HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
TERSUDUT OLEH KENYATAAN


__ADS_3

Anya menatap Eros yang sejak tadi termenung sambil memainkan ujung jari telunjuknya ke pinggiran cangkir kopi.


Fokus pria itu tertuju sepenuhnya ke arah yang sama, sehingga terkesan mengacuhkan Anya sedemikian rupa, membuat Anya geregetan sendiri.


"Ros ..." panggil Anya lirih, tak tahan menghadapi diamnya Eros sekian lama.


"Hhhmm ..."


Anya menarik napasnya sejenak, sebelum melontarkan sebuah pertanyaan nekad yang ia sendiri tidak yakin apa tanggapan Eros nantinya.


"Aku ingin bertanya tentang sesuatu."


"Tanyakan saja."


"Kenapa aku berpikir bahwa weekend bersama Biyan kemarin itu seperti sebuah double date ...?"


Anya tak menyangka bahwa yang ia dengar sebagai tanggapan Eros pertama kali justru suara terkekeh yang tipis.


"Kenapa tertawa ...?"


"Anya ... Anya ... jadi kamu datang se-pagi ini hanya untuk menanyakan hal konyol semacam itu?" kepala Eros terangkat, terlihat menggeleng berkali-kali kearah Anya yang juga sedang menatapnya lekat. "Kamu ini benar-benar aneh ..."


"Apanya yang aneh?"


"Pertanyaannya ..."


"Itu hanya pertanyaan biasa. Di bagian mananya yang aneh?"


Eros mengedikkan kedua bahunya, namun tidak berucap lagi. Hanya mengulas senyum.


"Kamu berpikir terlalu jauh ..."


"Baiklah, mungkin memang aku yang berlebihan." pungkas Eros cuek.


"Eros ..."


"Tapi kalau memang pertanyaanmu gak se-penting itu, maka aku juga gak harus menjawabnya ..." putus Eros lagi sambil lalu, sambil kembali melirik arloji ditangannya. "Makannya udah kelar, kan?"


"Udah sih, tapi ..."


"Aku benar-benar ngantuk." ujar Eros kemudian, dengan gestur tubuh yang menunjukkan bahwa ia hendak beranjak dari duduknya.


"Eros, sebentar ..."


Eros yang urung bangkit dari duduknya karena permintaan Anya akhirnya kembali menghempaskan tubuhnya keatas kursi.


"Apalagi, An ..."


Tatapan mereka bertemu, dan belum ada yang mengalah untuk berpaling lebih dahulu.


"Ros, jangan pernah lupa, bahwa diantara kita belum sepenuhnya selesai ..." ujar Anya kali ini dengan wajahnya yang bersungguh-sungguh, namun seperti biasa wajah Eros tetap saja stay cool.

__ADS_1


"Selama ini, bukankah semua keputusan tinggal menunggu dari pihakmu saja? Aku sudah melakukan semua bagianku. Aku juga sudah menandatangani semua dokumennya ..."


"Kesibukanku sangat padat, jadwal pemotretanku akhir-akhir ini juga banyak. Aku minta maaf jika aku belum punya waktu untuk mengurusnya ..." imbuh Anya yang akhirnya memilih membuang muka lebih dahulu.


"It's okay. Kalau kamu berkenan, aku bisa kok menyediakan jasa seorang pengacara yang handal. Maksudku ... agar kamu juga gak perlu repot-repot mengurus ini dan itu sehingga aktifitas kamu gak akan terganggu."


Anya tertawa miring mendengar tawaran Eros. "Kelihatannya sekarang justru kamu yang kebelet ingin cerai ..."


"Bukan kebelet, tapi semata-mata agar semua urusannya cepat selesai. Lagipula bukankah semua ini baik untuk hubunganmu dan Rendi juga ...?"


"Sejujurnya aku dan Rendi gak terburu-buru ..."


"Terburu-buru apa enggak, sudah selayaknya urusan kita cepat diselesaikan. Iya kan?"


"Kalau dulu kamu gak menolak menyelesaikannya, kan urusannya juga gak akan sepanjang sekarang ..." imbuh Anya tak mau kalah, sehingga seolah balik menyerang Eros.


"Untuk hal itu aku sungguh minta maaf, An, aku akui, bahwa pada awalnya memang aku-lah yang selalu berusaha mengelak dari segala urusan perceraian kita. Tapi sekarang aku benar-benar sadar bahwa gak ada gunanya mempertahankan hubungan yang sudah retak. Kamu dan aku sudah gak lagi sejalan. Segenap perasaan juga sudah lama hilang. Kalo sudah seperti itu ... apa lagi yang mau dipertahankan ...?"


Anya tertawa miris mendengar ungkapan Eros yang tanpa beban. Sejujurnya hatinya merasa ngilu mendengar Eros yang secara terang-terangan seolah mengakui bahwa perasaan pria itu kepadanya telah hilang.


Entah itu ungkapan hati Eros yang sebenarnya, ataukah karena Eros hanya berpura-pura tegar demi menjaga egonya, toh tetap saja terasa sakit mendengar bahwa pria yang dulu mencintainya seperti orang gila, kini berucap tidak lagi menginginkannya.


"Bahkan sekarang kamu sudah berani menyimpulkan bahwa perasaanmu kepadaku sudah hilang ..."


"Anya, please ... jangan membuat semuanya menjadi semakin sulit. Sejak awal, bukankah kamu yang getol menyuruhku untuk move on ...?"


"Oh ... jadi kamu ingin aku tau, kalo sekarang kamu udah beneran move on ...? Begitu ...?"


Seberapa keras kepalanya seorang Anya, Eros sudah tau persis bahwa berdebat dengan wanita yang secara hukum masih sah sebagai istrinya itu, dirinya memang membutuhkan kesabaran ekstra.


"Eros, aku masih gak percaya kalau kamu bisa tertarik dengan putri sahabatmu sendiri. Tapi sekalipun gadis itu bukan putri Biyan dan Rania yang masih remaja ... Eros, please ... bahkan gadis yang bernama Ayushita itu gak juga lebih dewasa dari Bella!"


"Anya, kamu ini ngomong apa?" tepis Eros.


"Astaga Eros ... kenapa sekarang seleramu terhadap wanita sudah beralih kepada bocah-bocah ingusan yang berusia belasan ...?"


Eros semakin terhenyak mendengar kalimat panjang Anya yang terucap beruntun, saat membahas betapa mudanya usia Bella dan Ayu untuk pria seumuran dirinya.


Anya benar, kalo dilihat sepintas, memang tak ada benarnya jika Eros menginginkan gadis seusia Bella maupun Ayu.


Tapi hati manusia tidak ada jaminannya, begitupun dengan hati Eros, yang jika dirinya boleh memilih, maka ingin rasanya Eros membuang hasrat menakutkan itu sejauh mungkin, dan sekarang Eros bahkan sedang berusaha melakukannya.


Berusaha bertahan, berusaha menjauh, berusaha menjaga jarak, berusaha tidak ingin mengingat ... namun yang ada hasrat didalam dirinya semakin lama semakin berkembang liar.


"Kenapa diam? Kenapa gak berusaha menampik apa yang aku ucapkan ..."


"Untuk apa?" pungkas Eros dengan nada datar, menahan diri agar tidak lagi terpancing emosi saat harus menghadapi Anya dengan sifatnya yang cenderung impulsif. "Anya, kamu gak perlu mengurusi kehidupan pribadiku sampai sejauh itu ..."


"Apakah Biyan mengetahuinya ...?" tanya Anya lagi, sedikitpun tak mengindahkan perkataan Eros yang nyata-nyata menolak dirinya mencampuri urusan pribadi pria itu.


"Itu bukan urusanmu ..."

__ADS_1


"Perihal kamu menyukai Bella, pasti Biyan belum menyadarinya, kan?"


"Anya, tolong jangan berlebihan ..."


"Aku gak berlebihan."


"Anya ..."


"Apakah kamu tau, Ros? Kemarin Rania menelponku, dan dia mengungkapkan kekhawatirannya serta ketidaknyamanannya sebagai seorang ibu."


Eros mendengus kecil. "Apa hubungannya sehingga Rania harus menelponmu?"


"Karena dia khawatir jika ada sesuatu antara kamu dan putrinya."


Eros terdiam lagi, tapi wajahnya tetap datar tanpa ekspresi.


"Feeling seorang ibu gak pernah salah." ucap Anya lagi.


Eros berdiri dari duduknya, hendak beranjak begitu saja dari hadapan Anya karena tak tahan lagi dengan segala ucapan yang telah membuat dirinya tersudut sedemikian rupa oleh kenyataan.


"Jangan pergi dulu, aku belum selesai ..."


Eros melengos. "Aku sudah tau apa tujuanmu datang menemuiku se-pagi ini."


Anya ikut berdiri. "Eros, dengarkan aku dulu ..."


"Pulanglah ..."


"Eros, aku hanya ..."


"Katakan pada Rania bahwa dia gak perlu mengkhawatirkan hal-hal yang konyol seperti itu."


"Tapi ..."


Terlambat, karena setelahnya Eros telah benar-benar beranjak dari hadapan Anya begitu saja dengan langkahnya yang lebar, tanpa menoleh lagi ...


...


Bersambung ...


🧕: Dalam waktu dekat, karya author yang berjudul NONA MAFIA DAN DOKTER MENAWAN, akan segera Tamat. Jadi harap maklum kalo ada Up yang bolong2. 🤗🙏


Untuk kalian yang belum baca karya author yang lain, yuk kepoin beberapa karya yang udah Tamat.


- CEO TAMPAN DAN ISTRI RAHASIA (Karya pertama author yang bikin greget, apalagi season 2-nya),


- PASUTRI (Karya dengan bab pendek namun super duper unyu dan bikin baper abis),


- TERJERAT CINTA PRIA DEWASA (Karya spekta yang hot jeletot, sampe2 author gak saranin bocil nongol di sana 😅)


Support semua karya author remahan ini yah guys, biar bisa jadi author yg gak remahan lagi ... 😍

__ADS_1


__ADS_2