
"Maafin aku, Yu ... Maaf karena aku harus melakukan hal se-jahat ini ..."
Lirih Biyan seraya menyimpan ponsel miliknya kedalam tas kecil yang tersampir dibahu.
Meskipun merasa sangat berat karena telah melakukan hal yang buruk, namun pada akhirnya Haris merasa tak kuasa karena tak lagi mendapatkan jalan keluar yang lebih mudah daripada apa yang hendak ia lakukan.
Sesungguhnya dalam beberapa jam yang lalu, Haris yang telah tiba di Bandara MNA tengah kesulitan mencari keberadaan Ayu yang tidak ia temui ditempat yang telah Ayu janjikan.
Haris merasa sangat panik, karena usai menceritakan hal sebenarnya via telpon oleh karena desakan Ayu yang dipenuhi rasa ingin tahu, maka sejak pembicaraan tersebut diputus Ayu secara pihak, sejak saat itu juga Haris telah kehilangan kontak dengan gadis itu.
Ayu memang telah menon-aktifkan ponselnya dikarenakan gadis itu terkesan sangat shock menerima kenyataan yang begitu tiba-tiba, dan semua itu sungguh diluar perkiraan Haris.
Selama ini Haris mengenal Ayu sebagai sosok yang begitu tenang, sehingga tak menyangka jika respon Ayu atas rencana pernikahan dadakan mereka telah membuat gadis itu begitu terpukul.
Bunyi ponsel Haris telah membuat langkah Haris terhenti sejenak, tepat di pintu keluar lobby sebuah hotel kecil yang berada tak jauh dari bandara.
"Hallo, Har ... Bagaimana ...? Sudah ketemu Ayu-nya apa belum?"
Suara Om Arif yang merupakan ayah Ayu terdengar penuh kekhawatiran yang nyata.
Untuk sesaat Haris hanya bisa terdiam, dalam hati kembali menimbang sesuatu yang pada beberapa saat yang lalu telah membuatnya berbulat tekad guna melakukan hal yang nekad.
"Haris ...?" suara Om Arif kembali terdengar memanggil nama Haris, terdengar nada yang semakin khawatir didalamnya.
"Mmmm, anu Om ... S-sebenarnya Haris udah tau keberadaan Ayu, tapi ..."
"Tapi apa, Har?" pungkas Om Arif yang terdengar semakin tak sabar mengetahui kabar putrinya yang pada beberapa jam yang lalu dikabarkan tidak ditemukan lagi oleh Haris disudut manapun, dari bandara kecil yang seharusnya menjadi tempat anak gadisnya itu menunggu dijemput.
__ADS_1
Informasi Haris tersebut bukan hanya menjadi beban pikiran ayah dan ibu Ayu, melainkan kedua orang tua Harus juga, serta beberapa sanak keluarga dan para tetangga terdekat yang telah terkumpul dirumah Ayu, tempat di mana seharusnya akad nikah akan terselenggara.
Suara tarikan napas berat Haris yang terdengar jelas telah menambah gundah dihati pria paruh baya yang mau tak mau telah menduga bahwa sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi.
"Haris, katakan saja sejujurnya kepada Om ... Apa yang sebenarnya terjadi ...?"
Menerima pertanyaan yang terucap dengan suara yang begitu mendalam serta penuh penekanan itu, pada akhirnya telah membuat Haris benar-benar menyerah.
Kondisinya yang tersudut oleh kenyataan akibat desakan Yuni yang terus-menerus menekan agar dirinya berani menolak menikah, kondisi ayahnya yang belum sembuh total dari sakit yang baru saja diderita, belum juga rencana pernikahan didepan mata yang telah melibatkan keluarga dua belah pihak serta para tetangga terdekat mereka ...
Oh my ...
Semua kenyataan tersebut terasa sangat berat untuk Haris lalui jika dirinya harus berkata jujur, bahwa sesungguhnya ada seorang wanita yang sedang menunggu pertanggungjawaban atas perbuatannya yang berakibat fatal.
Katakanlah Haris adalah pria pengecut, dan semua itu benar adanya, karena Haris tidak mampu menghadapi semua orang yang pastinya akan kecewa dengan kenyataan yang hendak ia ungkapkan.
Tidak hanya sampai disitu saja, karena setelah itu tanpa sepengetahuan keduanya Haris pun nekad membuntuti mobil berwarna hitam yang tak lama kemudian telah berbelok menuju sebuah hotel kecil yang berada tak jauh dari Bandara MNA.
Jujur saja, Haris agak shock menyaksikan kenyataan yang sedang terjadi dihadapan matanya, sehingga puluhan pertanyaan tak ayal lagi terus-menerus menjejali otak Haris begitu saja.
Tentang siapa pria yang bersama Ayu, dan apa hubungan yang terjadi diantara keduanya?
Mengapa mereka terlihat begitu dekat dan saling mengenal?
Apakah mereka sepasang kekasih ...?
Apakah mereka datang bersama ...?
__ADS_1
Memikirkan bahwa jika benar Ayu memiliki kekasih saja sanggup membuat Haris seolah memiliki harapan baru untuk keluar dari jerat persoalan yang sedang melilitnya, apalagi saat menyadari bagaimana Ayu dan pria tak dikenal itu memasuki hotel dan melakukan check in pada kamar yang sama.
Haris bisa menjamin informasi yang ia dapatkan cukup akurat, karena kebetulan sekali receptionist hotel tersebut merupakan teman sekolahnya, sehingga Haris semakin leluasa mendapatkan info seputar tamu yang baru saja menginap.
Pria itu bernama Biyan Erlangga, dengan kartu identitas yang beralamat disalah satu wilayah yang ada di kota metropolitan, tempat di mana Ayu sedang menuntut ilmu sekarang.
Sudah pasti mereka sudah saling mengenal, bahkan bisa jadi punya hubungan istimewa!
Meskipun Haris sulit mempercayai kenyataan bahwa gadis sepolos Ayu begitu berani masuk kedalam hotel bersama seorang pria, namun disisi lain mendapati kelemahan Ayu tersebut membuat Haris seolah mendapatkan sedikit celah dan peluang agar bisa terbebas dari persoalan.
Semua yang terjadi dapat dijadikan alasan yang kuat agar pernikahan hari ini tidak terjadi, dan setidaknya Haris tidak menjadi satu-satunya orang yang menanggung kesalahan atas semuanya.
"Haris, kenapa kamu malah diam saja? Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana Ayu ...?" lagi-lagi suara bariton diujung sana telah membuyarkan lamunan Haris untuk kesekian kalinya.
"Maafkan Haris, Om ..."
"Kenapa malah minta maaf, Har ...?"
"Karena apa yang hendak Haris ungkapkan bisa jadi akan membuat Om Arif dan semuanya kecewa ... Tapi Haris tak punya pilihan selain berkata yang sebenarnya ..."
"Haris, terlepas dari apa yang hendak kamu ungkapkan, tolong dijawab dulu ... Apakah kamu sudah menemukan Ayu ..."
"Sudah, Om. Tapi untuk lebih jelasnya ... Haris akan menunggu Om di sini saja, agar kita bisa menemui Ayu bersama-sama ..."
Bersambung ...
Jangan lupa LIKE and SUPPORTNYA yah ... 🙏
__ADS_1