrat gelap milik Eros. Membuat Eros nyut-nyutan sekujur tubuh ... apalagi di bagian yang itu ... akhh ...!
Eros buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat, semaksimal mungkin membuang pikiran-pikiran liar yang mulai gentayangan diotaknya yang emang gak bersih-bersih amat dari sononya.
Okeh ... sudah cukup!
Pada akhirnya Eros harus memutuskan untuk menganggap semua ucapan Bella yang memporak-porandakan sanubarinya itu sebagai sebuah lelucon besar, agar otaknya aman dan gak lagi terkontaminasi dengan semua hal yang halu tentang seorang Bella Erlangga.
'Bella gak mungkin menyukai aku.'
'Gila ...!'
'Gadis itu pasti hanya salah menafsirkan perasaannya sendiri, berangkat dari latar belakang Bella sebagai anak broken home.'
'Bella pasti hanyalah satu dari sekian remaja yang haus kasih sayang orang tua ... dan ingin diperhatikan oleh pria yang lebih tua seperti aku ...'
'Sekalipun aku emang ganteng sih, tapi diluar sana sudah pasti ada banyak pria ganteng sebaya Bella yang naksir Bella. Mana mungkin Bella memilih aku yang seumuran Papanya ...? Iya kan ...?'
Pikiran Eros melanglang buana kemana-mana, menolak ge-er dan terbuai oleh perasaannya sendiri.
"Om Eros apaan sih? Om tau gak, untuk mengatakan semua itu Bella bersusah-payah ngumpulin satu per satu keberanian yang Bella punya. Egh buntut-buntutnya malah diketawain ... dicuekin ... di ..."
"Nah kan, nge-lawak lagi ..." imbuh Eros, padahal kalimat Bella belum juga tuntas.
Alhasil Bella mulai putar otak lagi, guna menemukan cara agar Eros mau mengakui bahwa seluruh ucapannya gak main-main.
"Om, please dengerin Bella dulu ..." ujar Bella yang berusaha menarik lengan Eros agar mau menghentikan langkahnya sejenak.
"Apalagi sih, Bell ...?"
"Kasih Bella alasan, kenapa Om gak percaya sama Bella?"
"Bukannya udah jelas?"
"Apanya yang jelas? Bella gak ngerti deh ..."
"Kamu suka kelewatan usilnya, Bell." pungkas Eros cuek.
"Hah ...?!"
"Hhmmm ..."
"Kalo Bella bilang 'Demi Tuhan Bella serius', Om Eros masih gak percaya juga ...?"
Eros menghembuskan napas beratnya, kali ini ia mencoba memberanikan diri dengan kembali menentang sepasang mata bulat yang berpendar dibawah sana ... mau tak mau berusaha menelaah lagi sejauh mana kesungguhan Bella, sesuai keinginan gadis itu.
__ADS_1
"Om Eros, Bella berani bersumpah kalo Bella beneran sayang dan cinta sama Om Eros ..."
"Bell ..."
"Bella gak bercanda, Bella gak main-main ... apalagi berniat nge-prank Om Eros ..."
"Bell ..."
"Udah lamaaaaa banget Bella memendam semua perasaan ini. Sampai-sampai Bella lupa sejak kapan tepatnya Bella beneran suka sama Om Eros ..."
"Tapi, Bell ..."
"Bella gak mau tau, apapun yang terjadi Bella tetap mau jadi pacar Om Eros. Titik!"
Eros terdiam. Bingung mau berkata apa karena dibawah sana ... jauh didalam sepasang mata Bella yang bersinar indah ... sesungguhnya Eros telah menemukan jawabannya ... yakni sebuah kejujuran.
Meskipun sempat meragu namun Eros harus menerima kenyataan yang rumit tersebut, bahwa memang benar ... putri kesayangan Biyan Erlangga itu menyukainya.
"Gak bisa, Bell ..." lirih Eros pada akhirnya, saking gak tau lagi harus berkata apa untuk membuat Bella mundur dari obsesinya yang saat ini sukses menakuti Eros.
"Gak bisa ...? M-maksudnya ...?"
"Om gak bisa. Bella paham kan ...?"
Sungguh Eros beneran gak tega menolak Bella seperti ini, tapi dirinya gak punya pilihan lain selain mendorong mundur gadis itu sekuat tenaga, agar kembali berada ke posisi semula.
Eros sadar bahwa perasaan simpaty terhadap lawan jenis adalah hal yang lumrah. Bisa dimiliki siapa saja, juga bisa hadir tanpa dikehendak, apalagi untuk seorang remaja belia seperti Bella yang tentu saja sedang berada di puncak tertinggi masa pubertas.
Namun meskipun demikian Eros tetap merasa bahwa perasaan Bella untuknya itu terlarang, gak benar ... gak seharusnya.
Terlepas dari usia Bella yang masih tergolong remaja labil berumur sembilan belas tahun, atau Bella yang notabene putri tunggal Biyan yang merupakan sahabat dekat Eros, atau Bella yang sejak kecil hingga besar tumbuh dan berkembang di pelupuk mata Eros ...
No ...!
Tetap saja semua kenyataan itu tidak bisa menutupi kenyataan yang sebenarnya, bahwa pria manapun yang sebaya dengan Eros, sudah pasti terlalu tua untuk Bella!
That's all ...!
Tahun depan umur Eros bahkan sudah masuk kepala empat, belum lagi dengan kehidupan pribadi Eros yang begitu rumit dan complicated.
"Jadi ceritanya Om Eros nolak Bella nih ...?" ucap Bella setelah sempat terdiam, menerima penolakan Eros yang terang-terangan atas ungkapan cintanya.
Eros menelan ludahnya kelu. Mengangguk samar.
"Hhhh ... emang sih udah Bella duga sejak awal kalo Om Eros pasti bakal nolak cinta Bella ..."
Eros terhenyak dengan ucapan Bella yang terdengar tenang, seolah penolakan Eros gak berarti apa-apa, dan sama sekali gak membuatnya sakit hati ...
...
__ADS_1
Bersambung ...