HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
ISTIMEWA


__ADS_3

"Bella ngerti kok, Om, memang sudah selayaknya Bella lebih berhati-hati dan lebih bersabar kali ya ..." angguk Bella seraya mencoba mengembalikan senyumnya yang tadi sempat hilang. "Udah akh, yang paling penting sekarang Bella bisa bareng terus sama Om Eros, bisa meluk-meluk Om Eros, bisa cium Om Eros juga ..."


Usai berucap demikian tanpa sungkan Bella langsung mencondongkan tubuhnya kearah Eros yang sedang menyetir, menyandarkan tubuhnya di sana dengan kedua lengan yang melingkar manja di lengan kekar Eros.


Mendapati kemanjaan Bella tersebut, Eros menarik napasnya lega.


Untuk hal ini Eros memang cukup optimis, karena Eros tau persis sifat Bella yang survive sekaligus easy going pastinya mampu memahami maksud hati Eros tanpa perlu Eros capek-capek menjelaskannya secara rinci.


"Lagian Om Eros pastinya juga khawatir kalo kepergok orang yang kenal, trus ngasih tau ke mama atau papa. Iya kan, Om ...? Ngaku deh ..."


Kerlingan manja Bella terlihat dipenuhi unsur kejahilan.


Eros tertawa kecil mendengar tuduhan itu.


Tak bisa dipungkiri bahwa untuk yang pertama kalinya, Eros merasa bahwa sosok Biyan telah menjadi pria yang berkali-kali lipat paling ia takuti saat ini.


Dan jujur saja, hingga detik ini jangankan menemukan solusi yang tokcer untuk memenangkan hati Biyan agar mau menerima dan merestui dirinya kelak, mencari cara untuk menyampaikan hubungannya dengan Bella saja, Eros belum punya keberanian.


"Jadi benar nih Om takut sama Papa ...?" saat berucap, wajah Bella telah dipenuhi ejekan kearah Eros.


Sontak Eros menggeleng cepat. "Bukan takut sih, Bell, tapi segan ..."


"Alaaaahh, bilang aja takut, Om. Pake istilah segan segala ..." Bella cekikikan mendapati wajah ngeles Eros yang terlihat lucu dimatanya.


Lagi-lagi Eros hanya bisa menanggapi celotehan Bella dengan terkekeh kecil.


Takut kepada Biyan ...?


Tentu saja!


Lagian bagaimana mungkin Eros tidak takut menghadapi pria seumuran dirinya, yang putri semata wayangnya telah nekad ia pacari bahkan ia janjikan sebuah masa depan yang tidak main-main endingnya.


"Papa kapan balik, Bell?" tanya Eros, menyudahi berbagai lamunannya yang dipenuhi oleh sosok sahabatnya itu.

__ADS_1


"Seharusnya kemarin, Om, tapi Papa malah ketinggalan pesawat dan harus beli tiket baru lagi. Kayaknya sih besok malam udah nyampe rumah ..."


Eros manggut-manggut, kemudian dengan kedua tangannya yang masih sambil menyetir, sepasang mata Eros mengerling sejenak kearah Bella yang juga tatapannya sedang mengarah ke jalanan yang mulai temaram.


"Tadi kasih alasan apa ke Mama sampai dibolehin ke kampus gak pake mobil ...?" usut Eros lagi.


"Oh, itu ... Bella sengaja minta tolong Steve buat jemput Bella, biar kita bisa ke kampus barengan dan Mama gak curiga ..."


"Steve lagi ... Steve lagi ..."


"Uuuhhtayaaaanggg ... Jangan cemburu gitu dong ..." Bella menguyel-nguyel lengan Eros sambil membenamkan wajahnya di sana dengan gemas.


"Gimana gak cemburu, Bell, perasaan apapun yang menyangkut kamu pasti nyangkut juga sama si tengil itu ..." desis Eros keki, terlebih saat seraut wajah baby face milik Steve melintas di benak Eros.


"Udah ih, gak usah cemburu gitu. Om tenang aja, Bella itu bukan tipe-nya Steve juga kali ..."


Sepasang mata Eros melotot mendengar pernyataan Bella yang penuh keyakinan.


Tentu saja Eros tak percaya, karena selagi Steve merupakan pria yang normal, mana mungkin gadis se-cantik Bella bukan tipenya si tengil itu ...?


Tawa Bella langsung pecah begitu saja mendengar kesimpulan Eros tentang Steve yang rada horor.


"Om Eros ... Gak gitu juga kali konsepnya ... Kok bisa Om Eros nyimpulin kayak gitu ... Ha ... Ha ... Ha ..."


Bella ngakak gila-gilaan, sampai-sampai tinju kecilnya ikut memukul lengan kekar Eros berkali-kali, saking absurdnya pernyataan Eros tentang Steve.


"Yeee ... Lagian kalo dia normal mana mungkin dia gak naksir kamu, Bell? Udah picek kali mata dia ..." tuduh Eros semakin sengit, karena kecemburuannya yang tak ditanggapi Bella sama sekali, sebaliknya malah diketawain!


"Ya udah deh, Bella kasih bocoran dikit yah biar Om Eros tenang dan percaya ..." ucap Bella kalem.


"Apaan?"


"Tentang Steve."

__ADS_1


"Iya, apaan?" sungut Eros semakin tak sabar.


"Steve itu udah punya gebetan, Om ... Jadi gak mungkin Steve naksir Bella. Orang dianya aja juga sering curhat ke Bella kok tentang perasaannya yang terpendam sama gebetan dia ..."


"Cewek, cowok?" usut Eros lagi, rada kepo.


"Cewek lah ... Masa cowok sih ..."


"Yang bener?"


"Iyyyaaaa, Om ..."


"Jadi serius Steve gak naksir kamu, Bell?"


"Enggak lah. Dua rius juga Bella berani bertaruh ..."


"Ya udah, syukur deh kalo emang kayak gitu. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya deketin kamu yah, Bell ..."


Bella tertawa lagi mendapati kalimat Eros yang penuh kewaspadaan tinggi.


'Om Eros ternyata posesive juga orangnya ...'


Memikirkan hal itu bathin Bella berbunga-bunga. Rasanya bahagia banget bisa dicemburui ayank sampe segitunya.


"Tenang aja, Om, mau Steve atau cowok manapun gak ngaruh deh sama Bella ... Kan cinta Bella hanya untuk Om Eros seorang ..."


Eros mesem-mesem mendapati gombalan receh Bella yang semanis madu.


Namun meskipun demikian Eros tak bisa memungkiri, bahwa disudut hatinya ada kebahagiaan yang tak bisa terkatakan.


Bahkan kalau boleh Eros berkata jujur, baru kali ini Eros merasakan perasaan se-indah itu ... Se-istimewa itu ...


Bersambung ...

__ADS_1


🧕: Please, support semua karya author yah 🙏


__ADS_2