
Bunyi klakson mobil Biyan seolah menjadi jawaban dari lambaian tangan Eros yang terangkat, sebelum akhirnya mobil yang dikendarai Biyan mulai bergerak meninggalkan lobby apartemen mewah milik Eros.
Long weekend mereka telah berakhir, dan kehidupan nyata mulai menanti.
Seperti rencana awal yang telah disepakati, setelah healing selama dua hari, begitu selesai sarapan pagi mereka berempat langsung meninggalkan villa dengan segala kenangan yang tertinggal didalamnya.
Diawali dengan mengantarkan Eros terlebih dahulu ke apartemen, kini mobil Biyan sudah bergerak lagi, hendak menuju kearah kostan Ayu.
"Hari ini kuliahnya jam berapa, Bell?" tanya Biyan sambil melirik kaca spion tengah, sehingga mendapati wajah Bella yang duduk bersisian dengan Ayu di sana.
"Nanti siang, Pa, kemarin dosennya udah kasih tau di chat grup kalo pagi ini beliau ada urusan yang penting, jadi jam kuliahnya diundur gitu ..." jawab Bella komplit.
"Sama Ayu juga?"
"Iya, Om." kali ini Ayu yang menjawab.
"Jadi Papa drop kalian ke kostan Ayu aja nih ...?"
"Iya, Pa, rencananya Bella sama Ayu mau langsung beres-beres sekarang aja. Kan kalo urusan pindahannya Ayu bisa kelar pagi ini juga, jadinya kita gak perlu repot bolak-balik lagi ..."
Biyan manggut-manggut. "Tapi yakin nih gak mau ambil mobil dulu?" tanya Biyan lagi memastikan.
"Gak usah deh, Pa, nanti kita pulang ke rumahnya bisa pake taxi online. Lagian Papa kan mau buru-buru pergi buat ngejar penerbangannya."
"Iya sih." Biyan mengangguk.
Yang dikatakan Bella memang benar. Biyan memang gak punya waktu banyak untuk melakukan ini-itu karena harus mengejar jadwal penerbangan pesawat siang ini juga.
"Bell, selama Papa pergi jangan nakal yah. Gak usah keluar rumah kalo gak penting, karena kali ini kayaknya Papa perginya bakalan agak lama, bisa jadi seminggu baru balik ..."
"Iya, Pa, Bella janji deh. Papa gak usah khawatir, lagian kan udah ada Ayu yang bisa jadi teman Bella dirumah, jadi Bella gak bakal bosan dan kesepian lagi ..."
"Iya Bell, trus nanti kalo ke kampus hati-hati menyetirnya yah. Ingat, jangan ngebut." imbuh Biyan lagi seperti biasa gak jemu-jemu ia mengingatkan hal yang sama kepada Bella.
__ADS_1
"Iya, Pa, Bella selalu hati-hati kok. Papa tenang aja, Bella janji deh Bella bakal betah di rumah dan Bella akan selalu hati-hati kalo lagi nyetir ..."
Menangapi janji Bella, Biyan hanya bisa menganggukkan kepala lewat kaca spion tengah.
Meskipun di sisi lain Biyan tetap saja khawatirkan saat harus kembali meninggalkan Bella karena tuntutan pekerjaannya, namun kali ini Biyan cukup lega karena seenggaknya Bella gak lagi sendirian. Ada Ayu yang bisa Biyan andalkan sebagai teman Bella yang bisa dipercayai oleh Biyan.
Setelah menempuh perjalanan dengan arus lalu lintas yang bisa dibilang cukup lancar, gak sampai setengah jam mobil berwarna hitam yang dikendarai Biyan berhenti sempurna di depan pagar kost Ayu.
Bella dan Ayu turun beriringan dari dalam mobil, begitupun juga dengan Biyan yang harus menurunkan tas dan beberapa barang milik Bella dan Ayu, yang tersimpan di bagasi belakang mobil.
Tepat didepan pintu kamar kost Ayu yang telah terpentang lebar karena dibuka oleh Ayu terlebih dahulu, Biyan pun menurunkan semua barang bawaanya tersebut dilantai.
"Papa hati-hati yah," Bella mencium pipi Biyan sambil melingkari kedua lengannya keleher Biyan.
Biyan tersenyum dan mengangguk menanggapi kemanjaan Bella yang lagi-lagi belum juga berkurang sedikitpun.
"Bella juga mau Papa cepat pulang ..." cicit Bella lagi seperti biasa, acap kali Biyan harus pamit pergi mengejar nafkah.
"Iya, Bell, kalo urusan Papa udah kelar Papa pasti langsung pulang kok ..."
"Iya, Papa janji."
Bella mencium lagi pipi Biyan untuk yang kedua kalinya.
Biyan tersenyum, sebelah tangannya terangkat guna membelai puncak kepala Bella, yang diakhiri dengan mengacak lembut.
Saat Biyan melirik kesamping, Biyan mendapati wajah Ayu berada di sana, sedang menatap lekat seolah ikut menyaksikan pemandangan super manis yang diam-diam selalu membuat sanubari Ayu menghangat tanpa diketahui Bella juga BIyan.
Merasa terciduk oleh sepasang mata elang yang kini tengah mengawasinya dengan intens, Ayu langsung tertunduk salah tingkah.
"Udah ah, tuh ditungguin Ayu ..." ucap Biyan masih dengan bibir berhias senyuman.
Dengan berat hati akhirnya Bella pun mengurai kedua tangannya yang melingkari leher Biyan.
__ADS_1
"Ay, kalian baik-baik di rumah yah," kini tatapan Biyan beralih kearah Ayu.
Ayu mengangguk sigap. "Iya, Om."
"Om titip Bella ..."
"Baik, Om."
Biyan menatap Ayu lekat-lekat, dan gak bisa memungkiri bahwa mendengar setiap ucapan gadis itu, terlebih saat Ayu mengucapkannya dengan penuh senyuman rasanya cukup ampuh menenangkan setiap gejolak kecemasan yang ada di diri Biyan.
"Papa pergi dulu yah, Bell ..." ucap Biyan kemudian.
Bella mengangguk, dan Biyan pun langsung membalikkan tubuhnya, berjalan kembali kearah mobil berwarna hitam yang terparkir diluar pagar.
"Dagh Papaaaa ...!" teriakan Bella yang disertai lambaian tangan itu telah mengiringi kepergian mobil Biyan.
Merasa tenang.
Itulah yang dirasakan Biyan sekarang, untuk yang pertama kalinya saat Biyan terpaksa harus meninggalkan Bella seperti biasanya.
Sejujurnya, Biyan bahkan belum pernah merasa hatinya setenang ini, dan hingga detik ini semua itu seolah masih manjadi misteri yang malas Biyan pecahkan.
Tentang mengapa Biyan selalu bisa mempercayai Ayu begitu besar tanpa merasakan keraguan sama sekali.
Aneh bukan?
Bahkan saat meninggalkan Bella bersama Rania yang notabene merupakan Mamanya Bella saja, Biyan gak pernah setenang ini dan terus-menerus merasa khawatir.
Memang terasa aneh, tapi lagi-lagi Biyan enggan berpikir terlalu dalam, perihal sebuah alasan yang membuat Biyan seolah selalu bisa mempercayai gadis yang seumuran Bella itu lebih dari seribu persen ... dengan sepenuh hati ...
...
Bersambung ...
__ADS_1
🧕: Support yah guyssss 🥰