HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
AKAN TERUS MENGGENGGAM


__ADS_3

"Gimana, Bell? Kepalanya masih pusing?"


Itu adalah kalimat pertama Eros saat menyapa Bella pagi ini.


Dasarnya Bella memang sudah cantik dari sononya, Eros bisa melihatnya dengan jelas, bagaimana seraut wajah Bella yang meskipun terlihat kusut masai penuh beban, mata bengkak menandakan habis menangis juga kurang tidur, tak ketinggalan rambut awut-awutan karena masih bergelung malas dibawah selimut, namun cahaya kecantikan gadis itu yang begitu natural tak serta merta luntur.


Dipermukaan layar ponsel milik Eros, gelengan kepala Bella terkesan letih lesu. "Udah, Om, udah ilang kok ..."


"Syukur deh kalo gitu. Semalam Om bahkan gak bisa tidur nyenyak karena mikirin Bella terus ..." pungkas Eros kemudian.


Kenyataannya Eros bukannya tidak bisa tidur nyenyak, melainkan tidak bisa memicingkan matanya sedetik pun diakibatkan Bella yang mengadukan perihal pertengkarannya dengan Rania.


Sesungguhnya Eros sangat menyesal, kenapa semua itu bisa terjadi, sementara Eros sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.


Semalam penuh Eros juga sudah berusaha menelpon Biyan, namun nomor ponsel sahabatnya itu selalu saja tidak aktif.


"Bell, Om udah memikirkannya semalaman, mungkin udah saatnya kali Om jujur ke orang tua Bella ..."


"Tapi kan putusan cerai Om sama Tante Anya belum keluar. Bukannya Om sendiri yang bilang kalo sebaiknya nunggu akta cerai dulu, baru mau ngomong jujur ke Papa sama Mama ...?"


"Rencana awalnya sih begitu, Bell. Tapi mau gimana lagi kalo udah ketahuan begini? Masa iya Om harus diem aja?" kemudian Eros mengusap wajahnya yang kalut sambil mendesis. "Semua ini pasti perbuatan Anya nih ... Benar-benar gak bisa dikasih hati perempuan itu ..."


"Emang perbuatan Tante Anya kan, Om? Emangnya dari mana lagi Mama bisa dapetin foto sama rekaman vidio itu kalo bukan dari Tante Anya ...?"


Diujung sana Eros tampak sedang memijat kedua alisnya. "Bell, Papanya Bella masih belum bisa dihubungi yah ...?"


"Belum, Om. Makanya Bella takut kalo udah keduluan sama Mama Rania yang ngomong macem-macem ..."


Lagi-lagi Eros memijat kedua alisnya. Serba salah dengan keadaan yang menderanya, tapi apa boleh buat, yang bisa dilakukan Eros saat ini hanyalah bersabar dan menunggu Biyan.


Intinya, apapun yang terjadi ... Eros tak lagi punya pilihan untuk mengelak. Karena itulah Eros bertekad untuk menghadapi sahabatnya itu, tak peduli apapun resiko yang akan ia terima kelak.


"Bell, untuk yang terakhir kali Om mau nanya ke Bella, tapi pleaseee ... Bella jawabnya yang jujur yah ..."


Diseberang sana kepala Bella terlihat mengangguk. "Mau nanyain apa, Om?"


Eros menatap wajah kekasih belianya itu lamat-lamat, kemudian sambil menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya Eros pun menguatkan tekad untuk menanyakan satu hal penting yang bisa jadi akan menjadi penentu langkahnya untuk masa depannya, juga masa depan Bella.


"Bell ..." panggil Eros dengan nada suaranya yang berat.

__ADS_1


"Iya, Om?"


"Sekali lagi tolong Bella jawab yang jujur yah ..."


Kepala Bella terangkat begitu sadar akan nada suara Eros yang terdengar sangat serius.


"Om Eros mau nanyain apa sih?"


"Gini, Bell ... Untuk yang terakhir kalinya Om ingin tau dengan sebenar-benarnya. Apa Bella yakin mau serius sama Om dan ..."


"Jadi Om masih gak yakin juga sama perasaan Bella?" pungkas Bella secepat kilat, bahkan sebelum kalimat Eros benar-benar selesai.


"Bukan gitu, Bell ... Bukan Om gak yakin. Tapi Om ingin jawaban final untuk yang terakhir kalinya. Tolong Bella pikirin baik-baik, karena keputusan Bella penting buat Om ..."


"Lalu Bella harus apa biar Om percaya? Bella gak main-main, Om, Bella sayang banget sama Om ... Bella gak bisa kalo gak sama Om ... Hiks ... Hiks ..."


Tanggul pertahanan Bella ambrol lagi, derainya seolah mengiringi setiap kata yang meluncur dari bibir Bella yang bergetar.


Melihat pemandangan Bella yang terisak hebat seperti itu, untuk yang kesekian kalinya perasaan Eros langsung luluh.


"Sssstt ... Udah, Bell, udah ... Jangan nangis dong ..." bujuk Eros yang merasa semakin dipenuhi rasa bersalah, sekaligus panik melihat Bella yang sesegukan diseberang sana.


"Bukan ragu, Bell, tapi Om juga kan butuh kepastian ..."


"Kepastian apa lagi sih, Om? Om Eros mau suruh Bella mendaki gunung, melewati lembah, sungai yang mengalir indah ke samudera ...? Ya ayok, Om, Bella jabanin semuanya biar Om percaya ...!" pungkas Bella lagi masih dengan air mata yang berlinang, namun malah membuat Eros melongo mendengar struktur kalimatnya yang terdengar familiar.


"Bell, kok ... Itu ... Kalimat mendaki gunung, melewati lembah, sungai yang mengalir indah ke samudera ... Kok kayak lagunya Ninja hattori sih ...?" ungkap Eros agak ragu.


"Emang nyatut dari situ, Om ...! Hiks ... Hiks ..." tukas Bella galak.


"Apaaa ...?"


"Hiks ... Hiks ..."


Eros benar-benar melongo mendapati tingkah Bella, yang anehnya masih bisa fokus terisak-isak di saat tawa Eros nyaris dibuat meledak mendapati keabsurdan gadis itu.


'Dasar Bella ...! Bisa-bisanya dalam situasi melow begini malah berkata-kata puitis tapi nyatut lirik lagu Ninja Hattori ...!'


'Emang kocak! Bella ... Bella ...'

__ADS_1


Eros tak habis pikir tentang betapa lucunya Bella, gadisnya yang menggemaskan.


"Ya udah, Bella gak usah nangis lagi yah, Om percaya kok perasaan Bella tulus, dan Om juga janji akan menyelesaikan semua persoalan kita. Kalo Papa Bella pulang, Om akan menemui dia secara langsung ..."


"Janji yah, Om?" serak Bella sambil mengusap sepasang matanya yang berair dengan punggung tangannya.


"Iya, Sayang, Om janji gak akan menunda lagi urusan dengan Papanya Bella. Lagian kata pengacara Om, kayaknya keputusan pengadilannya juga udah dalam waktu dekat kok ... Yah, semoga aja urusannya juga bisa cepat kelar ..." ujar Eros yang mencoba optimis.


"Om ..." panggil Bella perlahan sambil menatap lamat-lamat wajah Biyan, yang tertera jelas dipermukaan layar ponselnya.


"Iya, Bell ...?"


"Om, Om yakin gak sih kalo Papa Biyan bisa nerima hubungan kita ...?"


Eros terdiam sejenak mendengar pertanyaan Bella tersebut.


Sesungguhnya Eros pun tidak yakin apakah Biyan bisa menerima kenyataan yang seolah tak masuk diakal ini.


Sementara disisi lain, Eros juga selalu merasa dirinya bak seorang pengkhianat yang telah mengkhianati sahabatnya sendiri.


Tapi apa boleh buat?


Memiliki perasaan cinta hingga nekad memacari Bella, putri semata wayang Biyan sama sekali bukanlah suatu hal yang direncanakan Eros.


Dalam mimpi Eros sekalipun, Eros bahkan tidak pernah membayangkan jika ia bisa memiliki hubungan yang begitu kuat chemistry-nya, justru bersama seorang gadis yang bahkan tumbuh besar dipelupuk matanya!


Begitulah ...


Takdir dan jalan Tuhan, memangnya siapa yang bisa menebak?


Eros hanya manusia biasa, yang hanya bisa menerima semua ketetapan dalam hidupnya dengan lapang dada, sekaligus bertekad untuk menjalaninya dengan ikhlas.


Pada akhirnya, seolah telah memikirkan segala konsekwensi dari jawaban yang telah ia pikirkan dengan benar, Eros pun mengulas senyum sebelum menuntaskan pertanyaan besar yang sepertinya begitu ingin didengar jawabannya oleh Bella dari seberang sana.


"Bell ... Sejujurnya, Papanya Bella akan menerimanya atau gak, Om juga gak tau, Bell. Tapi satu hal yang harus Bella ingat baik-baik, bahwa apapun yang terjadi, apapun pendapat Papa dan Mama Bella, Om akan terus menggenggam erat tangan Bella dan gak akan pernah Om lepasin, meskipun nyawa Om sendiri taruhannya ..."


Bersambung ...


🧕: Jangan lupa di like, comment, and vote yah 🥰

__ADS_1


__ADS_2