
"Ay, apa Ayu gak khawatir kalau calon suami Ayu nanti bakal kebingungan nyari Ayu kemana-mana ...?" Kalimat Biyan yang terucap lirih sanggup menerbangkan segenap lamunan Ayu yang melanglang buana tak tentu arah.
Ayu menggeleng lemah. "Ayu gak mau ketemu Kak Haris, Om. Ayu gak mau pulang ... Nanti kalau Ayu pulang Ayu akan dipaksa nikah sama Kak Haris saat itu juga. Ayu gak mau, Om ... Ayu gak siap menghadapi pernikahan mendadak seperti itu ..."
"Tapi kalau Ayu gak pulang, Ayah sama Ibu bakalan lebih khawatir ..."
"Kalau gitu please ... Om Biyan tolongin Ayu dong, Om ... Ayu gak tau harus gimana ..." cicit Ayu kearah Biyan, air matanya kembali tumpah ruah, membuat Biyan yang melihatnya merasa hatinya ikut terenyuh.
Biyan pun bangkit dari duduknya guna menghampiri Ayu yang terisak, dan tanpa berpikir dua kali Biyan langsung membungkukkan badannya guna memeluk kedua bahu Ayu yang bergetar, mengusapnya lembut, mencoba memberi ketenangan.
"Om Biyan, bisa gak sih Om bawa Ayu pergi jauh ...? Ayu gak mau nikah sama Kak Haris sekarang Om ..."
"Sssstt ... Udah, Ay, udah ... jangan nangis terus. Sebaiknya Ayu tenangin diri Ayu dulu sejenak, cobalah berpikir dengan pikiran yang tenang. Bukannya Om gak mau bantu Ayu, tapi Ayu juga harus memikirkan bagaimana perasaan orang tua Ayu nantinya dengan apapun keputusan yang akan Ayu ambil. Jangan buat mereka sedih ... Apalagi malu ..."
"Tapi, Om ..."
"Sssttt ... Udah, udah, jangan bicara dulu, dan sebaiknya Ayu istirahat dulu sebentar buat tenangin pikiran. Om janji setelah Ayu tenang, kita akan mencoba mencari jalan keluarnya bersama-sama ..." ujar Biyan lagi sambil terus mengusap punggung mungil Ayu yang terus bergetar lirih.
Usai berucap demikian, Biyan pun membantu gadis itu berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Setelah perjalanan panjang Ayu pasti capek kan? Tidur sebentar bisa membuat pikiran dan perasaan menjadi lebih baik ..." ucap Biyan lagi sambil menuntun Ayu mendekati ranjang.
Begitu tiba tepat disisi ranjang, Ayu terlihat mematung sejenak.
"Kenapa ...?" tanya Biyan seolah menyadari keengganan gadis itu.
"Om, Ayu ..."
Mengambang.
Jelas terlihat Ayu risih harus naik keatas ranjang milik Biyan, namun Biyan tersenyum seolah bisa mengartikan pikiran apa yang sedang bercokol dikedalaman otak Ayu.
"Gak usah sungkan. Ayu istirahat dulu ditempat tidur, Om akan tungguin Ayu disitu sampai Ayu bangun ..." pungkas Biyan sambil menunjuk kursi yang sejak tadi diduduki oleh Ayu.
Tak bisa dipungkiri Ayu juga sepemikiran dengan Biyan, karena Ayu memang merasa dirinya butuh istirahat atau setidaknya berbaring sejenak akibat kondisi kepalanya yang sangat pening.
Tubuh yang kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, otak yang mumet memikirkan semua kenyataan yang harus dihadapi, juga dikarenakan dirinya yang terlalu banyak menangis.
Bayangkan saja, sejak jam satu dinihari Ayu sudah berada di bandara karena harus mengejar penerbangan pertama dari ibukota menuju kota M dengan jarak tempuh kurang lebih tiga jam serta adanya perbedaan waktu satu jam lebih awal.
__ADS_1
Mentari telah muncul diufuk timur begitu Ayu tiba di bandara SRL, yang kemudian tanpa membuang waktu Ayu langsung menyambung perjalanannya kembali lewat penerbangan pagi jam delapan dari kota M ke kota kecilnya yang merupakan salah satu dari bagian wilayah pulau terluar perbatasan NKRI dengan negara tetangga.
Terlepas dari kelelahan fisik yang mendera, begitu sampai Ayu justru harus dihadapkan pada kenyataan yang mau tak mau dibeberkan Haris akibat desakan Ayu yang seolah tak sabar menerima penjelasan yang justru tak pernah ia dapatkan dari mulut kedua orang tuanya hingga detik ini.
"Sebelum beristirahat, apa gak sebaiknya Ayu menghubungi ayah dan ibu dulu biar mereka gak khawatir ...?"
Ayu serentak menggeleng. "Nanti aja deh, Om. Ayu bahkan sengaja non aktifkan hape biar gak ada yang ganggu Ayu dulu ..." tolak Ayu dengan raut enggan.
"Ya udah, kalau gitu Ayu istirahat aja yah ..." ujar Biyan yang memilih tak memaksa gadis itu lebih keukeuh.
Biyan merasa lega karena meskipun sempat meragu, pada akhirnya Ayu mau menaruh kepalanya keatas bantal tanpa diminta, kemudian merebahkan dirinya seutuhnya diatas pembaringan.
Melihat pemandangan manis itu refleks tangan Biyan terangkat guna membelai lembut rambut Ayu sejenak.
Dengan telaten Biyan pun menarik selimut tebal berwarna putih keatas tubuh Ayu, sebelum akhirnya ia benar-benar menarik langkahnya menjauh dari ranjang, mendekati kursi kayu yang terletak di sudut ruangan.
Biyan menghempaskan tubuhnya diatas kursi, sambil menatap Ayu yang berbaring diatas ranjang juga masih sambil menatapnya sehingga tatapan mereka saling terkunci satu sama lain.
Tatapan Ayu terasa begitu dalam, sulit Biyan artikan makna yang terkandung dalam sorotnya, namun sanggup membuat jantung Biyan berdebar tanpa alasan yang jelas ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like dan support-nya yah 🙏