
Ayu langsung menggigit bibir bawahnya, sekuat tenaga berusaha menghalau agar tawanya tidak pecah berderai.
Bukannya Ayu kurang empati dengan keadaan Bella yang sedang patah hati, tapi menyaksikan kesedihan Bella saat ini sungguh merupakan sebuah pemandangan yang benar-benar lucu.
Bayangin bagaimana lucunya wajah Bella yang berlinang air mata, sembari dengan sengaja mengunyah semua jenis makanan yang ada kuat-kuat akibat kehadiran wajah Eros yang nangkring di semua permukaan makanan yang ada dihadapannya ...!
"Bell, trus sekarang apa rencana Bella ke depan ...? Bella masih mau ngejar cinta Om Eros apa gimana ...?" usut Ayu.
Bella terlihat menggeleng lesu. "Gak bisa lagi, Yu. Bella malah berniat mau jauhin Om Eros aja dulu ..." jawab Bella dengan nada suara yang serak.
"Yakin nih ...? Emangnya Bella bisa tahan gak ketemu Om Eros lagi ...?"
"Ya gak yakinlah, Ayu ... tapi mau gimana lagi, Bella kan gak punya pilihan lain. Bella takut Om Eros jauhin Bella, karena kalo Bella deket-deket Om Eros ... Bella kan gak bisa menahan diri ...!"
Ayu menghembuskan napasnya perlahan, namun sepasang matanya tak kunjung beralih dari wajah Bella yang berantakan.
Dalam hati Ayu juga gak habis pikir, bagaimana bisa Eros berani memberikan syarat yang maha berat bagi Bella, padahal pria itu tau persis seperti apa sikap Bella selama ini.
Bagaimanapun juga sejak kecil Bella sudah terbiasa bermanja dengan Eros, terlepas seperti apa sejatinya perasaan Bella saat ini, tetap saja Ayu merasa gak adil aja jika Eros mengambil keputusan setegas itu.
"Bella gak tau ini bakal berhasil apa enggak, Yu, tapi semoga aja Bella tahan kalo gak ketemu Om Eros dalam waktu dekat ... biar Om Eros juga puas karena semua ini kan kemauan Om Eros juga ..."
Ayu terdiam, seraya menatap Bella yang telah beberapa kali mengusap air mata dengan punggung tangannya.
"Menurut Ayu gimana? Apa keputusan Bella udah tepat ...?" tanya Bella lagi kali ini ia balik menatap Ayu, begitu ia tersadar bahwa Ayu tak kunjung menanggapi keputusannya dalam menyikapi penolakan Eros.
Ayu terlihat mengangguk dengan seulas senyuman yang tipis. "Intinya apapun keputusan Bella, Ayu tetap dukung ..." pungkas Ayu kemudian dengan intonasi tegas, seolah ingin menambah motivasi bagi Bella agar tetap tegar meskipun sedang dirundung kesedihan.
"Yu, Om Eros pasti senang kali ya kalo Bella menjauh ..." suara Bella terdengar lirih, namun kali ini tanggapan Ayu malah sebaliknya, karena Bella malah melihat Ayu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"No, Bell ... bukan senang, tapi sebaliknya."
"Maksud Ayu ...?"
"You have to trust me. Ayu yakin banget, setelah semua ini Om Eros pasti bakalan nyesal, karena dia udah tega menyakiti hati Bella seperti ini ..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah makan siang yang dibumbui sedikit drama patah hati Bella, pada akhirnya Bella dan Ayu kembali ke kamar masing-masing usai membereskan dan mencuci peralatan makan seadanya dari sisa makan siang mereka.
Siang ini keduanya harus bersiap, karena mereka berdua akan pergi ke kampus untuk mengikuti jam kuliah yang sempat ditunda oleh dosen.
__ADS_1
Konsentrasi Ayu yang sedang mengeringkan wajahnya dengan handuk sontak teralihkan, begitu terdengar suara ponsel yang berdering diatas meja rias.
Bergegas Ayu mendekati meja rias tersebut guna meraih benda pipih yang sedang berdering. Namun begitu Ayu sadar siapa gerangan sang penelpon, detik berikutnya jantung Ayu telah memacu dua kali lebih cepat dari biasanya, hanya dikarenakan nama 'Papanya Bella' yang tertera jelas dipermukaan layar ponsel.
"Om Biyan ..." desis Ayu lirih, sebelum akhirnya memutuskan menerima panggilan tersebut usai menata degup jantungnya terlebih dahulu.
"Hallo, Ay ...?" suara bariton yang khas diseberang sana membuat sepasang mata Ayu sontak memejam, seolah ingin lebih meresapi setiap hembusan kata juga napas pria itu dengan sepenuh jiwa.
"I-iya, Om. Ada apa ...?"
"Udah selesai beres-beresnya?" tanya Biyan to the point, seperti biasa pria itu seolah tak pernah suka berbicara basa-basi.
"Udah, Om. Ayu bahkan udah daritadi dirumah Om Biyan ..."
"Kok cepat banget pindahannya, Ay ...?" nada suara Biyan terdengar sedikit kaget.
Bukan apa-apa, karena Biyan bahkan baru saja menginjakkan kaki di bandara SRL, yang ada di sebuah kota tempatnya untuk transit, sebelum ia harus melanjutkan kembali perjalanannya besok pagi dengan pesawat jenis ATR dengan kapasitas 72 orang penumpang, di mana pesawat yang merupakan milik salah satu maskapai penerbangan swasta terbesar di tanah air itu merupakan satu-satunya pesawat yang melayani penerbangan dengan rute salah satu pulau terluar NKRI yang menjadi tujuan Biyan saat ini.
"Barang-barang Ayu kan gak banyak, Om, jadi gak butuh waktu lama untuk beres-beresnya." ucap Ayu menjelaskan.
Biyan yang menelpon sambil berjalan kearah pintu keluar bandara terlihat manggut-manggut, meskipun sudah jelas Ayu tidak mungkin bisa melihat anggukannya.
"Kalian udah makan belum, Ay ...?" tanya Biyan lagi.
"Oh, begitu. Ya udah kalau gitu Ayu siap-siap aja dulu. Oh iya ... by the way, Bella baik-baik aja kan? Soalnya barusan Om telpon ponsel Bella tapi gak diangkat ..."
"Mungkin Bella lagi di kamar mandi, Om ..."
"Iya sih. Ya udahlah gak apa-apa , nanti Ayu sampaikan aja ke Bella kalo Om barusan nelpon yah."
"Baik, Om. Pasti Ayu sampein ke Bella."
"Om titip Bella yah, Ay ..."
"Iya, Om."
"Ya udah, baik-baik di sana, Om tutup dulu telponnya ..."
"Om Biyan ...!"
Biyan yang hendak mengakhiri pembicaraan sontak urung mendapati panggilan Ayu.
__ADS_1
"Iya, ada apa, Ay?"
"Mmmm ... anu ... jadi ... Om udah nyampe ...?" tanya Bella agak tersendat.
"Iya, Ay. Om baru aja nyampe, ini malah masih di bandara. Tapi kalo nyampe tujuan utamanya nanti besok karena penerbangan ke daerah itu hanya ada satu kali sehari dan take off-nya jam delapan pagi. Jadi Om harus nginep dulu di kota ini semalam ..."
Ayu menggigit bibir bawahnya menyimak penjelasan Biyan yang panjang lebar tersebut.
Dalam hati Ayu bingung untuk mengatakan sesuatu yang masih menjadi perdebatan dalam benaknya sejak awal ia mengetahui ke mana tujuan Biyan.
Ayu ragu untuk memutuskan, tentang apakah penting untuk dirinya mengutarakan hal tersebut kepada Biyan atau tidak.
"Om, sebenarnya ..."
Mengambang.
Ayu terdiam lagi, semakin bimbang.
Ada sesuatu yang rasanya ingin sekali Ayu ungkapkan kepada Biyan, perihal tempat yang kelak akan menjadi tujuan utama pria itu, tapi lagi-lagi Ayu mengurungkan niatnya.
"Ada apa, Ay ...?"
"Egh, a-anu ... gak ... gak kenapa-napa kok, Om ..."
Dua alis Biyan bertaut mendengar nada keraguan dalam sanggahan Ayu.
"Ay, kamu ini mau ngomong apa sih ...?" tanya Biyan dengan nada lembut.
"A-anu, Om ... gak ada kok, Ayu ... cuma mau bilang, mmm ... semoga pekerjaan Om Biyan di sana berjalan dengan lancar ..."
Biyan tersenyum menerima perhatian Ayu yang terucap dengan nada tersendat, malu-malu. "Amin ... Amin ... terima kasih, Ay ..."
"I-iya, Om ..."
Dada Ayu seolah ingin meledak karena bahagia, atas tanggapan positif Biyan pada kalimatnya yang terdengar sangat gugup. Sehingga usai Biyan mengucapkan pamit hendak menutup pembicaraan, Ayu masih saja setia berdiri ditempatnya.
Sebelah tangan Ayu pun refleks terangkat guna menyentuh dadanya yang masih saja riuh ...
Juga bergemuruh ...
...
__ADS_1
Bersambung ...
🧕: Bagi like, comment, vote, and gift yah ... lophyuuu all ... 😘