
"Biyan, aku pengen kita bisa kembali seperti dulu dalam satu keluarga yang utuh. Sungguh, aku nyesal banget udah mengambil keputusan yang sangat keliru. Aku pikir kehidupan yang aku jalani selama tujuh tahun terakhir ini adalah apa yang benar-benar aku impikan ... Tapi ternyata aku salah ... Karena pada akhirnya aku sadar bahwa yang aku inginkan justru kembali ke masa lalu, saat masih bareng kamu dan Bella ..."
Kalimat panjang lebar Rania pada beberapa saat yang lalu seolah sanggup membuat Biyan kehilangan semua perbendaharaan kata yang ia punya.
Biyan termenung lama, dan belum bisa berkata apa-apa.
Biyan bahkan tidak pernah menyangka bahwa Rania bisa mengatakan semua hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dibenaknya, bisa ia dengar dari mulut Rania secara spontan, setelah pada awalnya wanita itu mengemukakan segenap rasa keberatannya atas kehadiran Ayu juga Eros dalam kehidupan Bella.
"Aku tau kok, setelah tujuh tahun terlewat ... bisa jadi kamu berpikir bahwa apa yang aku utarakan barusan sangat terlambat. Tapi kamu juga harus tau tentang satu hal, bahwa sesungguhnya penyesalan aku ini datangnya sudah sejak lama, hanya saja aku berusaha keras untuk menerima kenyataan ..." Rania yang duduk diujung ranjang kembali berucap lirih, sambil terus berusaha menetralisir degup jantungnya yang seolah saling berkejaran.
"Rania, kalau emang benar kamu udah berusaha keras menerima kenyataan, lalu untuk apa lagi mengatakan semua ini ..."
"Demi Bella." pungkas Rania cepat.
Suara tawa kecut Biyan bahkan bisa tertangkap telinga Rania dengan begitu jelas, saat menanggapi sanggahan Rania yang terdengar begitu yakin.
'Demi Bella ...?'
Biyan merasa bathinnya ngilu.
Bukan apa-apa, karena rasanya masih begitu lekat dalam ingatan Biyan, tujuh tahun yang lalu saat Rania ngotot ingin mereka berpisah.
Entah sudah tak terhitung lagi sudah berapa banyak bibir Biyan mengucapkan sepenggal kalimat yang sama.
'Demi Bella ...'
'Demi Bella ...'
__ADS_1
'Demi Bella ...'
Yah ... Biyan selalu mengucapkan dua kata itu acap kali memohon agar Rania mau berubah pikiran dan mengurungkan niat untuk pergi dari kehidupan Biyan.
Namun pada kenyataannya tak sedikit pun keputusan Rania goyah dan mengindahkan permohonan Biyan, bahkan air mata Bella yang berusaha menahan kepergian Rania saat itu seolah tak ada artinya.
Lalu jika hari ini, dengan alasan 'Demi Bella' Rania memakai kalimat itu sebagai dasar agar mereka bisa kembali utuh layaknya sebuah keluarga tak bercela ... Oh my ...!
Jelas saja Biyan merasa sedikit lucu, mendengar Rania memohon dengan alasan yang sama.
Kenapa wanita itu seolah tidak merasa malu sedikitpun?
Aneh, karena bahkan Biyan yang mendengar alasan seperti itu ikut merasa malu!
"Biyan, tolong pikirkan tentang masa depan Bella. Apa kamu gak mengkhawatirkan tumbuh kembang Bella sama sekali ...? Kamu gak bisa memungkiri bahwa saat ini Bella butuh aku sebagai Mamanya, yang sudah pasti lebih tau persis apa yang baik dan enggak baik untuk putri kita ..."
'Rania ... Rania ... Memangnya kapan Bella gak butuh kamu ...?'
'Pada kenyataannya mau itu dulu atau sekarang, Bella selalu butuh kehadiran kamu.'
'Tapi permasalahannya sekarang adalah ... Di mana kamu saat Bella membutuhkan dirimu ...?'
Biyan membathin gusar.
"Biyan, kenapa kamu diem aja ...?" panggilan Rania cukup ampuh membuyarkan semua lamunan Biyan.
"Iya, Rania, tentu saja aku khawatir ..."
__ADS_1
Ungkap Biyan buru-buru, menyadari wanita diujung sana pastinya tengah menanti tanggapannya dengan tak sabar, seperti kebiasaan Rania selama ini.
"Kamu harus tau bahwa selama ini aku telah melakukan pengawasan semaksimal mungkin, meskipun tetap dalam batas kewajaran. Lagipula umur Bella sudah sembilan belas tahun, Bella bahkan sudah sangat mahir mengurus dirinya sendiri ..." imbuh Biyan yang pada akhirnya memutuskan untuk mengatakan semua itu meskipun ia risih.
Rania tidak pernah se-overprotektif seperti sekarang, jadi wajar saja jika Biyan merasa agak risih melihatnya berubah sangat perhatian tanpa sebab berarti.
Hanya karena kehadiran Ayu yang merupakan satu-satunya alasan yang untuk pertama kalinya bisa membuat hati Biyan tenang meninggalkan Bella, juga kehadiran Eros yang bahkan selama ini selalu menjadi sosok yang paling berjasa dibalik kesuksesan Biyan.
Bagaimana mungkin Rania malah menuding kedua orang itu serta mencurigai niat baik mereka?
Sungguh tidak masuk diakal!
"Justru karena Bella mulai beranjak dewasa, yang membuat aku makin yakin tentang betapa pentingnya kehadiran aku di sisi Bella. Apalagi setelah sekian lama waktu berlalu, aku dan Bella seolah menjadi gak dekat satu sama lain ..."
"Kalo masalah kedekatan, itu hal yang lumrah. Rania, kan kamu sendiri yang milih tinggal di luar negeri untuk mewujudkan semua hal yang kata kamu telah menjadi impian terbesar kamu selama ini ..." kilah Biyan.
"Iya, baiklah ... Baiklah ... Aku akui, aku memang berada jauh dari Bella selama tujuh tahun terakhir. Tapi semua itu bukan berarti aku bisa menerima peranku diganti ...!"
Mendengar penuturan Rania yang sangat kekanak-kanakkan, Biyan malah tertawa kecil.
"Rania ... Rania ... Kamu ini bicara apa ...? Kamu tau persis bahwa sampai kapanpun kamu tetap Mamanya Bella. Memangnya kenyataan itu bisa diubah? Lalu siapa yang berani mengganti peranmu ...?"
Rania terdiam, sibuk menduga-duga apakah dengan mengatakan perannya tidak terganti oleh siapapun, lalu serta-merta merupakan signal positif dari Biyan untuk menerima dirinya kembali ...?
Entahlah ...
...
__ADS_1
🧕: NEXT yuk, tapi jangan lupa di support dulu yah 🥰