HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
BERSELISIH


__ADS_3

Rania melempar ponsel miliknya keatas meja.


Dari raut wajahnya jelas terlihat bahwa saat ini Rania memang sedang kesal.


Ingin rasanya ia meluapkan amarah tapi entah harus marah kepada siapa, karena penyebab kekesalan Rania nyatanya bukan hanya bersumber dari satu permasalahan saja.


Diawali dengan pertemuan Rania dengan Anya yang membuahkan hasil beberapa buah foto dan vidio yang memperlihatkan kedekatan Eros dengan Bella putrinya, ditambah lagi dengan isu tentang adanya sesuatu yang terselubung antara Biyan dan Ayu yang selalu menjadi bahan pemantik Anya demi memanas-manasi jiwa labil Rania, dan terakhir yang paling sukses membuat Rania uring-uringan manakala sejak kemarin ia tidak bisa lagi menghubungi ponsel Biyan, karena ponsel pria itu selalu saja memperdengarkan informasi operator seluler yang menyatakan jika sang pemilik sedang menonaktifkan ponselnya atau mungkin sedang berada diluar service area.


Tak bisa dipungkiri, selama ini Rania memang selalu rutin menghubungi Biyan, meski hanya sekedar basa-basi gak bermutu.


Untuk itulah Rania merasa kesal, karena disaat tujuan utamanya kali ini benar-benar penting, yakni ingin mendiskusikan perihal hubungan Eros dan Bella yang semakin tak bisa tersangkal ... Biyan justru tidak bisa ia hubungi dengan berbagai cara ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bella telah mengetuk pintu kamar Ayu berkali-kali namun ketukannya itu tak direspon sama sekali.


Karena tak ada tanda-tanda pintu yang akan dibuka maka Bella berinisiatif untuk memutar roset pintu kamar Ayu yang ternyata tidak terkunci, dan alis Bella pun langsung bertaut nyata saat ia menyadari kenyataan bahwa kamar Ayu ternyata kosong melompong.


Refleks Bella melirik jam yang tergantung disalah satu dinding kamar Ayu.


"Udah jam sembilan aja ... Tapi Ayu kemana yah? Kok jam segini belum pulang ...?"


Bella mengeluarkan ponsel dari saku overall denim yang ia kenakan, sambil duduk ditepi ranjang, alisnya mengerinyit saat mendapati sebuah notifikasi pesan masuk dari aplikasi Whatsapp miliknya.


"We-a dari Ayu ...?"


Bergegas Bella membuka pesan yang bahkan dirinya sendiri tak tau sejak kapan pesan Ayu itu masuk kedalam ponselnya.


'Bell, Malam ini Ayu gak pulang yah ... Soalnya Ayu diajak Bu Yuni survey materi keluar kota. Besok siang Ayu balik. See you, Bella cantiiikkkk ...'


Seperti biasa, ada begitu banyak emoticon peluk cium diakhir chat Ayu, yang selalu membuat Bella tersenyum setiap kali membacanya.


Tanpa penjelasan lebih detail, Bella langsung paham isi chat Ayu, mengingat Bella juga mengenal Bulu Yuni, yang merupakan dosen di kampus mereka yang telah mendaulat Ayu untuk menjadi Asisten Dosen Penelitian selama liburan semester berlangsung.


Bella tak langsung membalas pesan itu, melainkan langsung melakukan panggilan untuk nomor Ayu, meskipun kenyataannya panggilan Bella ternyata tidak tersambung.


Pada akhirnya Bella pun memutuskan untuk menjawabnya dengan pesan singkat saja.


'Oke, Yu. Hati-hati dijalan yah. Sampai ketemu besok. Muaaaacchhh ...'


Bella mengakhiri chatnya dengan beberapa emoticon serupa sekaligus, seperti halnya chat-an Ayu kepadanya.


Pesan Bella masih centang satu.


Terkirim, tapi belum diterima Ayu.


Bella merasa hal itu wajar saja karena bisa jadi ponsel sahabatnya itu sedang dalam keadaan tidak aktif, mungkin sedang di charger.


Usai menyimpan kembali ponsel miliknya kedalam saku overall denim seperti semula, Bella pun memutuskan untuk segera beranjak dari duduknya, hendak kembali ke kamarnya yang ada dilantai dua.


"Dari mana aja, Bell?"


Sebuah suara yang familiar terdengar menyapa gendang telinga Bella, tepat saat Bella menarik daun pintu kamar Ayu guna menutupnya kembali.


"Mama ...?" alis Bella bertaut, menyadari Rania yang berdiri mengawasinya sambil melipat kedua lengan diatas dada, lengkap dengan wajahnya yang dingin.

__ADS_1


"Bella cuma pengen ngobrol sama Ayu, Ma, tapi Ayu-nya gak ada ..."


"Udah selarut ini belum pulang kerumah? Dikira rumah ini hotel atau apa? Semau-maunya dia pulang tengah malam ...!" omel Rania, yang tidak bisa menyembunyikan kekesalan hatinya.


"Ih, Mama jangan nuduh Ayu dulu dong. Ayu gak pulang bukan karena sengaja, tapi karena Ayu diajak survey Bu Yuni keluar kota. Bu Yuni itu dosen Bella sama Ayu di kampus, Ma, jadi Ayu gak asal kelayapan ..."


"Nah, gitu kan. Setiap kali Mama ngomong tentang Ayu, selalu aja Mama yang salah. Gak Bella, gak Papanya Bella ... Semua belain Ayu, selalu Mama yang salah ...!"


Bella melongo mendapati Rania yang ngedumel panjang-pendek tanpa sebab.


Didalam pikiran Bella malah bertanya-tanya, ada apa gerangan dengan Mamanya yang tiba-tiba saja jadi sensi begini ...?


Lagi datang bulan atau apa ...?


"Mama kenapa sih ...?" tanya Bella dengan raut wajah bingung.


Rania terlihat memijat kedua alisnya, seolah ingin mengusir pikiran-pikiran yang membuatnya mumet sepanjang hari.


"Ma, Mama kenapa marah-marah gak jelas ...?"


"Apanya yang gak jelas, Bell? Lagian selama ini kalian mana pernah mikirin Mama? Mikirin perasaan Mama? Kalian malah lebih mikirin perasaan orang lain ketimbang Mama ..."


"Perasaan orang lain ...? Maksud Mama siapa ...? Ayu ...?"


Rania tak langsung menjawabnya, namun sepertinya Bella sendiri sudah bisa menebaknya.


"Ma, sebenarnya apa sih yang bikin Mama selalu gak suka sama Ayu ...?"


Rania menatap Bella yang juga sedang menatapnya lekat. "Trus kenapa, Bell? Kenapa Mama harus suka sama seorang benalu?"


"Iya emang benalu kan? Apa dong namanya untuk orang yang menumpang hidup sama orang lain yang bahkan gak ada hubungan saudara sedikitpun? Kok dia gak malu sih hidup seperti itu? Maunya gratisan aja!"


Bella membisu. Kali ini ia memang tak lagi membantah Rania yang terlihat semakin tersulut emosi, namun meskipun begitu bukan berarti Bella tidak merasa kecewa dengan pendapat yang Rania lontarkan barusan tentang Ayu.


Sepanjang Bella mengenal Ayu, kurang lebihnya Bella sudah tau persis sifat dan sikap Ayu luar dalam.


Ayu sama sekali bukan tipe benalu seperti yang dituduhkan Rania, tapi meskipun semua tuduhan itu sulit diterima Bella, toh Bella juga tidak berusaha menampik Rania dengan gigih.


"Bella, Mama juga mau ngomong sesuatu. Ini penting." putus Rania pada akhirnya, setelah beberapa saat diantara keduanya hanya ada keheningan.


Keputusan sepihak Rania dikarenakan dirinya yang merasa tak mampu lagi memendam semua beban pikirannya lebih lama, perihal pergaulan Bella dan Eros yang menurutnya telah keluar jalur.


Rania bukannya tidak berpikir, bahwa seharusnya sebelum ia bertindak terlalu jauh, ia butuh mendengar pendapat Biyan terlebih dahulu.


Namun apa boleh buat, karena ponsel mantan suaminya itu tidak pernah aktif sejak kemarin, sifat gegabah dan tak sabaran Rania pun tidak bisa lagi ditenangkan lebih lama.


"Mau ngomong apa, Ma? Kok kelihatannya serius betul?" tanya Bella, yang entah kenapa jantungnya mulai terasa berdegup aneh, padahal Bella sendiri belum tau sama sekali apa yang sekiranya hendak dibicarakan oleh Rania.


"Duduk disitu." telunjuk Rania mengarah kearah sofa yang terletak di ruang tengah.


Tanpa banyak bicara Bella langsung menuruti titah Rania, yang juga beranjak kearah yang sama.


"Ada apa, Ma?" tanya Bella begitu mereka berdua masing-masing telah duduk dengan posisi berhadap-hadapan, berantarakan sebuah meja berbahan dasar ukiran kayu yang estetik.


Tarikan napas Rania terdengar berat, sebelum wanita itu memutuskan untuk mengungkapkan semua ganjalan yang ada dihatinya.

__ADS_1


"Bella, tolong jawab yang jujur, sudah sejauh mana hubungan Bella sama Om Eros?"


"A-appaa ...?"


"Jangan pernah mengelak, karena Mama sudah mengetahui semuanya."


Bella tertunduk dalam diam, sama sekali tak menyangka jika hubungannya dengan Eros bisa tercium oleh Rania.


"Pasti Mama tau semuanya dari Tante Anya. Iya kan, Ma?" lirih Bella masih tertunduk, kali ini belum punya keberanian untuk menentang kilau mata Rania yang saat ini seolah sedang menghakiminya tanpa ampun.


"Jadi benar?" usut Rania lagi, tanpa mempedulikan pertanyaan Bella sebelumnya.


"Ma, Bella cuma ..."


"Berhenti."


"A-apaaa ...?"


"Mama bilang berhenti."


Bella tercengang, sehingga tanpa sadar wajahnya yang semula hanya tertunduk kini telah terangkat seutuhnya.


"Kalo sampai Mama tau, Bella masih menemui Om Eros diam-diam begitupun sebaliknya, maka Mama akan laporkan Om Eros ke pihak yang berwajib ..."


"Mama ...!"


Rania terlonjak kaget akibat pekikan Bella yang merespon ancamannya secara refleks.


Tanpa tercegah, amarah Rania ikut tersulut.


Rania bergegas bangkit dari duduknya dan mendekati Bella yang juga ikut berdiri dari duduknya.


Sungguh, Rania merasa sangat kesal. Sejak awal menahan diri akibat pembelaan Bella yang terang-terangan untuk Ayu, sekarang Rania malah mendapati putrinya berani berteriak kepadanya demi seorang pria yang jelas-jelas tidak pantas untuknya.


"Bella, jadi begini sikap kamu sama Mama?!" bentak Rania dengan amarah yang meluap, tepat dihadapan Bella.


"Ma, Bella gak bermaksud ..."


"Lihat kan? Ini nih hasil dari bergaul dengan orang-orang gak jelas ...!"


"Gak ada yang salah dari pergaulan Bella, Ma, tapi Mama aja yang egois dan ..."


Plak.


Sebuah tamparan sanggup membungkam segenap kalimat yang hendak terlontar dari bibir Bella.


Bella terhenyak ditempatnya, sama sekali tak menyangka jika Rania akan bersikap sekeras itu, kendatipun saat ini mereka sedang berselisih.


Hati Bella hancur mendapati kenyataan, betapa mudahnya Rania menamparnya.


"Mama Jahat!" pekik Bella sambil menghambur kearah anak tangga, meninggalkan Rania yang juga tak berusaha menahan Bella, agar tidak berlalu ...


Bersambung ...


🧕: Vote dong akak 😍

__ADS_1


__ADS_2