
"Maaf, Ros, udah lama nunggunya?"
Eros yang awalnya sedang fokus meneliti ponsel karena sedang berbalas chat dengan Bella sang pujaan hati, sontak mengangkat wajahnya mendapati warna suara yang seolah tak asing.
"Kamu ...?"
Eros terkejut setengah mati, saat benar-benar meyakini siapa gerangan sosok wanita yang sedang berdiri tegak dihadapannya, bahkan kini dengan enteng menarik kursi untuk menghempaskan tubuh rampingnya tepat dihadapan Eros.
"Anya, untuk apa kamu ke sini?" tegur Eros dengan wajah masam, sambil buru-buru menyimpan ponselnya.
"Menemuimu." jawab Anya kalem, sambil duduk menyilang kaki dengan senyum manis di bibir.
Eros membuang wajahnya sedikit. "Jangan bercanda ..." desis Eros yang berusaha menekan kekesalan.
"Loh? Memangnya siapa yang bercanda?"
"Anya, please, tolong jangan ganggu aku. Saat ini aku sedang bekerja dan sedang menunggu klien, bukan sekadar bersantai ..."
"Aku juga sedang bekerja, Ros. Memangnya siapa juga yang sedang bersantai apalagi berniat mengganggu ...? Aku bahkan sengaja datang untuk menemui kamu loh ..."
"Anya, kamu ..."
"Sebentar, Ros ... Biar aku jelaskan dulu agar kamu gak salah paham."
Pungkas Anya tenang, seolah tak terpengaruh sama sekali dengan wajah Eros yang terlipat.
"Kira-kira seminggu yang lalu, aku baru aja menandatangani kontrak sebagai manager pada sebuah EO yang cukup besar, dan misi pertama aku adalah menyukseskan sebuah event yang kebetulan sekali, sesuai kesepakatan sejak awal akan diselenggarakan di Miracle ..."
Eros terhenyak ditempat duduknya, menerima penjelasan panjang lebar Anya yang terucap dengan senyum jumawa.
Kepala Eros sontak menggeleng berkali-kali mendengar kalimat tak masuk diakal yang baru saja diucapkan Anya.
"Loh? Masih gak percaya juga ...?"
Eros membisu.
Terus terang saja ia masih menyangsikan penjelasan Anya yang panjang lebar karena meyakini satu hal, bahwa seperti yang sudah-sudah, Anya selalu punya seribu satu cara untuk membuat situasi dan kondisi yang ada agar selalu berpihak kepadanya.
"Ya udah kalo gak percaya. Tapi aku akan tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab, dan menemui kamu sesuai perjanjian yang telah disepakati."
Eros tersenyum kecut. "Aku gak pernah tuh merasa membuat janji dengan kamu ..."
"Memang benar kamu gak membuat janji dengan aku, tapi kamu kan membuat janji dengan Juan. Iya kan?"
Eros terhenyak lagi.
'Jadi Anya mengenal Juan?'
'Jangan-jangan sejak tadi wanita itu memang berkata benar ...'
__ADS_1
Bathin Eros yang mulai meragu dengan keyakinannya sendiri.
"Denger yah, Ros, sebagai manager, secara struktur dan posisi, udah pasti Juan berada dibawah aku. Jadi sepertinya aku gak perlu tuh repot-repot menjelaskan mengapa aku bisa datang kemari dan menggantikan Juan."
Eros tersenyum kecut menyadari Anya yang sepertinya memang sengaja mengatur semuanya sedemikian rupa, agar wanita itu bisa menemui dirinya, yang sejauh ini selalu menghindar dari ketersinggungan urusan dengan Anya di setiap kesempatan.
Demi Tuhan, Eros benar-benar sudah muak dengan segala keruwetan hidupnya yang selalu terhubung dengan Anya, sehingga kali ini Eros lebih memilih cooling down demi terhindar dari persoalan yang bisa saja menghambat proses cerai mereka yang tinggal menunggu putusan akhir dari pengadilan agama.
"Kita kan ketemuan karena urusan bisnis, lalu kenapa harus sungkan?" imbuh Anya dengan senyum penuh makna, sambil mengawasi Eros yang sejak tadi lebih sering membuang muka ketimbang menatap wajahnya.
"Jangan ajarkan aku tentang profesional. Aku juga tau memilah persoalan ..." desis Eros, mangkel setelah disindir seolah tidak profesional.
"Baguslah kalo memang seperti itu. So ... Bagaimana kalo kita mulai pembicaraan ini dengan memesan dua cangkir House Blend Coffee ...?" tawar Anya penuh percaya diri, karena merasa yakin bahwa pilihan kopinya telah sesuai dengan kesukaan Eros selama ini.
Eros hanya bisa mengangguk pasrah, karena pada akhirnya ia sadar, bahwa memang tak semudah itu dirinya meloloskan diri dari seorang yang wanita yang over confidence seperti Anya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Gimana, Bell? udah dapet belum novelnya?"
Wajah baby face milik Steve terlihat nongol begitu saja dari balik rak buku.
"Udah, nih ..." ucap Bella semringah sambil menunjukkan cover depan dari novel yang ia inginkan kearah Steve yang sontak menautkan alis begitu membaca judul novel tersebut.
(Maap yah, khusus di bagian ini otor mau nge-halu kalo novel otor dengan judul dibawah kelak bisa ada versi cetaknya juga🤭, biar kayak otor-otor pemes meskipun baru sebatas mimpi di siang bolong😅. Amin-kan bareng-bareng yuuukkk 🤗)
Ejaan Steve lagi-lagi disambut anggukan kepala Bella yang penuh semangat.
"Dih, dari judulnya aja udah horor, Bell ..."
"Horor dari Hongkong?"
Steve tergelak mendapati sepasang mata bulat Bella yang melotot sempurna.
"Lah iya kan, dari judulnya aja udah ketebak tuh ... Pasti kisahnya menceritakan tentang seorang bocil absurd yang naksir berat sama om-om sixpack ..."
"Sotoy ..." cibir Bella, padahal aslinya sih tebakan Steve benar-benar jitu alias tepat sasaran, karena novel bercover ungu itu memang menceritakan kisah cinta Lana dan Tuan Arshlan, yang memiliki perbedaan usia yang jauh bak kisah cinta Bella sama Eros.
Bedanya Bella belum tau aja apakah nantinya Eros bakal se-beringas Tuan Arshlan yang dijuluki readernya dengan si Tuan Jamur ...?
Duh, baru mikirin sepenggal pertanyaan unfaedah aja, Bella udah panas dingin duluan.
Haiihhh ...
(Kenal sama Tuan Arshlan alias Tuan Jamur🍄 kan? Kalo masih ada yang belum kenal, yuk kenalan dulu ... Di jamin pasti meriang ...🤣).
"Bell, kamu yakin mau beli novel itu? Lagian kan di aplikasi Noveltoon sama Mangatoon juga ada kali ..."
__ADS_1
"Beda dong, Steve, baca online sama beli versi cetaknya. Kalo baca online mana bisa dipeluk kayak gini ... Nih ... Nih ..." pungkas Bella sambil mendekap erat-erat novel tersebut kedadanya.
"Gak usah lebay, Bell. Yuk ah, buruan dibayar. Habis itu kita makan dulu, biar cacing di perut pada brenti demo ..."
"Iya, Iya, cerewet ..." dumel Bella, namun tak urung kakinya pun ikut terayun mengikuti langkah kaki Steve yang sudah duluan ngeloyor kearah kasir.
Usai menghadiri kelas kursus tepat jam lima sore, Bella dan Steve memang sengaja menyambangi sebuah toko buku yang gerainya biasanya berada di pusat-pusat perbelanjaan.
Tepatnya sih Bella yang ingin berburu novel dari salah satu author Noveltoon favoritenya yang baru saja ia ketahui telah terbit cetak itu (Ya Allah, semoga aja terwujud ke-haluan yang hakiki ini ...😌), sementara kapasitas Steve sendiri seperti biasa hanya nemenin Bella karena Bella sendiri yang memaksa minta ditemenin.
"Kita makan di mana nih, Steve?" tanya Bella begitu mereka telah melangkahkan kaki keluar dari area kasir.
"Serah deh, Bell, yang penting bisa makan enak ... Trus halal ..." jawab Steve sekenanya.
"Gimana kalo kita makan disitu aja?" telunjuk Bella mengarah ke salah satu resto yang menyajikan makanan Jepang.
"Boleh deh ..." sambut Steve yang tak mau lagi neko-neko memilih karena kondisi perutnya yang memang sudah lapar melilit.
Langkah Bella dan Steve pun mengayun sejajar melewati sebuah waralaba kedai kopi yang cukup terkenal, hendak menuju restoran Jepang yang sesaat lalu telah menjadi kesepakatan keduanya untuk mengisi perut.
Baru beberapa langkah, manakala langkah Bella tiba-tiba terhenti begitu tatapannya tertuju pada sebuah meja yang letaknya agak disudut, dan Bella jelas-jelas mengenali siapa gerangan sepasang manusia yang sedang duduk berhadapan dengan dua buah cangkir kopi diatas meja.
Tidak ... Bagaimana mungkin Bella tidak bisa mengenali keduanya, karena pemandangan tersebut sudah sedemikian jelas berada dipelupuk matanya yang mendadak berkabut.
Steve yang menyadari Bella tak lagi berjalan disisinya, melainkan sudah menghentikan langkah sekitar dua meter dibelakang sontak berbalik dengan wajah keheranan.
"Bell, ada apa?" tanya Steve begitu ia berbalik guna menghampiri sahabatnya yang berdiri mematung.
Tak ada jawaban, namun pemandangan yang ditangkap Steve dari sosok Bella membuat pria itu menjadi was-was.
Wajah yang memerah, sepasang mata yang menyorot tajam namun berkaca, mulutnya terkatup rapat, tapi gemeretak giginya didalam sana bahkan bisa terdengar oleh Steve.
"Bell ..." Steve menyentuh hati-hati bahu Bella, yang tubuhnya seolah sedang terpatri kuat di bumi.
"Pengkhianat ..." desis Bella begitu lirih.
Steve terhenyak. "Apa maksud kamu, Bell ...?"
Bella tidak berusaha menjawab kebingungan Steve, karena dengan kebulatan tekad yang bercampur kenekadan seribu persen, langkah Bella sudah terayun tegas, mendekati dua sosok yang sangat dikenalnya itu.
Siapa lagi kalau bukan Eros sang kekasih, yang kini terciduk terang-terangan sedang berduaan dengan sang calon mantan istri, padahal setengah jam yang lalu baru saja beralasan hendak meeting ...
Bersambung ...
🧕 : Sebenanrnya, bab ini sudah di up sejak kemarin, tapi sepertinya NT lagi mengalami gangguan system sehingga sampai aku memutuskan untuk kembali melakukan edit bab, ternyata belum lolos review juga.
Tapi kalian jangan khawatir, karena bab ini adalah jatah up kemarin, maka untuk hari ini, aku tetap akan up seperti biasa.
Jangan lupa untuk terus di like, comment, gift and vote yah ....🙏
__ADS_1