HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
ADA APA DENGAN AYU


__ADS_3

Melangkah keluar dalam keadaan kalah telak dari dalam rumah Biyan seperti ini sama sekali tidak pernah sedikitpun terlintas dipikiran Rania.


"Kalo aku boleh tau, apa rencana kamu setelah ini?" lirih suara Biyan menyapa gendang telinga Rania yang berjalan keluar dari kamarnya, sambil menenteng sebuah tas tangan miliknya ditangan kiri, sedangkan tangan kanannya menarik sebuah koper berukuran sedang.


"Apa gunanya bertanya? Emangnya kemanapun aku pergi ... Apa yang akan aku lakukan setelah ini ... Semua itu penting buat kamu?"


Biyan menarik napasnya berat mendengar jawaban super ketus tersebut, sambil bangkit dari sofa yang sejak tadi ia duduki.


"Rania, biar bagaimanapun Bella butuh untuk tau keadaan kamu, kemana tujuan kamu setelah ini ..."


"Itu urusan aku sama Bella, Yan, kamu gak perlu repot-repot buat ikut campur. Masih mending urusin aja tuh pacar a be ge kamu, si Ayu ..."


"Rania, jangan mulai deh ..."


"Okeh, kalo begitu mulai detik ini juga jangan pernah urusin urusan aku lagi ..."


"Okeh, fine ..."


Biyan berusaha mengalah karena dirinya tak ingin lagi berdebat panjang lebar dengan Rania, mengingat dalam situasi dan kondisi seperti ini saja Biyan merasa kepalanya sudah cukup pusing menghadapi semua persoalan yang begitu complicated.


Tentang Bella ...


Tentang Rania ...


Terlebih tentang istrinya Ayu juga yang sudah pasti merasa sedih dan marah atas sikapnya yang out of control.


"Ya, udah, apapun itu ... Rania, aku minta maaf ..."


Mendengar permintaan maaf Biyan yang tulus, Rania malah membuang wajah dinginnya dengan acuh.


"Gak pamitan dulu sama Bella?" tanya Biyan lagi meskipun permintaan maafnya barusan telah diacuhkan.


"Aku akan nelpon Bella kalo udah di jalan."


"Perlu aku akan antar kamu untuk ..."


"Gak perlu. Aku udah pesan taxi online." sungut Rania, lagi-lagi dengan nada suara yang super duper ketus.


Kali ini Biyan tidak berusaha lagi mengajak Rania bicara, menghalangi langkah wanita itu, apalagi memaksakan niat baiknya.


Rania pasti sangat marah, dan Biyan bisa melihatnya dengan jelas, juga merasakannya.


Tapi apa boleh buat?


Toh Biyan juga tidak mungkin mengikuti semua kehendak Rania, karena bagi Biyan selain keberadaan Bella, sepertinya memang tak ada lagi alasan diantara mereka yang bisa membuat mereka berdua kembali seiring sejalan.


Perasaan cinta telah lama berlalu ...


Perasaan sakit hati pun sudah hilang ...!


Hanya berharap setelah semua kehancuran itu, masing-masing dari mereka tetap mampu menjadi orang tua yang baik untuk Bella sesuai porsi mereka, meskipun tidak bisa juga kompak dalam segala hal ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lepas kepergian Rania, yang kalo mau jujur sudah sangat dinantikan Biyan sejak beberapa saat, Biyan pun langsung beranjak mendekati pintu kamar Ayu yang tertutup rapat, kemudian mengetuknya beberapa kali.


Tok ... Tok ... Tok ...

__ADS_1


Hening.


Tak ada jawaban ... Tak ada juga tanda-tanda jika pintu tersebut akan dibuka dari dalam sana.


'Apa Ayu ketiduran yah ...?'


Berpikir tentang kemungkinan tersebut membuat Biyan nekad memutar roset pintu yang kebetulan tidak terkunci.


"Ay ..." panggil Biyan lembut sambil melongokkan kepalanya kedalam kamar.


Kosong.


Alis Biyan mengerinyit mendapati pemandangan kamar yang ditempati Ayu yang terkesan begitu dingin, rapi dan hening, seolah mengisyaratkan bahwa di dalam kamar tersebut sedang tidak terjadi aktifitas yang menandakan sedang dihuni.


"Mungkin Ayu di kamar mandi ..." desis Biyan yang kembali mencoba berpikir positif, kemudian tanpa ragu langsung melangkahkan kaki untuk masuk kedalam kamar guna mengecek langsung kedalam kamar mandi.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ay ... Ayu ..."


Lagi-lagi tak ada jawaban, tak ada juga tanda-tanda jika sedang terjadi aktifitas didalam sana.


Berusaha menepis perasaan tak enak hati yang mulai menggerogoti benaknya membuat Biyan nekad mendorong gagang pintu kamar mandi, dan ...


Benar saja ... Biyan memang tidak menemukan sosok yang ia cari didalam sana.


Semuanya serba hening.


Sepasang kaki Biyan seolah terpatri ditempat, detik berikutnya perasaan kalut mulai hinggap dibenaknya.


Berpikir tentang hal tersebut membuat langkah kaki Biyan setengah berlari keluar dari kamar Ayu menuju kearah teras, berharap bisa menemukan sosok Ayu ditempat terakhir kali ia melihat sosok gadis itu namun hasilnya ... Nihil.


Tak patah semangat, Biyan pun berbalik arah, dan kembali berlari kecil untuk masuk kedalam rumah, kemudian berbelok ke halaman samping tempat di mana mini garden sekaligus kolam renang berada dan ... Nihil.


Nyaris putus asa, Biyan kembali bergegas masuk lagi kedalam rumah, kali ini dengan satu tujuan akhir yakni area dapur, namun lagi-lagi ... Nihil.


Biyan terduduk di meja makan dengan napas memburu, menyadari dirinya tak kunjung menemukan sosok Ayu di sudut manapun dari bagian rumahnya yang memungkinkan untuk Ayu datangi.


Seolah teringat akan sesuatu, Biyan pun langsung mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam saku celana, berusaha menghubungi nomor Ayu via telepon namun tak berapa lama wajah Biyan semakin bertambah kalut.


Dari seberang sana suara khas seorang wanita operator seluler malah menginformasikan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif, atau berada diluar service area ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua puluh menit berkendara, namun Eros belum berani membuka suara.


Hanya sesekali Eros menjeling lewat sudut matanya, kepada sosok gadis yang sejak awal hanya duduk diam dengan tatapan mengarah kosong ke depan, kearah jalanan yang basah oleh gerimis.


"Ehem ..." Eros pura-pura berdehem kecil, semata-mata hanya demi mengusik lamunan panjang tak bertepi sosok yang duduk bengong disebelahnya, dan kelihatannya usaha Eros cukup berhasil.


"Egh, anu ... Om Eros ... Maaf ... Maafin Ayu yah ..."


Sepasang alis milik Eros mengerinyit nyata mendapati permintaan maaf dari Ayu yang begitu tiba-tiba, entah untuk apa.


"Maaf? Maaf untuk apa sih, Yu?"


"Maaf karena udah ngerepotin Om Eros ..."

__ADS_1


Eros terlihat menggeleng kecil meskipun tatapannya tetap lurus menatap hiruk-pikuk jalanan, yang siang ini kondisi lalu lintasnya lumayan padat merayap.


"Gak pa-pa kok, Yu, santai aja kali. Oh iya, by the way sebenarnya Ayu mau kemana sih? Biar nanti Om Eros anterin sekalian deh ..." ujar Eros lagi dengan nada suara yang ringan.


Diluar dugaan Ayu justru tercenung mendengar pertanyaan sederhana Eros.


Mau ke mana?


Ayu bahkan tidak tau dirinya hendak kemana, karena saat hatinya teramat sangat sakit atas jawaban Biyan untuk pertanyaan Rania perihal keberadaannya bersama pria itu, otak Ayu seolah lumpuh mendadak.


Mendadak Ayu tak bisa lagi memikirkan hal apapun selain memenuhi keinginannya untuk pergi menjauh, kalau perlu sejauh-jauhnya hingga ke ujung dunia ...!


Untuk itulah langkah kaki Ayu telah membawa Ayu melangkah keluar dari pekarangan rumah megah milik Biyan, dan Ayu terus berjalan tak tentu arah sampai ia tersadar kalau ada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti tepat disisinya.


Pria tampan berkaca mata hitam pekat yang menyapa Ayu begitu kaca samping diturunkan itu ... dia tak lain Eros Rahadian.


Sementara itu ...


Eros yang selalu dibayang-bayangi kekhawatiran atas keadaan Bella pasca hubungan mereka yang ke gap oleh kedua orang tua Bella, alhasil memutuskan untuk mendatangi rumah Biyan Erlangga.


Namun tepat di saat mobilnya mulai memasuki area perumahan elite tersebut, Eros malah mendapati pemandangan aneh di sisi jalan, di mana Eros bisa melihat dengan jelas sosok Ayu yang tengah berjalan di trotoar dengan tatapan matanya yang kosong.


Berbekal rasa khawatir akan keselamatan Ayu dan takut sahabat terbaik Bella itu kenapa-napa, Eros pun akhirnya memutar kemudi.


Awalnya Eros hanya membuntuti langkah Ayu yang terayun gamang, sebelum akhirnya Eros benar-benar memutuskan untuk menghentikan langkah Ayu yang bahkan telah melewati gerbang keluar area kompleks dan terus berjalan tak tentu arah bak orang yang sedang kehilangan akal sehat.


Beruntung saat memutuskan menghentikan mobil dan menawari Ayu tumpangan gadis itu langsung beringsut naik tanpa banyak pertimbangan, dan dari situlah awal mula mobil Eros mulai berputar-putar tak tentu arah karena Eros baru menyadari adanya gurat kesedihan bercampur kebingungan dikedalaman sepasang telaga milik Ayu, yang membuat Eros ragu untuk bertanya, dan berusaha membiarkan Ayu menenangkan dirinya terlebih dahulu.


"Yu, ada apa sih sebenarnya ...? Ayu lagi bertengkar sama Bella yah ...?" ucap Eros yang mencoba mengurai persoalan yang menimpa Ayu dengan berhati-hati.


"Gak, Om. Gak kayak gitu ..." tepis Ayu cepat atas tebakan Biyan.


"Ya udah, kalo gitu Om telpon Bella aja yah ..."


"J-jangan!"


Alis Eros kembali bertaut mendapati keengganan Ayu yang terucap spontan.


"Lah, kok ..."


"Ayu belum bisa ngomong sama Bella, karena Ayu malu, Om ..."


Tentu saja Eros semakin dibuat bingung oleh jawaban Ayu. "Kok malu sih, Yu? Malu kenapa, coba?"


Lagi-lagi Ayu terdiam, kali ini sedikit salah tingkah.


Mendapati gelagat Ayu yang seolah sedang menutupi sesuatu membuat Eros semakin curiga.


'Ada apa dengan Ayu ...?'


Entahlah ...


Karena hingga berjenak-jenak lamanya Eros menanti sebuah jawaban atas pertanyaannya yang sederhana, toh tetap saja tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Ayu ...


Bersambung ...


🧕: Jangan lupa di support yah 🥰

__ADS_1


__ADS_2