
Bisa dikata makan malam kali ini sudah setengah jalan, tapi entah kenapa perasaan Biyan seolah tak tenang.
Absennya Ayu di meja makan dengan alasan masih kenyang itu seolah tak cukup menenangkan hati Biyan untuk tidak memikirkan gadis itu.
Apalagi setelah Biyan mendengar kalau begitu tiba di rumah Ayu sempat sakit kepala sehingga Bella putrinya meminta Ayu agar beristirahat sejenak.
"Bell, apa gak sebaiknya dicek lagi keadaan Ayu? Masa iya gak makan malam? Ntar kalo tambah sakit gimana ...?"
Tak bisa lagi menahan rasa berbagai rasa yang mengganjal dihati, pada akhirnya Biyan pun menaruh sendok dan garpunya keatas piring yang masih berisikan separuh makanan.
Mendengar kalimat Biyan, Bella pun mengangkat wajahnya yang semula fokus menyantap hidangan diatas piringnya sendiri, berganti menatap Biyan yang berada tepat dihadapannya, juga sedang menatapnya penuh.
"Kan sebelum makan udah Bella samperin duluan, Pa. Tapi Ayu keukeuh gak mau makan, katanya masih kenyang ..."
"Kenyang gimana? Mana ada gak makan bisa kenyang?" protes Biyan sama sekali belum puas dengan pernyataan Bella.
"Tapi kata Ayu dia udah minum susu sama ngemil biskuit. Makanya masih kenyang. Lagian Ayu kan makannya emang dikit, Pa ..."
Menyaksikan perdebatan kecil antara Biyan dan Bella di meja makan, hanya dikarenakan Ayu yang menolak makan malam membuat Rania tak tahan untuk angkat bicara.
"Udah ... Udah ... lagi makan ngapain pake acara debat sih ...? Lagian kalo kata Ayu dia masih kenyang, ya itu artinya dia emang masih kenyang. Iya kan ...?"
Biyan membisu mendapati sanggahan Rania, namun toh tetap saja di sudut hatinya yang terdalam masih tersimpan kekhawatiran yang cukup besar, begitu Biyan mengetahui Ayu yang tidak ikut makan malam bersama.
Apalagi tadi Bella mengatakan bahwa sore setelah kedatangan Ayu di rumah, gadis itu sempat mengeluh sakit kepala.
Menyadari tatapan lurus Rania kearahnya membuat Biyan memilih meraih sendok dan garpunya kembali, yang tadinya sempat ia letakkan keatas piring.
Terus terang sejak awal Biyan memang sudah tidak berselera makan, tepatnya saat Biyan tak menemukan wajah yang begitu ingin ia lihat.
Oh, my ...
Mereka bahkan baru saja berpisah, tapi entah kenapa Biyan sudah merasa kangen setengah mati.
Selalu bersama selama dua hari penuh, dan melewati begitu banyak insiden luar biasa yang mengantarkan mereka berdua kehadapan meja penghulu, ternyata sudah cukup membuat Biyan menjadi terbiasa melihat sosok Ayu dipelupuk matanya.
Selama dua malam berbagi ranjang meskipun tidak saling menyentuh, Biyan bahkan tak bisa memungkiri betapa di setiap malamnya ia sangat menikmati pemandangan wajah Ayu yang begitu damai saat terlelap.
__ADS_1
Helaan napas yang halus, cara gadis itu menggeliat kecil ... Biyan bahkan sampai hapal betul dengan kebiasaan Ayu yang terjadi dibawah alam kesadarannya, yakni saat tertidur pulas jemari gadis itu suka menggerayangi permukaan ranjang, hanya demi mencari-cari keberadaan bantal guling untuk di peluk.
Hhh ...
Padahal saat Rania menelpon dan meminta Biyan untuk pulang lebih awal demi sebuah makan malam bersama, Biyan merasa sangat senang dan langsung menyanggupinya.
Berpikir pada akhirnya ia memiliki alasan mendatangi rumahnya sendiri tanpa menaruh curiga dihati siapapun pada akhirnya berbuntut kecewa, karena sedikitpun Biyan malah tidak menemukan sosok Ayu di meja makan.
"Mau nambah lagi gak, Yan?" suara merdu Rania, menerbangkan segenap lamunan Biyan yang ternyata sejak tadi terus memasukkan makanan ke mulut dan mengunyah tanpa henti, namun pikirannya melanglang buana kemana-mana.
Jujur saja Biyan tidak bisa menikmati dengan benar rasa semua hidangan yang terhampar diatas meja makan, saking tak berselera dirinya saat ini.
"Yan ..."
"Gak, Nia ... Cukup ..." tolak Biyan sambil menggeleng, namun bibirnya berusaha menyunggingkan senyuman tipis.
"Kok dikit banget makannya? Gak enak yah?" raut wajah Rania terlihat kecewa, namun Biyan lagi-lagi menggeleng.
"Enak kok, cuman ...*
"Ada yang kamu pikirin deh kayaknya ..." imbuh Rania lagi.
Rania terdiam lagi, terlebih saat Biyan bangkit dari kursi makan setelah meneguk segelas penuh air mineral.
"Terusin aja makan kalian, aku keatas dulu." kemudian tatapan Biyan beralih dari Rania kearah Bella yang berada tepat disamping wanita itu.
Seperti biasa, Bella yang polos dan selalu easy going itu lebih memilih untuk tidak terlalu terlibat dalam obrolan kedua orang tuanya.
Gadis itu justru terlihat lebih fokus ke berbagai aneka lauk pauk lezat yang menemani nasi putih didalam piringnya.
"Bell, Papa duluan yah ..." pamit Biyan pada putri semata wayangnya itu.
Dengan mulut yang penuh Bella memilih tak menjawab, melainkan hanya mengangkat jempolnya tinggi-tinggi sebagai jawaban.
Tanpa menunggu lebih lama langkah Biyan pun mulai terayun kearah lift.
Rania yang seolah baru tersadar akan sesuatu terlihat bangkit dari duduknya dengan tergesa, guna menyusul Biyan dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Biyan, tunggu sebentar ..." pungkas Rania yang nekad menghalangi laju pintu lift yang hendak mengatup dengan tangan kanannya.
Alis Biyan sontak mengerinyit mendapati aksi nekad Rania.
"Kamu kan udah janji kalo kita akan membicarakan tentang ..." ucapan Rania terdengar menggantung.
Selanjutnya Rania hanya bisa menatap sosok Biyan yang sepenuhnya berada didalam lift yang sedang ia cegat dengan penuh harap, agar Biyan mau meluangkan waktunya saat ini juga.
"Rania, bisa gak kita membahas semua itu nanti, di waktu yang benar-benar tepat?"
Rania terdiam sejenak menerima penolakan tegas Biyan, yang tetap terucap dengan nada santun seperti biasanya.
Tapi tentu saja bukan Rania namanya kalau akan menyerah dengan mudah oleh sebuah penolakan halus.
"Aku justru berpikir sebaliknya. Lebih cepat membahasnya akan lebih baik ..." pungkas Rania dengan penuh percaya diri.
Sesaat Biyan terlihat menghela napasnya, sebelum akhirnya berucap dengan tatapan yang mengarah langsung ke manik mata Rania.
"Begini Rania, kamu kan tau sendiri kalo aku baru saja kembali dari sebuah perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Sungguh, malam ini aku terlalu lelah untuk membahas masalah apapun, tapi meskipun demikian aku juga harus segera menghandle pekerjaanku yang sangat banyak. Aku memang sangat lelah, tapi malam ini aku sudah bertekad untuk menyelesaikan pekerjaanku yang harus memeriksa semua laporan masuk dari berbagai divisi, karena selama aku keluar kota nyaris seminggu, sejumlah laporan tersebut semuanya udah menumpuk ..." kilah Biyan lagi memberi alasan, yang mau tak mau harus diterima Rania dengan lapang dada.
Ada terbersit rasa bahwa saat ini Rania merasa dirinya sedang disepelekan oleh Biyan, dengan alasan banyaknya pekerjaan.
Meskipun mati-matian Rania enggan mengakui hal tersebut, enggan mengakui bahwa kini segenap keinginannya seolah bukan lagi menjadi prioritas utama bagi seorang Biyan Erlangga.
Hanya dengan memikirkan hal itu sudah lebih dari cukup membuat dada Rania menjadi sesak!
Namun Rania menolak menerima kenyataan, meskipun sadar bahwa pastinya Biyan masih menyimpan perasaan terluka karena dirinya.
Iya, tentu saja. Meskipun semua kekecewaan Biyan tak pernah terucapkan.
"Baiklah kalo begitu aku akan menunggu ..." lirih Rania yang meskipun merasa sedikit tidak rela, pada akhirnya ia pun melepaskan penghalang tangannya di pintu lift yang sejak tadi tertahan.
"Hemm."
Biyan hanya berdehem singkat, namun sampai pintu lift itu tertutup ...
Pria itu bahkan tidak lagi menatap Rania sama sekali ...
__ADS_1
Bersambung ...