HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
SAMBIL BERSENANDUNG


__ADS_3

"Jangan ngeliatin spion terus, Bell."


Mendengar suara berat yang begitu dekat digendang telinganya membuat bibir Bella sontak naik dua inchi.


Kalau dipikir-pikir, sudah jelas pria yang baru saja mengucapkan kalimat yang syarat makna godaan tersebut tidak mungkin melihat ekspresi wajahnya yang sedemikian imut, namun Bella tetap saja merasa senang saat merenggut manja seperti itu.


"Idihh ... Siapa juga yang ngeliatin spion ..."


Bohong banget.


Padahal saat menyangkal, Bella nyata-nyata sedang melirik kembali kaca spion, dan sudah tidak terhitung berapa banyak sudah ia melakukan hal serupa, demi mengawasi sebuah mobil sport berwarna hitam milik Eros yang setia membuntuti mobil Bella tepat dibelakang.


Eros memang telah memutuskan untuk mengantarkan Bella pulang dengan cara menaiki mobilnya sendiri dan membuntuti mobil Bella tepat dibelakang, namun meskipun mereka berdua tidak berada di dalam mobil yang sama, sepanjang perjalanan mereka tetap bisa mengobrol dan bercanda lewat telepon dengan menggunakan handsfree.


"Apa untungnya berbohong ..." desis Eros sambil memperdengarkan tawa kecilnya demi menggoda Bella. "Udahlah, Bell, fokus aja ke jalanan. Tuh di depan sana bentar lagi belokan buat masuk gerbang ..." ucap Eros lagi memperingatkan.


"Iya, Iya, Bella fokus kok, Om ... Tenang aja kali ..."


Usai berucap demikian, Bella pun sudah membelokkan setir ke kiri, memasuki gerbang yang dimaksud Eros barusan.


"Kalo udah nyampe rumah, langsung masuk aja yah, Bell ..." suara Eros kembali terdengar ditelinga, lewat handsfree yang sejak awal memang sudah nyempil ditelinga Bella.


"Om gak mau turun dulu ...?"


"Gak."


"Yakin gak mau peluk-peluk Bella dulu ...?"


"Apaan sih, Bell ..." desis Eros sok cool, padahal dalam hatinya langsung bergejolak mendengar pertanyaan polos Bella yang begitu menggoda iman.


"Kok gitu sih, Om...? Padahal Bella masih kangen ..." nada manja dari suara Bella terdengar sedikit kecewa, menyadari Eros yang seolah tak berniat bertemu dulu meskipun sebentar, sebelum mobil Bella benar-benar masuk kehalaman rumahnya.


Eros yang juga sedang menyetir mobilnya tepat dibelakang mobil Bella sontak menarik napas.


"Bella belum lupa apa yang kita bicarakan tadi, kan? Tentang bersabar menunggu waktu yang tepat, agar Om bisa mencari jalan keluar yang terbaik untuk hubungan kita kedepan ...?"


Bella terdiam mendengar kalimat Eros.


Yah, mereka berdua memang telah bersepakat untuk menjalani hubungan cinta yang baru saja bersemi itu dengan sangat berhati-hati.


Buat Eros hal itu sangatlah penting, karena Eros merasa perlu menjaga nama baik Bella, agar tidak dicap yang tidak-tidak.

__ADS_1


Kemudian selain kisruh rumah tangga Eros yang belum juga selesai hingga detik ini, Eros juga perlu mengantisipasi beberapa persoalan yang tak kalah penting menyangkut dirinya sebagai sahabat dekat Biyan yang merupakan Papanya Bella, sekaligus musuh terselubung Rania, yang tak lain adalah Mamanya Bella.


Selama ini Biyan memang selalu menjadi sosok sahabat terbaik Eros.


Tapi Eros justru tidak yakin apakah pria itu juga bisa menerima dengan lapang dada jika Eros memacari putri semata wayangnya?


Demi Tuhan, untuk hal ini entah kenapa belum apa-apa Eros sudah merasa sangsi!


Sedangkan mengenai Rania, beban yang dirasakan Eros seolah menjadi dua kali lipat lebih berat.


Ibarat semua pintu telah terkunci dan jalan keluar semuanya buntu.


Eros bahkan tidak menemukan sedikitpun celah untuk mencari cara dalam mengambil hati Rania, agar mau mengikhlaskan Bella dipacari oleh pria dengan umur yang nyaris dua kali lipat dari umur putrinya, alias seumuran Biyan, papanya!


Pelik.


Sangat pelik memang.


Namun demi menenangkan Bella, Eros tidak menampakkan setitik pun kekhawatiran dan rasa insecure yang ada didalam dirinya, seolah ingin Bella meyakini bahwa dirinya mampu menghadapi semua rintangan.


Kendati demikian Eros tetap berbulat tekad untuk menghadapi Biyan dan Rania, sekaligus menuntaskan urusan perceraiannya dengan Anya, lewat jasa seorang pengacara handal.


Eros ingin perceraiannya dengan Anya bisa disegerakan, tak peduli dengan apapun tanggapan Anya kelak.


Tapi mau bagaimana lagi ... Eros juga paham betul bahwa tantangan berat itu memang sudah sepantasnya ia hadapi, sejak dirinya telah memutuskan untuk memperjuangkan perasaan cintanya untuk seorang Bella Erlangga.


"Om, Bella masuk sekarang yah ..." kalimat Bella sanggup menerbangkan lamunan Eros yang melanglang buana.


Eros pun tersadar manakala laju mobil yang yang ada dihadapannya telah melaju semakin perlahan, sebelum akhirnya berhenti sejenak menunggu pintu pagar yang terbuka secara otomatis.


"Iya, Sayang ..." jawab Eros lembut, sambil ikut menginjak rem guna menghentikan laju mobilnya tak seberapa jauh dari mobil Bella yang berada didepan.


Eros tak menyangka jika jawaban singkatnya itu telah menciptakan tingkat kebaperan yang luar biasa dihati si pengemudi cantik yang ada dihadapannya.


"Om ...??" masih dibelakang kemudi, tatapan Bella dipenuhi kebahagiaan, saat telinganya mendengar dengan jelas sapaan 'Sayang' Eros untuknya.


"Iya, Bell ...?" jawab Eros, pura-pura gak ngeh.


"Om Eros, tadi panggil Bella apa? Bella gak salah denger kan ...?" pertanyaan polos bin narsis meluncur begitu saja dari bibir Bella.


Eros geleng-geleng kepala mendapati tingkah agresif Bella yang seperti biasa, selalu to the point dan tidak ada malu-malu meongnya sama sekali.

__ADS_1


"Bell, buruan masuk gih. Udah ditungguin mamamu tuh ..."


"Om Eros pelit ..."


"Apanya yang pelit ...?"


"Bella mau dengar lagi, Om ... Pliisss ..."


"Mau dengar apa, Bell?" lagi-lagi Eros bertanya, masih berpura-pura gak ngeh.


"Yang tadi itu ..."


"Yang mana ...?"


"Yang waktu Om Eros panggil Bella dengan ..."


Mengambang.


Kendatipun rada bar-bar, terbukti Bella masih punya rasa malu juga untuk mengatakan terang-terangan.


"Ya, udahlah gak jadi ..." lirih Bella lesu, sedikit kecewa, sambil menginjak lagi pedal gas dibawah sana karena pintu gerbang rumahnya pun kini telah terbuka sempurna.


Eros tak menyahut, hanya mengawasi mobil Bella yang mulai bergerak perlahan memasuki halaman rumah megah bercat putih bersih dihadapannya, kemudian pintu pagar itupun kembali mengatup perlahan secara otomatis.


"Bell, Om balik sekarang yah, sampai ketemu besok ..." pamit Eros, sembari memutar mobilnya dengan gesit untuk berbalik arah.


Bella yang telah berhasil memarkirkan mobilnya di garasi terlihat mengangguk samar sambil keluar dari bilik mobilnya. "Iya, Om."


"Om tutup telponnya sekarang yah, Bell ..."


"Iya, Om, hati-hati dijalan yah, Om ..."


"Iya, Have a nice dream, Sayangku ..."


Tuuutttt ...


"Egh ...?"


Langkah Bella mendadak terhenti menyadari panggilan 'Sayang' Eros untuk yang kedua kalinya, sebelum sambungan telepon tersebut telah diputus begitu saja dari seberang.


Perlahan namun pasti sebuah senyum telah menghiasi sepanjang bibir Bella yang berwarna natural alami, sebelum akhirnya langkah Bella kembali terayun ringan ... Sambil bersenandung ...

__ADS_1


Bersambung ...


🧕 : Jangan bosan-bosan yah menerima permintaan author untuk mengencangkan like and supportnya ... 🙏


__ADS_2