HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
SANG TUAN TANAH


__ADS_3

Begitu sebuah mobil Toyota Hilux keluaran terbaru berwarna putih dengan tipe varian teratas hendak memasuki pekarangan rumah milik Juragan Ibrahim dan Keluarga Arif Rahman yang berada dalam satu area, Wisnu, pria sebaya Arif Rahman yang merupakan tetangga depan rumah mereka yang lebih dahulu notice dengan kehadiran mobil tersebut nampak langsung menyikut perlahan lengan Arif Rahman yang berdiri disebelahnya sekaligus berbisik.


"Pak Arif, itu kayaknya menantunya yang datang ..."


Arif Rahman sontak mengangkat wajahnya kearah yang dimaksud Wisnu.


Pria itu memang sempat mengatakan bahwa dia dan istrinya sedang menunggu kedatangan sang menantu yang rencananya akan bertolak pulang pada keesokan harinya.


Benar saja, penampakan mobil yang sama persis dengan mobil yang ditumpangi Biyan tiga hari yang lalu kini nyaris berhenti tepat didepan rumah Arif Rahman yang bercat hijau muda.


"Benar, Wis, itu memang menantuku. Permisi yah, aku tinggal sebentar ..."ujar Arif Rahman dengan nada suara perlahan disertai wajahnya yang sontak semringah.


Wisnu pun mengangguk dan memberi jalan, sementara warga lain yang seolah paham, ikut mengurai sedikit celah bagi Arif Rahman agar bisa terbebas dari kerumunan warga yang berkisar dua puluh orang.


Langkah Arif Rahman bergegas terayun kearah rumahnya sendiri, di mana tepat didepannya mobil yang ditumpangi sang menantu telah terparkir manis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Pak ... Pak Biyan ... Bangun, Pak ... Kita udah nyampe ..."


Biyan langsung mengerjapkan matanya beberapa kali, begitu mendapati bahunya yang diguncang perlahan.


"Apa, Don? Udah nyampe?" tanya Biyan kearah Doni, sambil berusaha menegakkan punggungnya.


"Iya, Pak, kita udah didepan rumahnya Pak Arif ..."


Sepasang mata Biyan yang masih terasa sepat terlihat memicing saat menyaksikan pemandangan yang tersaji didepan matanya, lewat kaca mobil.


"Loh, ini lagi pada rame-rame ada apaan yah, Don ...?" tanya Biyan dengan alis mengerinyit, menyaksikan perkumpulan warga yang berada di teras rumah Juragan Ibrahim, yang karena rumah tersebut bersebelahan pas dengan rumah mertuanya, maka perkumpulan orang-orang tersebut pun terlihat nyata di depan mata.


"Gak tau juga, Pak, kayaknya ada sesuatu yang terjadi sampe warga pada ngumpul begitu ..." kilah Doni, dengan dua bahu terangkat.


Pemandangan sosok Ayah mertuanya yang muncul dari kerumunan warga yang memadati teras rumah Juragan Ibrahim membuat Biyan langsung membuka pintu mobil disebelahnya.


Tanpa menunggu lebih lama Biyan bergegas turun, bertepatan dengan sang Ayah mertua yang menyongsong kedatangannya dengan senyum terkembang.


"Baru sampai, Yan?"


"Iya, Yah." angguk Biyan seraya mengulurkan tangan untuk menyalami sang mertua seperti kebiasaannya sejak awal.


Doni yang ikut turun bersama Biyan juga melakukan hal serupa, yakni menyalami Ayah mertua sang bos besar dengan takjim.

__ADS_1


"Pak Biyan, kayaknya aku mau langsung balik aja, biar gak kemaleman di jalan ..." pamit Doni kearah Biyan.


"Gak minum atau makan siang dulu kamu, Don?"


Doni terlihat menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya sebelum berangkat ke sini aku udah makan siang duluan, Pak ..."


"Jadi mau balik sekarang?" tanya Biyan lagi seolah ingin kembali memastikan.


"Iya, Pak."


"Ya, udah. Tapi besok jangan telat yah, Don." ujar Biyan lagi, mengingatkan Doni bahwa pria itu tidak boleh terlambat untuk mengantarkan dirinya ke bandara.


"Siap, Pak. Jam sembilan pagi kan, Pak?"


Biyan mengangguk.


"Pak Arif, aku pamit duluan, Pak ..."


Arif Rahman mengangguk menanggapi ucapan pamit dari Doni. "Hati-hati dijalan, Don ..." imbuh pria itu kemudian.


"Iya, Pak, terima kasih." jawab Doni yang pada akhirnya berbalik badan dan kembali ke mobil yang ia kemudikan, yang sesungguhnya mobil tersebut merupakan kendaraan operasional yang sengaja disiapkan Biyan untuk kelancaran mobilisasi dalam pekerjaan, yang sekaligus bisa ia pakai saat dirinya datang berkunjung.


"Ayo masuk ..." ajak Arif Rahman sambil merangkul bahu Biyan seperti biasanya, begitu mobil Toyota Hilux berwarna putih yang dikemudikan Doni keluar dari area pekarangan dan menghilang dari pandangan.


"Ibu ada di rumah sebelah. Duduk dulu, Yan, Ayah mau panggil Ibu buat bikinin kopi sekalian siapin makanan buat kamu ..."


"Egh, gak usah, Yah. Kalo masalah kopi aku bisa bikin sendiri, makan juga bisa ambil sendiri kok, kan tinggal ambil di meja makan, gak perlu repotin Ibu untuk hal-hal sepele kayak gitu ..."


"Tapi ..."


"Udah, Yah. Gak usah. Mulai sekarang gak perlu repot-repot begitu, kalo cuma hal-hal kecil seperti itu aku udah terbiasa melakukan sendiri ..."


Pada akhirnya Arif Rahman pun urung melangkah, karena Biyan yang ngotot melarangnya untuk memanggil sang istri yang masih berada di rumah Juragan Ibrahim.


"Yah, itu rame-rame di rumah Juragan Ibrahim lagi ada apaan sih?" tanya Biyan begitu Arif Rahman ikut menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu, tepat berhadapan dengan Biyan yang sudah lebih dahulu menghempaskan tubuhnya di sofa yang sama..


Biyan memang merasa tak bisa menahan rasa ingin tahunya, saat teringat kembali raut wajah para warga yang keseluruhannya seolah diliputi aura ketegangan.


"Hhhh ..."


Hempasan napas berat dari Arif Rahman terdengar sebelum pria itu memutuskan untuk menceritakan duduk persoalan yang terjadi di rumah sebelah.

__ADS_1


"Kasihan sekali, Yan, keluarga Juragan Ibrahim saat ini seolah sedang ditimpa musibah silih berganti ..."


Kedua alis Biyan bertaut nyata, namun ia memilih untuk tidak menyanggah dulu demi kelancaran penjelasan dari sang Ayah mertua.


"Berawal dari Haris yang menghilang sejak ketahuan telah menghamili seorang gadis, alhasil Juragan Ibrahim yang selama ini kondisi kesehatannya turun naik kembali dibuat shock karena kedatangan gadis itu bersama saudara laki-lakinya, yang datang mengamuk meminta pertanggungjawaban Haris ..."


Biyan yang mendengar kalimat pembuka dari Arif Rahman sontak terkejut.


Meskipun sejujurnya kenyataan tentang kesalahan Haris pada seorang gadis sudah ia ketahui sejak awal, namun menyadari bahwa Haris ternyata belum mengambil langkah maju atas persoalan tersebut membuat Biyan tak habis pikir.


"Saat kejadian itu seisi kampung ini dibuat heboh, Yan. Tapi sayangnya, mendapati kejadian tersebut, bukannya berbesar hati menuntaskan semua persoalan dan mengakui segala kesalahan, Haris malah ketakutan dan memilih bersembunyi. Sontak aja keluarga gadis itu makin berang, gak terima dengan sikap Haris yang gak gentleman, sehingga mereka pun melaporkan Haris ke pihak yang berwajib."


Biyan terlihat menggelengkan kepalanya berkali-kali, namun belum ada sepatah katapun dari mulutnya yang berniat menyanggah kalimat Arif Rahman.


"Nah, hari ini, begitu mengetahui Ayahnya diperbolehkan pulang ke rumah oleh pihak rumah sakit, ternyata diam-diam Haris berniat pulang ke rumah, dan bermaksud menengok keadaan Ayahnya. Naasnya, tiba-tiba aja beberapa orang polisi datang kemudian langsung menangkap Haris ..."


"Jadi saat ini Haris udah ditangkap Polisi?" pungkas Biyan yang terkejut setengah mati mendengar penuturan Arif Rahman yang menceritakan sebuah akhir tragis, buah kepengecutan seorang Haris yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat sendiri.


"Iya, Yan, kejadiannya bahkan baru aja, kira-kira lima menit sebelum kamu datang."


"Astaga ..."


"Persoalannya, saat hendak ditangkap Haris melakukan perlawanan sengit kepada petugas, ditambah istri Juragan juga histeris dan bersikeras gak ingin anak semata wayangnya dibawa. Keributan yang terjadi akhirnya mengundang kedatangan warga sekitar sehingga keadaan semakin memanas. Kedua belah pihak telah bersitegang, sehingga seorang polisi bahkan nekad membuang tembakan ke udara demi mengendalikan situasi dan kondisi dari warga yang mulai terpancing emosi untuk ikut mempertahankan Haris agar tidak digelandang Polisi ..."


Untuk yang kesekian kalinya Biyan terhenyak, tak habis pikir mengapa kejadiannya bisa sampai sebegitu menegangkan.


"Seharusnya kita memang gak boleh melawan petugas seperti itu, Yah, apalagi jika mereka mengantongi surat resmi penangkapan ..."


"Emang sih mereka ada suratnya resminya, Yan ..."


"Nah, kalo emang seperti itu lalu kenapa warga masih mau bertindak demikian ...? Padahal duduk perkaranya juga udah jelas. Kan kasian juga kalo warga harus membahayakan diri melawan petugas. Gimana coba kalo sampai terjadi sesuatu yang gak diinginkan ...?"


Arif Rahman tampak mengangguk, mau tak mau ikut membenarkan perkataan sang menantu.


"Yah ... Mau gimana lagi, Yan, mungkin karena warga kampung ini masih tergolong orang-orang yang gemar bahu-membahu dalam segala hal. Apalagi Juragan Ibrahim adalah orang yang bisa dibilang cukup terpandang. Banyak warga yang menggantungkan hidup dengan bekerja dilahan milik Juragan Ibrahim, makanya dengan sendirinya warga di sini juga terpanggil untuk membela ..."


Biyan terdiam. Dalam hati ia juga mengiyakan apa yang barusan diucapkan Arif Rahman, karena pada kenyataannya Ayu juga pernah bercerita sedikit tentang siapa gerangan keluarga Juragan Ibrahim dan kedudukan beliau di mata masyarakat.


Tak heran rasanya kalo para warga termasuk keluarga Ayu terkesan sangat taat dan setia dengan keluarga Juragan Ibrahim, sang tuan tanah yang cukup berkuasa dan terpandang di kampung kecil ini ...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Like, comment, gift and Vote jangan lupa yah 🤗


__ADS_2