HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
PAKET KOMPLIT


__ADS_3

Sempat berpikir bahwa apakah yang ia lakukan saat ini berlebihan atau tidak, pada akhirnya Biyan memilih tak mau lagi membiarkan dua sisi hatinya saling berdebat satu sama lain.


Tidak perlu memikirkan pantas atau tidaknya, karena buat Biyan yang terpenting sekarang adalah apapun yang terjadi, saat ini dirinya tidak bisa untuk tidak peduli dengan kondisi Ayu.


Biar bagaimana pun status Ayu sekarang adalah istri Biyan yang sah, jadi itu artinya segala yang menyangkut Ayu mau tak mau menjadi tanggung jawab Biyan.


Belum lagi saat Biyan mengingat bagaimana Ayah dan Ibu gadis itu yang jelas-jelas telah menitipkan putri semata wayang mereka ke tangan Biyan.


Merasa tekadnya telah solid, Biyan tak bisa menunggu lebih lama, namun meskipun demikian di dalam hatinya sendiri Biyan pun tak henti berdoa agar tindakan nekadnya ini tidak akan dipergoki oleh siapapun.


Oleh Bella yang berada di kamarnya dilantai dua, terlebih oleh Rania yang kamarnya bahkan bersebelahan persis dengan kamar Ayu dilantai satu!


Tok ... Tok ... Tok ...


Tiga kali ketukan pada daun pintu kamar Ayu, telah Biyan lakukan dengan hati-hati, saking tak ingin bunyi ketukan tangannya justru akan didengar oleh penghuni sebelah kamar.


Sementara itu ...


Didalam sebuah kamar yang cukup lapang, Ayu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun.


Lelah berusaha mengistirahatkan tubuhnya yang tak kunjung terlelap, Ayu memilih bangkit dari tidurnya kemudian duduk di pinggiran ranjang.


Pikiran Ayu melanglang buana kemana-mana, namun pada akhirnya sebuah penyesalan ikut bergelayut disudut hatinya.


'Kenapa sih tadi Ayo nolak buat makan malam bersama ...?'


'Kenapa juga Ayu jadi bertingkah kekanak-kanakan hanya karena persoalan sepele ...?'


'Makan malam itu memang digagas oleh Tante Rania, tapi kan Om Biyan udah pasti juga kangen pengen ketemu Bella. Jadi rasanya wajar aja sih kalo Om Biyan pengen cepat-cepat pulang. Iya kan?'


'Duh, Ayu ... Kenapa juga Ayu langsung cemburu buta?'


'Kenapa juga Ayu gak coba berbesar hati untuk ikut makan malam?'


'Lagian, kalo aja tadi Ayu gak gegabah menolak ajakan Bella, seenggak-enggaknya kan Ayu bisa ketemu Om Biyan di meja makan ...'


'Gak kayak gini ... Mau tidur aja sulit karena kangen berat sama Om Biyan ...!'


Ayu terpekur murung, namun tiga kali ketukan lirih di daun pintu kamarnya cukup membuat Ayu terhenyak.


Ayu pun bangkit dari duduknya dan melangkah perlahan kearah daun pintu yang terkatup rapat.

__ADS_1


Khawatir untuk langsung membukanya karena masih diliputi keraguan, Ayu justru berniat menempelkan daun telinganya ke permukaan daun pintu terlebih dahulu dan ...


Tok ... Tok ... Tok ...


Tubuh Ayu nyaris terjengkang.


Efek luar biasa akibat dari menempelnya daun telinga ke daun pintu secara langsung telah membuat suara ketukan yang aslinya lirih itu, menjadi terdengar berkali-kali lipat lebih nyaring dari aslinya, cukup memekakan telinga!


Tidak salah lagi, ketukan pintu tersebut memang berasal dari daun pintu kamarnya sendiri.


'Tapi siapa yang mengetuk pintu kamar Ayu malam-malam begini yah ...?'


Refleks Ayu melirik jarum jam dinding yang telah menunjukkan jam sembilan malam lewat dua puluh menit.


"Pasti Bella ..." desis Ayu yakin, sambil bergegas memutar roset kunci agar bisa membuka pintunya, dan ...


'Haahh ...?!'


Ayu terhenyak kaget begitu mengetahui dengan pasti siapa gerangan sosok tinggi kekar yang berdiri tegak dibingkai pintu kamarnya dengan sebuah nampan di tangan.


Bak sebuah paket komplit, isi nampan yang dibawa Biyan terdiri dari sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya, segelas penuh air mineral, sebutir aspirin, dan tak ketinggalan pula sebotol vitamin c.


Sosok tampan itu adalah Biyan Erlangga ...


Pria yang telah mencuri hati Ayu sejak lama ...


Suami rahasianya ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Biar Ayu makan sendiri aja, Om ..." Ayu mengalihkan wajahnya yang dipenuhi semburat, mengelak halus dari sodoran sendok yang berasal dari tangan Biyan yang berniat menyuapinya.


"Yakin nih bisa makan sendiri?" tanya Biyan sambil menurunkan tangannya, menyadari Ayu yang keukeuh mengelak.


Biyan pun mengembalikan lagi sendok tersebut keatas piring yang berada diatas pangkuannya.


Ayu mengangguk cepat menanggapi pertanyaan Biyan.


Demi Tuhan, hati Ayu berbunga-bunga mendapati perhatian Biyan, namun tetap saja dirinya terlalu malu jika sampai harus disuapi segala.


"Ayu kan bukan anak kecil lagi, Om, masa iya Ayu gak bisa makan sendiri ..." cicit Ayu, jengah.

__ADS_1


Mendengar kilah tersebut tawa Biyan menyeruak perlahan. "Iya, Ay, Om juga tau Ayu bukan anak kecil, tapi kan katanya Bella, Ayu lagi gak enak badan ..."


"Cuman pusing dikit kok, Om, sekarang malah udah baikan ..."


Dua alis Biyan terlihat mengerucut. "Yang bener?"


Kepala Ayu mengangguk lagi, bak seorang bocah patuh dihadapan ayahnya yang bijak.


Mendapati pemandangan tersebut mau tak mau membuat Biyan kembali senyam-senyum sendiri.


Jujur, Biyan sangat menikmati setiap moment yang terjadi di depan matanya ini, dikarenakan interaksi sederhana antara dirinya dan Ayu yang rasanya selalu saja terlalu manis.


Entahlah, Biyan bahkan tak mengerti, karena yang jelas setiap tingkah laku Ayu begitu mudah menyenangkan hati Biyan tanpa ia ketahui dengan pasti, apa yang menjadi sebab-musabab sebenarnya.


"Ya udah, tapi janji makanannya dihabisin yah, Ay ..." ujar Biyan sambil menyodorkan piring yang sejak tadi berada ditangannya, kearah Ayu yang sedikit terkesima.


"Harus habis ya, Om?"


"Hemm ..."


"Tapi kan ini porsinya kebanyakan buat Ayu, Om ..."


"Dimakan aja dulu ..." ujar Biyan sedikit ngotot, namun masih bisa tersenyum simpul menikmati kemanjaan Ayu yang begitu alami, bak sebuah suplemen penyemangat untuk hatinya yang awalnya bete, terhitung sejak makan malam yang hambar pada beberapa jam yang lalu.


Pada akhirnya Ayu pun memasukkan satu sendok pertama kedalam mulut mungilnya, dan mulai mengunyah perlahan juga dengan sedikit berhati-hati.


Rasanya akan sangat memalukan jika dirinya harus tersedak, akibat makan dibawah tatapan hangat pria yang selalu membuat hatinya jungkir balik tak karuan.


Seolah sadar bahwa Ayu terlihat kurang nyaman karena merasa terus diawasi selagi makan, Biyan pun memutuskan untuk beranjak ke arah kursi belajar Ayu, dan menghempaskan tubuhnya di sana sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana.


Untuk beberapa saat lamanya kamar itu terasa hening, hanya sesekali terdengar bunyi sendok yang beradu lirih dengan permukaan piring.


"Om Biyan ..."


Kepala Biyan serentak terangkat menyadari Ayu yang sudah berada disisinya dengan piring di tangan.


"Iya, ada apa, Ay? Sudah makannya ...?" tanya Biyan, beruntun.


"Ayu udah kenyang, Om ... Tapi ini porsinya kebanyakan, Ayu gak kuat kalo harus ngabisin semuanya ..." tutur Ayu dengan sedikit rasa bersalah, karena dengan terpaksa dirinya harus menyisakan separuh makanannya diatas piring ...


Next ...

__ADS_1


__ADS_2