HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
SARAPAN SPESIAL


__ADS_3

"Astagaaaa ... Jam berapa ini?!"


Rania nyaris melompat dari tempat tidur, saat menyadari cahaya mentari yang mulai membias dari sela-sela tirai jendela kamarnya.


"Aduh Raniaa ... Raniaaaa ... Ngapain pake acara bangun kesiangan segala sih? Dasar tolooooollll ... Apa kata Biyan nanti kalo tau aku bangun kesiangan ...?"


Bergerak secepat kilat, Rania bahkan nyaris berlari kearah kamar mandi.


Mencuci muka ala kadarnya, tak lupa buru-buru menyikat gigi, sebelum akhirnya keluar dari kamar sambil menyeka wajahnya dengan selembar handuk kecil.


Tepat didepan meja rias Rania hanya menggunakan sedikit pelembab di wajahnya.


Kemudian dengan gerakan yang nyaris asal-asalan ia membubuhkan lipstik dalam sekali sapuan, sebelum beranjak menuju pintu keluar dengan dua bibir yang bergerak ke kiri dan ke kanan agar lipstick dibibirnya berbaur merata.


"Semua ini gara-gara Artika ..." desis Rania kesal, menyalahkan seorang teman yang semalam asyik berghibah ria dengannya, sambil membicarakan seputaran gosip di dunia sosialita mereka yang nyaris seminggu lamanya Rania tak lagi berkecimpung di sana.


Selama seminggu ini Rania memang sengaja menarik diri dari dunianya, karena dirinya yang sibuk berperan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya untuk Bella, demi mengejar impian untuk kembali menjadi istri idaman Biyan.


Bagi Rania semua yang ia lakukan rasanya cukup berat. Namun dikarenakan tekadnya yang bulat dalam mencari celah agar bisa kembali kedalam kehidupan Biyan dan Bella, Rania merasa tak menyesal melakukan semuanya meskipun ia sendiri tidak bisa menemukan dimana letak seninya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa.


Jujur saja, semua yang dilalui dan dipelajari Rania sejauh ini terasa sangat membosankan.


Namun bukankah selalu ada harga yang mahal atas sebuah cita-cita yang hebat?


Intinya, apapun yang terjadi, apapun jalannya, Rania sudah bertekad untuk kembali dalam kehidupan seorang Biyan Erlangga. Titik.


Jarum jam yang ada di dinding ruang makan memang belum juga sampai di angka tujuh, begitu Rania keluar dari kamar.


Rania pun merasa lega saat menyadari keadaan lantai satu yang masih hening, karena belum terdengar celotehan riang Bella, juga sosok Biyan yang turun dari lantai dua.


Tapi detik berikutnya Rania sudah dibuat terkejut setengah mati, saat ia mendapati penampakan meja makan yang sudah tertata dengan apik sepagi ini.


"Selamat pagi, Tante ..."


Rania terhenyak mendapati sapaan manis Ayu di pagi hari.


Dengan rambut tergelung keatas dan celemek yang masih melekat di badan, Rania baru tersadar bahwa gadis dihadapannya ini pastinya telah 'mencuri start'.


"Ngapain sih kamu repot-repot menyiapkan semua ini?" ucap Rania to the point, dengan nada sinis.


"Kalo cuman buat nasi goreng aja sih buat Ayu gak ada repot sama sekali kok, Tante ..." jawab Ayu, kalem.

__ADS_1


'Cih, sombongnya ... Dia pasti sengaja mau pamer keahlian kalo dia mahir di dapur ...!'


Rania terlihat mencibir.


"Suka heran deh sama orang-orang yang suka buat nasi goreng buat sarapan. Pasti gak ngerti kalori, iya kan? Lagian ... Pagi-pagi udah disuguhi karbo aja ..." sindir Rania seperti kebiasaannya selama ini, yang selalu berlaku sinis dihadapan Ayu, tapi Ayu malah menyambut dumelan Rania dengan senyuman.


"Yah, gimana dong ... Habisnya Bella sama Om Biyan suka banget sama nasi goreng buatan Ayu. Maafin Ayu yah, Tan ... Ayu gak tau kalo Tante gak doyan nasi goreng ..."


Mendengar kalimat Ayu yang terucap santun namun penuh percaya diri itu membuat Rania terbelalak ditempat.


Rania sama sekali tak menyangka bahwa gadis yang terlihat polos dihadapannya ini bisa juga melakukan counter attack yang begitu sempurna.


'Si al ... Bisa-bisanya aku di skak mat!'


'Lagian ngapain juga Biyan sama Bella selalu menyukai apapun yang menyangkut gadis bego ini sih ...?'


Rania membathin dengan mangkelnya.


"Ya udah, Ayu tinggal sebentar yah, Tan. Ayu mau siap-siap dulu, soalnya hari ini Ayu sama Bella masuk kuliahnya pagi."


"Ya udah, sana, sana ...!" usir Rania lengkap dengan kibasan tangan yang melambai acuh.


Ayu pun langsung beranjak menuju kamarnya karena tidak ingin berlama-lama meladeni Rania.


Ayu juga tidak ingin apapun yang menyangkut Rania akan menodai kebahagiaannya saat ini, karena meskipun hubungan Ayu dengan Biyan belum berkembang pesat seperti harapan Ayu, namun Ayu cukup bahagia hanya dengan mengenang kebersamaannya dengan Biyan semalam, merasakan perhatian Biyan yang utuh kepadanya, sikap Biyan yang begitu manis, dan juga terlihat semakin lepas serta tidak se-kaku seperti beberapa hari yang lalu, saat diawal-awal mereka menikah.


Bagi Ayu, perasaan sejati Biyan untuknya masih berupa misteri, meskipun diam-diam Ayu cukup optimis.


Kendati pun demikian Ayu kerap mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu menanggapi sikap judes Rania, dan berusaha sedapat mungkin menghormati Rania sebagaimana wanita itu adalah ibunya Bella, juga karena usia Rania yang sudah pasti jauh lebih tua dari usianya ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Good morning, Ma ..." Bella yang tiba di meja makan dengan wajah ceria, terlihat mengecup singkat pipi Rania yang baru selesai menuangkan juice ke empat buah gelas yang telah tersedia diatas meja.


"Morning, Sayang ..." jawab Rania penuh suka cita.


"Hai, Ayu ... Morning ..." sapa Bella begitu menangkap bayangan Ayu yang juga sedang melangkah mendekati meja makan.


"Morning juga, Bell ..." jawab Ayu sambil tersenyum.


"Papa belum turun yah, Ma?" tanya Bella menyaksikan kursi yang biasa diduduki Biyan belum berpenghuni.

__ADS_1


"Belum, Bell ..."


"Tumben ..." ucap Bella sambil duduk di kursi dengan wajah keheranan.


Refleks Bella melirik jarum jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya, saat menyadari bahwa biasanya jam segini justru Papanya yang akan lebih dahulu terlihat necis dan bersiap ke kantor.


Memang sudah bukan rahasia lagi kalo Biyan merupakan tipe pria workaholic.


Biyan adalah seorang pekerja keras yang setiap pagi selalu bangun dengan bersemangat, kemudian berangkat ke kantor guna mengerjakan setiap pekerjaannya tanpa mengenal lelah sampai matahari terbenam.


Ting.


Bunyi pintu lift yang terbuka membuat tiga kepala yang menghuni meja makan serentak berpaling kearah yang sama, di mana seorang pria yang masih dengan pakaian setelan rumahan terlihat melangkah keluar sambil tak lupa mengulas senyumnya yang khas.


"Selamat pagi semuanya ..." sapa Biyan sambil melebarkan senyuman.


"Selamat pagi, Pa ..."


"Selamat pagi, Yan ..."


"Selamat pagi, Om ..."


Tiga jawaban yang nyaris berbarengan, masing-masing terdengar membalas sapaan Biyan dengan hangat.


"Maaf, udah bikin kalian semua menunggu."


"Gak apa-apa kok, Yan, santai aja ..." kali ini Rania yang menjawabnya.


"Baiklah, kalo begitu ayo kita sarapan sama-sama ..." ajak Biyan kemudian, sambil duduk di kursinya.


"Loh, emangnya Papa gak kerja ...?" tanya Bella yang masih menguliti penampilan santai Biyan yang masih stay dengan baju rumahan.


"Kerjalah, Bell. Tapi nanti aja siap-siapnya kalo udah kelar sarapan." jawab Biyan ringan sambil menatap keatas meja, tepat kearah nasi goreng dengan sepiring telor ceplok yang menggugah selera.


"Wihhh, Papa tau aja deh kalo pagi ini mau ada nasi goreng plus telor ceplok buatan chef Ayu ..." ledek Bella yang tau persis sarapan favorite Papanya, yang sesungguhnya merupakan sarapan favoritenya juga.


"Biasalah, Bell ... Radar Papa suka nyala sendiri, kalo ada yang enak-enak ..." balas Biyan ngasal karena tak mau kalah kocak, sambil diam-diam sepasang matanya ia sempatkan melirik sebentar ke arah Ayu yang sedang blush diujung meja.


Tawa Bella sontak menyeruak begitu saja menanggapi lelucon Biyan.


Sementara Ayu yang menjadi objek utama pembicaraan ayah dan anak di meja makan tersebut hanya bisa tersenyum malu-malu, dengan hati yang sudah pasti berbunga-bunga ...

__ADS_1


Bersambung ...


🧕: Level author turun terus, padahal udah berusaha up secara kontinyu. Yuk teman-teman kencangkan supportnya, Please, bantu pop novel ini biar semakin melejit 🙏


__ADS_2