HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
PENGAKUAN


__ADS_3

Sementara itu ...


Sepasang mata Eros nyaris keluar dari cangkangnya, saat menyadari gadis belia dihadapannya itu malah nekad mengacuhkan keberadaannya dengan cara berniat masuk kedalam mobil.


'Gak bisa dibiarkan ...'


Bathin Eros geram, kemudian dengan kenekadan yang mencapai seribu persen, tanpa berpikir panjang langkah Eros terayun mendekat, lalu dengan sigap meraih pergelangan tangan mungil milik Bella yang hendak menjangkau pintu mobil.


Mendapati tindakan Eros yang diluar dugaan, tentu saja Bella kaget setengah mati.


"Om Eros, lepas ..."


Bella kesulitan mengimbangi langkah Eros yang panjang plus cepat, saat menarik tubuh mungilnya begitu saja, namun tak sedikitpun Eros mengacuhkan aksi protes Bella.


"Om Eros, Bella mau dibawa kemana ...?"


Eros masih membisu, namun langkahnya tetap terayun tegas melintasi parkiran Miracle yang lenggang namun dipenuhi berjubel mobil, sebelum akhirnya menyebrang ke sisi jalan sebelah masih sambil menarik tubuh Bella yang tak bisa berbuat banyak sekalipun terus memberontak.


"Om ... Om Eros ... Kita mau kemana sih ...?"


Kepala Bella terlihat celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, menyadari dirinya yang kembali dibawa masuk kedalam gedung club malam milik Eros namun melewati pintu samping.


Eros terus melangkah melewati lorong lenggang dengan penerangan yang remang-remang, sementara suara music house dari dalam club sayup-sayup terdengar.


"Om, Eros ..."


"Sudah, diam." tepis Eros masih dengan nada suaranya yang dingin.


"Tapi Om ..."


Mengambang.


Bella tak bisa lagi berbuat apa-apa, manakala mendapati punggung kekar didepannya yang terus menyeret tubuhnya tanpa ampun, hingga mencapai ujung lorong dengan sebuah pintu yang tertutup rapat.


Bunyi khas yang berasal dari beberapa buah angka yang ditekan berurutan pada panel pintu terdengar jelas dalam keheningan, kemudian pada detik berikutnya pintu itupun terbuka.


"Ayo masuk." titah Eros, padahal pergelangan tangan Bella sendiri masih berada dalam kekuasaannya.


Eros menarik pergelangan tangan Bella hingga keduanya masuk kedalam ruangan tersebut, dan langsung menutup daun pintunya kembali.

__ADS_1


"Ini tempat apa, Om?" tanya Bella bingung, oleh karena suasana didalam ruangan yang juga temaram.


Ctek.


Bunyi saklar yang ditekan seolah menjadi jawaban secara tidak langsung dari pertanyaan Bella, manakala ruangan tersebut menjadi terang-benderang.


"Ini ruang pribadi Om Eros ditempat ini." kali ini Eros bicara sambil melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Bella.


Bella menoleh ke sana ke mari, seolah sedang mengabsen singkat keseluruhan isi ruangan yang lumayan luas tersebut sambil refleks mengurut sebelah pergelangan tangannya yang kebas tanpa ia sadari.


Melihat pemandangan itu sontak Eros merasa bersalah, apalagi saat menyadari pergelangan tangan Bella yang meninggalkan jejak kemerahan akibat remasan tangannya yang kekuatannya tak lagi terukur.


"Maaf ..."


Pandangan Bella yang mengembara kini teralih ke sosok yang berdiri dihadapannya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Sakit ...?" tanya Eros lagi.


Nada suara begitupun dengan tatapan Eros kini berangsur-angsur menghangat, tak lagi sedingin tadi.


Bella mengangguk kecil. "Dikit ..."


Mendengar jawaban jujur itu kembali rasa bersalah menggerogoti bathin Eros, karena ia sama sekali tak menyangka bahwa tindakannya yang nekad menyeret Bella ketempat ini ternyata telah menyakiti gadis itu.


Eros menatap Bella sejurus, dan pandangan mereka pun kini saling bertemu tanpa kata.


Jantung Bella berdebar menyadari pekatnya manik mata Eros yang terhunus lekat padanya, yang perlahan namun pasti telah menyisihkan segenap rasa benci, marah, kecewa, juga sakit hati yang selama ini bertahta, sehingga hanya menyisakan satu rasa saja ... Yakni kerinduan!


Berdiri tegap sambil berhadap-hadapan seperti ini, membuat Bella ingin sekali menghambur kedalam pelukan pria jangkung dihadapannya, sembari menyesap aroma khas yang menguar dari tubuh yang kekar menawan.


Bella pun tersadar bahwa perasaan cintanya yang begitu besar, ternyata tak mampu dikalahkan oleh perasaan apapun, sekalipun itu perasaan kecewa akibat penolakan Eros yang menyakitkan.


Bella menundukkan wajahnya, tak kuasa bertahan lebih lama dibawah tatapan Eros yang seolah mampu memenjarakan hatinya sedemikian rupa.


Setitik bening pun jatuh ke lantai dibawah sana, kemudian disusul bening kedua, ketiga, dan seterusnya ...


Kedua bahu Bella terguncang, akibat tanggul pertahanannya yang telah roboh berantakan.


Bella merasa hatinya begitu hancur, menyadari betapa besar cintanya untuk Eros, yang bahkan tak bisa terbalaskan meskipun hanya sebesar butiran debu.

__ADS_1


'Bodoh ...'


'Bella Erlangga ... kamu benar-benar bodoh ...'


'Tolong, jangan lagi mencintai pria dihadapanmu ini ...'


'Tolong berhentilah sampai di sini, sebelum seluruh hatimu hancur berkeping-keping dan ...'


Puk.


Bella terhenyak ditempatnya berdiri, saat tersadar bahwa seluruh tubuhnya telah berada dalam sebuah pelukan yang menenangkan.


Rasa hangat yang pas ...


Aroma tubuh yang khas ...


"Berhenti. Tolong berhenti menghindar, dan jangan lagi menghilang ..."


Bisikan yang teramat sangat lirih itu seolah mengalun lembut di telinga Bella.


Begitu dekat, sampai-sampai hembusan napas hangat Eros terasa ikut menyapu permukaan kulit Bella, tempat dimana wajah tampan Eros terbenam di sana.


Bella berdiri mematung, masih sibuk menerka apa yang diinginkan Eros begitupun dengan makna pelukan yang semakin lama terasa semakin mengerat.


"Bell, Om Eros sayang sama Bella ..." bisik Eros lagi masih dengan wajahnya yang terbenam dicekungan leher Bella, diantara rambut Bella yang meriap.


"Bella juga sayang kok sama Om Eros ..." lirih Bella sambil menggigit bibirnya, menahan tangis yang semakin tak tertahan. "Tapi Bella janji, gak akan buat Om Eros susah lagi. Bella tau Om Eros gak bisa membalas perasaan Bella, Bella sadar Bella bukan wanita yang diinginkan Om Eros. Bella cuma mau bilang ... Bella sudah menerima semua itu ... Om Eros berhak bahagia ... Om Eros ..."


Mengambang.


Seluruh untaian perasaan dari lubuk hati Bella yang terdalam yang hendak Bella utarakan kini seolah tertelan kembali.


Sepasang mata bulat berbingkai bulu mata lentik milik Bella telah melotot sempurna, seolah benar-benar hendak loncat keluar.


Namun perlahan sorot mata bulat itupun lambat laun meredup ...


Semakin redup ...


Seiring dengan pergerakan bibir Eros yang semakin memperdalam pertautan diantara mereka yang terasa hangat ... Lembut ... Dan mendebarkan ...

__ADS_1


Bersambung ...


🧕: Ayooo gaskeuuuuunnn lagi yuk. Jangan lupa di Like, Comment, support terus, agar Author semakin semangat 🤗


__ADS_2