
Hari mulai menjelang petang manakala Biyan dan Ayu tiba kembali di rumah.
Seharian ini mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan berkeliling ke beberapa destinasi wisata sekaligus yang letaknya tak jauh dari tempat Ayu, dengan menggunakan motor matic tua milik ayahnya Ayu
Sejak awal Biyan memang telah mewanti-wanti Ayu agar mereka tidak pergi terlalu jauh, mengingat besok pagi mereka berdua juga harus melalui perjalanan panjang untuk kembali ke ibukota, sehingga Biyan tak ingin dirinya kelelahan, apalagi Ayu.
Biyan dan Ayu mengawali perjalanan mereka dari sebuah Air terjun kecil yang masih sangat alami, kemudian disusul dengan menjelajahi beberapa pesisir pantai yang berjejer, yang juga tak kalah alami.
Saking alaminya, bahkan ada beberapa pantai yang terlihat belum tersentuh tangan Pemerintah sedikit pun dalam mengelola obyek wisata, yang sesungguhnya sangat berpotensi untuk dikembangkan.
Yah, ternyata memang seperti itulah gambaran real dari sebuah daerah perbatasan, yang pembangunannya sering terlupakan oleh pemerintah pusat.
Namun meskipun tempat-tempat yang mereka kunjungi rata-rata masih minim fasilitas, Biyan cukup puas dengan acara healing mereka seharian ini, apalagi karena sepanjang hari mereka lewati dengan riang, membuat Biyan melupakan sejenak berbagai persoalan serta beban pikiran tentang hari esok, yang masih berupa bayangan penuh kabut.
Sementara bagi Ayu, melewati sepanjang hari bersama pria yang ia cintai, berada begitu dekat bahkan berboncengan nyaris merapat, serta selalu bisa menatap Biyan tersenyum dan tertawa di pelupuk matanya ... kebahagiaan Ayu terasa begitu lengkap, berlipat ganda, dan sangat sempurna.
Ayu enggan memikirkan hal-hal berat. Rasanya sudah cukup dapat berbincang dan tertawa bersama Biyan, seolah tidak ada lagi hal yang lebih membahagiakan daripada semua itu.
"Ayu masuk duluan ya, Om, mau buru-buru nyalain lampu." ucap Ayu riang yang disambut anggukan kepala oleh Biyan, yang baru saja menurunkan dirinya tepat didepan rumah mungil bercat hijau muda.
Hari yang mulai beranjak petang, membuat keadaan rumah Ayu yang kosong tak berpenghuni terlihat temaram karena belum ada satu pun bohlam lampu yang dinyalakan.
Setelah Ayu beranjak kedalam rumah, perlahan Biyan pun mulai menuntun motor matic tua yang baru saja mereka naiki itu ke garasi kecil disamping rumah, yang sepertinya juga diperuntukkan sebagai gudang penyimpanan barang-barang yang tak lagi terpakai.
Ditempat itu Biyan bahkan bisa melihat sebuah televisi dan dispenser yang sepertinya sudah berada dalam kondisi rusak, menghuni sudut ruangan yang tidak terlalu lapang.
"Habis jalan-jalan sama Ayu, yah?"
__ADS_1
Dari balik punggungnya, sebuah suara berat terdengar menyapa gendang telinga Biyan.
Mendengar sapaan itu, Biyan pun langsung membalikkan badan, dan ia mendapati sosok Haris yang berdiri tepat di pintu garasi yang terbuka, hanya menggunakan celana pendek selutut plus kaos oblong berwarna coklat tua.
"Iya Har, kami baru saja berkeliling ke beberapa pantai terdekat dan sebuah air terjun kecil ..."
"Ampadoap?" sambung Haris lagi sambil menyebutkan nama air terjun yang letaknya memang tak seberapa jauh dari daerah pemukiman, namun letaknya nyaris bersebelahan dengan kampung sebelah timur.
Alis Biyan terangkat mendengarnya. Memang sejak awal Ayu sudah beberapa kali menyebut nama air terjun kecil itu begitupun juga dengan nama beberapa pantai yang mereka datangi seharian ini, namun Biyan masih saja gagal mengingat nama-nama tempat yang cukup unik tersebut, juga sering keliru dan tertukar namanya satu sama lain saat menyebutnya, sebelum akhirnya Haris kembali mengingatkan Biyan.
"Ah, iya ... Ampadoap, Ayu memang mengawali perjalanan kita dari sana ..." sambut Biyan, bertepatan dengan dirinya yang berhasil memarkirkan motor milik ayah mertuanya ketempat semula.
"Om Arif dan Tante Arum kok gak kelihatan seharian ini ...?"
"Katanya ada acara keluarga dikampung sebelah. Perginya pagi-pagi sekali, tapi sampai sekarang kayaknya belum kembali. Mungkin masih dijalan ..."
Biyan hanya mengangguk, meskipun dalam hati tak menyangka jika ternyata tujuan kepergian kedua mertuanya pun bisa diketahui Haris dengan begitu detail.
'Kelihatannya hubungan kedua keluarga ini memang sangat istimewa.'
Bathin Biyan semakin yakin menyimpulkan, karena pada kenyataannya hubungan keluarga Haris dan keluarga Ayu memang sangat terlihat keharmonisannya.
Rumah dua keluarga itu saja sampai tidak disekat pagar seperti dengan tetangga lainnya, sehingga memudahkan satu sama lain untuk saling mendatangi.
"Aku dengar, besok kamu akan kembali ke ibukota?" tanya Haris lagi, masih tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Bukan aku saja, tapi Ayu juga harus segera kembali, karena seninnya perkuliahan Ayu udah masuk UAS ..."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Biyan, Haris pun terdiam sejenak.
Cara Biyan bicara tentang Ayu terkesan sangat mengetahui dengan persis hal-hal yang menyangkut gadis itu, dan semua itu cukup mencengangkan bagi Haris.
'Sebenarnya sedekat apa yah hubungan mereka ...?'
Berpikir seperti itu membuat rasa ingin tahu Haris sedikit tersulut.
Diam-diam Haris mengawasi sosok Biyan yang sedang berdiri tepat dihadapannya.
Tinggi dan tegap. Mau tak mau Haris harus mengakui bahwa postur tubuh pria dihadapannya itu memang terlihat lebih tinggi dan lebih kekar dari dirinya.
Juga lebih tampan ...?
Haihhh, meskipun masih enggan mengakui, tapi akhirnya Haris juga sadar bahwa struktur wajah blasteran milik Biyan sudah pasti nilainya jauh diatas rata-rata dibandingkan wajahnya yang sangat lokal.
Penampilan Biyan juga terkesan 'mahal', meskipun sore ini Biyan hanya berpenampilan sederhana cenderung santai, hanya menggunakan polo shirt warna abu tua yang dipadu jeans dengan sedikit belel di lutut kiri, tak lupa sepatu sport berlabel salah satu brand sepatu olahraga yang kerap digandrungi pria-pria kota yang gemar berpenampilan sporty namun berkelas
'Gayanya keren sekali ...'
'Katanya pekerjaan pria ini hanya mengawasi proyek, tapi benda-benda pribadinya bermerk semua ...'
'Dasar pria matriealistis ...'
Bathin Haris, sambil melirik keki pada semua outfit yang melekat ditubuh Biyan yang sangat proposional, apalagi saat Haris kembali mengenali merk dari sebuah brand jam tangan mahal yang melingkar dipergelangan tangan kiri pria itu ...
Next ...
__ADS_1
🧕 : Like and support yuk kencangkaaaann ... 🙏