
Seharian ini Rania sudah cukup bekerja keras.
Karena itulah begitu Bella dan Ayu pamit ke kampus di pagi hari, Rania sudah memulai misinya yakni pergi ke supermarket terdekat dan memborong banyak sekali bahan makanan untuk kebutuhan dapur sekaligus mengisi full kulkas berukuran jumbo.
Selama beberapa hari Rania menempati rumah megah milik Biyan, demi menunggu kepulangan mantan suaminya itu, perlahan namun pasti Rania telah benar-benar berusaha mengambil hati Bella sekuat tenaga.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa awalnya semua yang ia lakukan bisa dibilang cukup merepotkan.
Sejak awal Rania bukanlah tipe wanita rumahan yang terampil mengerjakan segala kewajiban wanita pada harfiah-nya, tapi kali ini tekad Rania cukup bulat.
Rania sudah mengukuhkan tekadnya untuk berubah menjadi lebih baik demi mendapatkan kesempatan kedua, karena itulah ia pun mulai berusaha memperbaiki dirinya sendiri dengan bersungguh-sungguh.
Optimis.
Yah, tentu saja, Rania memang harus optimis, terlebih lagi disudut hati Rania pun merasa mulai menikmati perannya sebagai ibu yang sebenar-benarnya.
Lagipula, asalkan dirinya berhasil mengambil hati Bella putrinya, bukankah segala urusan menyangkut keputusan Biyan pasti akan lebih mudah ...?
Untuk hal ini, Rania memang cukup percaya diri, dan semua kepercayaan dirinya terus meningkat dari hari ke hari, seiring dengan perkembangan hubungannya dengan Bella yang semakin mengarah kearah positif, begitupun juga dengan komunikasinya dengan Biyan yang semakin terbangun dengan baik, meskipun sejauh ini pembicaraan maupun isi chat mereka hanya berkisar tentang keseharian dan aktifitas Bella setiap hari.
Tidak mengapa, karena Rania siap menjalani semua prosesnya agar dirinya tidak akan kehilangan kesempatan memperbaiki hubungan dengan Biyan, sebelum semuanya benar-benar terlambat.
"Lagi apa, Ma? Kok kelihatannya sibuk banget ...?" sapa Bella yang muncul diruang makan, tepat saat Rania selesai menghidangkan makanan diatas meja.
Tubuh Bella yang proposional hanya terbalut tanktop se xy berwarna merah bata, serta mini short pendek dengan warna senada.
"Egh, Bell ... Kebetulan sekali, padahal baru aja Mama mau manggil Bella turun ..."
"Emangnya ada apa, Ma?"
"Gak ada apa-apa, Sayang, hanya mau ajak Bella makan malam aja."
__ADS_1
"Ohh ..."
Bella hanya ber-ohh ria karena detik berikutnya tatapan gadis itu sudah tak bisa lagi beranjak dari atas meja, dimana lauk-pauk yang kelihatannya cukup lezat telah tersaji diatas sana.
"Ini Mama yang masak yah?" tanya Bella lagi.
"Iya dong, Bell ... Meskipun masih ngintip-ngintipin YouTube, tapi intinya yang bikin semua masakan ini Mama sendiri loh ..."
Bella tersenyum mendengar kalimat Rania. "Mama makin keren aja deh ..." puji Bella takjub.
Bella yakin betul betapa Rania memang sudah bekerja keras untuk semua yang ia lakukan, dan meskipun hanya dalam hati tapi Bella sangat mengapresiasi segenap usaha Rania, serta semua ketulusan yang kali ini benar-benar terpancar dari aura Rania.
Jujur saja, untuk yang pertama kalinya baru kali ini Bella merasa bahwa Rania benar-benar telah berubah, dan karena itu pula diam-diam Bella sudah memutuskan untuk memperjuangkan keberadaan Rania dihadapan Biyan nanti.
'Mama membutuhkan kesempatan kedua, dan Papa harus bisa memberikannya.'
Begitulah kira-kira tekad bulat Bella yang terpancang kuat disudut hati.
"Kita makan sekarang yuk, Bell ..." ajak Rania sambil tersenyum, karena tahu persis kebiasaan Bella yang doyan makan.
"Boleh deh, Ma, kebetulan Bella juga udah laper ..."
Tanpa membuang waktu Bella pun menarik kursi makan terdekat dan langsung menghempaskan tubuhnya yang ramping diatasnya.
"Oh iya, Bell, mana Ayu?"
"Ayu ada dikamarnya dia, Ma."
"Loh? Kok gak diajak makan sekalian, Bell?" tanya Rania lagi sembari menyodorkan piring kearah Bella.
Meskipun sejujurnya Rania memang agak kurang wellcome dengan kehadiran gadis bernama Ayu itu, namun saat tersadar bahwa gadis yang menempati kamar tamu yang bersebelahan persis dengan kamar yang ia tempati saat ini tidak terlihat batang hidungnya sejak pulang kampus dengan wajah yang terlihat uring-uringan tadi sore, mau tak mau Rania merasa heran juga.
__ADS_1
"Barusan sih udah Bella ajak makan, Ma, tapi kata Ayu duluan aja ..."
Alis Rania mengkerut mendengar penjelasan Bella. "Bell, kayaknya temanmu itu lagi ada masalah ya?" tanya Rania rada kepo.
Bukan apa-apa sih, karena terus terang aja dalam beberapa hari mereka tinggal seatap, meskipun hanya dalam diam namun sesungguhnya Rania terus-menerus memata-matai gerak-gerik Ayu tanpa jeda.
Entahlah ...
Jujur saja Rania juga tidak tahu apa alasannya, tentang mengapa feeling-nya tetap meyakini bahwa keberadaan Ayu dirumah Biyan bak sebuah ancaman tersendiri untuknya.
Semua penilaian sepihak Rania itu ibarat sebuah firasat aneh, kendatipun sifat dan sikap Ayu selama ini terlihat cukup positif vibes.
Dimata Rania, Ayu sendiri tipikal gadis yang kalem, sederhana juga santun. Ayu juga merupakan gadis yang sangat rajin karena Rania sering memergoki gadis itu yang dengan inisiatifnya sendiri membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, bahkan Ayu juga tak segan turun ke dapur demi membantu Rania seperlunya meskipun Rania selalu menolak segala bentuk pertolongan gadis itu mentah-mentah, seolah tak ingin membuka peluang, keukeuh menunjukkan sikap yang tak bersahabat.
Bagaimanapun juga Ayu merupakan orang asing, dan status Biyan saat ini adalah pria lajang. Memikirkan hal itu saja sudah membuat Rania was-was setengah mati.
Terlebih dalam beberapa hari terakhir entah apa alasannya yang membuat paras gadis itu ibarat sebuah taman bunga yang bermekaran, terlihat jelas tengah memendam kebahagiaan tiada tara.
Anehnya, sore tadi ekspresi wajah gadis itu tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat ... Seolah ada mendung besar yang bergelayut pada sorot matanya yang terdalam, dan semua itu sukses membuat Rania kembali bertanya-tanya dalam hati ...
'Jangan-jangan semua itu ada hubungannya dengan Biyan ...!'
"Iya, Ma, tadi waktu dalam perjalanan pulang dari kampus Ayu nerima telepon yang kayaknya sih dari kedua orang tuanya. Bella juga gak tau kenapa dan apa yang mereka bicarakan karena saat Bella nanya, Ayu juga belum mau cerita apa-apa. Intinya setelah menerima telepon itu, sejak itu pula wajah Ayu mulai murung ..."
"Jangan-jangan orang tuanya lagi sakit, Bell ..." imbuh Rania.
"Iya kali, Ma, tapi ya itu ... Karena sampe sekarang Ayu masih belum cerita apa-apa, jadi Bella juga belum tau persis ..."
Kali ini Rania tak lagi menyahut, lebih memilih fokus menyodorkan beberapa lauk-pauk lezat untuk putrinya yang beranjak remaja, meskipun benaknya masih tetap diliputi tanda tanya besar ...
'Ada apa dengan Ayu ...?'
__ADS_1
Bersambung ...