HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
KARMA


__ADS_3

"Yu ... Ayu tuh jangan dulu berpikir yang macem-macem, apalagi menyimpulkan yang enggak-enggak. Bisa jadi Biyan itu sengaja gak ngasih tau Ayu dulu, karena pengen ngomong langsung perihal keberangkatannya yang mendadak ..."


Suara Ibu Arum yang seolah paham bahwa putrinya sedang menyimpulkan berbagai argumen didalam benaknya, seolah ingin menepis segala macam pemikiran yang bercokol dibenak Ayu.


"Tapi kan kata Ibu tadi, Om Biyan mau ke Bandara malam ini juga ..."


"Iya emang, tapi waktu nelpon Ayah, Biyan jelas-jelas ngomong kalo dia lagi dijalan mau pulang ke rumah dulu buat siapin baju sama keperluan lainnya. Ya pastinya juga buat ngasih tau Ayu langsung. Iya kan?"


Ayu terdiam mendengar penjelasan ibunya yang begitu detail.


"Udah, Yu, gak boleh ngambek-ngambek kayak gitu. Percaya deh sama Ibu, kalo Biyan pasti bakal membicarakan semuanya, gak mungkin main pergi diam-diam tanpa pamit ke istrinya ..."


Ayu menghempaskan napasnya perlahan, mencoba menata kembali hatinya yang agak berantakan saat mendengar rencana kepergian Biyan yang mendadak.


"Iya, Bu, Ayu gak ngambek kok ... Ayu cuma ..."


Mengambang.


Entah kenapa rasanya malu juga kalau mau mengakui dengan jujur bahwa pada kenyataannya Ayu sedih karena Biyan akan berangkat keluar kota, dan itu artinya Ayu akan kehilangan sosok Biyan yang pastinya akan membuat dirinya kangen berat ... Entah untuk berapa lama.


"Tadi Ayah juga sempat nanya, kalo Ayu ikut apa enggak. Tapi kata Biyan, sekarang Ayu kan lagi ujian, seandainya gak ujian, Biyan mau juga kok ngajak Ayu pulang nengokin Ayah sama Ibu lagi. Gitu katanya ..."


"Emang Om Biyan bilang gitu, Bu?" usut Ayu rada ge-er, mengetahui Biyan bahkan punya niat untuk membawa serta dirinya, kalau saja tak terhalang dengan UAS alias Ujian Akhir Semester yang belum selesai.


"Hhemm. Kata Ayah sih begitu. Kan tadi ngobrolnya sama Ayah bukan sama Ibu ..."


Ayu merasa sangat bahagia mendengarnya. Karena meskipun tidak mendengar secara langsung dari mulut Biyan, namun Ayu yakin seribu persen baik Ayah maupun Ibu tidak mungkin mengarang cerita.


"Ya udah, kalo gitu Ayu mau nunggu Om Biyan pulang ke rumah ..." jawab Ayu, kali ini nada suaranya telah kembali seperti semula, karena dirinya yang juga mau mencoba berpositif thinking.


"Yu ..." panggil Ibu Arum setelah sejenak terdiam mendengar nada suara Ayu yang telah kembali ceria.


"Iya, Bu?"


"Mmmm, anu ... Ibu boleh nanya sesuatu gak?" ujar Ibu Arum lagi, agak meragu.


"Mau nanya apaan, Bu?"

__ADS_1


"Itu ... Anu ... Ayu kok masih manggil Biyan dengan panggilan 'Om Biyan' terus sih? Kan itu gak baik, Yu ... Gak sopan juga ..."


Ayu terdiam sejenak mendengar teguran Ibunya yang nyata dan tak disangka-sangka.


"Mmmm ... Gimana ya, Bu, habisnya Ayu udah terbiasa manggil begitu ..."


"Makanya jangan dibiasakan dong, Yu ..."


"Tapi kan Om Biyan juga gak keberatan kok ..." kilah Ayu perlahan.


"Dengerin Ibu yah, Ayu. Meskipun Biyan gak keberatan Ayu mau menyapanya dengan panggilan apa aja, tapi kan tetap aja hal itu gak baik, Nak. Ingat Ayu, Biyan itu suami Ayu. Masa manggilnya malah 'Om' terus ..."


Ayu kembali tercenung. Bingung harus menjawab apa.


Untuk beberapa saat lamanya pembicaraan antara Ibu dan anak itu terjeda, karena sepertinya Ibu Arum juga sengaja memberikan Ayu kesempatan, untuk memikirkan nasihatnya sebagai orang tua.


"Oh iya, Yu, Ibu ada mau ngomong sesuatu juga sama Ayu." sela Ibu Arum setelah beberapa saat hanya ada keheningan.


"Emangnya mau ngomongin apa sih, Bu?" tanya Ayu, lagi-lagi kepo dengan topik pembicaraan Ibunya.


Alis Ayu mengerinyit mendengar ucapan Ibunya yang kali ini terucap dengan nada hati-hati, bahkan volume suara Ibu Arum juga sepertinya telah berubah mengecil bak orang yang sedang berbisik.


"Ada apaan sih, Bu? Kok Ayu jadi ikut deg-degan yah ...?"


"Begini Yu, Ibu sama Ayah barusan ngobrol, ternyata ada hikmahnya juga Ayu nikah sama Biyan, dan bukannya dengan Haris ..." bisik Ibu Arum lagi sangat lirih, seolah khawatir jangan sampai cicak yang nemplok di dinding pun bisa ikut mendengar ucapannya.


Alis Ayu sontak makin mengerinyit karena masih belum ngeh dengan arah ucapan Ibunya.


"Maksud Ibu apaan sih ...? Kenapa sekarang Ibu malah ngomongin tentang Kak Haris segala ...? Lagian kalo di pikir-pikir Ayu gak jadi nikah sama Kak Haris bukan karena apa dan kenapa, tapi karena takdirnya kita berdua emang gak berjodoh aja ..." kilah Ayu panjang lebar.


Helaan napas Ibu Arum terdengar jelas diseberang sana. "Ibu ngerti kok, kalo pada dasarnya kalian emang gak berjodoh. Tapi maksud Ibu mengatakan semua itu gak lepas dari insiden sore tadi, di mana ada kejadian menghebohkan yang bisa dibilang telah menjadi sebuah musibah yang menimpa keluarga Juragan Ibrahim, sekaligus mencoreng nama baik keluarga mereka nyaris gak bersisa ..."


Ayu terhenyak mendengar kalimat pembuka yang berisikan informasi tersebut. "Emangnya ada apa sih, Bu? Juragan Ibrahim sakit lagi ...?"


"Iya, Yu, Juragan Ibrahim sakit lagi. Beliau kembali terkena stroke, akibat kedatangan seorang wanita yang mengaku sedang hamil enam bulan dan meminta pertanggung jawaban Haris. Naasnya wanita itu datang bersama dengan seorang pria yang mengaku saudara laki-laki wanita itu, dan pria itu pun langsung membuat kekacauan di rumah keluarga Juragan Ibrahim. Haris dituduh telah mempermainkan adiknya, kemudian setelah itu malah melarikan diri dari tanggung jawab ..."


Ayu menutup mulutnya yang sontak ternganga, seolah tak bisa percaya dengan informasi yang baru saja dikemukakan Ibu Arum.

__ADS_1


'Bagaiamana mungkin pria yang terlihat alim seperti Kak Haris malah tega melakukan hal sekeji itu pada seorang wanita ...?'


'Menghamili seorang wanita ... Astaga ... Astaga ... Rasanya Ayu masih sulit untuk percaya ...'


Bathin Ayu berkecamuk, namun tak bisa dipungkiri kalau di sisi lain Ayu juga merasa lega, karena pada kenyataannya ia tak jadi menikah dengan Haris.


"Ibu jadi kasian sama Juragan Ibrahim dan istrinya, mereka terlihat sangat terpukul karena harus menerima kenyataan pahit sekaligus gunjingan semua orang, akibat perbuatan Haris yang sama sekali gak disangka-sangka ..."


Ayu merasa tak lagi mampu berkata-kata, seolah seluruh perbendaharaan kata yang ia punya semuanya hilang tak berbekas.


Masih jelas dalam ingatan Ayu saat tragedi penggerebekan dirinya dan Biyan di sore itu.


Sikap Haris yang begitu gencar melayangkan serentetan penolakan untuk tidak mau lagi mengakui Ayu sebagai calon istrinya, yang disertai dengan berbagai tuduhan menyakitkan dan melebih-lebihkan atas sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar terjadi di antara Ayu dan Biyan.


Semua sikap Haris di waktu itu seolah menggambarkan betapa suci dan lurus seorang Haris di mata semua warga.


Kemudian kini kejadian tersebut seolah berbalik menjadi sebuah karma, manakala pada akhirnya pria itu dipermalukan oleh takdir dengan kehadiran seorang wanita yang datang dengan membawa sejuta bukti kebejatan sifat Haris yang sesungguhnya.


Tuhan maha adil.


Begitu pun dengan karma baik dan karma buruk, pasti akan terjadi ...!


Seperti itulah kenyataan, yang harus dihadapi setiap insan diatas muka bumi ini, yang seharusnya selalu siap menerima balasan dari apapun perbuatannya di dunia.


"Udahan dulu telponnya yah, Yu, soalnya Ibu harus bantu Ayah nyiapin barang-barang yang mau dibawa ..."


"Emangnya Ayah mau kemana, Bu?" usut Ayu.


"Rencananya sih Ayah mau nungguin Juragan Ibrahim di Rumah Sakit, Yu. Kasihan juga kan kalo istrinya Juragan yang harus nungguin, karena sebenarnya istri Juragan juga sempat shock menghadapi semua insiden yang terjadi, apalagi saat memikirkan keberadaan Haris yang sampai detik ini gak tau di mana rimbanya ... Seolah hilang tertelan bumi ..."


Lagi-lagi Ayu terhenyak dalam diam, menyadari betapa pengecutnya Haris yang justru memilih lari dari kenyataan, ketimbang harus bertahan dan menghadapi semua persoalan dengan berani ...


Juga lapang dada ...


Bersambung ...


🧕 : Jangan lupa terus di support karya ini yah ... 🤗

__ADS_1


__ADS_2