
"Mundur deh, Steve ..." ujar Bella kemudian, membuat Steve terhenyak.
"Lah, kenapa? Belum apa-apa main mundurin aja ... kayak kang parkir aja kamu, Bell ..."
Bella melotot mendengar dirinya yang disamain sama kang parkir oleh Steve.
"Enak aja, Bella disamaain sama kang parkir?!"
"Ya lagian ... belum apa-apa udah disuruh mundur aja sih ..."
"Ya karena Bella tau itu semua bakalan percuma."
"Kok bisa? Belum juga tau perasaan Ayu sebenarnya, mana tau Ayu punya rasa yang sama ..."
"Gak peduli punya rasa yang sama apa enggak, yang jelas Ayu pasti bakalan nolak cinta kamu, Steve."
"Sotoy ..." desis Steve, masih berpura-pura tegar meskipun belum apa-apa hatinya sudah patah duluan.
"Ya udah, kalo gak percaya. Mau taruhan?" tutur Bella, terlihat begitu yakin saat menantang Steve.
Steve termenung mendapati tantangan Bella. Sisi hatinya tentu saja mempercayai Bella, karena Bella adalah satu-satunya orang yang bisa mendekati Ayu dan berteman baik dengan gadis kalem itu.
So, jika Bella sudah mengatakan hal seperti itu, boleh jadi Bella memang mengetahui sesuatu, yang merupakan sebuah rahasia tentang Ayu.
"Mmm ... memangnya kenapa, Bell? Apa Ayu udah punya pacar?" tanya Steve hati-hati, diam-diam berusaha menggali informasi.
Bella menggeleng tegas.
"Ayu naksir seseorang ...?!"
Lagi-lagi Bella menggeleng tegas.
"Ayu ... bukan golongan 'pelangi', kan ...?"
Plak!
"Aduhhh ...!"
"Udah gila!! Bukanlah ...!! Apaan sih pertanyaannya begitu amat ... bikin Bella merinding aja, Steve ...!! Ngeselin ihh ...!!" semprot Bella gak tanggung-tanggung sampai-sampai refleks ia menggeplak bahu Steve dengan keras hingga pria itu mengaduh.
__ADS_1
"Ya, lagiaaan ..."
"Stop deh. Intinya Ayu normal, cuman ada sebuah alasan yang bikin Ayu gak mau punya pacar. Titik."
"Lah, trus ..."
"Sssttt ... intinya ya kayak gitu, gak usah kepo."
"Tapi, Bell ..."
"Sssstt ..."
"Ya harus ada alasannya juga dong, Bell ..." Steve bersikeras, gemes rasanya mengetahui Bella yang gak mau membagi sedikit clue tentang Ayu.
Bella terdiam sejenak, seperti sedang menimbang apakah ia harus mengatakan kenyataan yang sebenarnya tentang Ayu, dan membagi sepenggal kisah itu kepada Steve?
Akh, gak ... gak boleh ...!
Bella menggeleng tegas. Sadar bahwa dirinya gak boleh melakukan itu karena gak adil buat Ayu jika Bella menceritakan sesuatu yang bagi Ayu adalah privacy-nya.
Bukankah pada hakikatnya siapa pun gak punya hak untuk membagi privacy orang lain ...?
Menyaksikan Bella yang gak kunjung membuka mulut membuat napas Steve berhembus pasrah.
Gak disangka kalimat Steve mampu membuat Bella tergugu mendengarnya.
Keteguhan hati Steve membuat Bella terharu, karena semua itu ibarat cerminan hati Bella sendiri.
Sejak awal Bella juga memiliki keteguhan hati seperti Steve, bahwa Bella akan menyayangi Eros dengan sepenuh hati, tak peduli dalam keadaan apapun, tak peduli seperti apa sosok Eros juga masa lalunya, bahkan tak peduli jika Eros bakal menolak cintanya.
Tapi pada akhirnya Bella harus mundur alon-alon setelah Eros mengungkapkan keinginan hatinya agar Bella menjauh dan menjaga jarak, jika gak ingin pria itu menghilang seutuhnya dari kehidupan Bella.
Eros mungkin menganggap perasaan Bella hanyalah gejolak perasaan sesaat dari seorang remaja labil, tanpa pernah tau dengan pasti sedalam apa perasaan Bella untuk pria itu.
"Baiklah, Bell ... mungkin memang bukan malam ini ... tapi dengan segala konsekwensi yang kelak akan aku terima ... aku akan tetap bertekad untuk mengutarakan perasaanku disuatu saat ... pada waktu yang tepat ..."
"Steve ..." Bella terhenyak mendapati senyum getir di wajah Steve yang sehari-harinya selalu terkesan tengil.
"Ayu berhak menolak cintaku, Bell. Tapi Ayu juga berhak tau, tentang perasaanku padanya. Ayu harus tau, bahwa selama ini ada seseorang yang baik, ganteng, dan rajin menabung kayak aku, yang diam-diam menyukainya dengan sepenuh hati ..."
__ADS_1
Kali ini senyum Steve terlihat jauh lebih lepas dari sebelumnya, mengiringi kalimatnya yang rada konyol meskipun ia ucapkan dengan penuh kesungguhan.
Steve berdiri tegak dengan dada membusung, penuh rasa kepercayaan diri yang tadinya sempat berkurang.
"Dengerin ini baik-baik yah, Bell, selama janur kuning belum melengkung, pantang bagiku untuk mundur. Dengan kata lain ... gasss terooosss ...!!"
"Huuuu dasar ...! Belum ada satu menit yang lalu galau brutal, sekarang udah kumat lagi sifat gak tau malunya ...!" omel Bella saat menyaksikan Steve yang seolah telah kembali ke pengaturan awal, meskipun tadinya sempat melow.
"Biarin. Steve gitu loh ..."
"Halaahh ... kalo begitu gak usah gaya-gayaan. Cepat penuhi janji kamu yang katanya mau bantuin Bella beresin semua piring kotor itu ..." todong Bella sambil menggeret lengan Steve kearah bak cuci piring tanpa perasaan.
"Kamu ini, Bell ... Bell ... gak ada hati nuraninya sama sekali. Aku ini baru aja patah hati, bukannya di hibur malah di suruh kerja rodi ...!" dumel Steve yang gak bisa lagi mengelak dari pemaksaan yang sedang dilakukan Bella.
Kalimat protes Steve yang panjang lebar, seolah tak berarti sama sekali dihadapan Bella.
Gadis itu bahkan hanya menanggapi semua keberatan Steve dengan berucap satu kata, lengkap dengan ekspresi wajah cuek dan sambil lalu ...
"Bodo ...!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'Sudah lima menit, tapi belum ada satu-pun dari keduanya yang kembali ...'
'Gak Bella ... gak juga Steve ...!!'
'Si al, ini gak bisa dibiarin ...!!'
Bathin Eros yang semakin gak tenang, membuatnya gak bisa lagi mengendalikan diri dari berbagai rasa curiga yang bergelayut dibenaknya silih berganti.
"Mau kemana, Ros?" tegur Biyan serta-merta, menyadari Eros yang bangkit dari kursi, bersiap hendak beranjak.
"Mau ke kamar sebentar, mau cars hape." pungkas Eros memberikan alasan yang terlintas begitu saja diotaknya.
"Ohh ..."
Biyan gak bertanya lagi, lebih memilih kembali fokus pada papan catur dihadapannya, demi bisa mengalahkan Andre yang kali ini terlihat berusaha lebih tangguh daripada laga sebelumnya.
Lewat ekor matanya Eros bisa melihat David yang sedang membantu Ayu mengumpulkan beberapa kaleng kosong juga bungkus cemilan yang berserakan diatas rumput untuk dimasukkan ketempat sampah, sementara Steve dan Bella sama sekali belum terlihat batang hidungnya, setelah lima menit yang lalu menghilang dibalik pintu samping ...
__ADS_1
...
Bersambung ...