
"Ini serius nih, yang masak Ayu semua ...?" Biyan berucap setelah menaruh sendok dan garpu ke atas piring yang sudah kosong melompong tak bersisa.
Harus diakui bahwa masakan Ayu memang benar-benar enak.
Biyan bahkan merasa perutnya sangat penuh akibat menambah porsi hingga dua kali.
"Lah, kalau bukan Ayu emang siapa lagi, Pa ...?"
Bukan Ayu yang menjawab namun Bella, karena yang ditanya malah sedang tertunduk malu-malu meong.
"Emang Ayu yang masak semua, Om," Ayu mengaku, masih dengan senyumnya yang malu-malu.
"Nah kan, Bell, lain kali kalau Ayu masak diperhatiin dong, biar Bella juga mahir ..." Biyan menatap Bella, yang sama hal dengan dirinya, duduk bersandar di tembok dengan perut kekenyangan.
"Iya, nanti aja deh, Pa,"
"Kok nanti sih, Bell? Inget loh, Bell, semua perempuan sudah seharusnya pinter masak ..."
"Gak semua kali, Pa, buktinya Mama gak pinter masak ..." imbuh Bella dengan cueknya.
Mendengar kalimat itu Biyan langsung terdiam, sementara Ayu sedikit terkesima.
Entah kenapa diam-diam Ayu merasa tak enak hati mendapati kecanggungan Biyan yang begitu kentara, saat Bella secara tiba-tiba menyebut kekurangan Mamanya dengan nada suara yang tanpa beban.
"Permisi, Ayu mau beresin ini dulu ..."
Ayu bangkit dari duduknya, sambil menumpuk tiga piring kotor sekaligus dan mengangkatnya kearah dapur, sengaja memberi ruang bagi Biyan dan Bella yang terlihat belum berniat untuk beranjak dari atas tikar yang tergelar disudut kamar.
Sepeninggal Ayu yang kini hanya terlihat punggungnya saja karena berdiri membelakangi Biyan dan Bella di dapur, Biyan masih setia termanggu dengan benak yang dipenuhi selorohan ringan Bella barusan.
Biyan tahu putrinya itu tidak sedang berusaha mem-bully Rania di belakang, hanya saja sifat Bella memang demikian.
Bella cenderung sangat polos dalam mengungkapkan isi hatinya tanpa memiliki tendensi apa-apa. Namun meskipun demikian, kali ini Biyan harus mengakui bahwa Bella memang berkata benar.
Memang, Rania sama sekali tidak pintar memasak, dan Biyan membenarkan semua itu.
Biyan tidak mengada-ngada, tidak juga sedang mencari kelemahan Rania yang notabene merupakan mamanya Bella, mantan istrinya.
Karena pada kenyataannya, meskipun tiga belas tahun Biyan dan Rania berumah-tangga, tidak sedikitpun membuat Rania mahir mengerjakan berbagai pekerjaan rumah layaknya wanita yang sudah menikah pada umumnya, apalagi jika sudah berhubungan dengan masalah dapur.
Jikalau Biyan harus jujur, memang ada begitu banyak kekecewaan Biyan untuk Rania. Tapi toh Biyan juga tidak bisa serta-merta menyalahkan Rania begitu saja.
__ADS_1
Kegagalan rumah tangganya, bukan hanya kesalahan Rania semata, namun mereka berdua-lah yang sama-sama tidak becus dalam menjalani biduk rumah tangga yang terkesan terburu-buru di bangun, disaat usia mereka berdua masih sangat muda, namun Rania telah berbadan dua karena gaya pacaran mereka yang telah out of control.
Biyan menyadari bahwa semua yang terjadi antara dirinya dan Rania merupakan contoh yang buruk bagi Bella.
Mungkin karena semua itu juga, Biyan merasa paranoid, sehingga selalu bersikap over protective, meskipun pada kenyataannya Biyan tetap tidak sanggup mengawasi Bella seperti harapannya.
Kesibukan ... pekerjaan ... tuntutan masa depan Bella yang berusaha Biyan persiapkan dengan sebaik-baiknya, selalu membuat Biyan kecolongan akan pergaulan Bella di luar sana.
Biyan bekerja mati-matian semata-mata untuk masa depan Bella, meskipun di sisi lain Bella sering merasa kesepian karena Biyan nyaris tidak punya waktu untuknya.
Biyan bekerja keras, karena Biyan tidak ingin hidup Bella berkekurangan.
Biyan juga takut jika tidak bisa menyuguhkan semua hal terbaik untuk putri semata wayangnya itu.
Bella adalah hidup Biyan yang sesungguhnya, karena setelah sekian lama melewati kekecewaan, serta kegagalan demi kegagalan ... Biyan merasa hanya Bella satu-satunya hal terindah, hak terbaik, juga hal teristimewa yang terjadi dalam perjalanan kehidupan Biyan.
"Oh ya, Pa, by the way kita mau quality time ke mana nih ...?"
Suara riang Bella yang kembali terdengar membuat Biyan yang tadinya sempat termanggu berjenak-jenak lamanya sontak mengangkat wajah.
"Terserah Bella mau kemana. Papa ngikut aja ..."
"Emangnya Bella maunya kemana?"
Bella terlihat berpikir sejenak. "Enaknya sih ke pantai, Pa ..."
"Gas lah, kalau begitu ..." sambut Biyan tanpa berpikir dua kali, sembari bangkit berdiri.
"Horeeee ... ke pantaiiiii ...!" Bella memekik riang, dia ikut berdiri menyusul Biyan, dengan wajah gembira, dan langsung jingkrak-jingkrak kegirangan.
Mendapati kehebohan Bella mau tak mau derai tawa Biyan terdengar menyeruak hingga ke sudut-sudut kamar Ayu, sementara Ayu yang sedang membasuh piring pun ikut menoleh sambil tersenyum.
Dalam hati Ayu ikut bahagia melihat Bella sahabatnya yang begitu gembira, karena bisa menghabiskan waktu bersama Papanya.
"Ay, ikut yuk?" ajakan Biyan terlontar begitu saja tanpa rencana, saat ekor matanya menangkap ekspresi wajah Ayu yang terlihat sangat semringah mendapati keceriaan Bella.
"Egh ... t-tapi ..."
"Gak ada tapi-tapian, Yu, ayo lah buruan kita packing ...!"
Ayu masih berdiri bengong, saat Bella telah menyongsongnya dengan penuh semangat, langsung menarik kedua pergelangan tangan Ayu sekaligus agar keluar dari area dapur mini.
__ADS_1
"Bell, ntar dulu ... Ayu ... Ayu ..."
"Gak usah kasih alasan ini-itu karena Bella gak mau dengar ..."
Ayu pun pasrah saat Bella ngotot menarik kedua pergelangan tangannya hingga ke depan lemari, bertujuan agar Ayu mempersiapkan diri dalam weekend yang digagas olehnya.
Tak ada yang tahu, bahwa diam-diam ajakan spontan Biyan untuk Ayu telah membuat hati Ayu berbunga-bunga, sementara untuk Bella sebuah ide cemerlang telah mencuat dalam benak.
"Pa, ajak Om Eros dong, biar makin seru dan Papa ada teman ngobrolnya. Lagian ... dah lama juga nih Bella gak ketemu Om Eros ..." ucap Bella, mulai melancarkan aksi terselubung.
Mendengar ide Bella membuat Biyan sontak mengangguk setuju.
"Bener juga, Bell, kalau ada Om Eros pasti bakal lebih seru." Biyan membenarkan.
"Nah kan ..." Bella semakin melonjak girang, sementara di sebelahnya Ayu diam-diam mencibir.
"Modus kamu, Bell ..." bisik Ayu perlahan di telinga kiri Bella, sontak saja ulah Ayu itu langsung di hadiahi pelototan galak dari Bella.
Detik berikutnya, Biyan terlihat mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans-nya, berniat menelpon Eros.
"Hallo, Ros, weekend ini ada planning gak?" ujar Biyan begitu telponnya di respon dari seberang sana.
Bella mengawasi Biyan dengan ekspresi wajah was-was, berharap Eros mau mengiyakan ajakan Papanya.
"Kebetulan kalau begitu. Mau gak, ikut aku sama Bella weekend ke pantai?"
Bella menahan napas, menanti jawaban dari seberang sana dengan perasaan yang harap-harap cemas.
"Okeh, kalau begitu setengah jam lagi aku jemput ...!"
Huhhhffhhh ...!
Legaaaahhh ...!
"Horeeee, ada Om Eros jugaaa ...!" Bella bersorak girang, dengan ekspresi wajah yang berbinar-binar.
Biyan hanya mengangguk dengan senyum simpul. Ia merasa tak perlu lagi bersusah payah mengurai seperti apa jawaban Eros untuk ajakan weekend barusan, karena sudah pasti ... Bella telah mendapatkan jawabannya ...!
...
Bersambung ...
__ADS_1