HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

Bukan Eros Rahadian namanya kalau bangun pagi adalah kebiasaannya.


Siapapun yang mengenal Eros pasti tau betul bagaimana siklus hidup pria tampan itu.


Bisnisnya yang sebagian besar berorientasi pada dunia malam membuat Eros sering begadang dan susah bangun pagi, karena Eros sendiri justru keseringan tidur di pagi hari.


Tapi hari ini mungkin merupakan satu dari pengecualian dalam kebiasaan harian seorang Eros Rahadian, karena jarum jam dinding yang bahkan belum sampai menunjukkan pukul tujuh pagi, namun bunyi berisik bel apartemen yang terus berbunyi selama kira-kira sepuluh menit tanpa jeda, sukses membuat Eros menyerah.


"Si al ... Siapa sih yang datang bertamu sepagi ini? Gak tau apa kalo ini jam tidur aku ...?" Eros ngedumel panjang pendek saat dengan langkah lesu ia menyeret langkahnya kearah pintu.


Dengan menempelkan sebelah matanya pada door viewer alias lubang intip yang ada di sana, dua alis Eros sontak mengerinyit menyadari siapa gerangan sosok yang berada tepat didepan pintu kamarnya, sambil menekan bel pintu terus-menerus bak orang gila!


Dengan perasaan kesal yang coba ia tekan, Eros pun akhirnya memutuskan untuk membuka pintu apartemen mewahnya itu.


"Akhirnya, mau juga kamu buka pintunya ..." ucap wanita itu datar, dengan raut wajah yang tak tertebak.


"Sepagi ini bertamu ke apartemen orang, apa pantas?" jawab Eros cuek, sambil menyandarkan tubuhnya dengan acuh dibingkai pintu.


Wajah Eros yang kusut masai khas orang yang super ngantuk itu sangat terlihat jelas, sehingga terkesan sangat tidak wellcome dan mengacuhkan kehadiran sang tamu tak diundang yang begitu nekad mengacaukan waktu istirahatnya yang berharga.


"Bicaramu itu sudah seperti kita ini orang asing aja ..."


Eros tak menjawab, hanya melipat kedua lengan di dada dan tetap bersandar dengan sorot mata sayu saking menahan kantuk yang masih sulit ia kendalikan.


Namun meskipun demikian, mendengar kalimat barusan sisi hati Eros tak urung tertawa sinis.


'Seperti orang asing ...?'


'He-eh, salah ... Seharusnya bukan seperti lagi, melainkan benar-benar orang asing ...!'


Eros membathin kesal.


Tamu tak diundang yang merupakan sosok wanita cantik itu adalah Anya, yang tak lain calon mantan istri Eros.


Kenapa dibilang calon mantan istri, yah karena saat ini Eros memang sedang mengusahakan untuk mengurus perceraian mereka secepatnya.


Kedatangan Anya ke apartemen Eros sebenarnya sudah Eros prediksi sejak awal, namun Eros sendiri tak menyangka jika respon Anya bisa secepat ini.


Bayangkan saja, Anya seolah tidak lagi punya kesabaran untuk menunggu waktu yang tepat tanpa harus mengganggu jadwal istirahat Eros, yang bahkan sesungguhnya Anya tau persis bahwa Eros pastinya masih tidur di jam segini.


"Eros."


"Hemm."


"Aku mau kita bicara."


"Aku gak mau."


"Erooosss ...!"


"Ya udah, ya udah, karena kamu maksa, katakan semuanya dengan cepat ..."


Sepasang mata Anya sontak terbelalak mendengar jawaban nyeleneh dari Eros.


"Jadi begini sikapmu sekarang sama aku?!" nada suara Anya terdengar naik satu oktaf, geram bukan kepalang, apalagi saat menyadari Eros tak kunjung mempersilahkan dirinya masuk, melainkan masih bersandar di bingkai pintu bak sebuah palang, seolah benar-benar tak menginginkan Anya melewatinya.


"Anya, hari masih terlalu pagi kalo kamu mau ngajak aku perang urat syaraf ..."


"Memangnya siapa yang mau ngajak bertengkar?!" pungkas Anya sok mengelak, padahal wajahnya sendiri sudah merah padam dipenuhi amarah. "Eros, dengerin ini baik-baik yah. Aku hanya mau kita bisa bicara baik-baik. Tapi kalo ngijinin aku masuk aja kamu keberatan, maka jangan salahin aku kalo tetangga apartemen kamu bisa ikut menikmati kegaduhan kita!"


Mendengar penuturan Anya yang berapi-api, mau tak mau pada akhirnya Eros pun mengalah dan menepikan diri.


Melihat sedikit celah yang diberikan oleh Eros untuknya, tanpa menyia-nyiakan kesempatan bergegas Anya melenggang masuk.

__ADS_1


Eros membuntuti langkah Anya tanpa kata, dan baru berhenti manakala langkah wanita itu juga telah berhenti dan kemudian berbalik badan menatap Eros dengan tatapan penuh.


"Aku gak ingin basa-basi lagi, Ros. Cukup katakan dengan jelas, apa yang membuat kamu ngirimin aku semua dokumen ini?"


Anya terlihat menghempaskan buntelan map yang sudah sejak tadi berada dalam pelukannya keatas meja kaca.


"Apa itu?" tanya Eros yang pura-pura blo'on


Anya menggeram kesal. "Kamu sendiri kan yang ngirim salinan dokumen gugatan perceraian itu. Jangan pura-pura gak ngeh deh ..."


"Oh ..." mendengar ucapan yang penuh kekesalan dari Anya, Eros pun mengulas senyum datar. "Lebih tepatnya bukan aku sih yang ngirim, tapi pengacara aku yang ngurus semuanya ..."


"Apa bedanya?" tantang Anya dengan berani.


Eros terlihat menatap Anya dengan takjub, lagi-lagi Eros dibuat heran dengan sikap Anya.


Entahlah ... Sesungguhnya alasan apa yang membuat Anya seolah tidak terima dengan gugatan cerai darinya, sementara wanita itu sendiri sudah hidup bersama pria lain sekian lama.


"Anya ... Kamu ini kenapa sih? Lagian menunda urusan perceraian kita sampai berlarut-larut memangnya untuk apa ...? Bukankah semua itu memang sudah seharusnya? Aku melakukan semua itu demi kamu juga loh ..."


"Demi aku?"


"Iya-lah demi kamu. Demi masa depan kamu, demi masa depan aku, demi masa depan kita berdua."


Anya terdiam. Namun sepasang matanya terlihat memerah saat menguliti Eros dengan penuh kebencian.


"Kamu memang sengaja ingin melakukan semua ini, kan?" desisnya dingin.


"Anya, Anya, kamu bahkan tau bahwa aku udah ngelakuin semua upaya ini sejak lama, tapi justru kamu yang selalu menunda ..."


"Sudah aku katakan aku sibuk!"


"Kalau begitu ya udah, urus aja kesibukan kamu dan lakukan semua aktifitas kamu. Nanti biar aku aja yang akan mengurus dan membereskan semuanya."


"Anya, jangan lupa. Gugatan ceraiku saat ini hanya akan menghasilkan sebuah dokumen perpisahan. Tapi secara agama, kita udah sah bercerai. Semua itu udah lama terjadi, karena aku udah menjatuhkan talak, tepat setelah kamu memilih pergi dengan Beni ..."


Wajah Anya terlihat merah padam. Tapi sifat keras kepalanya menolak untuk mengalah kepada Eros begitu saja.


"Bagaimana kalo aku gak setuju?" tantang Anya sambil menatap Eros dengan gayanya yang pongah.


"Aku yang menggugat, dan aku gak butuh persetujuan kamu. Kata pengacaraku, beliau mampu menyelesaikan semua prosesnya kurang dari tiga bulan."


"Eros, kamu ..."


"Selama beberapa tahun terakhir kamu udah tinggal seatap dengan pria lain, dan semua orang juga tau itu. Bagi aku, bukan hal yang sulit untuk menyelesaikan semua hubungan diantara kita ..."


Eros bahkan tak mengerti mengapa Anya terlihat berang. Sudah jelas-jelas wanita itu sudah bersama pria lain, lalu apa alasannya tidak ingin berpisah secara sah?


Mendapati kenyataan tersebut membuat Eros tak habis pikir dengan jalan pikiran Anya.


Pada dasarnya Anya memang tipikal wanita egois, yang hanya ingin membelenggu hidup Eros dan tak rela melihat Eros bahagia.


Anya terlihat sangat menikmati keberadaannya yang masih leluasa berseliweran dalam kehidupan Eros, menikmati semua kebaikan Eros, bahkan masih mengambil andil dalam merecoki privacy Eros dengan beberapa wanita yang pernah sempat dekat.


Tapi kali ini, tekad Eros tak lagi goyah.


Pasca terikrarnya hubungannya dengan Bella, seolah membuat Eros berbulat hati untuk menaruh Anya pada kedudukan wanita itu yang sesungguhnya.


Bertekad memperjuangkan cintanya untuk Bella sampai akhir, sama artinya Eros harus siap menyingkirkan satu per satu penghalang yang ada di depan mata.


Untuk itulah Eros telah melakukan debut pertamanya, dengan berusaha mengakhiri segalanya yang berhubungan dengan Anya.


"Baiklah, kalo begitu katakan siapa wanita yang membuat kamu seperti ini, Ros?"

__ADS_1


"Gak ada."


"Katakan ..."


"Gak ada."


Anya menyeringai, jelas terlihat ketidakpuasan atas jawaban Eros yang seolah tidak ingin melibatkan siapapun dalam perkara mereka.


"Melihat kamu seperti ini, itu membuat aku makin yakin kalo hubungan kamu dengan Bella pastinya udah berkembang jauh ..."


"Jangan mengada-ngada."


"Udah sampai mana?"


"Anya, tolong jangan melewati batas."


"Bodohnya aku masih bertanya. Hubungan kalian pasti udah jauh banget. Iya kan ...?"


"Jangan sotoy ..."


"Dengan sikap dan sifat Bella yang kecentilan, emangnya pria mana yang tahan digoda ...?"


"Anya, please ... Kenapa sekarang kamu malah ngejelekin Bella?" pungkas Eros, yang pada akhirnya tak tahan juga mendengar Bella direndahkan oleh Anya begitu rupa.


"Ciee, belum apa-apa udah di belain aja ..."


"Bukan gitu, An ..."


"By the way, Ros, kamu yakin nih masih kuat ngimbangin stamina remaja kayak Bella diatas ranjang ...?"


"Anya!!!"


Eros benar-benar tak tak tahan lagi. Kali ini batas kesabarannya nyaris sampai di titik akhir.


Penilaian buruk Anya tentang Bella saja sudah membuat Eros emosi, ditambah lagi Anya menyentil dan meragukan keperkasaannya!


'Kurang a jar kamu, Anya. Kamu aja gak pernah kuat melayani aku di ranjang, sekarang malah dengan entengnya memandang sebelah mata ...!'


Eros geram bukan main.


"Pergi." ucap Eros dingin, lengkap dengan sorot matanya yang tak kalah dingin.


"Kamu ngusir aku, Ros?" Anya menatap Eros tak percaya.


"Belum tuli, kan?"


Mendapati kesungguhan di wajah Eros yang mulai mengeras, membuat Anya tersenyum kecut.


"Jangan sampai aku menemukan bukti kebersamaan kalian yah. Karena kalo aku menemukan buktinya, aku bersumpah ... Akan aku buat kamu hancur dihadapan Biyan dan Rania!"


"Aku bilang PERGI!"


Akibat ancaman gila Anya, suara Eros pun terdengar menggelegar penuh amarah, sampai-sampai Anya dibuat terjingkat.


Anya kaget bukan main, karena baru kali ini Eros memperlakukan dirinya sekasar ini, bahkan sampai mengusirnya.


"Fine ..." desis Anya, masih diliputi perasaan tak rela untuk mengalah.


Pada akhirnya Anya memilih benar-benar berlalu dari hadapan Eros menuju pintu keluar, dengan kedua lutut yang bergetar samar.


Sesungguhnya Anya memang belum puas karena belum menemukan titik kelemahan Eros, namun disisi lain ia juga tak berani bertahan lebih lama, saat menyadari Eros telah berada di puncak amarah, yang tak pernah ia lihat sebelumnya ...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Like, Comment, Gift, and Vote, please. Lophyuuupulll, my reader 🥰


__ADS_2