
"Itu sudah jelas-jelas pesawatnya masih ada, Bu ..." Biyan berucap nyaris putus asa, sambil menunjuk dinding kaca dibelakang sang petugas bandara.
"Maaf, Pak, pesawatnya memang masih ada, tapi saat ini sedang dalam persiapan take off. Lagipula kenapa bapak datangnya sangat terlambat? Waktu check in bahkan sudah ditutup lebih dari satu jam yang lalu ..."
Sepasang mata Biyan langsung melotot sempurna menerima penjelasan keukeuh dari petugas bandara dalam menjawab pertanyaannya yang tak kalah ngotot.
Bandar udara MNA memang sangat kecil, sehingga Biyan bahkan bisa melihat bahwa satu-satunya pesawat komersil bertipe ATR yang biasanya melayani penerbangan ke wilayah perbatasan itu jelas-jelas masih berada di bandara, namun sialnya petugas bandara telah menolak Biyan mentah-mentah, yang nekad dilayani meskipun ia sendiri juga tahu bahwa kedatangannya yang terlambat semata-mata merupakan kesalahannya sendiri.
"Nah, coba bapak lihat itu ... Sekarang pesawatnya benar-benar sudah mau take off kan ...?" ujar sang petugas itu lagi sambil menunjuk kearah dinding kaca yang berfungsi sebagai pengganti tembok sekat.
Benar saja, pemandangan pesawat ATR yang seharusnya ditumpangi Biyan itu kini memang telah bergerak perlahan, hendak menuju landasan pacu.
'Sial ...'
Biyan mengumpat dalam hati, begitu dirinya yakin usahanya mengejar penerbangan di siang ini akhirnya gagal total.
"Baiklah kalau begitu, Bu, permisi ..."
Merasa tak lagi memiliki harapan akhirnya Biyan berbalik lesu sambil menenteng travel bag berukuran kecil miliknya.
Sesungguhnya semua kesialan yang terjadi pada Biyan hari ini memang tak bisa ia salahkan kepada siapapun, karena merupakan keteledoran Biyan sendiri.
Biyan telah salah melihat jam dari yang tertera sebagai jadwal flight pesawat yang hendak ia tumpangi sebagai jadwal check in, sehingga berimbas pada dirinya yang ketinggalan pesawat.
Penerbangan dengan rute kota MNA ke kota M memang hanya terjadwal tiga kali dalam seminggu, dan itu artinya Biyan harus rela menunggu dua hari lagi untuk kembali mendapatkan jadwal penerbangan berikutnya.
Biyan pun melangkah lesu keluar dari bandara kota MNA, sedang menimbang apakah dia harus menelpon kembali manager proyek yang bertanggung jawab dalam proyek miliknya dan meminta untuk dijemput, atau memilih menuju hotel kecil sekelas motel dengan lokasi terdekat dengan bandara.
Bayangkan saja, kota kecil yang merupakan lokasi proyek yang sedang ia tangani saat ini bahkan belum memiliki satu pun hotel bintang lima.
Untung saja bagi Biyan yang sudah terbiasa hidup pas-pasan sebelum perekonomiannya menanjak pesat, segala keterbatasan yang ia temui di kota kecil ini pada akhirnya menjadi tidak begitu berarti.
Sesaat kemudian Biyan telah melangkahkan kakinya kesebuah cafe yang masih berada di seputaran area bandara, letaknya tak jauh dari terminal kedatangan penumpang.
Biyan berniat untuk ngopi sejenak sambil melakukan lagi transaksi booking tiket pesawat sekaligus hotel terdekat dengan bantuan layanan aplikasi online yang ada di ponselnya, memilih untuk tidak lagi merepotkan sang manager proyek yang selama hampir seminggu ini selalu menemani kemanapun Biyan melangkah.
Jarak antara bandar udara dengan lokasi proyek milik Biyan memang terbilang cukup jauh, sehingga Biyan merasa kasihan juga jika ia kembali minta dijemput.
Lagian, Biyan kan hanya perlu menunggu sehari sebelum keesokan harinya kembali bisa mendapatkan penerbangan dengan maskapai yang sama agar bisa pulang ke ibukota.
__ADS_1
"Ini kopinya, Pak, silahkan ..."
Kehadiran seorang waitress yang membawa nampan berisi kopi hitam pesanan Biyan pun sontak mengusik keseriusan Biyan yang sedang sibuk mengutak-atik ponsel ditangan.
"Oh, iya, terima kasih ..." jawab Biyan sambil tersenyum tipis kearah sang waitress yang kemudian mengangguk dan langsung undur diri.
Biyan yang baru saja hendak berniat menyeruput kopi hitam miliknya itu mendadak urung begitu ekor matanya yang tak sengaja mengembara justru menangkap sebuah pemandangan mencengangkan yang ada disudut cafe yang lenggang.
"Ayu ...?" desis Biyan nyaris tak bisa mempercayai penglihatannya sendiri.
Biyan buru-buru menaruh cangkir kopi yang belum sempat ia seruput, memilih kembali menajamkan pandangannya pada sosok gadis yang duduk sendirian disudut cafe dengan wajah terpekur murung.
Sesekali jemari gadis itu terangkat mengusap pipinya sendiri, jelas menandakan bahwa gadis itu pasti sedang menangis.
Tak bisa menahan rasa penasarannya lebih lama setelah lama memicingkan mata bahkan menguceknya berkali-kali, Biyan akhirnya memutuskan untuk beranjak mendekati gadis itu, hendak memastikan apakah benar sosok yang ia lihat saat ini adalah Ayu.
Ayu yang merupakan sahabat terbaik Bella, putri semata wayangnya ...
Ayu yang merupakan satu-satunya wanita yang telah berhasil membuat Rania sang mantan istri menjadi cemburu buta ...
Ayu yang entah kenapa akhir-akhir ini terus mengusik pikiran Biyan bahkan sampai-sampai terbawa kedalam mimpi-mimpi liarnya ...
Kepala Biyan menggeleng kuat-kuat, sengaja mengusir pening yang selalu mendera, acap kali wajah polos bermata indah milik Ayu mulai menginvasi otak kotornya.
Kini langkah Biyan terhenti, hanya berjarak kurang dari dua meter, namun kehadiran Biyan ternyata belum juga disadari oleh gadis yang kini Biyan bahkan bisa melihatnya dengan jelas bahwa kedua bahu mungil itu sedang turun-naik tak beraturan, oleh karena isak tangis tertahan yang menandakan kesedihan yang mendalam.
Biyan mematung ditempatnya, belum tahu apa yang harus ia lakukan dan ia putuskan, saat semuanya terasa jelas di pandangan matanya.
Jantung Biyan berdegup kencang, perasaannya membaur begitu rupa.
Kaget bercampur heran, juga bingung bercampur setitik rindu.
Yah, gadis yang sedang terisak itu memang Ayu.
Ayushita Melani.
Tapi kenapa Ayu bisa tiba-tiba berada di kota kecil ini ...?
Kenapa pula gadis itu kini duduk menyendiri sambil menangis ...?
__ADS_1
Apa yang terjadi ...?
Pikiran Biyan semakin buntu, namun semua itu tak mampu menghalangi langkahnya untuk surut.
"Ayu ..."
Panggil Biyan lirih, yang meyakini seribu persen, bahwa gadis yang sedang terisak itu, memang benar Ayu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apakah ini mimpi ...?
Oh my ...
Ayu benar-benar terhenyak, manakala menyadari sebuah suara berat yang memanggil namanya berasal dari pria yang kini tengah berdiri kokoh tepat dihadapannya yang sedang berurai air mata.
"Om Biyan ...?" bibir Ayu bergetar lirih, tatapannya nanar menyaksikan pergerakan sosok yang selalu ia rindukan siang dan malam itu kini beringsut mendekat dan duduk tepat disampingnya.
"Astaga Ayu ... Ternyata benar kamu ..."
Ekspresi Biyan yang kaget setengah mati atas pertemuan yang tak terduga itu tak jauh berbeda dengan reaksi Ayu, yang juga tak menyangka bisa bertemu Biyan hari ini, tepat di saat suasana hatinya sedang kacau balau seperti ini.
"Ay, kenapa kamu bisa ada di sini? Kenapa kamu menangis? Apa yang terja ..."
Bugh.
Mengambang.
Biyan tertegun menyadari tubuh mungil milik Ayu kini telah memeluk tubuhnya utuh, namun naluri secara alami telah menuntun kedua lengan kokoh Biyan langsung terangkat bersamaan, guna membalas merengkuh tubuh mungil Ayu yang bergetar hebat dalam pelukannya.
Sementara Ayu sendiri tak menyangka, jika dorongan hatinya telah membuat tubuhnya bereaksi diluar kendali sehingga bergerak secepat peluru dan menabrak tubuh kekar Biyan yang wangi.
Saat ini Ayu masih tersedu dalam pelukan Biyan, yang memeluk Ayu tanpa kata.
Untuk sesaat udara disekitar mereka seolah mati ...
Semuanya terasa sangat hening ...
Hanya terdengar irama dari dua detakan jantung yang memacu dari bilik masing-masing ...
__ADS_1
Bersambung ...