HALLO, OM ...!

HALLO, OM ...!
TELEPON DARI IBU


__ADS_3

Yaolo ... Yaolo ... Kenapa pada gak sabaran semua yah ...?


Hola, my reader aku yang terbaiiiiikkk di dunia meskipun cuma seiprit jumlahnya ... 🥲


Aku cuma mau bilang, kalo jangan pernah berpikir bahwa author remahan ini gak pernah merhatiin jejak kalian baik jempol, like, vote, gift, apalagi yang suka ngomel-ngomel di kolom komentar ... 😅


Fix, aku hafal semua kalian 1 per 1 meskipun gak semua comment bisa aku bales. So, cuma mau bilang ... Thx bangeettt atas semua support kalian kepada author yang mager ini yah ... 😍


So, untuk my reader yang terlope-lope, hari ini author sengaja double up, meskipun gak yakin juga kalo kalian bakalan puas bacanya apa masih aja pengen nambah. He ... He ... He ... 🤭


Lophyuuu all ... 😘😘😘


...


Ayu masih membolak-balikkan buku catatan dari mata kuliah Etika dan Hukum Bisnis sambil rebahan diatas ranjang.


Memang selain main hape, sudah jadi kebiasaan Ayu sebelum tidur, yang selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca sedikit catatan pelajaran mata kuliah, apalagi saat ini sedang UAS, otomatis jadwal belajar Ayu jadi makin nambah.


Dddrrtt ...


Getaran ponsel miliknya yang tergolek diatas bantal sedikit mengagetkan Ayu, membuat Ayu bergegas meraih benda pipih tersebut.


"Ibu ...?"


Dua alis Ayu sontak bertaut menyadari siapa gerangan sang penelpon.


Dengan senyum yang lebar, Ayu pun buru-buru menggeser icon berwarna hijau yang terdapat di permukaan layar ponsel, guna menerima panggilan dari wanita pemilik surganya itu.


"Hallo, Assalamualaikum, Bu ..."


"Waalaikumsalam, Nak ..."

__ADS_1


Hanya dengan mendengar sepenggal suara dari wanita paruh baya diseberang sana sudah membuat Ayu bahagia tak terkira, padahal pada kenyataannya baik Ibu dan Ayah maupun Ayu selalu rutin saling menelpon satu sama lain nyaris setiap hari, meskipun hanya sekedar untuk berbagi kabar.


"Belum tidur, Yu?" suara diseberang kembali terdengar.


"Belum, Bu, ini Ayu juga baru aja kelar belajar buat UAS besok. Lagian di sini kan masih jam delapan." kilah Ayu.


"Oh iya yah, di sana baru jam delapan ternyata ..."


Ibu Arum bergumam, seolah baru kembali tersadar dengan adanya perbedaan waktu, yang membuat perputaran waktu di Ibukota menjadi lebih lambat satu jam.


"Trus gimana ujiannya siang tadi? Bisa gak Ayu ngerjainnya?" tanya Ibu Arum kemudian.


"Bisa dong, Bu ..." jawab Ayu dengan penuh percaya diri, karena kenyataannya Ayu memang selalu giat belajar demi mempertahankan prestasi akademiknya.


Mengingat sejarahnya Ayu yang bisa menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi kenamaan di ibukota tersebut adalah lewat jalur beasiswa prestasi, maka pastinya Ayu merasa perlu mendapatkan nilai yang memuaskan sebagai bentuk tanggung jawabnya atas beasiswa yang telah ia terima selama ini.


"Yu, gimana kabar Biyan? Kalian berdua ... Sehat-sehat aja kan? Hubungan kalian juga baik-baik aja kan ...?" tanya Ibu Arum seolah telah menjadi sebuah struktur pertanyaan paten yang bahkan telah Ayu hafal luar kepala.


Bertanya tentang lancar tidaknya kuliah Ayu, bertanya tentang kabar kesehatan Ayu, dan semenjak Ayu menikah dengan Biyan pertanyaan paten dari kedua orang tuanya pun otomatis bertambah satu ... Yakni selalu bertanya tentang keadaan Biyan, juga hubungan mereka.


"Kami baik-baik aja, Bu. Tapi malam ini Om Biyan-nya belum pulang, masih kerja ..." jawab Ayu jujur, sambil melirik jarum jam di dinding kamarnya yang sudah menunjuk pukul delapan lewat sepuluh puluh menit.


"Owh, kalo gitu beneran dong yang dibilang Ayah barusan ..."


Kedua alis Ayu mengerinyit mendengar ucapan Ibu diseberang.


"Emangnya Om Biyan nelpon Ayah ...?" usut Ayu kepo, saat menyadari Biyan sepertinya baru saja menelpon Ayahnya.


"Iya, Yu, barusan aja ..." jawab Ibu Arum, dengan begitu meyakinkan.


"Oh ya? Mmm ... Kenapa Om Biyan nelpon Ayah, Bu?" usik Ayu lagi semakin kepo.

__ADS_1


Seingat Ayu, saat mereka baru saja menginjakkan kaki pertama kali di bandara, begitu Biyan mengaktifkan ponselnya, tanpa mengatakan niatnya terlebih dahulu Biyan memang langsung menghubungi Ayah hanya demi memberitahu bahwa mereka berdua sudah tiba dengan selamat.


Kemudian Ayu juga mendapati kenyataan, yang bersumber dari Ibu, bahwa setelah itu, mungkin ada dua kali Biyan menelpon kedua orang tuanya hanya demi bertanya kabar, yang Biyan lakukan tanpa sepengetahuan Ayu.


Itu artinya ini adalah kali ke-empat pria itu menghubungi kedua orang tuanya via telepon, dan semua perlakuan Biyan tersebut terlihat sangat berharga dimata orang biasa seperti mereka, yang masih sangat menjunjung tinggi budaya saling menghormati meskipun dengan skala yang tergolong sederhana seperti perhatian yang Biyan berikan.


Perhatian Biyan seolah sudah lebih dari cukup menjadi alasan bagi kedua orang tua Ayu menjadi semakin respect dengan menantu baru mereka, karena mereka menganggap Biyan cukup perhatian terhadap mertuanya.


"Loh, memangnya Biyan belum ngomong?" suara Ibu Arum seolah menerbangkan lamunan sesaat Ayu.


Alis Ayu bertaut satu sama lain. Perasaan saat mereka ngobrol sekitar jam tujuh sebelum makan malam lewat video call dari ponsel Bella, Biyan tidak mengatakan sesuatu yang penting, apalagi mengenai rencana berpergian.


"Mmm ... Maksudnya ... Ngomong gimana yah, Bu?" ucap Ayu lagi, yang memutuskan untuk bertanya daripada terus menduga-duga.


"Kata Biyan, ada hal penting yang menyangkut pekerjaannya, yang membuat dia harus kembali ke sini. Kalo Ibu gak salah dengar dari Ayah sih, Biyan malah mau ke bandara malam ini juga ..."


"Apa ...?!" Ayu terhenyak mendengar penjelasan Ibunya.


'Om Biyan berencana mau balik ke kampungnya? Ada apa? Pasti karena proyek Om Biyan yang kemaren ... Tapi kenapa mendadak sekali ...? Kenapa juga Om Biyan gak ada ngomong sama Ayu, padahal sama Ayah dan Ibu aja bisa ngasih tau ...'


Ada setitik kecewa yang mengusik, menyadari Biyan yang seolah menyepelekan dirinya dalam segala hal.


Terlebih saat menyadari, Selama mereka kembali rekor menelpon Biyan kepada kedua orang tuanya yang sebanyak empat kali justru melebihi jumlah pria itu menelpon Ayu langsung yang notabene berstatus istri pria itu.


"Gak apa-apa sih kalo Om Biyan lebih menghargai Ayah dan Ibu karena respect sama orang tua Ayu yang bisa dibilang sebaya. Tapi apa Ayu segitu bocilnya di mata Om Biyan? Apa Ayu beneran gak ada artinya sama sekali gitu ...? Kan gini-gini Ayu istri Om Biyan juga...'


'Iya sih, emang Om Biyan, setiap hari juga nge-chat Ayu. Tapi isi chat-nya hanya bertanya kabar, bertanya tentang kuliah, sudah makan apa belum ... Ya gitu-gitulah, yang standar-standar aja ... Gak ada romantis-romantisnya ... Gak ada clue-clue yang bisa membuat Ayu yakin bahwa Om Biyan mulai punya perasaan yang sama dengan Ayu ... Alhasil hubungan mereka juga disitu-situ mulu, gak pernah naik kelas kayak istilahnya Bella ...'


Dalam hati Ayu merasa gemas bukan main, saat menyadari bahwa selama ini kayaknya dirinya memang tak ada istimewanya sedikit pun dihadapan pria, yang justru belum apa-apa sudah berhasil membuat perasaan Ayu jungkir balik sejak lama ...


Next ...

__ADS_1


🧕 : Tapi sebelum Next jangan lupa di support dulu yah ... 😘


__ADS_2