
Ada double up untuk reader kesayangan author, yang selalu setia ... 😘
...
Eros menaruh punggungnya ke sandaran kursi, dengan sepasang matanya yang mengembara ke langit pekat yang maha luas.
Malam semakin larut, dan suasana yang pada beberapa jam yang lalu cukup meriah kini telah berubah hening.
Steve, Andre, dan David telah memohon pamit pada setengah jam yang lalu.
Tak sampai lima menit berselang, Bella dan Ayu pun ikut pamit kedalam kamar mereka guna beristirahat, bersamaan dengan Biyan yang ikut memisahkan diri dengan buru-buru beranjak masuk ke kamar usai ponselnya berdering yang sepertinya berasal dari salah seorang rekan bisnis.
Pada akhirnya tinggallah Eros seorang diri, yang masih betah mengawasi langit malam ditemani secangkir kopi hitam serta kepulan asap rokok yang nyaris tak pernah berhenti mengepul dari bibirnya.
Pikiran Eros melanglang buana, jauh mengembara memikirkan berbagai hal yang tengah menggerogoti benaknya.
"Aku ini kenapa ...?"
Lirih suara Eros yang seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.
Eros gak habis pikir apa yang sedang merasuki dirinya sehingga ia nyaris melakukan hal yang konyol kalo gak ingin dibilang bodoh.
Eros merasa bingung saat menyadari bahwa entah kenapa dirinya kini terus terusik oleh segala hal yang menyangkut Bella, justru di saat ia telah menolak gadis itu secara terang-terangan.
Entah kenapa juga ia nyaris meledak dan menggila saat dengan penuh keyakinan dan rasa ingin tahu yang mendalam, ia yang sengaja menyusul Bella dan Steve yang sempat menghilang untuk beberapa saat lamanya justru disuguhi pemandangan yang mencengangkan.
Kenyataan yang telah Eros temui di dapur sungguh menguji kesabaran, begitu ia mendapati Bella dan Steve sedang bercanda penuh keakraban di depan bak cuci piring, terlihat begitu mesra sehingga mampu menyakiti mata, telinga, juga hati Eros sekaligus!
Bayangkan ... bagaimana kuatnya Eros menahan diri agar jangan sampai ia mengacau, di saat kepalan tangannya telah mengeras, seolah ingin menghancurkan wajah baby face milik Steve yang agak kebule-bulean.
'Si al, mulai sekarang sepertinya aku memang harus mengawasi bocah itu! Aku gak akan beri dia kesempatan untuk mendekati Bella lagi ...!'
Tekad Eros sambil mengomel dalam hati.
Namun manakala tersadar bahwa Steve bisa lebih leluasa menemui Bella di kampus tanpa bisa tercegah olehnya, sudah membuat kepala Eros kembali pusing tujuh keliling.
"Kenapa, Ros?"
Eros nyaris terlonjak begitu suara bariton milik Biyan menyapanya tiba-tiba.
"Apanya yang kenapa?" ujar Eros balik bertanya atas pertanyaan Biyan yang terkesan gaje, namun nyaris membuat jantungnya copot karena kaget.
Biyan mengambil pemantik api milik Eros yang tergeletak diatas meja, guna menyulut ujung rokok yang sudah terselip dibibirnya.
"Kenapa kamu menyendiri di sini?"
"Siapa yang menyendiri ...?"
__ADS_1
Biyan mencibir sedikit mendapati sikap Eros yang sok ngeles.
"Gak apa-apa. Hanya ingin merokok dengan santai setelah melewati sepanjang malam yang lumayan berisik ..." akhirnya Eros berucap lagi, dengan mimik wajahnya yang keruh.
Biyan tertawa menanggapi jawaban ketus Eros. Diam-diam ia pun setuju dengan pendapat Eros, bahwa berada ditengah-tengah Bella dan teman-temannya memang terasa cukup berisik untuk pria seumuran mereka.
"Iya sih, mereka memang cukup berisik ..."
Ucap Biyan sambil menghempaskan tubuhnya keatas kursi yang berada tepat disamping Eros.
"Huhhfh ... terkadang aku masih sulit untuk percaya, kalo ternyata aku sudah punya anak gadis seusia Bella ..."
Eros melirik Biyan diam-diam, yang terlihat santai mengepulkan asap rokok ke udara.
"Yan,"
"Hhhmm,"
"Kamu ... apa kamu gak khawatir sama sekali, jika seandainya dari sekian banyak teman pria Bella, atau bahkan boleh jadi diantara ketiga teman pria Bella barusan, pada akhirnya akan ada yang menaruh hati pada Bella, trus mereka akan berpacaran ...."
"Khawatir lah." pungkas Biyan singkat, namun cukup ampuh membuat kepala Eros benar-benar berpaling kearahnya. "Tapi aku juga gak bisa mencegah kalau semua itu terjadi, kan? Karena itu adalah hal yang lumrah juga ..."
Saat berucap demikian kepala Biyan menengadah lurus kelangit malam yang pekat, tepatnya pada sebuah bintang kecil yang berkelap-kelip sendirian nun jauh di sana.
"Bella sudah tumbuh menjadi seorang gadis remaja, yang suatu saat atau bahkan bisa jadi sekarang waktunya, dia akan mengenal cinta ..."
Napas Biyan terdengar berhembus berat ke udara.
Gelengan kepala Eros terlihat samar. "Kenapa harus tertekan? Kan kamu sendiri yang bilang kalau semua itu adalah hal yang lumrah?"
"Iya sih, tapi terus terang sampai detik ini, aku terus-menerus dibayangi oleh cerminan masa lalu dari diriku sendiri. Sejujurnya aku merasa malu saat harus bersikap keras dan menerapkan standar yang ketat untuk Bella. Kamu tau sendiri bagaimana dulu saat aku dan Rania seumuran Bella kan, Ros? Kami berdua sama sekali bukan contoh anak muda yang baik. Bahkan setelah melakukan kesalahan yang begitu fatal di masa remaja, kami juga gak mampu menjadi orang tua yang teladan untuk Bella ..."
Eros tercenung mendengar ungkapan hati Biyan yang terucap dengan nada yang begitu dalam.
Ternyata seberat itukah pemikiran seorang pria yang memiliki seorang anak gadis didalam hidupnya ...?
Terlebih jika mereka telah beranjak dewasa, sementara di saat yang sama, para orang tua juga gak mampu lagi mengawasi dua puluh empat jam keseharian mereka.
Astaga, membayangkan hal seperti itu saja sudah membuat Eros ikutan pusing tujuh keliling, padahal dia sendiri belum punya keturunan!
"Itu belum seberapa, Ros. Bagian yang paling creepy adalah saat aku tau persis bahwa semua itu gak mudah untuk dilalui. Well, masa remaja memang merupakan fase terindah sekaligus tersulit. Kenapa aku bilang sulit, karena disitulah letak ujian kehidupan, yang kelak akan mempengaruhi arah masa depan kita selanjutnya. Aku termasuk salah satu dari sekian banyak remaja yang gak lolos uji, karena justru di masa itulah aku membuat kesalahan fatal yang selalu aku sesali hingga hari ini ..."
"Tapi kan gak semua kesalahan harus disesali, Yan. Karena kalau jalan hidupmu gak seperti itu, maka hari ini kamu gak akan pernah memiliki Bella didalam hidup kamu." pungkas Eros.
Biyan tercenung mendengarnya, namun dalam hati ia mengiyakan.
'Ucapan Eros ada benarnya juga. Kalo bukan karena kesalahan besar yang telah aku lakukan di masa remaja, mana mungkin detik ini aku memiliki Bella ...?'
__ADS_1
Biyan tergugu mendapati kenyataan yang seolah luput dari pemikirannya.
Tak disangka sepenggal kalimat Eros mampu menyentuh relung hatinya yang terdalam, yang selama ini seakan hanya dipenuhi oleh penyesalan semata.
"Itulah yang dinamakan Takdir Tuhan, Yan. Sesungguhnya Tuhan selalu memberikan yang terbaik didalam hidup kita, meskipun jalan yang harus kita lalui gak selalu sesuai dengan yang kita ingini ..."
Kalimat Eros selanjutnya seolah meresap hingga kedalam sanubari Biyan yang terdalam.
Semua yang diungkapkan Eros saat ini benar-benar telah membuat Biyan menyadari hal penting yang selama ini telah terabaikan olehnya, bahwa semua yang terjadi diatas muka bumi ... pada dasarnya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pemilik semesta ...!
Benar juga. Dalam hidup Biyan, Bella adalah satu-satunya harta miliknya yang paling berharga, yang justru Biyan dapatkan sebagai buah dari kesalahannya di masa muda.
Ternyata takdir Tuhan memang gak pernah salah, dan akan selalu ada hikmah dalam setiap perkara.
That's all.
Biyan merasa lega, seolah ada sebagian besar beban dihatinya yang ikut terangkat hingga dadanya terasa sangat lapang.
"Thank's, Ros ..."
Eros mengerinyit. "Untuk apa ...?"
"Untuk semuanya."
"Semuanya ...?" ulang Eros masih sedikit nge-lag.
"Semua kalimatmu barusan membuatku semakin open minded dalam memaknai kehidupan ..."
"Bukan perkara besar. Sebagai teman, sudah selayaknya kita saling mengingatkan, menguatkan, juga saling memberi motivasi ..."
Biyan mengangguk, dan disudut hatinya ia terus mengucapkan syukur ... bahwa dalam setiap ujian kehidupan yang ia lewati, selalu ada saja jalan keluar yang ditunjukkan oleh Sang Khalik.
Untuk sesaat hanya ada keheningan yang menyelimuti udara diantara mereka, seolah memberikan ruang dan kesempatan bagi keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
"Oh ya, by the way, Anya gak nelpon lagi, Ros?" usut Biyan sambil mengerling sedikit, begitu ia teringat perihal yang membuat Eros sempat terlihat uring-uringan.
Biyan tau, seharian ini Anya terbilang cukup merepotkan Eros dengan terus-menerus menelpon tanpa alasan berarti.
Saking merepotkannya Eros sempat bad mood karena terus berusaha meladeni Anya dengan baik, padahal sesungguhnya Eros mulai kesal sendiri.
"Terakhir dia menelponku sekitar jam tujuh. Tapi setelah itu ponselku udah aku non-aktifkan sampe sekarang."
Biyan gak bisa menahan gelak tawanya mendengar penjelasan Eros yang polos, tanpa ada yang disembunyikan sedikit pun.
"I think she fell in love with you again, bro ..."
"Becanda ...?" pungkas Eros dengan wajah tanpa minat, membuat tawa Biyan semakin awet dibuatnya ...
__ADS_1
...
NEXT boleh, tapi jangan lupa bagi dukungannya yah ... 🤗🙏