
"Om Biyaaaan ...?!"
Ayu tak bisa lagi menahan diri untuk memekik begitu menyadari siapa gerangan pria yang duduk didepan, tepatnya dibelakang kemudi.
Ayu sama sekali tak menyangka akan mendapati kejutan semanis ini, karena pada awalnya Ayu benar-benar mengira pria yang menjemputnya seperti biasa itu adalah Pak Yos, sama sekali tidak terbersit bahwa Biyan sengaja menyamar untuk mengejutkannya sedemikian rupa.
"Duduknya pindah kedepan, Ay ..." titah Biyan masih dengan tubuhnya yang berguncang lirih karena tawa renyahnya, menyadari keterkejutan Ayu yang belum juga usai.
"Om Biyan ... Kok ..."
Mengambang.
"Sssstt ... Pindah kedepan dulu duduknya, baru dilanjut lagi ngomongnya ..." ujar Biyan kalem.
Ayu pun mengangguk patuh.
Tanpa membuang waktu, gadis itu langsung membuka kembali pintu samping yang baru saja ia tutup, bergegas keluar menuju pintu depan agar bisa duduk disebelah Biyan.
"Isssshh .... Om, Biyan, jahil banget sih ... Pake acara bo'ongin Ayu segala ...!" protes Ayu begitu tubuhnya mendarat sempurna disebelah Biyan, yang sedang menatapnya penuh kerinduan.
"Namanya juga pengen ngasih surprise ..."
"Gak lucu ih." Bibir Ayu naik dua centi.
"Senang gak ...?" pungkas Biyan dengan nada suara menggoda yang begitu kentara.
Mendengar itu sekujur wajah Ayu langsung blush.
"Ya udah, kalo gak senang Om balik nih ..." kilah Biyan mendapati Ayu yang membisu dengan wajah yang dipenuhi semburat.
"Dihh, apaan sih, Om ..."
"Lagian, ditanyain malah gak dijawab ..."
"Ya, senang lah ..." desis Ayu malu-malu, sambil mengalihkan tatapannya dari sosok Biyan yang seolah sedang mengulitinya tampa berkedip.
Biyan tersenyum mendapati kejujuran Ayu yang terdengar begitu menggetarkan hingga ke relung jiwanya, apalagi saat mendapati gestur tubuh salah tingkah milik Ayu yang begitu menggemaskan.
Tanpa bisa bersabar lebih lama, Biyan langsung mencondongkan tubuh kekarnya agar bisa merengkuh tubuh mungil Ayu seutuhnya.
Sementara itu ...
Saat mendapati sentuhan Biyan yang penuh kerinduan, Ayu pun ikut memberanikan diri untuk serta merta mengalungkan dua lengannya ke leher Biyan, berusaha mengikuti naluri jiwanya yang seolah begitu ingin meluapkan segenap perasaan rindu yang membuncah.
"Om kangen banget sama Ayu ..." bisik Biyan diantara setiap helai rambut Ayu yang terkuncir ala kadarnya, bahkan terkesan sedikit berantakan.
Biyan bisa merasakan belitan dua lengan Ayu yang semakin mengetat, seiring dengan wajah mungil yang menyelusup semakin dalam kedadanya.
"Ayu juga kangen, Om ... Kangen banget malah ..." lirih suara Ayu terdengar diantara sela-sela hem yang dikenakan Biyan, berpadu sempurna dengan bunyi debaran jantung Biyan yang berdegup kencang di dalam sana, yang mencerminkan segenap perasaan menggelora yang semakin lama semakin terasa sulit untuk dikendalikan.
Perasaan manis dan hangat yang sangat kontroversial seolah mengalir lancar di setiap nadi, membuat kedua tangan Biyan terangkat sekaligus, memaksa membingkai keseluruhan wajah mungil milik Ayu dengan kedua jemarinya yang lebar.
Sungguh mati, Biyan tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Lagipula bagaimana mungkin Biyan mampu bertahan saat bayangan tentang seberapa lembut dua buah bongkahan bibir Ayu yang sempat ia kecap, dalam waktu singkat telah berhasil menguasai dan menginvasi seluruh lamunan sadar terlebih alam bawah sadarnya.
Hhhmmn ...
Biyan merasa sangat menikmatinya, saat untuk kali kedua ia berhasil menguasai pusat dari segenap kelembutan, kemudian sedikit demi sedikit mulai mengeksplornya.
Rasanya masih sama.
Masih lembut ...
Masih hangat ...
Masih teramat sangat manis, mengalahkan manisnya sirup dan gula ...!
Remasan dua jemari Ayu dimasing-masing bahu kiri dan kanan Biyan, seolah menggambarkan dengan nyata betapa gadis itu juga tak kalah berdebar, meskipun sudah jelas-jelas menerima kehadiran Biyan dengan sepenuh jiwa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kita mau kemana, Om?"
Sepasang alis Ayu bertaut nyata, begitu menyadari rute perjalanan mobil yang dikemudikan Biyan yang mulai melenceng dari jalurnya.
"Om Biyan, ini ... Kita gak pulang ke rumah ...?" lagi-lagi Ayu mengemukakan tanya, kearah Biyan yang malah tersenyum penuh makna.
"Gak."
"Tapi ..."
"Udah capek-capek mengelabui semua orang biar percaya kalo Om gak bakal pulang hari ini, lalu ngapain buru-buru pulang ke rumah, Ay ...?"
Biyan terlihat mengerling sejenak kearah Ayu yang bahkan duduknya pun kini terlihat semakin tak tenang saking gugupnya.
Biyan tau Ayu sedang dilanda kegugupan yang hebat, namun mendapati pemandangan lucu nan menggemaskan itu justru membuat Biyan diam-diam semakin bersemangat.
Yah, bagaimana pun juga Biyan kan pria normal, yang tentu saja tak munafik jika pada dasarnya ia ingin membangun quality time bersama seorang wanita, yang sudah jelas-jelas halal untuknya.
Jujur, sejak hubungan Biyan dan Rania mulai memburuk yang kemudian berakhir dengan sebuah perpisahan, sejak awal Biyan memang telah memilih untuk fokus membesarkan Bella serta berusaha keras membentuk karirnya dengan sebaik-baiknya.
Sekian lama menepis hasrat serta berbagai uluran tangan wanita yang ingin menggapai hatinya, Biyan sama sekali tak menyangka jika penantiannya justru berakhir dengan Ayushita Melani, sahabat putrinya sendiri yang bahkan ia nikahi lewat sebuah insiden yang hingga detik ini masih sulit dipercaya oleh Biyan sendiri.
Biyan telah menganggap bahwa keseluruhan alur cerita hidup yang ia jalani bersama Ayu, boleh jadi merupakan karma baik yang dihadiahkan khusus oleh Yang Maha Kuasa, sebagai buah dari kesabaran dan penantiannya selama ini.
Sungguh luar biasa.
Karena Biyan tak menyangka jika dirinya bisa mempersunting seorang wanita cantik berusia belia, dengan sifat penyayang dan keibuan yang cukup dominan seperti Ayu.
Ayu bahkan berasal dari latar belakang keluarga baik-baik, juga teramat sangat harmonis meskipun kehidupan perekonomian mereka sangatlah sederhana dan bersahaja.
Jadi tak heran rasanya jika dalam sekejap, Biyan telah dibuat terpukau begitu rupa oleh semua hal positif yang ada di diri Ayu.
"Om, kalo Ayu belum pulang ke rumah, trus Bella nanyain Ayu gimana dong ..." celetuk Ayu tiba-tiba usai terdiam cukup lama dalam kegelisahan yang membuat Ayu merasa bingung harus berbuat apa.
"Bilang aja Ayu lagi nginep di rumah teman ..." kilah Biyan ala kadarnya.
__ADS_1
"Teman? Tapi teman siapa, Om?"
"Ya gak tau, Ay. Om mana tau siapa aja teman Ayu ..."
Lagi-lagi Ayu terdiam untuk beberapa saat.
"Bilang aja teman Ayu siapa kek ..."
"Tapi selama ini teman Ayu cuman Bella doang, Om ..." kilah Ayu dengan wajah polosnya, sanggup membuat Biyan menggaruk tengkuknya yang mendadak gatal.
"Ya udah, cari alasan yang lain ..." tepis Biyan menyadari otaknya mulai buntu.
'Alasan yang lain ...?'
'Tapi Ayu harus kasih alasan apa lagi, coba ...?'
Ayu berusaha mereka-reka, kira-kira alasan apa yang sekiranya pantas untuk ia jadikan alasan kepada Bella, demi menuruti keinginan Papanya yang lagi on fire.
"Gimana kalo Ayu kasih alasan lembur buat nyelesein kerjaan ...?" celetuk Biyan lagi memberi ide. "Bilang aja mau lembur karena dosen Ayu tiba-tiba ngasih banyak banget tugas buat diselesaikan secepatnya ..."
"Boleh juga sih, Om, tapi ... Apa gak aneh tuh pake alasan lembur sementara sekarang udah masuk weekend ...?" tanya Ayu yang baru aja ngeh kalau ternyata hari ini sesungguhnya waktu yang terus berputar sudah berada nyaris di penghujung minggu.
"Udah gak pa-pa, Ay, daripada gak tau lagi harus kasih alasan apa. Lagian Bella juga anaknya positif thinking kok, asalkan kita ngomong gitu aja dengan baik, dia pasti bakalan percaya ..."
Dalam hati Ayu sedikit membenarkan omongan Biyan.
Bella memang seperti itu, dalam artian Bella mudah mempercayai orang, apalagi jika yang mengatakannya adalah orang yang juga ia percayai.
Namun kendati pun demikian semua itu tidak serta membuat Ayu merasa tenang.
Berbagai pikiran kini telah bercampur aduk dalam benaknya, manakala otaknya mulai iseng menebak kemana kira-kira Biyan akan membawa dirinya sehingga pria itu membutuhkan alasan agar Bella putrinya, tidak menaruh curiga.
'Jangan-jangan Om Biyan bakal ngajak Ayu nginep di suatu tempat ...'
'Tapi ... Nginep di suatu tempat berdua aja ...?'
'Oh my ... Apa ini bisa dibilang honeymoon ...?'
Dalam kekalutan yang membuat Ayu resah gelisah, tiba-tiba saja ingatan Ayu kembali terbentur pada pembicaraan nafkah lahir-bathin yang sempat di sentil Biyan sebelum kepergian pria itu pada beberapa hari yang lalu.
'Demi apa ...'
'Apa iya Ayu bakal di unboxing Om Biyan sekarang ...?'
'Aduh ... Aduh ... Gimana ini ...?'
Jujurly, saat ini Ayu beneran merasa panik.
Bukan dalam artian Ayu ingin mangkir dari kewajibannya sebagai istri, tapi memikirkan apa yang kira-kira bakal terjadi antara dirinya dan Biyan dalam beberapa saat ke depan ...
Bagi Ayu semua itu rasanya ribuan kali lebih pelik, dari sekedar rumusan matematika dasar ...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Jangan lupa Like, Vote and all supportnya yah ... 🙏