
"Apaaa ...? Jadi kamu mau bilang kalo kamu sendiri yang meminta Ayu untuk tinggal bersama kalian? Begitu?!"
Suara Rania terdengar naik satu oktaf, untung saja sebelum memutuskan menelepon Biyan guna mencurahkan semua protesnya, Rania sudah mengunci pintu kamar tamu terlebih dahulu, sehingga tidak merasa khawatir jika suaranya bisa terdengar sampai diluar, apalagi dari kamar tamu lainnya yang berada tepat disebelahnya yang merupakan kamar yang kini ditempati Ayu.
"Biyan ... aku benar-benar gak percaya kalo kamu bisa mengambil keputusan kayak gitu ..." desis Rania lagi penuh rasa sesal yang kentara, begitu menyadari Biyan belum juga merespon semua dumelannya.
Sementara itu, nun jauh di sana, pada sebuah hotel bintang lima yang berada dipusat kota, tepat didepan jendela kaca besar yang berasal dari salah satu kamar type deluxe di lantai tujuh, Biyan tengah mengusap wajahnya berkali-kali, masih membisu.
"Biyan, kamu dengerin aku gak sih ...?" pungkas Rania lagi, semakin tak sabar menghadapi diamnya Biyan diujung sana.
"Hhuufh ..."
Hembusan napas berat Biyan terdengar jelas ditelinga Rania, seolah pertanda bahwa pria itu hendak memulai penjelasannya.
"Aku dengar semuanya kok, hanya saja aku bingung untuk menanggapinya dan ..."
"Kenapa harus bingung? Ini semua kan akibat keputusan kamu yang terburu-buru mengajak seorang gadis tinggal satu atap denganmu ..."
"Rania ..."
"Sebelum memutuskan meminta Ayu tinggal dirumah ini, kok bisa kamu gak mikir dulu apa efeknya ... bagaimana tanggapan orang-orang ..."
"Rania ..."
"Biyan, terus terang aja aku keberatan, karena secara gak langsung kamu sedang memberikan contoh yang gak baik untuk Bella ..."
Biyan kembali mengusap wajahnya untuk yang kesekian kalinya. "Rania ... Kamu ini sedang memikirkan apa ...? Aku hanya meminta Ayu tinggal dirumah, bukan mengajaknya tidur bersama ..."
"Tetap aja itu gak baik, Biyan. Ayu itu orang lain. Dia wanita dewasa, dan bukan bagian dari keluarga. Selama ini kalian sering pergi bersama saja, itu sudah menimbulkan penilaian yang gak baik ..."
"Kata siapa ...?" pungkas Biyan, seolah refleks.
"Apanya yang kata siapa?"
__ADS_1
"Kata siapa kita sering pergi bersama?"
"Bella selalu mengunggah kebersamaan kalian di akun sosial media. Bagaimana bisa kamu masih nanya 'kata siapa' ...?"
Lagi-lagi hembusan napas BIyan terdengar dari ujung sana. "Baiklah, Rania, aku akui aku emang gak mikirin dampak dari keputusan aku itu. Tapi semua itu semata-mata karena aku hanya mikirin satu hal, yaitu Bella. Akhir-akhir ini kesibukan telah membuatku sangat jarang di rumah. Aku sungguh kasihan setiap kali meninggalkan Bella sendirian ..."
"Lalu kenapa harus Ayu?"
Alis Biyan bertaut mendengar pertanyaan yang terkesan absurd tersebut. "Ya ... Ya tentu saja itu karena Ayu dekat dengan Bella ..."
"Tetap aja aku gak suka putriku bergaul dekat dengan seseorang, yang aku dan kamu sendiri belum tau persis latar belakangnya seperti apa. Tadi aja Bella juga sempat ngomong kalo Ayu itu berasal dari sebuah kota kecil, yang tempatnya terpencil, bahkan aku aja baru denger ada nama tempat seperti itu ..."
"Rania, sudahlah, gak usah diperpanjang. Gak penting Ayu itu berasal darimana, intinya aku bisa menilai kalo Ayu adalah gadis yang baik, dan Bella juga sangat menyukainya. Apanya yang salah ...?"
"Bella yang menyukainya atau malah kamu yang suka?"
Kali ini Rania terlihat benar-benar gusar, sehingga nada cemburu dalam kalimatnya tak bisa lagi ia sembunyikan.
"Kenapa tertawa? Emangnya ada yang lucu ...?" semprot Rania lagi terdengar semakin sensi.
"Gak, gak ... aku ... aku hanya ..."
"Kalo enggak trus kenapa kamu ngetawain aku kayak gitu, coba?"
"He ... He ... He ..." Biyan kembali terkekeh.
"Tuh, kan!" sentak Rania kembali dibuat kesal oleh karena tindak-tanduk Biyan yang malah menanggapi semua kekesalan hatinya dengan begitu santuy.
"Iya deh, maaf ... maaf ..."
Biyan buru-buru menyela, sebelum kemarahan Rania benar-benar tersulut oleh karena ulahnya, yang sejujurnya justru tertawa atas sikap konyol yang ditunjukkan oleh Rania saat ini.
"Baiklah Rania, maafkan aku, tapi tolong jangan seperti ini lagi. Karena kalo kamu seperti ini, aku ... bisa salah paham. Kamu mengerti kan maksudku?"
__ADS_1
Biyan tahu Rania tidak bisa melihat ekspresinya, namun saat ini Biyan memang sedang mengulum senyumnya sambil mengalihkan pandangannya jauh keluar, kearah kelap-kelip lampu yang menghiasi kota M di malam hari.
Maksud dari ucapan Biyan sebenarnya sederhana. Ia ingin menegur sikap Rania yang berlebihan tanpa harus membuat wanita itu merasa malu.
Entah mantan istrinya itu menyadarinya atau tidak, tapi yang jelas sikap Rania saat ini teramat sangat mencerminkan sebuah kecemburuan yang besar.
Untuk sesaat Rania terdiam mendengar ucapan Biyan yang terucap dengan nada lembut.
Dalam kediaman itu pula Rania pun merasakan dadanya yang mulai berdebar tak menentu, manakala ia tersadar bahwa semua sikapnya yang barusan ia pertontonkan memang terkesan berlebihan.
Biyan pasti akan dengan mudah mengira jika dirinya sedang cemburu, meskipun pada pada kenyataannya ... Rania memang sedang cemburu!
Merasa sudah kepalang tanggung juga tidak mau kalah langkah, Rania bahkan mulai berpikir bahwa jika dirinya harus bertindak sekarang juga, karena kalau tidak maka dia sendiri yang akan merugi dan kehilangan moment.
Tidak ... Tidak ... Hal itu tidak boleh terjadi!
Saat ini Biyan bahkan dengan terang-terangan sudah meminta Ayu hidup serumah, dan Bella putrinya juga sangat menyukai gadis kampungan itu.
Jika detik ini Rania masih bertahan mementingkan gengsi, bisa jadi gadis sok polos bernama Ayu itu justru akan memiliki kesempatan lebih besar untuk masuk dalam kehidupan Biyan dan Bella semakin dalam.
'Tidak ...! Tidak boleh ...!'
'Tidak akan kubiarkan semua itu terjadi ...!'
Tekad Rania sudah bulat sempurna, sehingga dengan mengumpulkan segenap kepercayaan dirinya Rania telah memutuskan untuk bertindak sekarang juga.
"Biyan, ada yang ingin aku omongin. Ini penting ..." ucap Rania seketika, membuyarkan setiap jengkal keheningan yang sempat bertahta diantara mereka ...
...
Bersambung ...
🧕: Selalu support karya ini yah ... 🙏
__ADS_1