
"Maafin Om Eros yah, Bell, karena Om Eros udah bikin Bella sedih ..."
Masih berada dalam pelukan Eros kepala Bella terlihat mengangguk perlahan.
"Maafin Bella juga yah, Om ..." cicit Bella.
Alis Eros sontak bertaut. "Maaf untuk apa?"
"Karena Bella udah bohong waktu ngomong Bella masih ditempat kursus, padahal kenyataannya Bella lagi di mall sama Steve ..."
"Oh, itu ..."
Bella menelan ludahnya, semakin dikuasai perasaan bersalah begitu menyadari Eros yang bahkan terkesan tidak ingin memperpanjang masalah, padahal sudah jelas-jelas dalam hal ini Bella telah membohonginya.
"Om ... Jujur, Bella tadinya emang ada kelas, tapi kelarnya jam lima sore dan Bella yang ngajak Steve nemenin Bella nyari novel favorite Bella ..." ungkap Bella yang merasa perlu untuk menjelaskan perihal kebohongannya, sekalipun Eros tidak memintanya.
Mendengar itu Eros pun tersenyum, sambil membelai rambut Bella kemudian menciumnya. "Gak pa-pa, Bell. Om percaya kok. Tapi lain kali jangan diulang yah ... Karena sekalipun seribu kali Bella ngomong kalo Steve itu hanya teman biasa, tapi Om juga punya rasa cemburu ..."
Mendengar pernyataan cemburu Eros yang terang-terangan, sanggup membuat Bella blush.
Bella merasa bahagia tak terkira karena merasa dicintai dengan sangat, oleh pria yang telah memenangkan hatinya sejak lama.
"Trus Bella harus gimana dong, Om? Selama ini, Steve kan udah jadi sahabat yang baik buat Bella ..." ucap sendu Bella sambil sedikit menengadah.
Sedih rasanya membayangkan, kalo seandainya Eros benar-benar akan melarangnya berteman dengan Steve, yang selama ini selalu ada sebagai salah satu sahabat Bella yang baik.
"Om gak ngelarang Bella berteman dengan siapa aja kok, asalkan Bella tau batasannya dan ... Selalu jujur. Itu intinya."
Bella mengangguk cepat. "Tadi juga Steve udah ceramahin Bella panjang-lebar tentang hal itu, Om ..."
"Oh, ya?"
"Hhhmm ... Soalnya Steve merasa gak enak hati pas tau Bella gak ada ngomong ijin ke Om kalo mau ke mall dulu sebelum pulang, apalagi perginya bareng dia ..."
"Trus ...?"
"Ya itu, Om, intinya Bella minta maaf. Bella tau Bella salah, dan Bella janji gak akan mengulang ..."
"Beneran nih ...?"
"Janji. Tapi kedepannya Bella mau, Om Eros juga bisa jujur tentang apapun sama Bella ..."
"Kalo itu pasti, Bell." jawab Eros yakin.
Bella terdiam sejenak, saat sepasang mata mereka bersirobok begitu dekat.
"Kok bengong?" usut Eros sambil menowel pucuk hidung mancung Bella yang tiba-tiba mematung.
__ADS_1
"Om Eros ..." lirih Bella saat benaknya diliputi oleh sesuatu yang mengganjal.
"Iya, ada apa lagi, Bell?"
"Om, Bella cuma pengen tau, apa Om bakal ketemu Tante Anya lagi setelah ini ..."
"Kayaknya sih iya, Bell." ujar Eros apa adanya, tanpa merasa perlu menutupi segala sesuatu. "Tapi semua itu kan hanya bagian dari kerjaan aja, Bell, seenggak-enggaknya sampai eventnya kelar ..."
"Tapi Bella khawatir, Om ..."
"Khawatir apa lagi sih, Bell? Emangnya Bella gak percaya sama Om?"
"Yaaaa ... Bella kan takut aja kalo Om Eros kepincut Tante Anya lagi, trus pengen balik lagi ..."
"Gak lah." pungkas Eros cepat, seolah dirinya sudah yakin seribu persen dengan jawabannya.
Mendengar jawaban yang secepat peluru itu tak urung bibir Bella terlihat naik dua centi, sehingga membuat tawa Eros lepas begitu saja.
"Kenapa sih, Bell? Gak percaya?" ujar Eros diantara sisa-sisa tawanya yang belum selesai. "Pacar Om Eros aja secakep ini, mana mungkin masih bisa ngelirik yang lain ..."
"Who knows, Om ..."
"Gak akan." Eros keukeuh, kali ini sambil mencium sekujur wajah Bella dengan gemas, yang diakhiri dengan menggigit pelan dagu runcing Bella.
Perlakuan Eros tersebut membuat Bella bahkan terlihat meringis kecil, mendapati kegemasan Eros yang gak tanggung-tanggung.
"Kapan Papa balik, Bell?" tanya Eros setelah untuk beberapa saat keduanya hanya larut dalam canda karena saling bercengkerama.
"Awalnya sih bilangnya pulangnya besok, tapi kepulangan Papa malah tertunda karena sesuatu. Emangnya kenapa, Om?"
"Gak kenapa-napa sih. Kayaknya Papanya Bella sibuk bener akhir-akhir ini, Om bahkan belum ada liat batang hidung Papanya Bella sama sekali ..." ucap Eros, tapi kemudian ia buru-buru berucap lagi. "Ya udahlah, kalo gitu Om anterin Bella pulang sekarang yah ..."
"Kok pulang sih, Om?" protes Bella.
"Udah lewat jam tujuh, nanti mama kamu malah khawatir ..."
Mendengar Eros menyinggung keberadaan Rania yang masih saja betah stay dirumah Biyan, Bella pun sontak mencibir.
"Boro-boro, Om, orang akhir-akhir ini Mama Rania kayaknya udah kembali ke pengaturan awal deh. Tiap hari kerjanya pergi melulu, trus pulangnya selalu malem, sibuk dengan gank sosialitanya yang ... Yah begitulah ..."
Bella seolah kehilangan perbendaharaan kata, untuk mendeskripsikan pergaulan Mamanya yang hedon.
"Bella selalu mikir, untung aja kemarin Papa udah ngajak Ayu tinggal dirumah, kalo enggak gimana coba? Mama Rania sih gak bisa diharepin sama sekali ..."
Mendengar keluh kesah Bella tentang Mamanya sendiri membuat Eros hanya bisa menggaruk tengkuk.
'Rania ... Rania ...'
__ADS_1
Bathin Eros tak habis pikir, tentang jalan pikiran wanita-wanita seperti Rania dan Anya.
Keduanya selalu saja mengharapkan untuk diberi kesempatan kedua, tapi anehnya lupa membenahi diri terlebih dahulu.
Kalaupun sekalinya terlihat baik ... Egh, pasti buntut-buntutnya juga berakhir dengan modus semata.
"Om, jangan buru-buru pulang napa sih, Om ..." rayu Bella kemudian dengan sepasang mata penuh harap.
"Kalo gak buru-buru pulang, emang Bella gak kasian sama Ayu?" pungkas Eros sambil menjeling.
"Kasian sih ... Tapi kan Bella masih kangen sama Om Eros ..."
"Lah, trus maunya gimana ...?" tanya Eros pura-pura bego, padahal jantungnya mulai berdebar tak teratur karena setiap kalimat Bella seolah menjadi pembuka jalan bagi Eros untuk berpikir yang 'iya-iya'.
"Om, kita udah lama loh gak ketemu. Udah lama banget Bella gak liat Om Eros ..."
"Bukannya tiap hari juga liat-liatan ...?"
"Dihh ... Om, itu kan cuma lewat vc doang, mana bisa meluk kayak gini ...?" ujar Bella yang tanpa aba-aba langsung melingkarkan kedua lengannya keleher Eros, sekalian mendekatkan wajahnya ke wajah Eros hingga nyaris tak berjarak, membuat Eros tak bisa menahan diri untuk tidak melahap habis hidangan super lezat yang ada didepan matanya dengan kalap.
Lama keduanya larut dalam kobaran api asmara yang meluap-luap, namun meskipun demikian tak ada satupun diantara mereka yang ingin menjadi orang pertama yang mengakhiri sentuhan.
"Om ..." lirih suara Bella terdengar disertai desa han, begitu jemari Eros mulai bergerak nakal, menyentuh dan meremas beberapa bagian sensitif dari tubuh Bella meskipun masih dari luar pakaian yang Bella kenakan.
Seandainya saja mereka berdua tidak sedang berada dalam bilik mobil yang sempit, mungkin yang terjadi sudah lain cerita, karena sudah pasti Eros sendiri akan semakin kesulitan mengendalikan diri.
Bella pastinya tidak pernah tau bahwa sesungguhnya di dalam benak dan bathin Eros saat ini, iblis dan malaikat sedang berseteru dengan sengit.
Malaikat baik begitu giat melarang Eros yang semakin berani mengeksplor tubuh Bella yang selama ini selalu membuat Eros penasaran, sedangkan iblis justru terus-terusan memberikan sensasi kenikmatan yang tiada tara, agar Eros mampu melupakan akal sehatnya, apalagi Bella tak sedikitpun melakukan perlawanan.
"Bell ... Om anterin Bella pulang sekarang aja yah ..." bisik Eros dengan napas yang memburu, begitu satu titik kesadaran menyapa relung hatinya yang terdalam, sukses melarang Eros agar jangan sampai merusak sesuatu yang sudah seharusnya ia jaga sampai kelak tiba waktunya.
"Tapi, Om ..."
"Pakai seatbeltnya ..." ucap Eros lagi, kali ini semakin tegas dan berbulat tekad, sehingga ia mampu menarik diri menjauhi Bella, dan kembali ketempat duduknya dengan benar.
Mendapati wajah serius Eros, pada akhirnya Bella patuh juga meskipun disudut hatinya juga kecewa.
Bella sadar bahwa bagi Eros, sudah pasti menahan diri dari has rat yang menggelora bukanlah hal yang mudah.
"Udah, Om." ucap Bella begitu terdengar bunyi 'klik' dari seatbelt yang terpasang.
Eros hanya mengangguk kecil, sambil melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya tangan Eros menurunkan tuas rem tangan, lalu mulai menginjak pedal gas dibawah sana.
Perlahan, mobil Eros pun mulai bergerak meninggalkan area taman kota, yang hampir membuat keduanya nyaris tersesat ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Jangan lupa di support terus yah 🙏