
Beberapa bunyi ketukan pintu dari luar telah membuat Biyan terjaga.
Sepasang mata Biyan memicing dan Biyan bahkan masih menyempatkan diri menggeliat sejenak, guna mengusir rasa pegal yang menyerang di beberapa bagian tubuhnya sekaligus.
"Astaga ... Jam berapa ini ...?" lirih Biyan yang bergegas bangkit dari kursi kayu yang baru saja menjadi tempat dari tubuhnya terlelap dalam keadaan duduk, sehingga nyaris sekujur tubuhnya terasa mati rasa.
Tok ... Tok ... Tok ...
Bunyi ketukan pintu kembali terdengar.
Biyan yang mengira mungkin saja itu petugas hotel akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kakinya kearah pintu setelah terlebih dahulu melirik sejenak keatas ranjang, di mana tubuh Ayu masih terbaring di sana karena telah terlelap sama seperti dirinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Lagi-lagi pintu kamar kembali diketuk, seolah yang melakukannya tak mampu bersabar lebih lama.
Dengan rambut yang agak kusut, tangan kanan Biyan terangkat guna memutar roset pintu, tepat di saat tubuh Ayu terlihat menggeliat kecil akibat terusik dengan bunyi ketukan yang semakin keras.
"Ada apa, Om?" tanya Ayu dengan tatapan nanar serta suara yang serak.
Biyan mengangkat kedua bahunya. "Entahlah ... Mungkin room service ..." jawab Biyan sambil lalu.
Pintu terpentang dan sepasang alis Biyan pun bertaut nyata menyadari kehadiran beberapa orang pria tak dikenal yang telah berdiri tepat dibingkai pintu.
Dari penampilan mereka sangat terlihat bahwa mereka bukanlah petugas hotel atau room service seperti dugaan Biyan sebelumnya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu ...?" tanya Biyan pada akhirnya, menyadari raut wajah para pria dihadapannya yang nampak tegang secara keseluruhan.
"Siapa, Om ...?"
Bukan jawaban dari para pria asing itu yang lebih dulu tertangkap telinga Biyan, melainkan lagi-lagi suara serak berisi kantuk, seiring dengan ekor mata Biyan yang menangkap gerak tubuh Ayu yang berusaha mendudukkan tubuhnya yang lesu tepat diatas permukaan ranjang.
"Tak salah lagi ... Itu suara Ayu, Om ..." desis sinis pria muda yang berdiri tepat ditengah beberapa pria paruh baya, sontak membuat Biyan terperangah menyadari nama Ayu yang baru saja disebut.
"Tunggu sebentar, siapa kalian?" dengan sigap Biyan menahan dada pria muda yang tak lain adalah Haris, ketika hendak meringsek masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.
"Minggir, atau kamu akan menyesal!" hardik Haris tak gentar.
__ADS_1
"Ini kamarku. Kalian tidak boleh masuk begitu saja ..."
"Dasar pria ca bul! Aku bilang minggir ...!!"
Belum juga Biyan sadar sepenuhnya dengan apa yang terjadi, manakala tubuh tingginya telah diterjang keras oleh Haris, sehingga membuat Biyan nyaris terjengkang kebelakang.
"Ayu ...!!"
Arif Rahman, seorang pria gemuk paruh baya berkumis tebal yang tak lain merupakan ayah Ayu itu langsung menerobos masuk tanpa tercegah, disusul oleh Haris dan beberapa pria dibelakang.
Biyan yang kaget dengan kejadian yang terjadi begitu tiba-tiba didepan matanya bergegas bangkit dan berniat menghalangi para pria berwajah berang tersebut namun belum apa-apa pelipis kanan Biyan sudah terasa kebas seolah mati rasa manakala ...
Bugh ...!
"Akhh ...!"
Sebuah bogem mentah dari Haris sukses bersarang di wajah Biyan yang sontak mengaduh.
"Astaga ...! Om Biyaaaaann ...!!" pekik histeris tak tertahan meluncur begitu saja dari bibir Ayu, manakala matanya melihat langsung bagaimana Haris memukul Biyan tepat di wajah.
"A-Ayyaaah ...?"
Langkah Ayu terhenti begitu saja, ekspresi wajah Ayu pun tak kalah kaget menyadari kehadiran sang Ayah yang kini tengah memergoki dirinya dalam keadaan berdua dengan seorang pria didalam sebuah kamar hotel.
Sungguh, menyadari bahwa dirinya sedang tertangkap basah rasanya bisa membuat Ayu mati ditempat saat itu juga.
Raut ketakutan terpancar jelas di wajahnya yang pucat pasi, yang bahkan untuk bicara sepatah katapun Ayu tak mampu lagi terlebih saat menyadari ekspresi wajah Ayahnya yang tak kalah terhenyak dari dirinya.
Dalam sekejap wajah pria itu telah berubah menjadi pucat bak sehelai kain kafan, dan tubuh gemuknya ikut bergetar hebat.
"A-Ayah ... I-ini ... I-ini gak seperti yang A-Ayah pikirkan ..." suara Ayu terbata menyadari Ayahnya yang terlihat sangat shock.
"Ayu ... Teganya kamu, Nak ... Kamu ... Kamu ..."
Mengambang.
Arif Rahman nampak memegang sebelah dadanya yang terasa sangat sesak, seolah ratusan jarum sedang tertancap sekaligus di sana, tepat di ulu hati.
__ADS_1
"Pak Arif ..."
"Astaga, cepat dudukkan beliau ..."
Pria paruh baya itu nyaris ambruk kalau saja beberapa kerabat yang turut serta tidak dengan sigap menopang tubuh gemuk tersebut.
"Ayyyyaaah ...!!"
Pekik Ayu seolah tercekat, seiring pecahnya tangis yang mengiringi laju geraknya yang bergegas turun dari ranjang dan menghambur kearah sang Ayah yang sedang bernapas dengan tersenggal-senggal.
"Ayaaahhh ... Maafin Ayu, Yah ... Ayu yang salah ... Ayu yang salah Ayaaaahhh ... Ampuni Ayu ... Ayaahh ..."
Ayu memeluk erat tubuh kaku sang Ayah sambil menangis tersedu.
Biyan yang menyaksikan keseluruhan babak menegangkan yang terjadi didepan matanya itu tak bisa melakukan apa-apa, karena setiap kali ia berusaha bergerak, maka cekalan dua orang pria sekaligus yang tengah membelit serta mengunci pergerakan lengan kanan dan kirinya sekaligus akan semakin menguat.
"Baji ngan tengik ... Kamu apakan Ayu ...?! Hahh ...?!" Haris meradang begitu tatapan matanya berpindah kearah Biyan yang tak berdaya.
"Aku tidak melakukan apa-apa ..."
"Bohong!!"
"Aku berkata yang sebenarnya ..."
"Tutup mulutmu!!"
"Aku harus apa agar bisa membuat kalian percaya bahwa ..."
"Aku bilang diam!!" sergah Haris penuh emosi, menggambarkan dirinya yang tak sudi menerima secuilpun pembelaan diri dari Biyan.
Haris berdiri pongah dengan telunjuk yang mengarah tepat didepan hidung Biyan yang mancung, sementara senyum dibibirnya terlihat menyeringai.
"Dengar baik-baik .... Kalau sampai terjadi sesuatu pada Om Arif, maka kamulah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab ...!! Kau mengerti ...?!" kecam Haris, yang tidak lagi berusaha ditanggapi oleh Biyan.
Kali ini Biyan telah memilih untuk pasrah menerima segala tuduhan juga tatapan kebencian Haris, begitupun dengan berpasang-pasang mata lainnya ...
Bersambung ...
__ADS_1