
Puluhan menit berkendara namun belum ada satu pun obrolan yang tercipta.
Biyan duduk dibelakang kemudi dengan wajah yang datar, sementara Ayu hanya bisa mencuri-curi pandang kearah pria itu namun takut berkata-kata.
Ayu tau Biyan pasti marah kepadanya, meskipun saat ini Biyan memilih diam saja.
Tapi berhubung ini adalah kali pertama dalam seumur hidup Ayu mengenal Biyan, Ayu mendapatkan sikap dingin Biyan yang bahkan betah diam berlama-lama tanpa bicara seperti ini, tentu saja semua itu cukup membuat Ayu nervous.
Ayu bahkan terlalu takut untuk menanyakan bagaimana nanti dirinya harus bersikap, disaat mobil yang dikendarai Biyan kini bahkan sudah terang-terangan memasuki area perumahan elite milik pria itu, sementara Ayu masih tidak tau harus bagaimana nantinya jika Bella atau Rania akan menaruh curiga jika mereka datang bersamaan, atau malah memergoki langsung dirinya yang turun dari mobil Biyan.
Tak berapa lama berselang, mobil tipe sport dengan warna merah menyala itu benar-benar memasuki halaman rumah yang luas, sebelum akhirnya berhenti tepat didepan sebuah rumah megah tiga lantai.
Bugh.
Bunyi hempasan pintu mobil mengiringi langkah Biyan yang keluar dari mobil masih dengan wajahnya yang datar tanpa kata.
Mendapati hal tersebut, Ayu pun buru-buru membuka pintu disebelahnya, kemudian bergegas turun hendak mengikuti langkah Biyan yang terayun cepat mendahului langkahnya.
Namun belum ada beberapa langkah kaki yang terayun, mendadak tubuh Ayu sontak membeku bak terpaku dibumi.
Sosok wanita yang menjulang tepat didepan teras rumah Biyan dengan wajahnya yang super kaget mampu membuat kaki Ayu berhenti melangkah.
'Tante Rania ...'
Bathin Ayu, jengah.
Sementara itu ...
Wajah Rania yang semula terlihat semringah begitu mendapati bayangan mobil Biyan yang memasuki pekarangan rumahnya, mendadak berubah pias, manakala ia sadar bahwa ternyata pria yang sejak tadi ia nantikan kehadirannya itu tidak datang sendirian, melainkan bersama seorang gadis yang selama ini selalu berhasil membuat dirinya jealous tanpa sebab.
Siapa lagi kalo bukan Ayu!
"Rania, di mana Bella?" tanya Biyan to the point, padahal jarak antara Biyan dan Rania masih ada terpaut kira-kira dua meter.
Bukannya buru-buru menjawab pertanyaan Biyan yang kini berjalan lurus kearahnya, Rania yang berdiri terpaku malah melontarkan pertanyaan sambil tak henti menatap sosok Biyan dan Ayu berganti-ganti dengan raut wajah was-was.
"B-Biyan ... K-kenapa kalian datang barengan ...?"
"Kebetulan ketemu di jalan."
Degh!
Jantung Ayu berdetak keras, saat mendengar langsung jawaban Biyan yang seolah terlontar begitu saja tanpa beban.
'Apa ...? Kebetulan ...?'
__ADS_1
'Kebetulan ketemu di jalan ...?'
Demi apa, Ayu sungguh merasa hatinya berdenyut mendengar jawaban Biyan yang sangat jauh dari apa yang Ayu perkirakan sejak awal.
'Bukannya udah seharusnya Om Biyan jujur atas keberadaan Ayu? Kok belum apa-apa Om Biyan malah mengelak sih ...?'
Bathin Ayu berbisik sendu, namun Ayu tetap memilih menahan diri juga menahan langkahnya agar tidak buru-buru mendekat.
"Rania, kamu denger gak sih? Aku tanya di mana Bella?" tanya Biyan lagi kali ini sudah berdiri tepat dihadapan Rania dengan raut wajahnya yang menandakan ketidaksabaran.
"Oh, egh, Bella yah ...? Bella ... Tentu saja Bella ada di kamarnya, Yan. Sejak Bella berani menentang aku semalam dia udah mengunci diri di kamar dan gak keluar sama sekali meskipun sejak semalam sampai tadi pagi, udah gak terhitung lagi seberapa banyak aku mengetuk pintu kamarnya ..."
"Seharusnya kamu gak perlu se-agresif itu." pungkas Biyan dingin sambil melanjutkan langkah kakinya masuk kedalam rumah, sebagai tanggapan atas laporan Rania yang berapi-api tentang kelakuan Bella.
Menerima tanggapan BIyan yang sangat jauh diluar dugaannya cukup membuat Rania terhenyak.
"Biyan, jadi kamu menyalahkan aku? Astaga ... Padahal aku hanya khawatir kalo Bella kenapa-napa ..." Rania memburu langkah Biyan yang terayun tegas, bahkan ia nekad menghalangi tubuh Biyan yang berjalan lurus hendak menuju lift.
"Bukan menyalahkan. Tapi apa kamu gak khawatir jika dengan merong-rong Bella terus-menerus seperti itu bisa membuat Bella semakin keras kepala dan gak mau dengerin kamu sama sekali?"
"Loh? Gimana sih? Kok malah aku yang disalahin ..."
"Rania, udah berapa kali aku bilang aku gak nyalahin ..."
"Tapi kalimat kamu jelas-jelas nyalahin dan mojokin aku, Yan ...!"
"Lagian ... Kamu juga belum jawab, kenapa tiba-tiba kamu bisa datang bareng Ayu? Kenapa kalian bisa datang bersama? Kenapa kalian ..."
"Tadi sudah aku jawab."
"Kebetulan. Itu kan jawaban kamu? Apanya yang kebetulan? Kamu pikir aku anak te-ka yang percaya begitu aja dengan alasan aneh kayak gitu ..."
"Rania, apa pantas dalam keadaan seperti ini, kamu membahas sesuatu yang diluar konteks? Kita ini lagi ngomongin Bella ... Gak ada hubungannya dengan aku pulang sama Ayu atau sama siapa ..."
"Ada! Kata siapa gak ada?!" pekik Rania seolah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
"Rania ..."
"Disaat aku pusing sendiri mikirin Bella yang begitu berani menjalin hubungan dengan sahabat kamu yang brengsek itu, kamu malah enak-enakan sama Ayu ..."
"Rania ..."
"Udah kamu bawa kemana aja a be ge murahan itu? Check in ...?"
"Astaga, Rania, kamu ..."
__ADS_1
"Cih ... Pantesan semalam dia chat Bella katanya gak bisa pulang karena lagi keluar kota sama dosen. Kenyataannya pagi ini malah pulangnya bareng kamu ..."
"Rania ... Tolong jangan kelewatan ..."
"Kamu yang kelewatan, Yan!! Pulang-pulang bawa perempuan gak jelas itu ...!!"
"Rania, stop it ...!!"
Rania nyaris terjengkang mendapati suara Biyan yang menggelegar, hingga bergema ke se-antero ruang tengah yang cukup luas.
Sorot mata Biyan yang tajam, terlihat penuh amarah.
"Rania, jangan pernah lupa bahwa aku tuh ijinin kamu ada disini karena Bella, bukan untuk mengurus urusan yang menyangkut privacy aku! So ... Jangan sok ikut campur masalah pribadi aku. Ngerti kamu?!"
Pemandangan rahang serta dua buah kepalan tangan Biyan yang mengeras sanggup membuat nyali Rania ciut seketika.
Rania pastinya tidak pernah menyangka, bahwa oleh karena perkataannya yang teramat sangat kelewatan dengan merendahkan Ayu begitu rupa, telah membuat Biyan nyaris tak bisa mengendalikan dirinya.
Syukurlah pada detik berikutnya, kendatipun masih diselimuti perasaan emosi, akhirnya Biyan berhasil menekan amarahnya yang hendak meledak itu kuat-kuat agar jangan sampai dirinya lost control, karena jika hal itu terjadi maka sudah pasti akan berakibat fatal untuk semuanya.
Wajah Rania merah padam, rasanya sangat malu, dan ia juga tergugu mendapati kalimat Biyan yang terdengar penuh penekanan, seolah menohok tepat ulu hatinya dengan begitu keras.
Sungguh, Rania tak menyangka bahwa Biyan bisa mengucapkan semua kalimat menyakitkan seperti itu, di saat ia justru berharap hubungannya dengan Biyan akan segera membaik.
Rania benar-benar merasa shock, karena rasanya semua kejadian tak terduga seolah bergulir terlalu cepat.
'Kita bicarakan semua di rumah aja. Gak nyampe satu jam aku nyampe'.
Sejak awal Rania menerima balasan chat Biyan atas jawaban voice note-nya saja Rania bahkan sudah merasa aneh dengan kenyataan tersebut.
Bagaimana mungkin Biyan bisa sampai kerumah dalam kurun waktu kurang dari satu jam?
Bukankah Biyan masih berada diluar kota nun jauh diujung utara negeri ini, sehingga butuh berjam-jam lamanya untuk kembali?
Jadi untuk apa Biyan berbohong tentang kepulangannya yang tertunda?
Semua kenyataan itu telah membuat Rania bingung sekaligus curiga, lalu bagaimana Rania tidak merasa terkejut setengah mati jika pagi ini Biyan malah kembali ke rumah bersama Ayu, yang entah bagiamana bisa sangat kebetulan juga tidak pulang ke rumah di malam yang sama!
"Aku ingin bicara empat mata dengan Bella." ujar Biyan lagi sambil melangkahkan kakinya kembali kearah lift, tanpa menunggu seperti apa tanggapan Rania terlebih dahulu.
Pria itu jelas-jelas telah mengisyaratkan dirinya tidak ingin ada Rania dalam pembicaraannya dengan Bella, dan oleh karena itulah Rania hanya mampu terdiam ditempatnya, bahkan saat Biyan dengan acuh berjalan melewatinya begitu saja.
Ting.
Suara pintu lift yang terbuka dibelakang punggung Rania mampu membuat Rania berbalik, namun yang ia dapati hanyalah sosok Biyan yang berdiri kaku sampai pintu lift tersebut kembali tertutup rapat, dengan Biyan yang tidak menatapnya sama sekali ...
__ADS_1
Bersambung ...
🧕 : Jangan lupa di support yah guyz ... 🙏