HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
MENANTU TAMPAN


__ADS_3

Tepat disaat usainya keseluruhan prosesi akad nikah dadakan dari Ayu dan Biyan, perlahan namun pasti satu per satu tamu yang hadir pun berpamitan.


Keluarga Juragan Ibrahim yang rumahnya bersebelahan pas dengan rumah keluarga Arif Rahman menjadi tamu terakhir yang meninggalkan rumah keluarga Arif Rahman.


"Pak Arif, sekali lagi maafkan kami ..." itu merupakan kalimat yang terucap dari bibir tua Juragan Ibrahim, saat Arif Rahman datang merangkul pria yang berada diatas kursi roda itu.


"Tidak apa-apa, Juragan. Justru saya yang seharusnya meminta maaf ..."


"Sudah ... Sudah ... Ikatan kekeluargaan tidak boleh terputus hanya karena anak-anak kita yang tidak berjodoh. Mungkin semuanya sudah ditakdirikan Yang Di Atas ..."


Juragan Ibrahim mencoba berucap bijak dan berbesar hati, toh pada kenyataannya jauh didalam lubuk hati, sesungguhnya dirinya juga tidak ingin lagi Haris menikahi putri tunggal Arif Rahman setelah insiden pengerebekan siang tadi.


Haris adalah anak tunggal kebanggaannya, dan keluarga Ibrahim merupakan keluarga yang cukup terpandang di kampung.


Meskipun sejauh ini keluarga Arif Rahman merupakan keluarga yang baik, tapi bagaimana mungkin putranya yang berharga harus menikahi gadis yang sudah ditiduri pria lain ...?


Begitulah kira-kira pandangan Juragan Ibrahim, yang pada akhirnya menentukan sikap yang sama dengan warga lainnya dalam hal menyudutkan seorang Biyan Erlangga agar mau menikahi Ayu.


Arif Rahman mengantarkan Juragan Ibrahim dan Haris yang menuntun kursi roda ayahnya hingga kedepan pintu, sementara Nyonya Ibrahim dan Ibu Arum ikut serta berpamitan guna mengantarkan beberapa kue dan makanan yang tersisa ke rumah-rumah tetangga terdekat.


"Jadi alasan kamu berada di sini karena proyek xx ...?" tanya Arif Rahman begitu dirinya dan Biyan duduk berhadap-hadapan, berbicara empat mata diruang keluarga ditemani secangkir kopi yang baru saja disuguhkan Ayu.


Usai menyuguhkan kopi Ayu terlihat bergegas kembali kedapur dengan kepala tertunduk jengah.


Namun tak ada yang tau bahwa sesungguhnya bukannya langsung menuju dapur, Ayu justru sedang berdiri di balik tembok pembatas ruang keluarga dan ruang makan, menguping pembicaraan suaminya dan sang ayah yang berlangsung canggung.


"Iya Ayah, kebetulan perusahaanku yang memenangkan tender untuk proyek pembangunan xx. Sudah hampir seminggu aku di sini dalam mengawasi tahap awal pembangunan. Rencananya siang tadi aku akan kembali ke ibukota terlebih dahulu, tapi aku malah ketinggalan pesawat, kemudian bertemu Ayu di bandara, dan ..."


Mengambang.


Biyan sendiri bahkan merasa risih untuk melanjutkan kalimatnya, karena ia juga yakin bahwa Pak Arif Rahman pasti sudah bisa menebak kelanjutannya.


Apalagi kalau bukan tragedi penggerebekan yang berujung pada pernikahan yang barusan digelar.


"Ehem, jadi ... Jadi intinya kalian sudah saling mengenal ..." tukas Pak Arif kemudian, berusaha mengalihkan pembicaraan yang tidak hanya membuat Biyan merasa canggung namun dirinya juga.


"Iya, Yah, Ayu adalah sahabat baik dari putriku Bella. Mereka bahkan kuliah di fakultas yang sama, dan baru beberapa hari yang lalu aku meminta Ayu untuk pindah ke rumahku agar putriku Bella bisa punya teman saat aku bekerja keluar kota seperti saat ini ..."


Mendengar penuturan tersebut pupil mata Pak Arif Rahman nampak membesar.

__ADS_1


Selain kaget dengan keberadaan Ayu yang ternyata sudah tinggal dirumah Biyan, Arif Rahman juga kaget dengan informasi Biyan bahwa pria itu memiliki seorang putri yang juga sekampus dengan Ayu.


"Putrimu ... Sekampus dengan Ayu ...?" ulang Arif Rahman dengan alis bertaut.


"Iya, Yah, seperti yang sudah aku jelaskan diawal bahwa statusku adalah seorang duda, dan aku punya putri seumuran Ayu ..."


Pak Arif Rahman terlihat bengong sesaat, menerima penjelasan Biyan yang terucap dengan nada yang tenang.


'Bagaimana mungkin pria se-tampan menantuku ini sudah punya putri seumuran Ayu ...?'


Begitu kira-kira pertanyaan yang ada dibenak Arif Rahman tentang sang menantu, yang latar belakang kehidupannya sebagian besar masih berupa misteri.


Status duda satu anak masih bisa diterima akal sehatnya, mengingat bahwa pembawaan Biyan memang sudah cukup mencerminkan kedewasaannya sebagai seorang pria dewasa.


Tapi memiliki putri seumuran Ayu ...?


Memangnya berapa usia sang menantu sehingga dia bisa memiliki seorang putri yang juga sedang beranjak dewasa ...?


"Bagaimana kamu bisa mempunyai putri seumuran Ayu? Memangnya berapa usiamu sekarang ...?"


Biyan mengulum senyum mendapati wajah mertuanya yang keheranan.


"Apa ...? Kalau begitu kamu hanya setahun lebih muda dari ibunya Ayu, dan dua tahun lebih muda dariku ...?" Kali ini ekspresi wajah Arif Rahman benar-benar melongo saat memperhatikan dengan seksama penampilan Biyan dari ujung kaki sampai ujung rambut, juga sebaliknya seolah tak percaya.


Bukan apa-apa, dengan penampilan super menawan seperti Biyan Erlangga, siapa yang percaya kalau usia pria itu nyaris kepala empat?


Apakah semua orang kota awet muda semua seperti menantunya ...?


Sulit dipercaya oleh Arif Rahman, bahwa lewat ucapan Biyan dengan sendirinya menjelaskan bahwa perbedaan usia pria itu dengan putrinya Ayu adalah dua puluh tahun!


Bayangkan ... Dua puluh tahun!


"Oh, iya, Ayah, aku juga ingin memberitahukan hal yang penting bahwa lusa aku harus kembali ke ibukota. Pekerjaanku sangat banyak dan tidak bisa aku tinggalkan lebih lama. Ada begitu banyak hal yang membutuhkan kehadiranku di sana ..."


"Lalu bagaimana dengan Ayu ...?"


Mendengar itu Biyan terdiam sesaat, namun akhirnya ia memilih berucap hati-hati. "Begini, Yah ... Menurut informasi dari putriku, senin depan kampus mereka sudah memasuki Ujian Akhir Semester. Jadi kalau sekiranya Ayah dan Ibu tidak keberatan, ijinkan aku membawa Ayu kembali bersamaku, karena Ayu juga harus menghadapi ujian pada perkuliahannya ..."


Arif Rahman terlihat mengangguk mendengar permintaan Biyan yang terucap dengan santun.

__ADS_1


Bagaimanapun juga saat ini Biyan merupakan suami dari putrinya, untuk itu Arif Rahman bahkan tidak bisa mencegah jika pria itu hendak membawa putrinya kembali bersamanya. Ia bahkan cukup bersyukur karena Biyan menaruh perhatian pada masa depan pendidikan Ayu.


"Kalau memang seperti itu, Ayah dan Ibu pasti setuju. Apalagi sekarang kamu adalah suami Ayu yang sah, sudah pasti kamu yang lebih berhak atas Ayu ..."


Biyan terdiam menerima kepercayaan Arif Rahman yang seutuhnya.


"Lalu apa rencana kalian kedepan ...?"


Biyan terhenyak ditempat.


Rencana kedepan ...?


Biyan bahkan belum bisa mempercayai bahwa pada beberapa saat yang lalu dirinya sudah menikahi seorang gadis belia, lalu bagaimana mungkin sudah merencanakan masa depan ...?


Disaat dirinya sendiri belum bisa memutuskan apakah ia mampu membuka kenyataan ini dihadapan Bella atau malah menyembunyikannya ...!


Biyan tau, sejauh ini Bella memang sangat menyukai Ayu.


Tapi itu hanya sebatas rasa suka sebagai seorang sahabat.


Masih lekat dalam memory otak Biyan betapa akhir-akhir ini putrinya itu justru getol mengirimkan signal tentang keberadaan Rania yang ingin kembali memperbaiki hubungan yang pernah retak.


Kendatipun hingga detik ini Biyan belum memutuskan apa-apa, tapi Biyan tau bahwa Bella mengharapkan dirinya menerima Rania.


Jujur saja, demi kebahagiaan Bella ... Biyan sanggup melakukan apa saja tak terkecuali dengan memberikan Rania kesempatan.


Namun alih-alih mewujudkan impian Bella, siapa sangka saat ini dirinya justru telah terikat oleh tali pernikahan dengan Ayu? Sahabat terdekat Bella ...?


Biyan bahkan sangsi apakah Bella bisa menerima kenyataan ini dengan tangan terbuka atau malah sebaliknya ... menolak mentah-mentah.


"Assalamualaikum ..."


Ucapan salam Ibu Arum yang terdengar dari pintu depan depan, sukses mengurai keheningan aneh diantara Biyan dan Arif Rahman.


Lamunan Biyan tentang Bella telah terburai, sementara Arif Rahman yang diam-diam sedang terpukau dengan menantu tampan yang bahkan ketampanannya tidak termakan usia itu pun akhirnya tersadar.


"Waalaikumsalam ..." Arif Rahman dan Biyan membalas salam tersebut nyaris berbarengan, seiring dengan kehadiran Ibu Arum yang dipenuhi senyuman ...


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2